My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 40 : Batu loncatan


__ADS_3

Saat tengah merapikan lemari pakaian Ibu nya, Bagas menemukan beberapa lembar koran jadul yang menuliskan berita tentang penangkapan gembong narkoba terbesar se-Asia tenggara.


Ia lantas bertanya kepada Tari.


"Bude, kenapa banyak sekali koran bekas di sini? apa dulu Ibu suka membaca koran?"


Bagas penasaran karena setahu dia mendiang Sang Ibu tak tertarik dengan berita-berita semacam itu.


Tari lantas meletakkan baju yang ia lipat dan langsung mengambil koran tersebut dari tangan Bagas.


"Ini mah cuma buat alas pakaian saja agar pakaian tidak lembab." ujar Tari segera melipat koran tersebut.


Tari sangat ingat permintaan sahabatnya untuk menjaga rahasia ini dari Bagas.


"ouhh.." Bagas mengangguk saja, kemudian lanjut memilih pakaian Ibunya yang sekiranya masih layak untuk di sumbangkan ke sebuah yayasan.


...~...


Hari ke 5....


Rey mendatangi rumah Ayu untuk bertemu dengan ahli Psikolog. ia ingin memastikan bahwa dirinya masih waras setelah apa yang ia lakukan untuk Ayu.


"Menyatakan perasaan? bukankah itu bagus?" ujar Psikolog tersebut sambil tersenyum, akhirnya setelah sekian purnama pasien nya yang satu ini menunjukkan gelombang yang berubah.


"Masalahnya dia bertanya kenapa Saya tiba-tiba mencintai dia Pak, dia bahkan meragukan perkataan Saya. Saya bingung harus bagaimana." pungkas Rey tampak khawatir. ia takut kalau ternyata ini semua hanya akan membuat mereka semakin renggang.


Psikolog itu tertawa geli, ia seperti sedang menghadapi ABG yang baru mengenal cinta.


"Sejak kapan Kamu merasakan sesuatu yang berbeda di antara kalian? seperti jedag jedug di sini saat memperhatikannya?" ia menyentuh dadanya sembari memperagakan detak jantung yang kembang kempis.


"Sejak......" Rey menceritakan kapan pertama kali ia memandang Ayu sebagai perempuan.


Sebenarnya sudah sejak lama ia tertarik pada Ayu, bahkan saat dulu berlibur ke Paris pun ia sudah terkesima dengan kecantikan Ayu.


(hayo.. masih pada inget nggak waktu Rey pertama kali terpesona sama Ayu di dalam pesawat?😁)


Hanya saja, ketampanan Vino lebih memukau waktu itu. perasaannya kepada Ayu tak terlalu membuat Rey terkejut, karena dari dulu pun ia sudah menyukai Ayu walau hanya sebatas kenalan.


Namun yang membuatnya terkejut ialah perasaannya terhadap Vino, ia sama sekali tak tertarik seperti dulu lagi.


...-...


...-...


Setelah selesai berkonsultasi, Adit langsung menghampiri Rey untuk menanyakan perubahannya.

__ADS_1


"Bagaimana? apa ada kabar baik?" tanya Adit penasaran.


"Kabar buruk Pak.." sahut Rey dengan tatapan keputusasaan.


"Kenapa? apa yang buruk?"


Rey merebahkan diri di atas sofa sembari menutupi wajahnya dengan bantal.


"Saya menyukai Anak Bapak." suaranya terdengar bindeng namun masih jelas.


"HEE???" Adit mengusap kasar wajahnya, kenapa susah sekali membuat Rey menjadi pria normal.


Padahal Rey sudah di anggap anak sendiri, dan hal yang paling membahagiakan bagi para orang tua adalah melihat anak mereka menikah dan bahagia. Namun sepertinya ia tak bisa berharap demikian pada Rey.


Adit beranjak meninggalkan Rey yang terbaring di ruang kerjanya "aaihh.. padahal Aku berharap Kau berhenti menyukai Vino, tapi malah sekarang Kau menyukai Dika. hhhh... sungguh malang nasib anak anak lelaki ku."


...~~~~...


Tak terasa, malam pun tiba. Rey baru terbangun dari tidur nya saat merasakan hawa hangat dari bayangan seseorang.


"Pak Rey, bangun.." Dika menggoyangkan kaki Rey menggunakan ujung gagang sapu.


Namun Rey yang belum sepenuhnya sadar malah mengira kalau itu adalah Ayu. ia duduk lalu menarik tangan Dika agar duduk di sebelahnya.


"Kemana saja Kamu, Saya merindukan mu." bisik nya sembari mengusap bahu Dika dengan lembut.


Di saat yang sama pula Ayu masuk dan langsung murka melihat pemandangan itu.


"DASAR PENIPU 👿" Ayu mengambil gagang sapu di sebelah sofa dan mematahkannya menggunakan lutut.


Dika pun langsung berdiri dengan wajah kaget "Dek, jangan salah paham."


"Kakak jangan ikut ikutan sesat kayak dia ya!" geram Ayu memukulkan patahan gagang sapu itu ke meja.


Di situ Rey baru sadar dari kantuk nya, ia mengusap kelopak mata karena terkejut bahwa yang ia tarik tadi bukan Ayu.


"Dek.. sumpah Kakak normal! dia yang narik Kakak tadi!" Dika membantah kuat apa yang di pikirkan adik nya itu.


Ayu percaya dengan perkataan Dika, ia mengenal betul kalau Kakak laki-laki nya itu masih amat sangat mencintai pujaan hatinya yaitu Gaby.


"Berarti yang bermasalah Orang tua ini!" rutuk Ayu menatap tajam wajah Rey yang masih kebingungan.


"Kak tolong keluar, Ayu mau bicara Empat mata sama dia." tunjuk Ayu menggunakan gagang sapu yang patah itu.


Dika pun langsung keluar dari sana sambil mengucapkan kata 'amit-amit' sebanyak mungkin.

__ADS_1


"Jadi ini tujuan Bapak?" Ayu menekan suaranya karena merasa sangat kecewa.


"Tujuan apa?" sahut Rey sembari menggaruk lehernya, ia masih bingung dengan situasi ini.


Kemudian Rey tersadar "Jangan bilang Kamu salah paham?"


"Dulu Bapak mendekati Ayu agar bisa mendekati Mas Vino, dan sekarang Bapak mengatakan omong kosong agar bisa dekat dengan Kak Dika kan?"


"Sebenernya Bapak punya hati nggak sih? dengan yakin Bapak mengatakan omong kosong itu dan Bodoh nya Saya percaya! mulai sekarang jangan menunjukkan wajah Bapak lagi! Saya MUAK di jadikan batu lompatan untuk kegilaan Bapak!" tangisnya pecah seketika, betapa sedih dan malu ia saat teringat ajakan Rey untuk berpacaran ternyata hanya tipuan saja.


Air mata merembes dari wajah murka Ayu. ia membanting patahan gagang sapu tersebut lalu berlari meninggalkan Rey yang masih bingung.


"Kenapa jadi begini sih? jangan menunjukkan wajah apa nya? sudah jelas Kita tetap akan sering bertemu di kantor." ucapnya dengan wajah datar. otaknya sungguh buntu memikirkan bagaimana caranya agar Ayu percaya bahwa ia serius dengan perasaannya.


"Wahh.. kenapa dia? Kamu membuatnya marah?" tanya Adit terkejut saat melihat gagang sapu yang patah menjadi dua itu.


"Di mana Dika?" tanya Rey dengan kepala panas. kalau Dika tidak masuk ke sini pasti kesalahpahaman ini tak akan terjadi.


"Dia Keluar tadi..." Adit benar-benar di buat salah paham karena Rey langsung berdiri untuk mencari Dika.


"Tuhan.. lindungi anak-anak ku dari semua godaan menyimpang ini." bisik Adit memasrahkan diri.


...~...


Hari ke 6....


Ya, tinggal satu hari lagi waktu Ayu untuk menjawab perasaan Bagas. pikirannya yang sedang kalut membuat Ayu hanya bisa termenung sembari merebahkan kepala di atas meja kelasnya.


"Selamat pagi calon pacar...." sapa Bagas sangat antusias. ia meletakkan tasnya di kursi lalu mendekati Ayu.


Di bukanya sebuah buku yang sengaja Ayu letakkan untuk menutupi wajah. "eh? kenapa wajahmu?" Bagas terkejut saat melihat mata Ayu yang sembab dan bengkak.


hikss...hiks... huuuaaaa😭😭😭


Ayu malah menumpahkan tangisnya saat melihat wajah Bagas.


"Kenapa? ada apa..?" tanya Bagas sembari mengusap lembut kepala Ayu.


"Ayo ikut Aku..." ia membawa Ayu ke suatu tempat agar Ayu bisa leluasa menangis.


Ayu menggeleng "malu..." ujarnya berbisik, ia tak mau orang melihat dirinya menangis seperti itu.


Bagas lantas melepas jaketnya lalu menutupi kepala Ayu "Kalau begini bagaimana?"


Ayu mengangguk pelan, ia memegang lengan Bagas kemudian mengikuti langkah kaki Bagas perlahan.

__ADS_1


...************...


__ADS_2