
Di rumah sakit..
"Bagaimana Dokter? apa pasien mau melakukan operasi?" tanya salah satu perawat setelah Ibunya Bagas keluar dari ruangan mereka.
Dika menyusun rekam medis di atas meja nya sembari menghela nafas berat.
"Nggak.."
"Kenapa? padahal rambutnya sudah semakin menipis dari kali terakhir kesini."
"Entahlah, jika di bilang karena uang sepertinya tidak juga. Saya bahkan menawarkan bantuan program Kita untuk pasien kanker tapi beliau menolak karena mengetahui resikonya."
"Kasihan sekali.." lirih sang suster memandang kosong ke arah pintu.
"Bagaimana lagi? kita juga tidak bisa memaksanya."
...~~~~...
Saat hendak memasuki kelas, Ayu bimbang dan meracau sendiri karena merasa malu dengan yang terjadi kemarin.
"fffuhhh... tenang, dia pasti nggak dengar kemarin. kan Aku sambil nangis ceritanya. duh jantungku." ia mengusap dadanya sambil mengerjap.
suuuittt....(suara siul)
Nada siul itu membuat Ayu bisa langsung menebak ada siapa di belakangnya. untuk mengelak dari ledekan Bagas, ia berjalan cepat bergabung dengan dua orang teman wanitanya yakni Laura dan Amanda.
"Lau.. Man, kita ada tugas dari Pak Erwin kan? di kumpulin kapan ya?" ia asal mangap padahal tau mereka tidak sekelas.
Amanda mengernyitkan dahinya "Kita kan beda kelas Yu."
Ayu menunduk sambil menggeratkan giginya "benar juga, apa-apaan sih aku ini." gumamnya kesal.
Tiba-tiba Bagas menarik tasnya dari belakang "Kamu ngapain ikut mereka? kelas kita kan di sana."
Hampir saja Ayu terjengkang, untung ia berhasil menarik kedua tas temannya hingga membuat gantungan kunci berbentuk spidol terjatuh.
Laura dan Amanda saling melempar senyum seolah tau Ayu dan Bagas sedang ada sesuatu. itu sebabnya mereka langsung lari dari sana.
"hiss.. mereka ini." rutuk Ayu kesal.
Bagas mengambil gantungan spidol mini yang terjatuh di lantai "ini jatuh."
"hah? b..bukan, itu bukan punyaku." Ayu menggeleng pelan.
"ohh.. mungkin punya mereka, kembalikan nanti." ujar Bagas tanpa ekpresi sembari memberikan spidol itu, Ayu jadi sedikit lega karena sepertinya Bagas tidak akan meledeknya kali ini.
Untuk menghapuskan rasa penasarannya, Ayu pun bertanya langsung.
"Kamu ngerti nggak tentang kemarin?"
"Yang mana?" Bagas langsung menoleh hingga wajah mereka hampir bertabrakan. tentu saja Ayu terkejut dan spontan mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Waktu Aku nangis di motor.." ucap Ayu pelan.
"Tentang Orang tua yang menyuruhmu pergi itu?" bibir Bagas mulai tertawa kecil, sepertinya Bagas sengaja menunggu momen ini.
"Jangan ngeledek! hati ku udah sakit banget bahkan sampai sekarang kerasa perihnya. kamu jangan bikin Aku tambah nyungsep dong!" ia mencubit lengan Bagas sambil melotot.
"Berhenti jadi perempuan bodoh. untuk apa kamu sia-siakan masa muda mu demi lelaki1 tua nggak berperasaan seperti itu? mending kamu lihat sekeliling kamu, banyak laki-laki tampan muda yang mau mencintaimu seperti Aku contohnya." ia menatap serius kedua mata Ayu yang sembab akibat menangis semalaman.
"Banyak? mana? mana?" Ayu menoleh sekeliling.
"Dari dulu nggak ada yang ngedeketin Aku, sekalinya ada malah cuma main-main. kalau ada laki-laki serius yang bisa bikin Aku jatuh cinta udah ku blacklist itu manusia tua dari kepala ku!"
Bagas mendorong tubuh Ayu ke dinding dan mendekatkan wajahnya "tatap mataku.." bisik nya pelan.
Tanpa di suruh pun mata Ayu sudah tak berkedip karena syok. ia bahkan bisa mendengar hembusan nafas Bagas saat itu.
"Apa jantungmu berdetak?" ia membelai lembut pipi Ayu sambil tersenyum kecil.
Ayu mengangguk pelan sambil berusaha menertibkan detak jantungnya.
"Bersyukurlah.. itu tandanya Kamu masih hidup HAHAHAHAHHAHA....." tawa Bagas meledak, ia bahkan menyibak kuat rambut Ayu hingga menutupi setengah wajah sembab itu.
"si*l AWAS KAU!" Ayu berteriak sekuatnya sambil mengangkat tas hendak memukul Bagas.
Namun Bagas siap menangkis sambil berusaha menghentikan tawanya "apa hahahah.. berharap Aku bilang cinta sama kamu? hahahah.."
"Bisa nggak ngehargain kegalauan Aku hah?!" biji mata Ayu hampir keluar saat itu.
Bagas semakin tertawa melihat tingkah Ayu yang amat luar biasa itu, Ayu yang biasanya kalem dan santai ternyata bisa ganas juga kalau sedang galau.
Ia pikir setelah akrab dan semakin dekat, Ayu akan merasakan perasaannya. ternyata semua itu hanya harapan saja karena Ayu masih menganggapnya bukan siapa-siapa.
...~~~~...
Tok..tok..tok..
Rey bangkit dari meja kerja di rumahnya.
"Siapa yang datang malam malam begini?" gumamnya sambil menyeruput secangkir teh.
Ia membuka pintu dan langsung terkejut melihat Bagas berdiri di sana "Kau?! Apa yang kau lakukan di sini?"
Bagas yang belum mengetahui dirinya bisa saja jadi target malah tersenyum manis "jadi setelah membuat anak gadis menangis seharian Anda malah santai sambil minum teh?"
"Siapa?" tanya Rey tak mengerti.
Bagas mendengus kesal karena seolah Rey sudah banyak mencampakkan para gadis. ia menghidupkan layar ponselnya dan memamerkan foto Ayu dan dirinya saat di motor kemarin.
"Apa perasaan Anda kepadanya?"
Bukannya menjawab Rey malah menatap dari dekat foto tersebut "sejak kapan kalian jadi dekat?"
__ADS_1
"Jawab pertanyaan ku."
"Seperti yang Saya bilang, dia menyukai Saya." ucap Rey percaya diri.
"Oke.. berarti Anda nggak ada perasaan apapun kan sama dia?!" tanya Bagas memperjelas.
"Kenapa kau mengurusi perasaan ku?" Rey menganggap Bagas ini bocah yang sangat belagu.
"Karena Aku mau menempatkan nama Anda di daftar hitam nya." sahut Bagas tersenyum tengil lalu meninggalkan Rey begitu saja.
"Daftar hitam? apa sih maksut..."
BBRRRRRMMMMM!!!
"Astaga!" Rey di buat terkejut oleh suara motor yang sengaja di Gas pol oleh Bagas.
...~~~~...
Di salah satu kamar sederhana bernuansa coklat, seorang gadis remaja tengah kebingungan mencari benda kesayangannya yakni gantungan kunci spidol mini berwarna hitam.
"Di mana ya? Aku yakin tadi ada di sini.." gumam gadis berambut gelombang itu sambil mengeluarkan semua isi tasnya.
...~~~~...
Sementara di dalam kamarnya, Ayu juga tengah memandangi spidol mini itu. "mungil banget sih.. beli dimana mereka benda begini, apa bisa di buat nulis beneran?" Ayu penasaran membuka tutup spidol itu untuk mengetahui apakah itu bisa berfungsi atau tidak.
Begitu tutupnya di buka, ia mendapati bau tajam yang amat khas dari tintanya.
Ayu menghirup dalam aroma khas itu "hhhfff.... aromanya lain dari tinta biasanya, tunggu.. aroma ini kan?"
...~~~~...
Pagi harinya, tepat saat Bagas datang untuk menjemput Ayu. di saat yang bersamaan pula Rey datang sambil membawa sebuah kantong tas berwarna hitam.
Karena masih sakit hati, Ayu mengabaikan Rey dan berjalan ke arah Bagas. lagipula pasti Rey kesana untuk keperluan dengan Papanya kan?
"Saya datang untuk mengembalikan ini." ucap Rey menghentikan langkah Ayu.
Apa maksudnya? perasaan Ayu tak pernah meminjamkan apapun.
Ayu berbalik badan "apa?"
Rey tak menjawab, ia memberikan kantong tersebut lalu menatap bingung wajah Ayu. ingin rasanya ia menjelaskan bahwa kejadian kemarin hanya salah paham. namun bagaimana cara memulainya ia sendiri tidak tau. entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa canggung bila bertemu dengan Ayu.
Tak mengucapkan terimakasih, tak pula menyapa. Ayu langsung naik ke motor Bagas dan memeriksa barang apa yang di berikan Rey itu.
"Omaigat!! kok bisa ini ada di Bapak?" seketika ia lupa dengan masalahnya saat melihat cardigan kesayangannya yang berhari-hari di cari sampai bikin kepala hampir botak.
"Apa emang nya Yu?" tanya Bagas ingin tahu.
"Ini cardigan yang kubilang waktu itu. kok bisa sama Bapak? nyuri ya?!" tuduh Ayu sambil menuding Rey dengan jari nya.
__ADS_1
"Nyuri katamu? kan ketinggalan waktu kamu di kamar Saya..." belum siap Rey menjelaskan Ayu turun dari motor dan menginjak kaki Rey sambil memicingkan mata.
...********...