My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 26 : Sampul Biru


__ADS_3

Pelukan hangat saat Kau menenangkannya, usapan lembut di bahunya, tatapan teduh saat Kau menghiburnya dan kata-kata manis yang Kau ucapkan agar dia bisa menjalani harinya dengan baik. semua itu Kau lakukan saat Aku sedang berada di posisi paling rendah di hidupku, namun kini semua perhatian mu Kau berikan padanya di saat Aku juga mengalami hal yang paling menyakitkan.


Kau melakukan itu padaku karena Aku spesial bagimu kan? lalu apakah dirinya juga begitu? apakah sekarang ada orang lain yang menggeser posisiku di hatimu? sehingga kini Kau membagi tatapan indah itu padanya, memberi senyum manis mu untuknya dan memberikan pelukan hangat mu di punggungnya.


"Pelukanmu.."


Satu kata itu membuat Ayu membeku di tempat duduknya, ia bahkan tak bisa mengedipkan kelopak matanya saat menatap raut wajah Pria yang sedari dulu ia cintai.


"a..apa? Peluk? untuk apa? bukankah Bapak masih belum menyukaiku? atau jangan-jangan Bapak udah normal?" ia melayangkan pertanyaan itu dengan bibir kelu karena gugup. kenapa tiba-tiba? apa jangan-jangan ini hanya mimpinya saja?


"Saya masih seperti biasa, belum NORMAL dan belum menyukai mu. Saya cuma mau kamu memeluk sebagai tindakan untuk menyemangati Saya. oh satu lagi, berhenti menyebut dirimu 'Aku' di depan Saya karena itu terdengar seperti orang lain."


Walaupun dugaannya salah, Ayu sedikit bahagia karena kata 'Saya tidak akan menyukaimu' kini berganti menjadi 'Belum menyukaimu' setidaknya ada harapan kan?


Tapi tetap saja, apa yang membuat Rey tiba-tiba bersikap seperti itu?


"Terus kenapa minta peluk? Bapak kira Saya perempuan apaan." sahut Ayu panik.


"Justru itu yang perlu di tanyakan, Kamu biasa memeluk semua teman mu hah? kenapa memeluk sembarang orang? apalagi baru kenal. di satu waktu kamu meluk Saya dan di waktu lain kamu memeluk Lelaki itu, lalu kamu bertanya kamu perempuan macam apa? dasar bocah plin-plan!"


"Terus? maksut Bapak tu apa sih? cemburu atau cuma marah? dan kalau marah apa juga sebabnya? Ayu kan cuma mau nenangin dia waktu itu, dia butuh tempat untuk bersandar." Ayu paham siapa yang di maksud Rey itu.


"Saya juga butuh ketenangan, butuh sandaran, kenapa Kamu nggak mau? padahal katamu Saya orang yang paling Kamu sukai."


"i..iya memang, tapi karena Bapak yang minta peluk kedengarannya jadi aneh gitu." bagaimanapun Rey juga seorang laki-laki dewasa kan? ia merangkul Bagas karena ia tak memiliki perasaan suka, atau pun yang lain. murni hanya sebatas untuk menenangkannya.


"Aneh? jadi kalau kamu yang memeluk sembarang orang nggak aneh gitu?"


Ayu terdiam, ia tak berani menatap tajamnya mata Rey saat itu.


"Mendingan Kamu pulang deh, dari pada bikin Saya tambah pusing." ia menarik tangan Ayu dan membawanya keluar dari ruangan itu.


Sesampainya di depan pintu Rey menghempaskan tangan Ayu.

__ADS_1


"Apa ada yang sedang bersedih dan butuh sandaran? kalau ada dia siap memeluk kalian agar kalian semangat!" ucap Rey dengan suara lantang hingga para karyawan di ruangan itu tercengang.


Setelah itu Rey menutup pintu lumayan keras hingga membuat Ayu terkejut "chh! apa dia benar-benar nggak punya pikiran? untuk apa dia menyuruhku memeluknya? memangnya dia nggak tau sekeras apa usahaku menahan rasa gugup saat di dekatnya? dia mah enak nggak punya perasaan untukku. bikin repot jantung orang saja!"


Tiba-tiba seorang karyawan berkacamata menghampirinya "Ayu.. Saya ada masalah hehe."


"Mau di pecat kamu? Saya bilangin Mas Dimas ni!" ancam Ayu membelalakkan matanya sontak membuat Pria itu kembali duduk di kursinya.


...~~~~...


Beberapa hari berlalu setelah kepergian sang Ibu. kini Bagas sudah mulai bisa menerima keadaan, sudah terbiasa memulai harinya tanpa senyuman sang Ibu.


Ia bersiap lebih cepat dari hari biasanya. saat ia keluar dari kamar pandangannya tertuju pada meja makan yang biasanya terhidang lauk pauk sederhana buatan tangan sang Ibu.


Karena waktu nya masih banyak, Bagas berpikir untuk ke kamar Ibunya. ia menguatkan diri untuk membaca buku harian sang Ibu yang sengaja di tinggalkan untuknya.


Sebelum membuka buku bersampul biru itu, ia menarik nafas panjang dan berjanji tidak akan menangis lagi.


"Kamu pasti kecewa ya karena Ibu menyerah begitu saja dengan penyakit Ibu. beberapa hari terakhir Ibu sudah mengunjungi Dokter, tapi Dokternya bilang kalau kesempatan Ibu selamat sangat kecil. jadi dari pada menghabiskan uang Ibu untuk sesuatu yang tak pasti, lebih baik Ibu menyimpan uang itu untuk masa depan mu. jumlahnya nggak banyak, tapi cukup kok untuk kamu sampai wisuda. setelah itu Ibu yakin kamu bisa mencari uang sendiri hehe... Maaf karena Ibu tidak meninggalkan apapun untukmu sayang, karena Ibu tidak sempat bersiap."


"Ibu meninggalkan kenangan indah untukku, itu sudah cukup kok." sahut Bagas berbisik sembari memandang foto sang Ibu. Kemudian ia lanjut membaca lagi.


"Buku tabungan dan ATM ada di laci lemari Ibu, gunakan dengan hemat Oke? Ibu akan mengawasi mu dari sini. oh iya, sering-sering lah mengunjungi makam Ayah mu. jangan sampai ada rumput liar di atas tempat kami, dan selalu bawakan Ayahmu bunga mawar putih. kamu nggak pernah membawakan itu sebelumnya."


"iss.. merepotkan sekali." rutuk Bagas mengingat jarak makam Ayahnya lumayan jauh dari sana.


"Ibu bahkan menyuruhku membawakannya bunga." ia menutup Buku harian itu lalu memasukkannya ke dalam tas. tiba-tiba saja ia kehilangan semangat saat membaca tentang Ayahnya.


Baru hendak mengambil motornya, ia di sapa oleh Ayu dari dalam mobil.


"Bagas...!" panggilnya dari luar pagar.


"Uy.." sahut Bagas menoleh, melihat wajah segar Ayu di hari yang suram itu cukup membuat Bagas kembali mendapatkan semangatnya.

__ADS_1


"Bareng aja yuk.."


"Tapi Kamu yang nyetir, Aku nggak bisa hehehe."


"Aman, Yuk.."


Bagas berjalan riang menuju mobil Ayu, sejenak ia merasa bahwa masih ada orang yang sangat spesial yang membuat hidupnya masih berwarna.


Di dalam perjalanan, mereka menyetel lagu sambil bernyanyi bersama. walaupun mereka sama-sama tidak hapal liriknya, mereka tetap berteriak-teriak seolah tengah menyanyi di atas panggung.


"Wahh.. seru ya kalau bisa nyetir mobil." ucap Bagas tercengang saat Ayu memainkan setirnya di bundaran jalan.


"Mau belajar?" tanya Ayu.


Bagas tersenyum lebar sambil mengangguk "kalau Kamu gurunya Aku yakin cepat bisa hahaha.."


Ayu cukup lega melihat tawa riang itu kembali lagi setelah beberapa hari hilang di gulung tangisan.


"Seneng deh lihat senyuman kamu lagi."


"Gimana? udah mulai berpengaruh ya senyum ku di hidup mu."


"Senyum mu itu sangt berpengaruh bahkan satu wanita kampus sekalipun pasti senang melihat senyum mu lagi."


"Yaa.. Ku akui tak ada yang bisa menolak kharisma ku HAHAHAHAH.." Bagas melepaskan tawanya, tawa yang terdengar bohong walau wajahnya berusaha sumringah.


"Aku bangga dengan mu, Kamu periang dan mampu membuat suasana menjadi ceria. dulu waktu Aku kehilangan Ibuku Aku menangis selama tiga bulan setiap mau tidur. lemah banget kan hahaha..."


"Ibu mu?" Bagas tampak heran, perasaan kedua orang tuanya masih sehat banget.


Ayu sendiri seketika menjadi bingung, sepertinya ia kelepasan menceritakan hal yang bukan seharusnya. jemarinya bergerak mengetuk kemudi mobil yang berjalan lurus. ia tau, siapapun pasti akan bingung jika mendengar perkataannya barusan.


...********...

__ADS_1


__ADS_2