My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 44: Kata Hati


__ADS_3

Ayu membuang nafas yang sedari tadi ia tahan, terdengar panjang dan berat ia menghembuskan nafas. secara tidak langsung ia menganggap Rey benar-benar membohonginya kemarin.


"Belum? Maksut nya gimana Pak? Saya merasa gugup saat melihatnya, Saya merasa ingin terus bersamanya, Saya bahkan memimpikan hal erotis dengannya apa itu masih belum cukup?" bantah Rey tak terima, ia sudah ingin menghilang saat itu karena tatapan Ayu yang begitu tajam.


"Apa..? dasar Mesum!" rutuk Ayu menaik-turunkan bola matanya.


Pak Tio tersenyum tipis, ia tau betul Rey segera ingin mendapatkan pengakuan itu.


"Perasaan yang Kamu alami selama ini termasuk hal bagus. tidak menutup kemungkinan itu mengarahkan mu kepada jalan yang benar. namun sebagaimana perasaan mu terhadap sesama lelaki tumbuh, begitu pula perasaanmu yang sekarang mulai tumbuh untuk lawan jenis. saat pertama kali merasakan sesuatu untuk sesama jenis, apa Kamu memerlukan pengakuan seseorang?tidak kan? Kamu terus menyelami perasaan itu, hingga akhirnya dirimu sendiri yang memutuskan kalau Kamu menyukai sesama jenis. Lalu sekarang kenapa Kamu meminta pengakuan orang lain? bukankah itu artinya Kamu sendiri belum yakin dirimu sudah normal atau belum?"


"Saya..." ucap Rey tampak ragu.


"Jika memang seperti yang Kamu bilang, bahwa Kamu menyukai gadis ini. maka selami perasaanmu, yakinkan nurani mu, dan buat dirimu yakin bahwa Kamu benar-benar sudah normal. Karena hanya dirimu sendiri yang bisa membuang jauh masalalu mu, Saya cuma bisa membantu. maka dari itu putuskan lah olehmu sendiri apakah dirimu sudah normal atau belum."


Rey terdiam mendengar penuturan Pak Tio, ia mencoba mencari jawaban itu dari dalam hatinya. selama ini ia terlalu bergantung dengan pendapat orang tentangnya, hingga ia tak menyadari bahwa yang paling penting adalah kata hati.


Tak hanya kepada Rey, Pak Tio juga memberikan nasihat untuk Ayu. ia mengatakan jika memang menyukai Rey, maka ia harus sedikit memberi kesempatan dan kepercayaan agar Rey bisa membuktikan dengan tulus.


Namun tetap saja, sebagai orang yang pernah di jadikan kambing hitam oleh Rey. Ayu tak bisa percaya begitu saja, terlebih setelah kejadian di kantor Papanya kemarin saat Dika dan Rey tengah berpelukan di atas sofa.


Dalam perjalanan pulang, Rey dan Ayu sama-sama bungkam. Rey yang merasa gundah dengan debaran hatinya hanya bisa mencungkil sisi kemudi mobil menggunakan kukunya.


Sementara Ayu, sedari tadi ia tak memalingkan wajahnya dari arah kiri. matanya tampak tenang menatap pepohonan dan gedung yang mereka lewati. namun pikirannya sangat berantakan, bagaimana jika memang Rey benar-benar tulus kali ini? haruskah dia meninggalkan Bagas yang selama ini telah mewarnai hati Ayu yang gelap di sebabkan penantian?


...~...


Seperti janji nya untuk mengungkapkan pelaku yang usil menganggu Ayu. Bagas mengajaknya ke daerah Kerubung Jati, dimana Ayah nya di makamkan dan dimana ia bertemu Laura kemarin.


Ayu memarkirkan mobilnya di pintu masuk pemakaman. ia dan Bagas turun untuk mencari tau sesuatu.


"Dimana makam Ayahmu?" tanya Ayu penasaran, kenapa makam Ayah dan Ibu nya berbeda tempat?

__ADS_1


"Sebelah sini.." Bagas berjalan ke arah kanan.


Pertama kalinya Ayu mendatangi tempat ini, tak ada yang aneh. ia juga tidak pernah merasa mendatangi tempat ini bersama keluarganya yang lain.


"Kamu yakin pernah melihat Keluarga ku di sini?" tanya Ayu lagi sembari menyusuri rerumputan tinggi yang ada di sekitar makam.


Bagas berbalik badan dan mengangguk "Yakin banget, seingat ku mereka berdiri di sebelah pohon itu." tunjuk nya pada sebatang pohon kamboja yang kini sudah tumbuh tinggi.


Ayu melihat ke arah kamboja yang di tunjuk Bagas. Daunnya yang lebar berwarna kemerahan menjadikannya ciri khas. selain hanya ada satu, pohon kamboja itu tumbuh di dekat pintu masuk pemakaman sehingga membuat orang dengan mudah mengingatnya.


Hanya ada dua hal di pikiran Ayu saat itu, antara Keluarganya menyimpan sesuatu yang tidak ia ketahui. Atau Bagas hanya salah melihat waktu itu.


"Tau nggak? sewaktu Aku memberikan bunga untuk Ayahku kemarin, tiba-tiba dia memukulku dengan tas." ujar Bagas sembari meletakkan seikat bunga mawar putih.


"Siapa?" tanya Ayu.


"Laura.. dia beralasan salah mengira orang. memangnya siapa orang yang dia maksut? apa menurutmu masuk akal?"


Bagas menggaruk kepalanya sambil menyeringai "heheh.. Aku langsung pergi kemarin." ia tidak terlalu ingat di mana letak pasti makam yang di kunjungi Laura.


Ayu tampak memikirkan petunjuk apa yang bisa mereka dapatkan, lalu tiba-tiba Bagas punya ide untuk menanyai petugas kebersihan di sana.


"Permisi Pak.. apa Bapak kenal dengan wanita ini?" Bagas menunjukkan foto Laura dari ponselnya.


"Tidak kenal sih, tapi tau lah. dia sering kesini soalnya." sahut Bapak berusia lima puluh tahunan itu.


"oh ya? apa Bapak tau yang mana makam keluarganya?" lanjut Bagas tak sabar terlihat dari raut wajahnya.


"Tau, mari Saya antar." ucap si Bapak sembari menuntun mereka ke salah satu makam yang hanya berjarak dua blok dari sana.


"Ini.. setau Saya sih ini Kakaknya." tutur Pak petugas kebersihan sambil menunjuk makam dengan ibu jarinya.

__ADS_1


Bagas dan Ayu mengamati makam itu dengan seksama, namun mereka tak dapat melihat dengan jelas siapa pemilik pusara itu di sebabkan ukiran batu nisannya yang sudah pudar.


"Nisannya mirip dengan punya Ayahku kan?" ucap Bagas, ia tak merasa ada yang aneh. berbeda dengan Ayu yang langsung merasa aneh.


Ayu duduk dan berusaha membersihkan nama di batu nisan itu, namun bukannya terlihat jelas, ukurannya malah semakin kacau hingga huruf nya semakin tak berbentuk.


"isss! padahal sedikit lagi dapat!" gumam Ayu merasa jengkel.


"Kalau tidak salah ada makam Bapak nya juga di sini, tapi Saya lupa yang mana heheh.." ujar si Bapak petugas dari kejauhan.


"Nggak jelas tuh Bapak-bapak!" rutuk Bagas ikutan kesal, padahal sedikit lagi ia mengetahui pelakunya.


Karena lelah dan putus asa, mereka pun memutuskan untuk pulang. saat baru memasuki pintu mobil, Pak petugas kebersihan berteriak lagi dari kejauhan.


"Sepertinya yang ini Jang..! ujang..!" panggil Pak petugas sambil berusaha berlari, namun terlambat karena Ayu sudah melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


"Lah, tapi kan mereka barusan kasih bunga kesini." gumam si Bapak agak bingung sambil menyapu di sekitar makam Ayahnya Bagas.


...~...


"Sharla..." panggil Evi dari ruang makan.


"Iya ma..." sahut Sharla, ia segera menutup buku hariannya dan bergegas untuk makan malam.


Tertulis di sampul depan buku tersebut nama yang amat cantik.


Alisha Rania Laura...


Di sisi meja riasnya, terdapat fotonya saat baru lahir yakni 18 tahun yang lalu. tampak Bapak dan Ibunya menggendong nya dengan senyum ceria. di sebelah nya pula ada foto masa kecil kedua Kakak perempuan nya yakni Cindy dan mendiang Mei.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2