
Rey membuka matanya perlahan, rasa dingin yang menjalari seluruh tubuh membuatnya terbangun dari tidur lelap yang menenangkan. ia menggaruk tangannya yang saling menimpa di atas perut. tapi kok tidak terasa?
Rey memperhatikan tangan kanannya yang terus menggaruk, namun tangan kirinya tetap tidak merasakan apapun.
"tunggu, sejak kapan tanganku lentik begini?" ia mengangkat tangan itu dengan tangan kanannya, lengan kecil berkulit putih mulus itu membawa pandangan Rey berpindah ke sebelah di mana si pemilik tangan itu tengah tertidur pulas di balik selimut.
"AYU?! kenapa dia disini?"
Rey tambah terkejut lagi saat mendapati mereka berdua terbalut selimut yang sama.
"Dimana bajuku? AYU BANGUN! BANGUN YU!" ia mengguncang tubuh Ayu yang tengah tertidur pulas.
"hmmm...." sahut Ayu tersenyum sambil berusaha membuka matanya.
"Kenapa kamu disini? Apa yang Kamu lakukan hah!"
Ayu tersenyum kecil, ia melirik nakal ke wajah Rey yang tengah merah padam. ia menggerakkan pelan jari telunjuknya di rahang Rey dengan tatapan menggoda.
"Bapak lupa?semalam kita kan habis....."
🙈🙈
"Rey! bangunlah! Saya akan benar-benar mengurangi bonus mu bulan ini. bangun bangun bangun!!" pekik Dimas sembari menusuk pipi Rey menggunakan gagang kemoceng.
Rey membuka matanya dan ternyata itu hanya mimpi. "ASTAGA!"
"Astaga? benar, Kau harus terkejut karena bonus mu akan berkurang 70 persen bulan ini!"
"Apa Saya barusan tertidur?" Rey masih ingin memastikan apakah tadi benar-benar hanya mimpi?
"Barusan? pikirkan berapa lama waktu yang di butuhkan untuk mengukir kerak air liur di pipimu itu!"
Rey langsung menutup mulutnya dengan tangan "maaf Pak, Saya janji tidak akan melewatkan jam kerja lagi." suaranya terdengar bindeng karena ia juga menutup hidungnya.
"Pergilah cuci wajah mu." ucap Dimas sembari mengepakkan telapak tangannya agar Rey pergi.
"Permisi Pak." pamitnya cepat membalikkan badan.
Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia duduk di kursi kemudian mendapati undangan pernikahan Faro yang di letakkan Rey di atas meja.
"Apa ini yang membuat bujang tua itu tampak stress? ssshh.. kasihan sekali." lirih Dimas merasa prihatin.
...-...
...-...
__ADS_1
Sementara di dalam toilet, Rey tampak melamun dengan wajah putus asa. ia memicingkan mata ke arah pantulan wajahnya sendiri di cermin.
"Apa kau orang me$um hah? kenapa Kau terus memimpikan hal seperti itu!"
Tiba-tiba ia teringat ucapannya kepada Faro kemarin untuk membawa Ayu dan mengenalkannya pada Kakeknya.
Setelah bersikap sok acuh kemarin, bagaimana ia akan mengatakan itu? atau katakan saja yang sebenarnya pada keluarga bahwa hubungan mereka sebenarnya hanya formalitas saja?
"aargghh!! bisa gila Aku."
...******...
Sementara itu di belakang rumah, Ayu yang tengah mengawasi Alea dan El bermain malah melamun saat terbayang perkataan Bagas kemarin.
"Jangan mengucapkan terimakasih dengan cara ini, karena Aku akan semakin menyukaimu."
Wajah menawan Bagas bahkan masih tergambar jelas di ingatan Ayu saat ia mendengar kalimat itu. kalimat yang mengobrak-abrik isi kepalanya hingga membuat ia selalu tersipu-sipu.
"uuuhhh.. gimana ini? dari tadi Aku terus membayangkan dia. hihihihi😊🤭🤭" tubuh Ayu bergoyang ke kanan dan kiri karena salah tingkah.
Bahkan ia berkhayal ada Bagas di sana, ia memalingkan wajahnya dan tersenyum dengan pipi merah merona. lalu ia mendapati Rey yang tengah berjalan ke arahnya.
"Kalau Saya naksir Kamu kenapa? masalah?" kalimat yang di ucapkan oleh Rey tempo hari itu langsung merobohkan semua hayalan manisnya akan sikap Bagas.
"Kenapa kalian merampas isi kepalaku di saat yang bersamaan?" bisik Ayu dengan raut wajah bimbang. padahal belum pasti juga omongan Rey kemarin tidak ngelantur.
Di saat itu pula Ayu merasa apakah mungkin Rey tengah gugup setelah perkataannya kemarin?
"Ngapain Pak? ada kerjaan?" tanya Ayu sok santai, padahal hatinya tengah salting brutal.
"Saya memberikan undangan untuk Pak Adit." sahut Rey tak bergeming dari posisinya.
"Undangan?"
"Pernikahan Kak Faro, besok malam."
"ohh.. Ayu nggak di undang kan?" ia bingung sedang mengatakan apa, memangnya siapa dia hingga berpikir akan di undang oleh Faro.
"Hanya Pak Adit dan kedua Kakak ipar mu."
"Syukurlah.." Ayu berlagak lega.
Rey menggaruk pelipisnya "e.. tapi, sebenarnya Kamu di undang."
"hah? yang bener yang mana? di undang atau nggak nih? mana undangannya?"
__ADS_1
"Tidak ada.."
"Ya berarti Saya nggak di undang Bapak Yoseph!" ketus Ayu sedikit kesal, apalagi melihat mimik wajah Rey yang bingung. kan jadi tambah penasaran, bertambah kesal lah ia.
"Di undang, Kamu di suruh datang ke sana sebagai Pacar Saya."
"h..hah? Pacar? memangnya Bapak belum cerita ke mereka kalau kita..."
"Cuma pura-pura, Saya tau kalimat itu mudah. tapi kalau mereka bertanya kenapa kita pura-pura?"
"Ya bilang aja kita iseng, atau bilang aja Cinta monyet, Cinta ingusan."
"Kamu yang ingusan!"
Ayu reflek meraba hidungnya, apa benar ada ingusnya?
"Saya sudah bangkotan Kamu tau kan? kalau sekadar iseng kenapa sampai di bawa ke acara relasi yang di saksikan banyak orang? Saya jawab apa kalau mereka bertanya soal itu?"
"Ya.. jawab aja jujur kalau "
"Saya belum siap, terlepas seperti apa reaksi mereka saat mengetahui itu, Saya lebih khawatir akan membuat mereka malu dan kecewa. mereka selama ini menaruh harapan besar untuk Saya, bagaimana perasaan mereka kalau tau tentang hal itu?"
Jika bukan Ayu, siapa yang akan bisa mengerti perasaan Rey saat ini? hanya Ayu yang selalu menjadi harapan nya untuk bisa memahami, dan mendampingi.
"Oke, Ayo kita pergi bersama.." ucap Ayu tanpa berpikir lagi. bagaimana bisa ia diam saja saat melihat Pria yang di cintai dalam keadaan gusar?
Mendengar itu tentu saja Rey sangat senang, ia memegang tangan Ayu lalu mengucapkan terimakasih dengan wajah berbinar.
"Terimakasih..."
"Sama sama heheh.." senyum kecil pun tersimpul di ujung bibir Ayu. sejenak mereka saling adu tatapan ceria, senyum bahagia dan tak ada rasa canggung seperti sebelumnya.
Hingga saat Rey teringat pada mimpinya kemarin. sontak ia melepaskan tangan Ayu dan menghempaskan nya dengan sekuat tenaga.
"Kalau punya dendam sama Saya jangan nanggung nanggung Pak. banting aja sekalian ke aspal nggak apa-apa kok.😑😤" Ayu memutar tulang belikatnya yang terasa mau lepas di buat Rey.
"Ya ampun, Saya minta maaf." kenapa Kau melakukan itu sih! rutuk Rey geram pada diri sendiri.
Jijik nggak segitunya juga kali, giliran sama Vino lemah lembut anggun gemulai. giliran ke Ayu, perlakuan atau perkataan sama sekali nggak pernah pakai filter.
Tetap suka? jelas! selagi dunia masih berputar maka harapan untuk bisa menduduki tahta tertinggi di hati Rey belum pupus.
Akan tetapi, sejak perkataan Bagas kemarin hati Ayu seperti tengah terombang-ambing sekarang.
Di satu sisi ada pria matang yang ia cintai dengan segala kekurangannya. di sisi lain ada lelaki sederhana yang mencintainya dengan beribu perilaku manis yang membuat hatinya kian hari semakin luluh.
__ADS_1
Lalu, harus kemanakah hati harus di sandarkan?
...**********...