My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 43: Minta Bukti


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan meeting Ayu dan para anggota magang tampak sedang membahas kekurangan yang harus mereka perbaiki untuk Presentasi selanjutnya.


Dari kejauhan pula Rey berdiri sambil celingukan, ia ingin memanggil tapi ragu. kalau di biarkan lebih lama ia takut Ayu semakin benci padanya karena kesalahpahaman kemarin.


"Ngapain sih? kaya maling Kamu Saya perhatikan." tegur Dimas yang tak sengaja melewatinya.


Saat melihat wajah bersahaja Dimas, keraguan di benak Rey semakin memuncak. kalau dirinya berhasil menjalin hubungan dengan Ayu, apa iya keluarga Dimas akan menerima begitu saja.


Latar belakang yang berantakan serta mempunyai kelainan yang cukup menjijikan. apa iya Keluarga Dimas akan dengan mudah menerima Rey nantinya? bagaimana kalau ternyata mereka menentang?


Di saat yang membingungkan dua suara muncul di kepala Rey. (anggep aje suara setan dan peri)


Setan: Lebih baik Kau cari perempuan yang sebanding dengan dirimu. dia itu terlalu baik untukmu, memangnya Kau tidak kasihan gadis baik-baik seperti dia mendapatkan dirimu yang sangat jauh dari kata baik ini?


Rey menggelengkan cepat kepala nya agar suara setan itu menghilang dari pendengarannya.


Peri : No..No! jangan lakukan cara pecundang seperti itu. kamu harus percaya diri dan meningkatkan kualitas dirimu. Kamu itu bak berlian yang belum di poles. Kamu akan sangat berharga bila di tangan orang yang tepat. Lihat saja Vino, dia berhasil membuktikan kalau dirinya pantas mendapatkan Kirana padahal saingannya tak kalah unggul dari dirinya.


Setan: Saran ku sih menyerah saja, Vino beruntung karena dia masih keluarga Adimas. Sedangkan Kau? Kau hanya orang asing yang tak memiliki keunggulan sama sekali.


Peri: Kamu pantas mendapatkan yang terbaik. Kelainan yang Kamu hadapi selama ini bukan kesalahanmu. jadi berjanji dan percayalah Kamu pasti bisa menjadi lebih baik.


Setan: Pikirkan lagi, memangnya Kau tega melihat dia jatuh ke tangan Pria kotor sepertimu?


"AAAGG!! Pergi kalian Pergi!" bentak Rey sembari mengibaskan tangan ke udara.


Dimas melebarkan matanya keheranan "Kau mengusirku?" tunjuk Dimas pada dirinya sendiri.


"Bukan Pak. t..tadi ada lalat di sini." sahutnya gugup kemudian beranjak hendak mengikuti Ayu.


"Semakin hari dia semakin Gila!" gumam Dimas menggeleng sambil berkacak pinggang.


...~...


Sesampainya di basemen, Rey berlari ke arah Ayu yang hendak melajukan mobilnya.


"Ayu.. tunggu!" panggil nya tergesa sambil menepuk kaca mobil Ayu.


Ayu membuka setengah kaca sebelah kirinya lalu melirik sinis "Apa?"

__ADS_1


Rey memasukkan kepalanya di kaca yang terbuka setengah itu "Izinkan Saya bicara sebentar..." pinta nya sambil mengatur nafas yang tersengal.


"Lagi nggak mood! mendingan Bapak minggir deh, kalau nggak Ayu tutup nih Kaca mobilnya!" ancamnya sembari menaikkan sedikit kaca yang menjepit kepala Rey.


Bukannya menyingkir, Rey malah tersenyum saat mendengar Ayu kembali menyebut dirinya dengan nama.


"Saya akan tetap bicara." tegasnya, ia memasukkan tangannya ke dalam mobil lalu meraih tuas manual dan terbuka lah pintu mobil itu.


"Astaga! goblok banget Aku !" rutuk Ayu kesal, ia sama sekali tak memikirkan kalau Rey itu lebih pintar dari dirinya.


Tanpa izin dan tanpa banyak bicara Rey langsung masuk ke dalam mobil Ayu dan duduk di sebelahnya.


"Ayu.. pliss dengar penjelasan Saya. Kamu salah paham tentang malam itu, Saya setengah sadar saat itu dan benar-benar mengira kalau Dika itu Kamu."


Ayu menatap tak percaya lalu menaikkan sebelah alisnya "hh!"


"Saya bersumpah! Saya benar-benar menyukaimu sebagai seorang Pria." lanjut Rey dengan penuh keyakinan.


Sebagai orang yang bertahun-tahun menyaksikan sikap menyimpang Rey, tentu tak mudah bagi Ayu untuk percaya begitu saja.


"Lihat Saya Yu, Lihat Saya."


Rey menyentuh tangan Ayu yang menempel di setir mobil dengan ujung jari telunjuknya.


"Bukannya ini yang Kamu impikan dari dulu? sekarang Saya membalas perasaan mu, kenapa Kamu malah tidak percaya?"


Ayu hampir saja tersenyum melihat sikap Rey yang tampak kaku, apa dia tidak mempelajari bagaimana cara yang benar memegang tangan seorang wanita?


"Siapa yang akan percaya? seorang Rey yang menyukai sesama jenis lalu tiba-tiba berubah. bukan nggak mungkin kan Bapak akan melakukan hal yang sama waktu mendekatu Mas Vino dulu!"


Rey memegang kepala Ayu lalu menariknya hingga mereka berhadapan "Bukti apa yang bisa membuatmu percaya Kalau Saya benar-benar menyukaimu?"


Sejenak Ayu terbuai oleh tatapan Pria itu, lalu ia menunduk karena tak sanggup menatap mata Rey yang hanya beberapa centi dari wajahnya itu.


"Bukti apapun.. tunjukkan buktinya baru Ayu akan percaya."


Karena mata Ayu tertunduk, Rey malah salah mengartikan situasinya. "Bukti??"


"Bukan yang ada di dalam sana kan yang Kamu maksut?" ucap Rey sambil menunjuk ke arah resleting celana dengan pandangan matanya.

__ADS_1


"Hah? mikir apa sih Pak! maksut Ayu itu bukti seperti pernyataan tertulis, atau pernyataan psikolog kalau Bapak benar-benar sudah normal!" oceh Ayu dengan nada tinggi, wajahnya merah padam di sertai dada yang bergejolak hebat akibat pikiran ngawur Rey.


Jika memang Rey benar-benar berubah, itu berarti perkembangannya bergerak sangat pesat sekarang.


Rey pun tak bisa menyembunyikan rasa malunya, bisa-bisa nya ia berpikiran seperti itu di depan Ayu.


...~...


Demi membuktikan bahwa dirinya sudah 'normal' Rey membawa Ayu menemui Psikolognya padahal ini sudah hampir jam Sepuluh malam.


"Silahkan.." ucap Pak Tio yang menjamu mereka dengan dua cangkir teh herbal.


"Terimakasih Pak." sahut Rey tersenyum riang.


Pak Tio penasaran, ada apakah gerangan yang membuat Rey begitu ceria? apalagi kali ini dia sendiri yang mendatangi tempat prakteknya.


"Ada perlu apa? bukannya konsultasi selanjutnya masih minggu depan?" tanya Pak Tio tanpa basa-basi.


"Saya yakin Bapak pasti tau betul sampai mana Saya sudah berubah. Saya cuma ingin memastikan apakah sejauh ini Saya sudah berubah menjadi Pria seutuhnya?" tatapan Rey menandakan emosi menggebu, tentu saja pertanyaan itu membuat Pak Tio bingung.


"mm.. Maksutnya bagaimana?" tanya Pak Tio dengan tatapan heran.


"Jadi begini Pak, akhir-akhir ini Saya merasa berdebar saat melihatnya Pak!" ujar Rey penuh semangat sambil menepuk lutut Ayu.


Hampir saja Ayu melompat karena terkejut, baru kali ini ia melihat Rey sangat ambisius seperti itu.


"Lalu?" tanya Pak Tio lagi.


"Lalu Saya menyatakan perasaan padanya, sebagai orang yang tau betul bagaimana latar belakang Saya. dia menolak karena dia belum percaya kalau Saya sudah menyukai wanita. maka itu Saya ke sini untuk mendapat pengakuan dari Bapak."


"Kesimpulannya, apakah Saya sudah normal menurut Bapak?" tambah Rey menekan kata-katanya.


Pak Tio memicingkan matanya kearah Rey, ia mengamati gestur tubuh, prilaku serta raut wajah Rey.


Rey pun demikian, ia mengepalkan tangannya karena merasa jawaban Pak Tio akan sangat mengejutkan. sementara Ayu hanya bisa berharap yang terbaik.


Setelah Lima menit mengamati Rey, Pak Tio akhirnya memberi jawaban.


"Belum!" tegas nya membuat wajah Rey seketika pucat.

__ADS_1


...********...


__ADS_2