
Selama hampir setengah jam Ayu diam saja, ia merasa sungkan hendak melerai pembahasan mereka yang sepertinya sangat seru.
Setelah mereka sadar Ayu sudah selesai dengan data nya, Rey pun berpamitan sambil mengucapkan terimakasih karena sudah bersedia membantu.
...-...
...-...
Dalam perjalanan pulang, Rey mengajak Ayu ke salah satu restaurant untuk makan siang. Kebetulan mereka sama-sama belum makan.
"Kamu kenapa? kita sudah mendapatkan datanya, kenapa wajahmu masih kusut?" tanya Rey sambil memotong kan daging untuk Ayu.
"Kebanyakan makan kacang tadi." sewot Ayu. makan kacang adalah istilah untuk orang yang di cuekin (di kacangin).
"Saya pikir Kamu tidak mau di ganggu tadi. Kenapa?apa Kamu cemburu?"
"Nggak, cuma agak kaget aja tadi. ternyata dia seorang wanita." Ayu mengunyah daging yang sudah di potongkan Rey dengan penuh kekesalan.
Rey tersenyum kecil, tercium olehnya bau-bau kecemburuan yang tak bisa di tutupi.
"Memangnya kapan Saya bilang dia Laki-laki?"
"Saat Bapak menceritakan dia pernah latihan militer Saya kira dia Laki-laki. Selain itu Bapak kan dulu nggk normal, makanya Saya pikir Bapak nggak punya teman perempuan."
"Kamu memakai sebutan formal lagi, harus berapakali Saya bilang hm?" Rey menatap mata gadis yang duduk di sebelahnya itu.
Gumpalan daging yang belum terkunyah lembut tiba-tiba tertelan oleh Ayu. Akhir-akhir ini semua tindakan Rey sungguh membuat seluruh tubuhnya resah.
Rey memberikan segelas air untuk Ayu, ia mendekat dan semakin membuat Ayu terkurung oleh pandangannya.
"Saya sudah jujur malam itu tentang Ponselmu. Sekarang bisa kah Kamu jujur?"
"Tentang apa..?" tanya Ayu terbata.
"Benarkah tidak ada lagi cintamu untuk Saya? Sedikit saja, apakah benar-benar tidak lagi tersisa perasaan itu?"
Ayu tak bergeming, ia menatap sendu wajah Pria itu dengan sejuta kata yang tak mampu di ucapkan. Selain lelah dengan penantian, alasannya perlahan mundur waktu itu karena ia takut Rey nyaman dengan dunia nya yang baru. Dunia dimana ia melihat sosok wanita telah berbeda. Apalagi ia pernah mengatakan Ayu bukan sosok yang pantas untuk di jadikan tambatan hatinya.
__ADS_1
"Lihatlah perempuan lain Pak, amati sekeliling Bapak. Benarkah tidak ada perempuan lain yang membuat Bapak jatuh hati?" lirihnya pelan sembari meneguk air dengan amat susah payah.
"Sekarang Bapak sudah berbeda, bukan Rey yang dulu selalu menatap jijik wanita. Rey yang dulu selalu melihat ke arah Pria kini sudah memiliki ketertarikan dengan wanita. Dan saat pertamakali menyadari itu, Saya lah Wanita yang ada di dekat Bapak. Apa Bapak yakin itu semua benar-benar cinta? Cinta mulai tumbuh dengan sendirinya tanpa memikirkan Saya, atau Saya lah penyebab cinta itu tumbuh?"
"Entahlah, yang pasti Kamu terus ada di pikiran Saya, dari dulu hingga sekarang. Entah itu perilaku aneh maupun hal yang menakjubkan Saya selalu suka Kamu membagi itu dengan Saya."
"Jadi kesimpulannya?" tanya Ayu ingin memperjelas.
"Kesimpulannya Saya menyatakan perasaan lagi dan Kamu tetap menolak. Benar kan?" keluh Rey pasang tampang lusuh. Ia sadar, untuk mendapatkan sesuatu yang indah memang di butuhkan kesabaran dan kerja keras. Namun kerasnya Ayu terlalu terang-terangan hingga tampak seperti sedang membalaskan dendam.
"fffftt... Jangan putus asa, masih banyak kan wanita yang sepantaran dan LEBIH pantas untuk menjadi pendamping Bapak." celetuk Ayu menahan tawa.
Wajah datar yang biasanya cuek jika ia membahas perasaan kini malah tampak kusut seperti butuh di luruskan menggunakan setrika.
"Wah.. Kamu masih mengingat perkataan itu? dasar pendendam." rutuk Rey mengalihkan pandangan ke arah Laptop.
Mereka pun membaca satu-persatu nama-nama penerima bantuan yang di berikan oleh Direktur Bella.
"Ternyata banyak anak-anak yang tidak beruntung sepertiku.." bisik Ayu, batinnya terasa terketuk oleh banyaknya daftar yang menerima bantuan itu.
Rey pun merasakan hal yang sama, kehilangan Ibu dan sosok Ayah tak berperan dalam hidupnya. Sama saja rasanya seperti anak Yatim-piatu yang tak bisa merasakan kasih sayang orang tua.
Mawar Diana..
Dian Febian..
Arunika Dwiyana..
Salsabila Juwita..
Budi herawan..
Igun Andrian..
Feby Prasetyo..
"Wahh.. nama nama mereka bagus-bagus ya. Doa orang tua yang terselip di nama mereka semoga saja terkabul." kagum Ayu sembari membuka halaman selanjutnya.
__ADS_1
Mendengar itu Rey tersenyum.
"Pilih salah satu jika ada yang Kamu suka.."
"Untuk apa?" Ayu mengernyit heran.
"Untuk nama anak Kita kelak." sahut Rey mantap. Seolah mereka pasangan suami istri yang sedang mencari referensi nama bayi.
"Cuma satu? Padahal ada Tiga nama yang Saya suka." seloroh Ayu asal bicara, sesaat kemudian baru ia sadar. "astaga Ayu.! Tiga kepala mu! Memangnya dia suami mu hah?" rutuknya pada diri sendiri.
Rey terkekeh di sebelahnya "hahahaha.. Baiklah, Jika kamu ingin tiga Saya bersedia."
"mm...maksut nya.. ahh! sudahlah lanjut cari."
Mereka pun melanjutkan membaca daftar nama tersebut.
Agung wijaya..
Dito anggara..
Ziana putri..
Aulia mahendra..
Aluna ningtyas..
Bima pradipta..
Badar Andeswara...
"Apa ini? siapa orang tua yang menamai anak mereka pakai nama Mafia narkoba?" celetuk Rey tiba-tiba ingin tertawa dan juga merasa prihatin dengan anak itu.
"ssst..! Nanti ada yang dengar, mungkin saja orang tua nya tidak tau kalau nama itu sama dengan Raja narkoba."
Rey memiringkan bibirnya, "eihh.. mana ada orang yang tidak mengenal Mafia itu..."
"ihh...! di bilang diam!" Ayu membekap mulut Rey agar ia tak bersuara lagi.
__ADS_1
...***************...