
Arhan Bimana, Pria renta yang masih tampak gagah itu sempat khawatir karena melihat cucu nya tak kunjung memboyong seorang gadis untuk di persunting. apalagi di usia yang sudah tak lagi muda yakni 28 tahun.
Tak seperti Faro yang selalu terlibat asmara baik di sekolah maupun di lingkungan kerja, Arhan bahkan tak pernah mendengar Rey bercerita soal lawan jenisnya.
Di saat sang kakak sudah menikah untuk yang ke-dua kalinya, Rey bahkan tak menunjukkan tanda-tanda ke seriusan nya untuk segera menjadi kepala keluarga.
Sebagai Kakek yang sangat memperhatikan cucunya, Arhan hanya bisa berharap mudah-mudahan alasan Rey sampai sekarang tak kunjung mencari pendamping bukan karena trauma atas apa yang terjadi kepada keluarganya.
Namun hari yang paling di nanti Arhan akhirnya tiba, yakni di saat Faro bertunangan. ia membawa seorang gadis yang tak lain adalah Ayu untuk di kenalkan sebagai kekasih.
Arhan tak pernah tau kalau Rey membawa Ayu ke sana atas paksaan Papanya yang haus akan warisan, hingga Rey harus berbohong soal hubungan mereka yang ternyata hanyalah sandiwara. yang pasti sejak hari pertama ia melihat Ayu, ia sudah menyukainya.
Ia melihat ketulusan Ayu dari caranya tersenyum pada Rey, dari caranya menatap Rey dan dari prilaku Ayu yang tampak sangat mencintai Rey. sejak saat itu pula ia selalu mendoakan agar hubungan mereka berlanjut sampai ke jenjang yang lebih serius.
Namun tetap saja, karena hubungan mereka hanya sandiwara. sejak malam pertunangan itu Rey tak pernah lagi membawa Ayu kepada Kakeknya ataupun sekedar membicarakannya.
Maka dari itu, di hari yang spesial ini Arhan ingin sekali kembali menyapa Ayu lebih akrab lagi. tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kedua cucunya berbahagia.
Wajah Arhan yang keriput tampak langsung berbinar saat melihat Rey dan Ayu berjalan ke arahnya.
"Hallo Kek.." sapa Ayu sambil menundukkan kepalanya.
"Hallo cantik, senang bisa bertemu lagi denganmu. Kakek masih tidak percaya akhirnya Rey mempunyai kekasih yang amat cantik sepertimu."
"Hahahaha.. Kakek bisa aja, siapa sih yang nggak bakal jatuh hati kalau lihat parasnya Pak Rey."
"Pak?" senyum Kakek langsung pudar mendengar panggilan itu. baru kali ini ia mendengar seorang wanita memanggil kekasihnya dengan sebutan Bapak.
"Dia sedang mempersiapkan panggilan sederhana untuk anak kami nanti Kek." celetuk Rey asal mangap. Ayu hanya bisa menyeringai kecil mendengar itu.
"Ohh hahahahahha.. iya iya, Kakek suka itu. sederhana yang penting langgeng dan bahagia." Kakek melanjutkan tawa girangnya.
Ayu dan Rey juga ikut tertawa walau terdengar garing. tak tau saja mereka jantung Ayu hampir meletup mendengar omong kosong Rey barusan.
"Hahahha.... jadi mau pakai Adat apa?"
"HAH??" 😳
Ayu langsung mencubit punggung Rey untuk membereskan persoalan ini. tampak wajah Rey hanya meringis dengan senyum kecut.
"Ahahahaha.. Kakek, hubungan kami belum sejauh itu. lagi pula Ayu masih kuliah dan masih terlalu muda."
__ADS_1
"Masih lama wisuda nya?" tanya Kakek agak berbisik.
"Baru masuk semester 4 Kek heheh.." dahi Ayu mengembun hingga membuat anak rambutnya basah.
Kakek manggut-manggut dengan nafasnya yang sedikit engap.
"Ohh.. baru semester 4, Kalau gitu kamu yang sabar Rey. jangan buru-buru ngajak nikah! kasian nanti dia jadi nggak fokus kuliah."
"hah..? yang buru-buru juga siapa?" bukannya tadi dia yang langsung nembak bertanya mau pakai Adat apa.
"Maklum ya, Kakek memang suka bicara aneh-aneh." bisik Rey pada Ayu, ia sendiri bahkan syok karena pertanyaan tadi.
"Tapi kalau kelamaan Kamu keburu tua Rey, udah 28, bentar lagi tiga puluh." ujar Kakek berbalik badan seolah sengaja memancing Rey.
Tak ingin Ayu terlibat kebohongannya lebih dalam, Rey pun berusaha memberi pengertian pada Kakeknya. ia mengikuti langkah sang Kakek dari belakang.
"Lagi pula Aku belum ingin menikah Kek, Ayu juga sama. hubungan kami baru sebatas perkenalan saja."
"Kalau soal usia nya Ayu, itu salah kamu. kenapa cari yang brondong. tapi kalau soal kesiapanmu, usia kamu ini sudah sangat ideal untuk menikah. ingat Rey, kita di Indonesia. bukan di Korea atau amerika yang usia umum untuk menikah itu 40 tahunan."
Rey menekuk dahinya, darimana pula Kakek tua itu tau istilah brondong.
"Apa kata mu? siapa yang menciptakan trend seperti itu? Apa Kamu tidak ingin menimang anak? terus kalau sudah tua seperti Kakek, siapa yang akan mendampingi kalau bukan istri, anak dan cucumu?"
Rey dan Ayu hanya tercengang sambil menedipkan matanya. Rey sungguh melakukan kesalahan, seharusnya ia tau kalau sudah mengajak gadis untuk di kenalkan ke keluarga itu berarti sudah ingin melanjutkan hubungan yang lebih serius.
"Oke, nanti Aku coba cari yang lebih dewasa, yang sudah siap di ajak menikah. beri Aku waktu setidaknya sampai Aku siap."
Mencari yang lebih dewasa, kata-kata itu membuat batin Ayu nyungsep sedalam-dalamnya.
Arhan mengangkat tongkatnya ke arah Rey "Kalau belum serius kenapa di ajak kesini? Kamu mempermainkannya hah? Wanita jika sudah di ajak ke rumah keluarga Pria, ia menganggap si Pria sangat serius dengan hubungannya. pokoknya kalau bukan dia Kakek nggak suka!"
Batin Ayu yang tadinya nyungsep ke dasar jurang kini seperti melambung tinggi saat mendengar itu. tak sia-sia ia mejamamkan telinga menguping pembicaraan Rey dan Kakeknya.
Sedangkan Rey menatap heran wajah Kakeknya, kenapa bertele-tele kalau ujung-ujungnya memaksakan juga.
"Masih banyak wanita yang lebih baik dari dia. Kakek belum tau saja, Cucu mu ini sangat berkharisma. jangankan wanita biasa, bidadari pun bisa Ku taklukan dengan satu kali kedipan mata."
"Coba saja, siapa gadis yang bisa membuat Kakek terkesan saat kali pertama seperti dia? pasti tidak ada." tantang si Kakek agar Rey cepat bergerak.
"Ada." sahut Rey mantap.
__ADS_1
"Pasti tidak ada." Kakek mengetukkan tongkatnya ke lantai. ia sungguh sudah sangat menyukai Ayu.
...-...
...-...
Pukul 21:00
Para tamu tampak sudah memenuhi lokasi pernikahan. begitu pula dengan Keluarga Ayu yang turut memberikan ucapan selamat kemudian mengobrol dengan beberapa kenalan.
Karena merasa tak nyaman, Rey mengajak Ayu pulang lebih dulu. ia tak mau semakin banyak orang yang ia bohongi dengan hubungan palsunya itu.
"Ayo Saya antar pulang.." ajak Rey menghampiri Ayu yang duduk menyendiri di salah satu kursi.
"hmm!" sahut Ayu memasang wajah judes, ia berdiri dan berjalan cepat ke arah luar.
"Kenapa wajahnya seperti itu?" gumam Rey heran.
...~...
Sepanjang perjalanan, Ayu diam tak membuka suara sama sekali. ia bahkan mengalihkan pandangannya ke luar jendela sepanjang jalan.
Sekarang mereka sudah tiba, biasa nya Ayu membiarkan Rey mengantar sampai depan pintu rumah. namun kali ini Ayu meminta Rey berhenti di depan gerbang.
Setelah dari tadi memperhatikan bibir Ayu yang manyun seperti mulut bebek, akhirnya Rey memberanikan diri untuk meminta maaf.
"Saya minta maaf.." ucap Rey seraya menahan lengan Ayu yang hendak memasuki gerbang.
"Untuk apa?" ketus Ayu.
"Untuk kesalahan Saya, pasti Kamu marah kan?"
"Apa kesalahan itu? Bapak tau salahnya di mana?"
"Karena Saya ninggalin Kamu dan sibuk dengan teman teman Kakek kan?"
chh... decik Ayu kesal.
"Bapak bahkan nggak tau dimana letak kesalahannya, nagapin minta maaf."
...****************...
__ADS_1