My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 54: Pingsan


__ADS_3

Ayu dan Bagas langsung terdiam, mereka duduk di kursi masing-masing dan saling membuang muka.


"Tes masuk tentara!" jawab Bagas asal mangap.


"ouhh..." Anak itu pun percaya begitu saja dengan jawaban Bagas.


...~...


Di kantor, Rey melamun sepanjang waktu. Gara-gara perkataan Ayu semua harapan indah nya seperti sirna sia-sia. Namun ia tak bisa menyalahkan Ayu sepenuhnya, ia sadar siapa yang tidak lelah menunggu selama bertahun-tahun namun selalu di abaikan.


Yang ada di benaknya sekarang adalah bagaimana cara mendapatkan Ayu kembali. Gadis itu dulu sangat menyukainya, maka ia harus berusaha agar Ayu kembali padanya.


"Permisi Pak... Saya mau meminta tanda tangan." ucap salah satu sekertaris berpenampilan anggun nan memukau.


Sudah lama Rey menyadari ada banyak wanita cantik di kantor ini, namun selama ini matanya hanya tertuju kepada Pria tampan dan maskulin.


Rey menandatangi berkas yang di bawa sekertaris itu sembari mengamatinya "dia lumayan... tapi kalau di bandingkan dengan Ayu masih kalah jauh..."


Setelah Sekertaris itu pergi, seorang petugas memanggil Rey dari depan pintu.


"Permisi Pak, Ada yang ingin berbicara dengan Anda."


"Siapa?" tanya Rey.


"Pak Arhan.."


"Kakek?" Rey langsung bangkit dari kursinya dan terburu-buru menemui Sang Kakek.


Angin apa yang membuat Kakeknya mendatangi Kantor? Selama 5 tahun ia bekerja dengan Dimas, belum pernah sekalipun Sang Kakek mengunjunginya.

__ADS_1


Rey memasuki ruangan dimana Kakeknya menunggu. "Kakek? ada apa? ada masalah?"


Pria tua renta namun terlihat energik itu terkekeh pelan "hehehehe.. Tidak ada apa-apa. Kakek dengar Kekasihmu menjadi Mentor disini. Bisa kah Kakek bertemu dengannya?"


Rey sungguh tak habis pikir dengan kelakuan Kakeknya itu. "hhh.. Kakek kesini bukan mau menemui ku?"


"Tentu saja tidak. Kakek bisa melihatmu kapanpun Kakek mau. Kakek ingin bertemu dengan Ayu, hubungan kalian baik-baik saja kan?"


Untuk langsung menemui Ayu, Kakek belum berani. Lagipula mereka belum terlalu dekat untuk bertemu secara langsung. Maka itu Kakek memakai alasan mengunjungi Rey.


Rey tak tau harus mengatakan apa, selain hubungan mereka tidak sedang baik-baik saja. Mereka sudah berjanji kan untuk berhenti membohongi Kakek.


Namun melihat wajah renta yang penuh harap itu Rey sungguh tak tega jika harus membuatnya kecewa. Selama ini Kakeknya selalu memberikan yang terbaik, itu sebabnya Rey ingin membalas kebaikan Kakeknya. Namun membalas dengan kebohongan bukankah sangat tidak pantas?


"e.. begini Kek, sebenarnya Kami..." Rey mengambil jeda sejenak untuk menyiapkan diri. ia harus siap melihat Kakeknya merasakan kekecewaan akibat kebohongannya.


"Sebenarnya Kami... t..tidak pernah berpacaran." peluh menetes dari dahi dan pelipisnya. ia bahkan tak berani menatap wajah sang Kakek.


"Maaf Kek.." bisik Rey tampak kelu.


"Kamu..." pandangan Kakek mulai gelap, sayup-sayup ia mendengar gemerisik angin dan akhirnya ia terkulai tak sadarkan diri.


"KAKEK...!" pekik Rey terkejut, ia segera membopong tubuh Kakeknya ke luar menuju klinik darurat yang ada di lantai 2.


Dari ujung lorong Ayu bisa melihat Rey berlari membopong seseorang. Ayu pun menghampiri ruangan yang dimana Rey keluar dari sana.


Ayu melirik sekilas "Tongkat itu..." mata Ayu terpaku pada tongkat yang tampak familiar.


"Kakek??" ia pun berlari menyusul Rey tanpa menghiraukan kopi yang di ada di tangannya terombang-ambing.

__ADS_1


...~...


"Bagaimana keadaan Kakek Saya Dokter?" tanya Rey sangat khawatir.


"Tekanan darahnya terlalu tinggi, itu sebabnya dia pingsan. Untuk kali ini tidak berbahaya, namun Saya menyarankan Kakek Anda mendapat perawatan khusus. Jika ia kembali pingsan seperti ini lagi, bisa saja ia terkena stroke atau bahkan gagal jantung." Terang Pak Dokter sembari menyuntikkan cairan obat ke dalam selang infus.


Rey sungguh tak menyangka, sebegitu terkejutnya kah ia mendengar hubungan palsu itu? sampai-sampai pingsan seperti itu. Bagaimana jika fakta tentang kelainan Rey yang di dengar? bisa-bisa langsung pindah alam. Pikir Rey bergumam dengan diri sendiri.


"Kakek kenapa Pak?" tanya Ayu tiba-tiba muncul dari depan pintu dengan nafas tersengal.


"Dia pingsan saat Saya bilang kita tidak pernah pacaran." sahut Rey murung, masih berbekas sakit yang di torehkan Ayu melalui ucapan kemarin.


PLAKK!


Ayu menabok bahu Rey hingga membuatnya meringis kesakitan. "aduh... Kenapa sih Kamu?" rintih Rey mengusap bahunya yang terasa pedas.


"Seharusnya Bapak bilang kita sudah putus, bukan nggak pernah pacaran!" desis Ayu kesal.


"Pada akhirnya Kakek harus menerima fakta bahwa kita tidak bisa bersama. Apa beda nya?"


"Ya beda dong Pak Yoseph!" geram Ayu mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia menonjok tulang hidung Rey sekarang.


"Bayangkan, Kita bahkan menemuinya Dua kali sebagai sepasang kekasih, sudah pasti kekecewaan yang Kakek rasakan begitu besar karena cucunya sendiri membohonginya. Coba pikirkan, alasan apa yang mau Bapak katakan kalau Kakek menanyakan itu? Akan berbeda kalau Bapak bilang kita sudah putus. Kakek hanya akan menyayangkan, bukan kecewa seperti ini." jabar Ayu panjang lebar sampai liurnya terasa berbusa.


Namun Rey malah menatap bingung, ia tak bisa menangkap perkataan Ayu yang secepat kereta listrik itu. Apalagi kepalanya sedang kalut saat ini.


"Bicara apa sih Kamu?" ucap Rey mendengus pelan.


"Sudahlah.. biar ini menjadi urusan Saya." timpalnya membuang muka. Karena kekhawatiran Ayu tampak jelas ia malah kesal. Tidak mau berpacaran tapi sangat perduli, membuat hati orang semakin kacau saja.

__ADS_1


...***********...


__ADS_2