
Beberapa hari sebelumnya...
Ibunya Bagas tampak sedang duduk di meja kamarnya sembari menuliskan surat untuk sang putra tercinta.
"*Selamat pagi Anak Ibu... Bagaimana kabarmu hari ini nak? apa dunia terasa sepi tanpa Ibu? Ibu harap tidak, Ibu merasa tenang meninggalkanmu karena sekarang kamu memiliki seseorang yang bisa membuatmu terus tersenyum. Makan yang teratur ya, karena Ibu nggak bisa lagi marahin kamu kalau kamu telat makan. Bantu Bude Tari dan Bu Susi sesekali jika sedang ramai pelanggan. kamu sudah bisa kan menggunakan alat creambath kita yang baru? jangan lupa cabut alat listrik kalau kamu mau ninggalin kamar, dan jangan biarkan kaus dalam mu berserakan di kamar soalnya bau nya asem heheh*.."
Itu baru sebagian yang ia tulis, masih ada beberapa lembar lagi yang ia tuliskan agar Putranya bisa tumbuh dengan baik tanpa dirinya. wajah pucat dan rambut yang hampir botak tak ia hiraukan, yang ia pikirkan bagaimana sang Anak akan tumbuh di dunia yang amat kejam ini? bagaimana jika Bagas mengalami musibah atau masalah nantinya, kepada siapa ia akan mengadu serta bersandar?
...~~~~...
Setelah membuat Papanya mengalami patah tulang di bagian kaki dan bahu, Rey kini mendekam di balik jeruji besi karena salah satu kolega Ben yang melaporkannya. ia tak tau kalau Rey adalah anaknya.
Sudah hampir 2 jam Rey di tahan, Faro sudah berusaha mengatakan kepada polisi. namun polisi tak mau menerima penjelasan apapun karena yang di lakukan Rey bisa saja merenggut nyawa saat itu. Polisi hanya akan membebaskan Rey jika Ben sendiri lah yang menjamin itu, karena bagaimana pun dia korbannya.
Beberapa jam kemudian Pihak kepolisian menerima telepon dari Ben. ia meminta berbicara langsung dengan Rey.
"Ada telepon untuk mu.." Polisi itu mengeluarkan Rey dengan tetap memborgolnya.
"Kau Gila? Kau ingin membunuhku hah!" bentak Ben dari dalam telepon. ia sampai tak bisa bergerak karena bahu dan kakinya cidera parah.
"Seharusnya Kau bersyukur, Aku berniat menghabisi nyawa mu tadi!" bisik Rey terdengar sangat marah.
"Kau melakukan ini padaku hanya karena mayat yang tinggal tulang itu?"
"Dia Ibu kandungku!" bentak Rey tak terima, entah binatang apa yang merasuki otak Ben sampai ia menyebutkan kata itu.
"Aku tau.. Aku hanya membencinya bukan Kau, seharusnya Kau mendengarkan ku dari awal untuk merebut saham milik Faro."
"Pemakaman Cendana. Aku memasangkan nisan baru dengan ukiran nama yang indah agar Kau senang hahahah... datanglah kesana, karena Aku tetap akan membebaskan mu." Ben menutup teleponnya setelah memberitahu alamat kuburan istrinya.
__ADS_1
Rencananya membangun properti di atas tanah wasiat itu akan segera terwujud. berbagai cara ia lakukan agar bisa mewujudkan rencananya, ia bahkan tega memindahkan peti mati sang istri yang sudah tenang selama bertahun-tahun.
"Seharusnya Aku membunuhmu saja tadi." ucap Rey amat marah. kesalahan apa yang telah ia lakukan di masalalu hingga kehidupannya sekarang begitu banyak menanggung derita. ia bahkan tak bisa melindungi Sang Ibu sampai sekarang. pantaskah ia menyebut dirinya sebagai 'Anak'.
...~~~~...
Bunga bertaburan mengiringi keberangkatan Ibunya Bagas ke peristirahatan terakhirnya. isak tangis Bagas tak terbendung karena belum siap di tinggalkan sang Ibu untuk selamanya.
Sebagai orang yang pernah kehilangan tumpuan, Ayu ikut menangis sesenggukan sambil menguatkan Bagas agar ikhlas melepas sang Ibu. ia mengusap punggung Bagas yang tengah merebahkan diri di atas peti.
Suara ambulance menggema menorehkan kenangan pahit yang takkan pernah terlupakan. pelukan, kehangatan, serta senyum indah yang ia lihat setiap hari kini tak bisa dirasakan lagi. tinggallah Bagas seorang bersama sejuta kenangan indah yang ia ukir bersama Ibunda.
...-...
...-...
Setelah jasad di kebumikan, orang-orang berpamitan pulang kepada Bagas sembari memberi ucapan belasungkawa. namun Bagas ingin tinggal sedikit lebih lama untuk bisa merelakannya.
"Kenapa secepat ini Bu... Aku berjanji membawakan piala, kenapa Ibu pergi bahkan tanpa berpamitan dengan ku?"
Mendengar itu Ayu ikut menangis lagi, ia sangat mengerti seberapa sesak perasaan Bagas saat ini. ia merangkul pundak Bagas, walaupun keadaan takkan berubah ia berharap itu bisa membantu Bagas menguatkan hatinya.
"Aku nggak punya siapa-siapa lagi Yu... Aku benar-benar sendiri sekarang." ia membenamkan wajah di kedua lututnya, buliran bening tak henti mengalir deras dari matanya.
"Kamu punya Aku Bagas, kamu nggak sendiri." ujarnya menenangkan. ia merebahkan kepalanya di bahu Bagas, matanya menatap lurus kedepan sembari berharap ini hanyalah mimpi buruk untuk Bagas.
Tak henti ia mengusap lembut punggung lelaki yang selalu ceria itu. namun tiba-tiba pandangannya terpaku ke arah dua orang lelaki yang juga tengah berkabung tak jauh dari mereka.
Ayu mengerjapkan mata agar genangan air mata tak menghalangi pandangannya. tampaklah sosok Pria yang sangat ia kenali hendak beranjak dari pusara yang masih basah tersebut.
__ADS_1
"Pak Rey?" batin Ayu. siapa yang ia sambangi? apa ada kerabatnya yang baru saja meninggal?
Rey yang hendak pergi dari sana pun pandangannya tertuju pada seseorang yang datang ke pemakaman dengan pakaian cerah dan modis. tentu saja itu sangat mencolok.
Mata sembabnya menyorot ke arah sana untuk memastikan lebih jelas. "Ayu?" ucapnya dalam hati.
Sejenak mereka saling terpaku dalam jarak 30 meter. pepohonan yang tertiup angin mengantarkan sejumlah kelopak bunga berguguran di sekitar mereka.
Melihat Ayu menyandarkan kepalanya di bahu orang lain dan memberikan rangkulan hangat untuk Pria lain membuat Rey merasa iri. Ayu yang biasanya selalu ada di saat ia tengah menderita kini sedang bersama seseorang yang tampak lebih penting dari dirinya.
Sesaat kemudian mereka sama-sama tersadar, Ayu berdiri dan menyapa. begitupun dengan Rey dan Faro yang berjalan ke arah pintu keluar melewati mereka.
"Siapa?" tanya Rey pelan menanyakan siapa yang meninggal dunia.
"Ibunya..." sahut Ayu masih dengan buliran bening di ujung mata.
"Bapak kesini untuk siapa?" tanya Ayu tanpa menghentikan usapan lembut nya di bahu Bagas karena ia belum juga berhenti menangis.
"Mama..."
Sontak Ayu terbelalak, ia tak menyangka Ben akan benar-benar bersikap keji seperti itu pada Rey dan mendiang istrinya.
"Dia benar-benar melakukannya?" air mata yang tadinya sudah mulai berhenti kini mengucur lagi membayangkan betapa sedihnya Rey saat itu.
"Iya.." Rey mengalihkan pandangan agar air matanya tak berderai lagi. namun tak bisa di pungkiri raut wajah Rey menggambarkan berjuta rasa sakit walau ia berusaha menyembunyikannya.
Faro menepuk lembut pundak sang adik, luka yang ia rasa pun sama besarnya dengan apa yang Rey rasakan. ia juga merasa amat gagal karena tak bisa melindungi adik juga ibunya sampai detik ini.
"Seberapa pedih luka yang di pendam nya? andai saja Aku bisa memeluknya saat ini. kenapa semua ini terjadi secara bersamaan?" Ayu merasa teriris melihat penderitaan orang yang di cintai nya itu. yang lebih menyakitkan lagi ia tak ada di saat Rey mungkin sangat membutuhkannya.
__ADS_1
...********...