
"I Love You... dari dulu heheheh..." bisik Ayu dengan tawa lembut amat bahagia. Akhirnya ia bisa mengutarakan rasa cinta yang bertahun-tahun bersarang di dalam jiwanya.
Rey mendekap erat tubuh Ayu, tak perduli seberapa banyak orang yang memperhatikan mereka. Yang ia inginkan hanyalah satu, memberitahu pada dunia bahwa Ayu miliknya.
...~...
Desas-desus pernyataan cinta Rey kepada Ayu pun menyebar luas ke seluruh karyawan hingga ke telinga Dimas. Sudah satu minggu sejak hari istimewa itu, namun baik Rey ataupun Ayu memilih bungkam atas rumor yang terus tersebar.
"Papa sudah dengar tentang Ayu?" tanya Dimas sembari menyeruput kopi di ruangan Papanya.
"Kenapa? buat ulah lagi dia?" tanya Adit serius, jika Dimas yang berbicara berarti ini bukan hal kecil.
Mendengar jawaban itu, Dimas pun menyimpulkan bahwa Papa nya belum mengetahui hubungan Rey dan Ayu. Jadi ia berpikir mengulur waktu untuk memberitahukan ini.
"ee.. nggak kok Pa." sahut Dimas bingung, sepertinya ia memilih merahasiakan itu dari Papanya.
...~...
Hari ini tepat 7 hari mereka berpacaran. Baik Rey ataupun Ayu masih belum memberitahu keluarga masing-masing. Lagi pula hubungan mereka baru masih sangat awal.
Karena sudah biasa bersama, selain Dimas tidak ada yang menangkap gelagat mereka yang tak biasa. Seperti hari ini, Rey datang berniat mengajak Ayu berkencan. Ini pertama kali ia dan Ayu keluar dengan status berpacaran.
"Sudah siap?" tanya Rey, ia sudah duduk di sana 30 menit menunggu Ayu berdandan.
"hmm.." Ayu mengangguk, wajahnya tampak sangat ceria.
Rey pun berdiri, namun ia salah fokus dengan rok Ayu. lagi-lagi ia memakai rok pendek hingga memerkan kaki nya.
"Kamu tidak punya pakaian lain?"
"Kenapa? ini bagus... sejuk." Ayu berpose, memamerkan kakinya pada sang kekasih.
"Di luar sedang berangin, ganti dengan yang lebih panjang!" ketus Rey mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Mulai.. mulai... bisa nggak sih jangan berisik kalian berdua?" seru Adit dari ruang kerjanya, ia sayup-sayup mendengar percekcokan antara Ayu dan Rey.
Tak mau terlibat perdebatan, dengan berat hati Ayu mengganti pakaiannya. Ia pikir jika sudah berpacaran akan bebas memakai baju apa saja.
Setelah itu, mereka pun masuk ke dalam mobil. Saat hendak menyalakan mesin mobil, Rey melihat layar monitor yang memberitahu bahwa pintu sebelah kiri belum tertutup rapat. Ia berinisiatif maju, dan menjulurkan tangannya untuk menutup rapat pintu mobilnya. Namun tindakan itu membuat Ayu salah paham hingga langsung mendorong tubuh Rey.
"Mau ngapain..?" Ayu terbata, bagaimana jika keluarganya melihat. Pikirnya.
"Pintunya, belum tertutup." sahut Rey pelan, ia bisa merasakan apa yang sedang di pikirkan Ayu.
"Ayu.. Kita ini sudah berpacaran."
"Jangan.." potong Ayu, ia menyilangkan kedua tangannya di atas dada.
"Maksud Saya, bisa tidak kita jangan terlalu kaku. Apa cuma Saya yang merasa Kita ini sangat canggung."
"hah..? gitu ya..." wajah Ayu langsung bersemu, ntah apa yang ia pikirkan barusan.
"Kamu mau makan apa?" Rey menggenggam tangan Ayu sambil tetap menyetir.
Jantung Ayu seperti pindah ke tenggorokan rasanya, ia tersipu. Ingin saja ia berteriak sekuat-kuatnya.
"Spageti..." sahut Ayu pelan.
...~~...
Setelah selesai makan, Rey mengajak Ayu ke tower di atas restaurant tersebut. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan seluruh kota sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi.
"Mau permen..?" tanya Rey sembari menyibakkan anak rambut Ayu. Ia merogoh saku dan mengambil dua bungkus permen mintz.
Ayu menggeleng, ia tidak suka sensasi pedas dari rasa permen seperti itu.
Rey kembali memasukkan permen ke saku celananya. Kemudian berdiri tepat di belakang Ayu, menyandarkan kedua tangannya ke pagar pembatas hingga tubuh Ayu terkurung di sana.
__ADS_1
"Kamu tidak malu?" bisik Rey, ia memejamkan mata dan menaruh dagu nya di pucuk kepala Ayu.
Ayu tersenyum, menikmati kehangatan yang ia bayangkan selama ini.
"Malu kenapa?"
"Berpacaran dengan orang seperti Saya." Jika di pikir pikir, semua keburukan ada padanya.
"Karena Bapak tua?"
"Dan karena kelainan yang pernah Saya punya." imbuh Rey, sepertinya ia lebih pantas di sebut tak tau diri alih-alih Pria beruntung.
"Ayu suka semuanya..."
"Benarkah?" Rey mengulum senyum, masih dengan permen manis di mulutnya.
"Tapi jangan paksa Ayu untuk suka sama permen mint."
Rey memutar tubuh Ayu hingga mereka berhadapan, lalu mengecupnya perlahan.
"Bagaimana dengan rasa yang ini?" bisiknya setelah melepaskan kecupan dari bibir Ayu.
Tatapan Ayu terpaku, ia menjilat bibirnya hingga terasa rasa permen yang di transfer Rey melalui kecupannya.
"Suka..?" tanya Rey lagi dengan tatapan teduh.
Ayu hanya memberi anggukan sebagai jawaban. Rasa nya lumayan manis, dan mendebarkan.
Kedua tangan Rey langsung menyusup ke leher Ayu. Kali ini tak hanya kecupan, ia memberikan ciuman dengan perlahan dan memastikan Ayu bisa merasakan manisnya permen itu.
Ayu tak bisa memejamkan matanya, padahal ini sudah yang kedua kali. Ia meremas kuat kemeja Rey sembari berusaha mengatur nafas. Membiarkan pria itu terus menyalurkan rasa manis yang sangat mendebarkan.
...**************...
__ADS_1