My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 70 : Ending...


__ADS_3

Adit, Dimas dan Rey tiba di lokasi proyek baru mereka. Lahan luas yang sudah di penuhi alat berat itu seperti sedang bersiap menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi keluarga Adit.


"Bagaimana Kayu nya? sudah Kamu urus kan?" tanya Adit kepada Rey yang sedang tidak fokus.


"Oy..!" Adit menepuk bahu Rey hingga membuatnya terkejut.


"eh.. iya Pak? Kenapa?" sahut Rey gelagapan.


"Kayu nya gimana?"


"Ayu di rumah lah Pak.." sahut Rey, ia heran kenapa Adit menanyakan Ayu di saat seperti ini.


Suasana memang agak berisik karena suara alat berat yang sedang beroperasi. Tapi telinga Rey kan lebih muda, masa iya telinga Adit yang sudah tua bangka malah lebih tajam.


Rey mendekat saat melihat ekpresi Adit "Kenapa Pak? ada perlu sama Ayu?"


"Kamu suka sama Ayu?" celetuk Adit.


"Kayu..? sudah ada pabrik kertas yang mau mengambil Pak. Semua nya aman..!" tegas Rey, kemudian ia pergi menemui mandor yang akan memantau proyek mereka.


"Kopok.." sungut Adit terheran dengan sistem pendengaran Rey.


Dimas yang sedang mengobrol dengan salah satu konstruktif pun geleng-geleng kepala mendengar obrolan budeg Rey dan Papanya.


...~...


Setelah selesai dengan urusan di lapangan, Dimas dam Adit kembali ke rumah sementara Rey kembali ke kantor untuk mengatur semua jadwal yang akan di tambahkan ke dalam agenda.


Adit bersenandung ria sambil memejamkan matanya, Dimas pun merasa kantuk mulai menyerang. Akhirnya ia memutuskan membuka obrolan dengan sang Papa.


"Pa, tadi Papa berkata pada Rey 'Kamu menyukai Ayu' apa maksudnya? Papa nggak berharap mereka punya hubungan kan?"


Adit membuka berat kelopak matanya, ia menyeruput kopi kemudian kembali bersandar. "Papa cuma ngetes pendengaran dia. Lagi pula kenapa kalau memang Papa berharap."


"Dia kan G4y Pa. Yang bener aja.."


"Pak Tio bilang, akhir-akhir ini keadaan Rey menunjukkan perubahan besar. Itu artinya dia sudah beranjak ke arah normal."


"Tapi Pa, Rey terlalu tua untuk Ayu. Dimas nggak setuju kalau Papa berharap demikian." ia benar-benar tak mau Ayu jatuh ke tangan Rey. Ia ingin adiknya itu tumbuh dan menjalani kehidupan seperti gadis sebaya nya.


"Kamu dan Vino, Kalian pikir usia kalian tidak terlalu tua untuk istri kalian? Jarak usia mereka hanya 10 tahun."


Mereka malah memperdebatkan usia, sekarang Kantuk yang dirasakan Dimas benar-benar hilang berganti dengan rasa jengah.


"Ya itu dia Pa, Fani dan Nurul mendapatkan pria yang jatuh lebih tua. Masa iya Ayu juga dapat yang tua? biarlah dia berbeda dari kedua Kakaknya. Biar dia sukses dalam karirnya dan merasakan jatuh cinta dengan selayaknya. Dimas paham betul mencintai orang yang jauh lebih tua itu lebih besar tantangannya."


"Ya kalau jodoh mau gimana.. Papa juga nggak berniat memaksa kok. Papa senang aja Rey sudah mulai berubah, Ayu atau pun Rey, Papa cuma berharap yang terbaik untuk mereka."

__ADS_1


"Pokoknya Dimas nggak rela kalau mereka jadian. Dimas kenal betul dengan Rey, walaupun dia baik tapi Dimas nggak rela Ayu jatuh ke tangan Pria seperti itu."


"Kalau jodoh..?" seloroh Adit mengulum senyum di ujung bibirnya.


"Di tangan Tuhan." ketus Dimas memotong pembicaraan mereka. Adit hanya tertawa saja, ia yakin pasti Tuhan akan mengirimkan Pria baik-baik untuk Ayu.


...~~...


Akhir-akhir ini Ayu lebih sering menghabiskan waktu luangnya di kantor. Selain menjadi Mentor ia juga sengaja menghabiskan hari di sana. Sejak kejadian tentang Bagas terbongkar, Kampus tidak lagi menyenangkan seperti dahulu.


Selalu saja ia teringat akan kenangan asyik yang diberikan Bagas, namun kenangan itu terbakar habis oleh luka yang membuat batinnya redam.


Di antara seliweran Karyawan kantor yang hendak makan siang, Ayu hanya duduk diam di bangku taman depan Lobi gedung itu. Cup kopi dengan potongan es batu di guncangkan hingga membunyikan suara yang di rasa cukup mengusir kesunyiannya.


"Nggak makan siang?" tanya Rey, ia duduk di sebelah Ayu sambil menyeruput kopi yang direbut dari tangan Ayu.


"Males.. Kantin isi nya orang pacaran semua." sahut Ayu tanpa menoleh, ia masih melamun sambil menopang kepalanya dengan siku berdiri di sandaran bangku.


Hanya para orang jomblo yang makan di atap dengan alasan ingin bersantai. Selebihnya ya orang-orang seperti Ayu ini, kesepian.


"Nggak semua, tadi Saya makan di kantin tuh."


"Ya Bapak kan punya pacar." sinis Ayu melirik tipis.


"Hah?" Rey terkekeh pelan, kemudian ia menggigit balok es batu itu secara utuh.


Dengan mata mendelik Rey berusaha bersuara "Barbie..? Anggi maksud Kamu?" karena Ayu menyebut Barbie, sudah pasti ia termakan gosip yang tersebar di Kantor.


Ayu menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban.


"Kamu nggak mendengar itu dari gosip kan? Padahal itu rumor lama, kenapa sekarang timbul lagi."


"Yakin cuma rumor?" Ayu menyelidiki kebenarannya, sekaligus ingin menyingkirkan semua praduga yang mengeroyok pikirannya.


"Yakin lah. Saya juga nggak ada apa-apa dengan dia. Kamu tau sendiri kan Saya nggak normal."


"Kalau nggak ada apa-apa kenapa nggak membantah? dulu waktu Ayu kelepasan ngomong soal kelainan Bapak, habis Ayu kena marah sama Bapak suruh buat klarifikasi. Bilang aja Bapak menikmati rumor itu, dasar picik."


Rey sungguh terkejut di buat Ayu, entah Apa yang membuatnya berpikir demikian.


"Ya karena Saya merasa nggak perlu, toh nanti juga hilang sendiri."


"Alasan, padahal dulu jelas sekali Ayu lihat Bapak habis skidipapap di ruangan Mas Dimas kan? beralasan baju nya ketumpahan kopi." sungut Ayu, tak terbendung lagi semua unek-unek yang dari kemarin berkutat di kepalanya.


Rey menggaruk kepala nya, "Kamu masih ingat itu? Astaga Ayu.. padahal dulu Kamu masih ingusan. Dengar ya, Saya nggak tau mau itu skidipapap, skidipipip atau apalah. Hari itu baju Saya benar-benar ketumpahan kopi, dan Saya buru-buru makanya ganti baju di sana. Kebetulan pula Kamu masuk, dan entah Kamu lupa atau mata Kamu eror waktu itu Kamu nggak lihat Saya sendirian di sana? skidipapap sama siapa? tiang lampu?" cecar Rey membela diri, Ayu benar-benar termakan gosip Barbie yang menyebar luas di penjuru Kantor.


"Ih kok ngegas sih? biasa aja dong Pak, sekarang Ayu cuma mau tanya, rumor itu salah atau benar?"

__ADS_1


Rey menatap tajam wajah Ayu, sepertinya Ayu secara tidak langsung memberikan lampu hijau untuknya. Itu sebabnya ia menanyakan kebenaran rumor itu.


"Sebarapa banyak Saya menjelaskan Kamu tidak akan percaya kan?"


Ayu mengangkat bahu nya, lagipula tidak ada untungnya juga dia percaya kan?


"Baiklah, kalau begitu Saya akan langsung kasih bukti. Sini tangan Kamu."


"hah?" Ayu bingung, namun ia menurut saja.


Rey mengambil telapak tangan Ayu, kemudian mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku jasnya. Ia membuka kotak tersebut kemudian memberikan cincin yang berukuran kecil ketelapak tangan Ayu.


"a..apa ini?" gugup Ayu, lidahnya seketika kelu di sertai deru nafas yang tak beraturan.


"Cincin .." sahut Rey. Ia pula mengambil miliknya.


"Untuk apa?" Ayu langsung terpikir oleh perkataan Amanda kemarin. Apakah ini cincin yang dia maksud.


"Saya sudah bilang tidak menerima penolakan, Kamu yang menanam benih di hati Saya lebih dulu. Dan sekarang benih itu tumbuh, jadi jangan lari. tetaplah di sini dan kita rawat tunas ini bersama."


Kata-kata itu terdengar kuno, namun mampu membuat detak jantung Ayu porak poranda. "Bapak melamar Saya?"


Rey mengangguk, tatapan nya berubah menjadi amat sendu dan lembut. "hmm.."


"Pakaikan.." ujar Ayu mengulum senyum, seluruh darahnya seolah berdesir karena momen mendebarkan ini.


"oh iya.. Maaf Saya terlalu gugup tadi." seharusnya ia langsung memakaikan tadi, tapi karena gugup ia jadi lupa langkah yang sudah di susun rapi kemarin.


"Saya akan menunggu kapan pun Kamu siap, 5 tahun. 10 tahun.. Saya akan menunggumu." bisik Rey, dengan lembut ia memakaikan cincin putih itu ke jari manis Ayu.


Setelah itu Ayu pun memakaikan cincin ke jari manis Rey. Ia tak menyangka akhirnya kapal karam yang selama ini terkubur di hatinya bisa berlayar.


"Ini serius kan Pak..? pengen nangis..." ucapnya terharu. jutaan bunga seolah bermekaran di hatinya saat ini.


"Serius... sekarang berdirilah." Rey mengamit tangan Ayu untuk berdiri.


"Ngapain Pak? Jam masuk kan masih lama." ia malu-malu menyembunyikan tangan mereka yang bergandengan.


"Mematahkan rumor..." bisiknya kemudian meraih wajah Ayu, dalam sekejap tubuh Ayu tenggelam di dalam dekapannya.


Ayu berusaha melepaskan eratnya dekapan Rey, namun Rey tak menggubris. Ia malah mengecup bibir Ayu dengan lembut, ini lah saatnya. Hari ini ia memberitahu semua orang bahwa ia mencintai Ayu.


Para karyawan yang berlalu lalang pun menyaksikan itu. Tak perduli apa yang akan terjadi, gosip apa yang akan menyebar. Yang pasti mulai saat ini mereka saling memiliki. Setelah sekian tahun mencari, akhirnya mereka mengikat hati untuk saling mencintai.


"I Love You...." bisik Rey sembari menempelkan hidungnya di dahi Ayu.


"Love You to.. dari dulu.. hhhhh...." bisik Ayu tekekeh lembut dan membalas hangat pelukan Rey.

__ADS_1


..................TAMAT..................


__ADS_2