My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 20: A


__ADS_3

Cardigan itu ternyata tertinggal sewaktu Rey hampir saja mengakhiri hidupnya di bawah shower. namun kalimat yang di lontarkan Rey sangat ambigu dan bisa membuat yang mendengarnya langsung salah paham. tentu saja Ayu tak mau jika ada orang menganggap dirinya wanita sembarangan.


Ia melompat dari atas motor lalu menginjak kaki Rey sekuat tenaga. "bilang aja waktu kerumah! nggak usah pake kamar segala." bisik Ayu melebarkan matanya.


"Kan memang kita.."


"Nanti yang dengar bisa salah paham. ntar Ayu di kira cewek nggak bener lagi." lagi-lagi ia memotong ucapan Rey.


Sementara di atas motor Bagas hanya mengamati mereka, ia bisa menilai seberapa besar peluang mereka bisa bersama. di sana pula lah timbul keingintahuan alasan apa yang membuat Rey tak membalas perasaan Ayu.


"Ya nggak usah mikirin orang, kan Saya nggak suka perempuan." bisik Rey agar tak ada yang mendengar. di sisi lain ia senang karena Ayu menyebut dirinya dengan nama lagi, bukan dengan kata Saya seperti kemarin.


"Terus Bapak kira semua orang tau kalau.." hampir saja ia kelepasan, ia langsung bungkam dan mengalihkan pandangannya.


"Kamu sudah nggak marah sama Saya?"


Barulah Ayu teringat kalau sebenarnya ia dan Rey sedang tidak baik-baik saja kemarin. bisa-bisanya ia lupa kalau mereka sedang ada masalah.


"Masih lah!" sahut Ayu gengsi lalu segera naik ke motor Bagas.


"Ayo.." ujarnya sambil menepuk pelan pundak Bagas.


Dengan senang hati Bagas melajukan motornya, ia bahkan sengaja menaikkan gas nya secara tiba-tiba hingga membuat Ayu spontan berpegangan di pinggangnya.


"Pelan-pelan dong..." ujar Ayu sambil tertawa, seperti sedang naik wahana yang sangat asik rasanya.


"Makanya pegangan hahahah.." sahut Bagas tertawa pula.


Rey melonggarkan dasinya saat melihat mereka tertawa lepas bersama. "dasar bocah.." gumamnya mendengus kesal, entah apa yang membuatnya kesal hingga ia salah membuka pintu mobil.


"Maaf Pak, mobil Bapak yang sebelah sana." seorang petugas keamanan menunjuk mobil Rey yang ada di sisi kanan.


"oh iya maaf." ia sampai terkejut melihat mobilnya pindah posisi.


"Perasaan sebelah sini tadi.." lirihnya, padahal 0mobilnya tidak bergerak kemana-mana.


...~~~~...


"Kalian pernah sekamar?" tanya Bagas to the point.


"Nggak lah! cuma kebetulan aja waktu itu." bantah Ayu tegas, benar dugaannya pasti Bagas akan salah paham.


"Kebetulan kamu datang kerumahnya lalu pakaian mu tertinggal? kebetulan yang amat sangat kebetulan." ujar Bagas sedikit sewot. ia bahkan seperti kehilangan tenaga sampai menyeret ranselnya sejak turun dari motor.


"Kamu cemburu ya..?" Ayu berniat menggoda Bagas saja. namun tak di sangka Bagas menanggapi itu serius.


"Memang.." sahutnya datar.


"Gadis yang ku sukai mengunjungi kamar laki-laki yang bukan saudaranya. bagaimana bisa Aku nggak cemburu?" tuturnya menatap sendu kedua bola mata Ayu.

__ADS_1


Ayu mematung sesaat menatap pria di hadapannya itu, apakah seperti ini rasanya di cintai seseorang yang tak di harapkan?


"Kapan kejadiannya? apa sebelum kita kenal?" tanya Bagas lagi, rasanya ia benar-benar tak rela wanita itu memiliki waktu untuk pria lain.


Kejadian yang amat melekat di ingatan Ayu, ia bahkan masih mengingat persis hari itu.


"17 Februari..." sahut Ayu pelan.


"ahh.. waktu itu."


Bagas pun masih mengingat persis hari itu, hari dimana ia demam tinggi karena habis hujan hujanan bersama Ayu. hari dimana ia menantikan telepon dari Ayu untuk sekedar di tanyai kabar, ternyata hari itu Ayu sedang bersama orang yang di cintai nya.


"Kamu marah?" Ayu bisa merasakan seberapa sakit rasanya ketika tak bisa mengutarakan rasa cemburu tanpa ada ikatan.


"Aku menyukaimu.. kamu tau kan?" bisik Bagas.


"Tau.. Aku udah sering dengar hahahaha."


"Baguslah.. jangan muak karena sekarang Aku akan lebih sering mengatakan itu."


"Silahkan, telingaku selalu terbuka lebar untuk itu aaww..!" hampir saja ia jatuh, beruntung Bagas sigap menangkap lengannya sebelum wajahnya membentur tembok.


Ayu menoleh dan mencari orang yang menyenggol bahunya tadi, jika di lihat dari situasinya yang tidak terlalu ramai bisa jadi ada seseorang yang sengaja mendorongnya.


Bagas mengguncang lengan Ayu "hei.. cari apa sih? kepala mu hampir terbentur tembok tau!"


"Ada yang dorong Aku tadi, Aku yakin dia sengaja."


"Serius Bagas, nggak sengaja gimana coba? orang longgar gini." Ayu melihat sekeliling mereka.


Bagas pun menoleh ke sekitar yang memang tak terlalu ramai orang berlalu lalang.


"Sudahlah.. ayo masuk." Bagas memutar kepala Ayu dan mendorongnya menuju ke kelas.


...~~~~...


Saat jam istirahat, Ayu diam-diam mengikuti Amanda ke toilet untuk mengetahui apakah benar dia yang selama ini menulis ancaman untuknya.


Ayu mendekati Amanda yang tengah mencuci tangannya di wastafel.


"Manda.. ini punya kamu?" Ayu mengeluarkan spidol mini dari sakunya.


"Kayaknya bukan deh Yu.." sahut Amanda memicingkan mata nya mengamati benda itu.


brakk... tiba-tiba botol sabun di tangan Amanda jatuh ke dalam wastafel. ia segera membasuh tangganya agar tidak licin lalu mengambil kembali botol sabun tersebut.


"Atau kamu pernah lihat teman sekelas mu yang pernah pakai ini? soalnya Aku jumpa ini waktu lewat di depan kelas mu."


"Entah ya..." sahut Amanda ragu. ia meninggalkan Ayu di sana. Amanda memang di kenal sedikit cuek, namun ia memiliki hati yang lembut apalagi jika dengan orang yang di anggap baik olehnya.

__ADS_1


Sejauh ini Ayu berteman dengan Amanda, tidak pernah ia terlibat kesalahpahaman ataupun masalah pribadi, hubungan mereka cukup baik walau tak terlalu sering bertemu di karenakan mereka sama sama murid yang cukup sibuk di bidangnya masing-masing.


Lalu apa yang membuat Ayu curiga bahwa Amanda pelakunya? memang ada banyak nama berinisial A di kampus itu, tapi spidol itu kan jatuh saat Ayu menarik tas Amanda dan Laura.


"Apa ini punya Laura? tapi kan namanya Rania Laura, ngapain dia ngasih inisial A setiap nulis itu?" Ayu menggaruk kepalanya, juga apa tujuannya kalau memang Amanda atau Laura pelakunya?


...~~~~...


Hari berlalu semakin singkat, Ibunya Bagas kini memakai tutup kepala bahkan saat di rumah karena rambutnya semakin menipis.


Bagas yang baru selesai memotong rambut pelanggannya melepas celemek lalu menghampiri sang Ibu.


"Ibu ngapain pakai tutup kepala? Ibu demam?" ia pikir Ibunya mengenakan itu agar tak kedinginan.


"Enggak kok, Ibu merasa udah semakin tua, makanya Ibu mulai pakai ini. ini kan tradisi di keluarga kita." sahut sang Ibu pelan sambil merapikan susunan alat creambath.


"oohh.. seperti mendiang nenek ya Bu?"


Ibu Bagas mengangguk dan tersenyum, hari ini Bagas menyebut mendiang neneknya. entah besok atau lusa giliran dirinya yang di sebut mendiang.


Bagas duduk di sebelah Ibunya lalu menceritakan tentang Ayu.


"Bu.. mau tau nggak? kemarin Aku bilang suka lagi sama anak itu, tapi lebih serius."


"Masih juga kamu? memang nya nggak takut nanti di depak sama keluarga nya hm?" ledek sang Ibu, ia berusaha mengingatkan bahwa posisi mereka berbeda dengan Ayu.


"Aku udah mm.. berapakali ya jemput dia kerumahnya, tapi keluarga nya nggak sekejam itu kok. walaupun pandangan mereka pertama lihat Aku pasti begini." Bagas memperagakan pandangan keluarga Ayu yang tajam dan sedikit sinis saat pertama kali melihatnya.


"hahahah.. kamu sih, nanti kalau keluarganya ngasih kamu uang terus kamu di suruh jauhi dia gimana? seperti di film-film gitu."


"Ya lihat dulu berapa. kalau 5M keatas Ku terima deh HAHAHAHA.. mayan buat beliin Ibu rumah baru."


Ibunya Bagas ikut tertawa geli "hahahaha.. terus anak itu kamu tinggalin gitu aja?"


"mmm iya ya, atau kita culik aja dia setelah terima uang nya? Ibu mau kan tinggal satu rumah sama dia?"


"Boleh.. hahahhaha.."


Mereka melepaskan tawa di satu sofa kecil yang sudah tampak usang. Bagas menyandarkan kepalanya ke bahu sang Ibu sambil terus melanjutkan cerita halu nya di iringi tawa kecil sang Ibu.


...~~~~...


Saat matahari hampir terbenam, gadis berambut ikal dengan topi dan masker hitam datang ke kelas Ayu yang sudah tak ada orang. sebelum menutup pintu kelas ia memastikan bahwa tak ada orang yang melihatnya.


Fania ~ Shandika ~ Kirana


Aku menyukai nama indah saudaramu, perlu kah ku tulis nama lengkap nya lain kali?


...{A}...

__ADS_1


Setelah menulis tak lupa ia meninggalkan jejak berupa inisial A, kemudian ia pergi sambil melirik ke arah CCTV di sudut kelas.


...*******...


__ADS_2