
Ketika dirundung rasa takut dan khawatir, telapak tangan Ayu akan dingin dan berkeringat seperti air es. Sudah sejak lama ia mengalami kondisi tersebut, namun tak ada satu pun keluarganya yang mengetahui karena memang Ayu merahasiakannya.
Namun Rey yang selama ini dekat dan menjadi tempat ternyaman Ayu untuk mengadu mengetahui itu. Maka dari itu ia mengambil selembar handuk kecil yang selalu ia bawa di balik saku Jas nya untuk berjaga-jaga hal seperti ini terjadi.
"Tenang ya.. Kamu nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Rey pelan, ia menatap wajah Ayu penuh perhatian.
"Iya..." sahut Ayu mengangguk, genggaman hangat yang di berikan Rey membuat semua rasa takutnya perlahan sirna.
Menyaksikan itu, Bagas hanya bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Batinnya terasa sesak saat membayangkan mungkin saja Rey lah alasan Ayu memintanya mengulur waktu.
Sebagai senior dari jeratan cinta segi tiga, Bian memahami ekpresi wajah Bagas yang tampak lesu. Ia pun berdiri dan menarik Bagas beranjak dari sana.
"Ayo kita periksakan bahu ku, apa masih sakit?" Bian memijat pelan tulang belikat Bagas guna memastikan.
"Jangan menyentuhnya asal-asalan!" ketus Bagas melangkahkan berat kakinya.
"Ini harus segera di tangani, Saya dengar Kamu atlet Basket? bisa bahaya kalau di biarkan."
Bian membawa Bagas ke ruangan Dokter Ortopedi agar mendapat pemeriksaan. Sebenarnya bukan urusannya jika tulang bahu Bagas patah sekalipun. Namun ia tak tega melihat raut wajah Bagas saat memandangi Ayu.
"Berhentilah menangis, Bu Rianti akan sedih jika melihatmu begini." ujar Rey mengusap lembut butiran bening di pipi Ayu.
"Saya antarkan pulang ya? Kamu butuh istirahat."
"Nggak! Ayu mau jaga Mama, gimana nanti kalau orang-orang jahat seperti itu datang lagi?" pungkas Ayu menaikkan pandangannya menatap Pria di hadapannya itu.
Rey memandang haru wajah sedih Ayu, memang jika menyangkut orang yang di sayang Ayu akan sangat bermurah hati. Sama hal nya dengan yang terjadi selama ini. Ayu selalu memberi perhatian, selalu membantu, bahkan memberikan dukungan untuknya. Dan bodohnya, ia malah menyia-nyiakan kebaikan itu dengan amat tak berperasaan.
"Semua saudara mu sudah datang. Ada Vino dan Pak Dimas di sini, apalagi yang perlu di khawatirkan? Saya malah khawatir denganmu kalau Kamu terus begini." tak sedetikpun Rey melepaskan genggamannya agar tangan Ayu tetap hangat. Kalau sudah kambuh, Ayu bisa saja pingsan karena ketakutannya memicu detak jantung yang tidak normal.
Ayu tetap hening, ia memandangi tangan kekar yang membalut telapak tangannya dengan seksama. Tangan orang yang paling ia harapkan selama ini.
__ADS_1
"Kita pulang saja ya.." bujuk Rey lagi kemudian Ayu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
...~...
Sesampainya di rumah Rey memapah Ayu ke kamarnya. Ia membaringkan tubuh Ayu yang lemas lalu menutupi nya dengan selimut.
Tak hanya itu, Rey bahkan menutup semua tirai yang ada di sana agar keadaan kamar menjadi redup. Lalu ia menyetel kaset bermelodi sayu untuk menenangkan perasaan Ayu.
Rey sudah sangat memahami kondisi itu, ia bahkan hapal dan tau tindakan apa yang harus ia ambil agar Ayu bisa tenang dan pulih dari ketakutannya.
"Saya tinggal ya.." bisik nya sembari mengusap pelan rambut Ayu.
"Apa Bapak benar-benar mencintai Ayu?" lirihnya pelan, di keadaan seperti itu ia malah di buat tersentuh akan perhatian Rey.
"Percuma Saya menjawab, Kamu juga tidak akan mempercayai Saya kan?"
"Apa alasannya? yang membuat Bapak menaruh rasa itu ke Ayu?"
Rey mengurungkan langkahnya, ia memasukkan tangan ke saku celana dan berbalik menghadap Ayu. "Salah mu sendiri membuat Saya terbiasa." Ia mengambil jeda dengan menarik nafas, kemudian melanjutkan perkataannya.
"Perhatianmu, senyuman mu, bahkan Kamu dengan sabar mencintai orang tidak normal ini. Lambat laun Saya jadi terbiasa, bahkan Saya mulai gelisah melihatmu memberikan perhatian ke Pria lain. Tadinya Saya pikir itu hanya ketergantungan, ternyata Saya tidak rela perhatianmu terbagi. Barulah Saya sadar, kalau Saya ingin memilikimu seutuhnya. Bukan sebagai teman sahabat ataupun rekan, melainkan sebagai kekasih."
Mendengar itu suhu tubuh Ayu menjadi panas dingin tak karuan. Alasan yang ingin di dengar, kini ia mendapatkannya bahkan lebih dari yang di bayangkan.
Ayu bangkit dari posisi tidurnya kemudian duduk di tepian ranjang. Tatapan sayu ia arahkan pada Rey. Wajah Pria itu benar-benar serius menurutnya. Pandangan legam yang biasa ia lihat kali ini tampak berbeda hingga sulit untuk di jelaskan.
"Alasan apa lagi yang ingin Kamu dengar?" tanya Rey seolah menantang.
Ayu menggeleng pelan, ia mendongak mengamati raut wajah Rey yang tampak siap memberikan seribu pernyataan.
"Lalu Kamu memilih Dia atau Saya?"
__ADS_1
"Entahlah..." Ayu bingung, dari mana Rey tau kalau Bagas juga menyatakan perasaan?
Sepertinya ia lupa kalau Rey mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap orang-orang di sekitarnya.
Rey mengulum senyum tipis. "Jelas sekali Kamu bingung, apa Kamu masih menganggap Saya berbohong?"
Lirikan mata Ayu langsung berpindah saat Rey menanyakan itu. Ia mencungkil pelan kuku Ibu jarinya karena gugup.
Melihat itu sepertinya dugaan Rey tepat, Ayu masih belum mempercayainya sebagai seorang Pria seutuhnya.
"Baiklah..." desis Rey, ia melonggarkan dasinya dan menunduk mendekati Ayu.
Ia meraih dagu Ayu lalu mendongakkan wajah gadis itu hingga tatapan mereka bertemu. Dalam hitungan detik Rey langsung menenggelamkan bibir Ayu dalam ciumannya. Ya, bukan lagi kecupan. Melainkan ciuman hangat yang selama ini tersimpan elok oleh keduanya.
Sekujur tubuh Ayu menjadi panas dingin tak karuan, kelopak matanya bahkan tak bisa terpejam menyaksikan Rey yang terpejam penuh hikmat. Ia menopang kuat tubuhnya dengan kedua tangan agar tak terdorong oleh kungkungan Rey yang amat erat.
"Kenapa tak memejamkan matamu?" bisik Rey membelai lembut tengkuk mungil itu.
Bibir Ayu bergetar saat itu, hanya deru nafas yang terdengar laju membuat Rey melanjutkan kembali ciuman lembutnya sembari melingkarkan tangannya di pinggang Ayu.
Merasa kewalahan dengan serangan Rey, ia pun mendorong bahu Pria itu hingga membuat aktivitasnya terhenti.
"Kenapa?" bisik Rey dengan tatapan menggoda.
Ayu benar-benar hampir tak mengenali Pria itu. Ekpresi dan raut wajahnya sungguh berbeda jauh dari yang biasa ia lihat. Jantung Ayu semakin porak poranda di buatnya.
Rey pun tak menyangka ia bisa melakukan itu, gadis yang selama ini ia pandang sebelah mata kini malah membangkitkan desiran hebat di setiap pembuluh darahnya.
"Berhenti Pak.. Cukup." pinta Ayu dengan suara hampir hilang. Ia bahkan tak bisa menatap wajah Pria di hadapannya itu.
Rey mengangkat tubuhnya dari hadapan Ayu "Maaf..." bisik nya pelan sembari menata anak rambut Ayu yang berserakan di dahi.
__ADS_1
...***********...