My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 68 : Luwak dan Barbie


__ADS_3

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ayu dan keluarga selalu mengunjungi makam Ibunya saat ia berulang tahun.


Masih dengan pakaian serba hitam, ia dan Rey berbelok ke salah satu cafe sementara keluarga yang lain pulang lebih dulu.


"Wahh.. enak nih, kebetulan Ayu lapar." ia keluar dari mobil tanpa menghiraukan Rey. Sebenarnya bukan ia berniat membangun jarak lagi, ia sedang menyembunyikan rasa malu karena telah menyia-nyiakan Rey. Telah memberi harapan palsu pada Rey. Bahkan mencampakkannya setelah mereka melakukan ciuman pertama.


Apalagi saat teringat ia mendorong tubuh Rey kemarin hingga terjerembab di lantai, sungguh rasa malu dan bersalah berkalut di benaknya membuat ia ingin sekali menghapus ingatannya.


"Tuhan.. kalau Engkau tidak bisa mencabut ingatan ku. Cabut saja ingatan dia, hamba benar-benar malu ya Tuhan..!" gerutu Ayu sambil melangkah memasuki cafe tersebut.


"Apa dia akan menerimaku?" gumam Rey ragu, di tatapnya Ayu dari jauh sembari menggenggam erat kotak cincin yang ada di saku nya.


Pesanan telah di catat, sambil menunggu makanan datang Ayu dan Rey hanya saling membuang muka namun sesekali mencuri pandang.


"Bapak nggak membaca semua chat Ayu dengan Lita kan?" entah ini pembuka obrolan yang pantas atau tidak, yang pasti sudah lama Ayu ingin menanyakan itu.


"Nggak kok, Saya cuma memantau saja.." sahut Rey yang tentu saja berbohong.


Padahal setiap Ayu dan Lita bertukar cerita baik itu pesan maupun telepon, Rey selalu menyimak. Seluk beluk curhatan Ayu mengenai dirinya entah itu rasa kesal karena dulu ia sangat acuh terhadap Ayu, ataupun rasa kagum karena cinta Ayu malah semakin menggebu. Rey mengetahui semuanya tanpa terkecuali, itu lah yang membuat ia berani membeli cincin pasangan itu.


"Syukurlah..." Ayu tampak lega.


Rey tersenyum kecil, memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama. "Memang nya kenapa? Kamu menjelek-jelekkan Saya saat curhat dengan Lita?"


"e.. nggak sih.. sedikit.." Ayu meremas jemarinya. Ia percaya saja kalau Rey tak mengetahui semuanya.

__ADS_1


"Sekarang bagaimana perasaan mu? Apa Kamu sudah memikirkan akan membuka hati untuk Pria lain setelah di tipu oleh bocah itu?"


"Entah lah..." sahut Ayu ragu, padahal hatinya berteriak dengan lantang bahwa Rey masih berdiri kokoh di sana.


Di sela pembicaraan mereka, pramusaji datang menghidangkan pesanan. Diletakkan satu persatu menu yang mereka pesan di atas meja.


"Bagaimana dengan perasaanmu untuk Saya?"


Tentu saja ucapan Rey mengundang senyum sang pramusaji. Ia bahkan tersipu karena bisa merasakan luapan emosi Rey yang menggebu.


Ayu memberi kode melalui mata agar mereka menjeda dulu pembahasan itu. Namun Rey tak perduli, ia bahkan merasa semua orang di dunia ini harus tau tentang perasaannya kepada Ayu.


"Mau kah Kamu menerima perasaan Saya?"


"Ayu belum memikirkan hubungan kita, bahkan Ayu belum sempat meminta maaf karena sudah membuat Bapak sakit hati waktu itu." ia tertunduk malu. Debaran jantung nya seolah bergemuruh saat menatap mata Pria di hadapannya itu.


"Kesalahan yang Saya buat bahkan lebih besar, dan bukannya minta maaf Saya malah mendesak mu ke situasi seperti ini." ujar Rey juga menunjukkan penyesalan.


Akhirnya Rey pun mengurungkan niatnya untuk memberikan cincin itu. Sepertinya ia butuh waktu yang tepat, yang lebih intens agar Ayu tak merasa di desak. Apalagi yang ia berikan bukan sekedar pernyataan, melainkan ikatan yang menuju hubungan lebih serius.


...~~...


"Sekian masukan dari Saya, kalau ada yang ingin di tanyakan silahkan hubungi Saya lewat pesan pribadi." ucap Ayu menutup sesi bimbingan hari ini. Ia menutup Laptop-nya kemudian keluar dari ruangan itu.


Di saat yang sama pula ia melihat Rey dan Seorang sekertaris dapartemen lain berjalan bersama menuju ruang meeting.

__ADS_1


Tidak ada yang salah sebenarnya, dari dulu ia sudah sering melihat Rey berinteraksi dengan lawan jenis. Tapi kali ini kan berbeda, Rey bukan lagi seorang Pria yang menyukai sesamanya.


Ayu hanya bisa mengelus dada nya "sadar Yu.. dia juga manusia normal. jangan berlebihan deh." pikirnya kemudian membuang rasa cemburu itu jauh-jauh.


"Kamu memikirkan hal yang sama dengan Saya kan?" celetuk Mila dari belakang membuat pikiran Ayu buyar.


"Bu Mila..? hal apa ya maksudnya?" Ayu tak memahami ucapan Mila barusan.


"Rumor lama tentang luwak dan barbie, sepertinya mereka benar-benar memiliki hubungan." bisik Mila tak lupa dengan nada misterius agar kesan pembicaraan semakin menggoda.


Ayu terkejut mendengar rumor lama itu "jadi selama ini si barbie itu Bu Anggi?" karena kelainan Rey, selama ini ia menyangka bahwa barbie itu adalah laki-laki.


"Kamu baru tau? bukankah Kamu yang dulu berteriak saat menyaksikan Rey tidak memakai baju saat di kantor Pak Dimas?"


"t..tapi Saya teriak karena terkejut, bukan karena..."


"Berarti Kamu tidak melihatnya, padahal kedatangan mu waktu itu tidak berselang lama saat si barbie keluar dari ruangan Pak Dimas."


Mendengar itu Ayu hanya mengerutkan dahinya, sebagai biang gosip apakah ucapan Mila dapat di percaya? Lagi pula Rey dulu sudah menjelaskan kalau bajunya terkena kopi, dan memutuskan untuk berganti pakaian di ruangan itu.


Tapi kenapa gantinya di ruangan Dimas? Kan ada toilet yang lebih pantas, lalu kalau memang mereka berbuat aneh-aneh kenapa juga di ruangan Dimas? Kan ada tempat tersembunyi yang lebih aman.


Semua kata tapi, dan tapi terulang di kepala Ayu, jika di pikir pikir lagi memang waktu itu gelagat Rey cukup mencurigakan. "aaaghhh!! bodo amat sih..!" rutuk Ayu meninggalkan Mila yang masih asik mengoceh di sana.


...***********...

__ADS_1


__ADS_2