My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 60: Lantai 10


__ADS_3

Setelah 30 menit menunggu, akhirnya Demian tiba di ruang kunjungan. Sipir mengunci pintu ruangan itu kemudian menunggu di luar.


Bagas menatap Pria bertubuh kekar itu, Pria yang mempunyai garis wajah mirip sepertinya. Pria yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.


Begitu pula dengan Demian, ia menatap haru wajah Anak nya yang kini sudah tumbuh besar. Tak pernah ia lewatkan seharipun tanpa memikirkan putranya itu.


"Sapa lah.. dia Ayah mu." bisik Tari kemudian meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


Bagas merasa enggan membuka mulutnya, ia menatap tegas Ayahnya. Entahlah dia harus merasa haru, bangga, ataupun jijik. Memasukkan orang yang baru di kenal kedalam kehidupan bukanlah hal yang mudah. Terlebih orang itu membawa gelar peran Ayah.


"Apa kabar Bagas..?" tanya Demian tersenyum kecil.


"Kamu sudah tumbuh dengan sangat baik. Maaf karena Ayah tidak bisa datang ke pemakaman Ibu." imbuhnya mengucapkan bela sungkawa. Di tatapnya lekat wajah sang putra, sangat mirip sekali dengannya.


"Ayah tau, sangat sulit bagimu kan? Terkadang Ayah menyesal karena menikahi Ibumu."


Mendengar itu Bagas langsung pasang wajah sinis. "Menyesal?" bukankah seharusnya Ibunya yang menyesal karena sudah di tipu oleh Mafia seperti dia?


"hm.. Ayah sangat menyesal. Andai saja Ayah tidak menikahi dia, hidupnya pasti akan baik-baik saja. Membangun keluarga kecil sederhana dan pasti Kamu akan tumbuh dengan baik."


"Aku tumbuh sangat baik selama ini. dengan ataupun tanpa seorang Ayah, Aku tumbuh dengan baik." ketus Bagas terdengar marah.


"Jangan membenci Bude Tari, ataupun Ibu. Ayah lah yang menyuruh mereka merahasiakan ini semua. Ayah tidak mau Kamu di cap sebagai anak seorang Bandar narkoba."


"Fakta nya memang begitu kan? Aku anak seorang Mafia.." tegas Bagas penuh rasa kecewa. Sejenak hatinya merasa tenang karena ia masih memiliki orang tua di dunia ini, namun mengingat kenyataannya, Bagas merasa untuk apa ia akhirnya tau ini semua?


"Setidaknya Kamu harus bangga karena terlahir dari Ibu yang sangat kuat. Ayah sungguh sangat mencintai kalian, tapi Ayah sangat bodoh karena tidak memikirkan resikonya."


Suasana haru dan kelam pun tak dapat di elakkan. Bagas hanya tertunduk merenungi batinnya yang terusik oleh kenyataan ini. Mengetahui tatapan tulus Sang Ayah membuat batinnya sedikit luluh. Terlebih membayangkan dia menghabiskan waktunya di tempat seperti itu sungguh membuat Bagas terenyuh. Mau bagaimana? ia pun tak bisa membenarkan perbuatan Ayah nya.


...~...


Saat di dalam kelas, Ayu sama sekali tak bisa fokus karena memikirkan ulah Rey yang menyadap ponselnya. Haruskah Aku meminta dia berhenti menyadap? Haruskah Aku membeli ponsel baru?


Rasa jengkel bertaruh dengan rasa bimbang membuat kepala Ayu terasa nyut-nyutan. Ia meremas kuat kepalanya, entah itu cinta, benci dan bingung sekalipun selalu saja Rey yang memenuhi pikirannya.


Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan pesan masuk. Tertulis pula nama pengirimnya Crush yang tak lain adalah Rey. Dulu ia sangat berbunga jika mendapat pesan dari Rey. Namun sekarang saat melihat nama itu di daftar panggilan maupun pesan membuatnya merasa merinding.

__ADS_1


[Saya mendapatkan Izin untuk melihat daftar penerima bantuan. Kapan kita pergi ke sana?]


Ayu menyembunyikan ponselnya di bawah meja untuk membalas pesan tersebut.


[Ayu bisa ke sana sendiri..]


[Kalau tanpa Saya sepertinya akan sulit.]


[Karena Direktur nya teman Bapak? Ayu yakin Bapak pasti sibuk, bilang saja padanya Bapak mengirim ku.]


[Saya senggang, pulang kuliah Saya akan menjemputmu.]


"wah.. orang tua ini bahkan tidak memberiku waktu untuk membeli ponsel baru." gumam Ayu menekan kuat layar ponselnya.


...~~...


Sesuai keputusan Rey, ia menjemput Ayu seusai jam pelajaran terakhir. Sudah sekitar 15 menit ia berdiri di pinggir mobil sambil terus memperhatikan pintu keluar.


Dan akhirnya Ayu pun muncul sambil tertawa riang dengan Bagas.


"Kami ada urusan..." jawab Ayu ragu, ia tak menyangka Rey benar-benar menjemput nya.


Setelah memberi harapan kepada Bagas, ia malah terlibat dengan Rey lebih dekat. Sudah pasti Bagas akan mengira Ayu gadis yang mudah menempel ke kawan jenisnya.


"Baiklah.. hati-hati di jalan." sahut Bagas tersenyum lebar seolah tak mempersoalkan itu. Namun entahlah yang terjadi di dalam hatinya, hanya dia yang tau.


Setelah melihat Bagas pergi dengan motornya, Ayu pun menghampiri Rey. Ia hendak membuka pintu mobil bagian belakang, namun Rey menahan lengannya dan membukakan pintu depan.


"Saya tidak mau terlihat seperti supir.." ucapnya kemudian mendorong pelan bahu Ayu untuk duduk di depan.


Lagi dan lagi Ayu pun menurut saja, antara gugup dan rasa penasaran menjadi satu membuat dirinya kurang fokus.


...~...


Sampailah mereka di Kantor Lembaga sosial. Rey langsung membawa Ayu menemui Direktur di sana melalui lift menuju lantai 10.


"Kami sudah membuat janji dengan Direktur." ucap Rey kepada petugas keamanan yang berjaga.

__ADS_1


"Atas nama siapa?" tanya si penjaga memastikan.


Rey pun menyebutkan namanya. Kemudian petugas keamanan mempersilahkan mereka masuk keruangan Direktur tersebut.


"Kau sudah datang Rey.." sambut Sang Direktur tersenyum kecil. Ia menutup komputernya lalu mengambil Laptop dan menghampiri mereka.


"Selamat siang.." sapa Rey tersenyum sungkan.


"Tidak usah bersikap formal, santai saja." ucap Direktur itu tersenyum anggun.


"hahah.. Baiklah Bella, perkenalkan ini Ayu yang memerlukan data tersebut." Rey menyenggol lengan Ayu agar menyapa. Sejak masuk ke ruangan itu ia menyadari wajah Ayu yang tampak kaku.


"Selamat siang Bu, Saya Ayu.." sapa Ayu pula dengan senyum kecil.


"Silahkan duduk. ini data yang kamu perlukan khususnya dari kota ini. Kamu bisa menyalinnya, namun sebelum itu tanda tangani dulu surat perjanjian ini untuk mencegah hal yang tak di inginkan." Bella menyerahkan selembar kertas yang tertulis perjanjian bahwa Ayu tidak akan menyebarluaskan data pribadi tersebut.


"Baik.." Ayu menerima kertas itu, membacanya sebentar kemudian menandatangani.


Setelah itu ia menyalin semua data yang di perlukan. Sementara Rey menunggu di sebelahnya dan Bella duduk di depan mereka sembari melipat kakinya.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Bella sembari menyeruput teh yang sudah di sajikan.


"Baik, Aku rasa Aku lebih baik sekarang." sahut Rey tersenyum lebar.


"Benar.. Kau tampak jauh berbeda di banding waktu Kuliah. Tapi ku dengar Kau sempat sekolah penerbangan, kenapa sekarang malah di kantor Property?"


"Aku berhenti karena Papa memintaku. Bagaimana denganmu? bukankah dulu Kau masuk ujian militer, kenapa memilih kesini?"


"Aku tidak lulus saat tes ke Tiga. Padahal Aku sudah tidak sabar membawa pistol ke perbatasan hahahahahahah..."


"Sayang sekali, padahal jika ku bayangkan Sniper sangat cocok untukmu hahahahah..."


Mereka melepaskan tawa yang begitu asyik. Selayaknya teman yang sudah lama tidak bertemu, mereka membicarakan semua masa-masa lucu ketika kuliah.


Tanpa mereka sadari Ayu sudah selesai sejak tadi dan hanya menyimak pembahasan mereka yang seperti sedang reuni.


...**********...

__ADS_1


__ADS_2