
Di dalam kelasnya Ayu tampak sedang mengutak-atik laptopnya sedari tadi. Ia menulusuri semua artikel yang berkaitan dengan Lembaga penopang anak Yatim-piatu seperti yang di katakan Laura.
Dan ternyata Laura tidak berbohong mengenai spidol itu. Sebuah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan itu memberikan souvernir berupa sepaket spidol mini berwarna dengan 12 warna berbeda.
Namun Ayu tak bisa terkecoh begitu saja, bisa saja Laura sengaja mengatakan itu untuk menutupi bukti yang lain, seperti Jaket dan inisial yang selalu ia tulis setiap meneror Ayu.
"Pantas saja dia memakai inisial A, ternyata dia mau pamer kalau nama depan Kami sama. Awas saja, kalau sudah ku dapatkan buktinya Akan ku buat dia menyesal karena telah melakukan ini!" geram Ayu menggeratkan giginya. Sudah tertangkap basah, masih saja Laura melontarkan alasan tak masuk akal itu.
Datanglah Bagas dengan tampang lesu, kantung mata hitam serta alisnya yang di lipat membuat kesegarannya hilang.
"Bagaimana? dia mengaku telah melakukan itu?" tanya Bagas, ia melemparkan tasnya ke atas meja kemudian merebahkan kepalanya di sana.
"Dia mengelak..." Ayu memutar Laptop nya dan menunjukkan Lembaga sosial yang ia korek dari tadi.
"Apa itu?" tanya Bagas heran.
"Dia mengelak karena ini, bukan cuma dia yang memiliki benda itu." gumam Ayu pelan agar suaranya tak didengar teman-teman yang lain.
Bagas mendecih kesal, jelas sekali motifnya kalau dialah pelakunya. "Mana ada maling ngaku." tukas Bagas kesal.
"Kamu nggak lupa dengan kesepakatan kita kan?" tiba-tiba raut wajah Bagas kembali berseri. Pelaku sudah di temukan, dan mereka terbukti bukan saudara. Bagas tak ingin melewatkan kesempatan itu lagi.
Ayu tersenyum kecil, bagaimana ia bisa lupa saat siang dan malam ia berdoa semoga mereka bukan saudara. "Tentu saja Aku ingat. Jadi kapan kita akan meresmikan hubungan?"
"Minggu depan ulang tahunmu kan? Ayo kita resmikan hari itu." Bagas mengedipkan matanya, ia sudah menyiapkan kado spesial untuk Ayu.
__ADS_1
"hahahaha.. Baiklah, tapi bolehkah Aku bertanya tentang siapa Ayah kandungmu sebenarnya?" Ayu tau pasti Bagas mengetahui Fakta yang membuatnya kecewa, pasti ia tak menyangka dengan kebenaran itu terlihat dari wajah murungnya tadi.
"Ayahku...."
"Selamat pagi semua..." sapa Pak Dosen dan di sahuti oleh semua siswa secara serempak.
Bagas pun jadi mengurung jawabannya, lagipula mempunyai ayah seorang Mafia narkoba bukanlah hal yang patut di banggakan. jadi sebaiknya ia merahasiakan itu dari semua orang terutama Ayu.
...~~...
Ayu sudah memberitahu hasil tes DNA nya dengan Bagas. Ia pun menceritakan kepada keluarganya bahwa Ayah kandung mereka dan Ibu Bagas tak pernah menikah.
Semua terjadi begitu saja, Ayu berusaha menjelaskan kepada keluarganya bahwa Ibunya Bagas bukan perusak rumah tangga orang lain. Ia benar-benar berusaha membangun citra baik untuk Ibunya Bagas. Karena ia tak ingin jika mendengar seseorang mencemooh mendiang Ibunya Bagas yang semua tidak tau apa-apa.
Keluarnya pun menerima cerita itu, mereka lega karena Bagas muncul di kehidupan Ayu merupakan takdir. bukan di sengaja apalagi sampai punya niat terselubung.
"Mau mendaftarkan diri ke Lembaga itu?" tanya Rey saat melihat Ayu sibuk mencari tahu tentang Lembaga sosial tersebut.
Ayu menoleh ke arah Rey yang berdiri tegak di belakangnya. Mereka saling menatap dingin di antara sofa yang di jadikan sandaran oleh Ayu.
Memang terlihat sangat dingin, namun kegaduhan di dalam sana siapa yang tau? bahkan gemuruh menyelimuti saat tatapan mata mereka bertemu.
Rey yang baru saja selesai berurusan dengan Adit menghampiri Ayu, ia melepas kacamatanya lalu duduk tepat di sebelah Ayu.
"Ambilkan Saya air.." pintanya kepada Ayu. dan Ayu menuruti saja tanpa membantah. Seperti mereka sama-sama sepakat melupakan semua gelombang yang beberapa saat lalu membuat mereka canggung.
__ADS_1
Ayu membuka pintu kulkas, ia sedikit bingung minuman apa yang kiranya cocok di berikan kepada Pria tua itu. Saat tengah memandangi isi kulkas, tiba-tiba Ayu merasakan sensasi gatal di area bok0ngnya. Mungkin karena kelamaan duduk di sana tadi. Ia pun menggerakkan tangan menuju TKP yang gatal, namun saat hampir menyentuh area yang gatal Ayu tiba-tiba teringat akan suatu hal.
"Hentikan Ayu! Pria yang ada di belakangmu sekarang adalah Pria sungguhan!" bisikan itu membuat tangan Ayu perlahan menyingkir.
"aiss! ceroboh banget sih Kamu Yu.." gerutunya kesal. ia kemudian mengambil sebotol jus jeruk lalu kembali ke sofa.
"Ini..." ucap Ayu menyodorkan jus jeruk itu. Kemudian ia kembali memangku Laptopnya sambil sesekali melirik Rey.
"Nggak jadi di garuk?" tanya Rey tanpa basa-basi membuat Ayu terbelalak.
"hah..?" gugup Ayu.
"Bok0ng mu gatal kan? Kenapa tidak di garuk saja.."
"Ih..! bisa diem nggak! Malu tau." potong Ayu mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Rey.
"ch.. Malu? dulu Kamu menggaruknya dengan santai bahkan bunyinya terdengar sangat crispy."
"Ya Beda..! sekarang Bapak sudah..."
"Sudah apa?" Rey mencela dengan suara dalam.
Ayu tak mampu melanjutkan kata-katanya, raut wajah Rey yang begitu sendu itu membuat lidahnya kelu. Apa bisa mereka melewati setiap hari dengan rasa canggung seperti ini? Ia bahkan mencoba bersikap masa bodoh dengan yang mereka alami tapi ternyata itu tak bisa menutupi rasa canggungnya.
Jika dulu jantungnya berdebar saat melihat Rey, kini berbeda. Debaran itu tak lagi ada, debaran yang dulu terasa indah itu kini menjadi rasa canggung, rasa malu serta sedikit takut. Itu lah yang sekarang ia rasakan setiap kali menatap Rey. Sejak pernyataan cinta mendadak dari Rey, semua rasa kagum di hatinya berubah menjadi kecemasan.
__ADS_1
...************...