
Untuk beberapa detik, mereka saling melempar tatapan.
"Kalian pacaran? sejak kapan? bukannya kemarin kamu bilang ....." pertanyaan Bagas langsung berhenti karena pinggangnya di cubit oleh Ayu.
"hmm.. Pak Rey mau masuk kantor kan? kalau begitu silahkan." tanpa ragu Ayu mendorong Rey keluar dari lift dan segera ia menekan tombol naik.
"Siapa anak laki-laki itu?" tanya Faro berbisik pada Rey.
"Teman kuliah nya."
Faro melempar tatapan heran "kau membiarkan kekasihmu berduaan dengan teman lawan jenis nya? memang nya kau tidak takut? apalagi dia jauh lebih muda dari mu."
Alis Rey naik sebelah menanggapi kekhawatiran kakaknya.
"Setidaknya dia tidak lebih tampan dari ku." gumamnya tersenyum penuh percaya diri.
...-...
...-...
Di sisi lain, Dimas yang tengah melewati salah satu ruangan karyawan tak sengaja mendengar gosip hangat tentang adiknya.
"Panas...panas..! berita panas Gaess! ternyata Pak Rey pacaran dengan adiknya Pak Dimas." ucap salah satu karyawan berambut keriting itu dengan gairah gosip yang membara.
"HAHHH??" lima orang yang ahli dalam bergosip lainnya tampak sangat terkejut.
Tak pelak kabar burung itu membuat bola mata Dimas hampir keluar.
"Pacaran? Rey?" ia diam-diam semakin mendekat untuk mengetahui cerita lanjutannya.
"Bukannya Pak Rey masih pacaran dengan si Barbie?" timpal salah seorang lainnya menyangkal.
"Nggak, mereka nggak pacaran. dan juga kemarin Pak Rey mengunggah foto pacar barunya kan? apa sudah putus?" tanya yang lainnya pula.
"Kau tau dari mana mereka pacaran?" si karyawan yang dari tadi diam pun menyangkal.
"Aku melihat dan mendengar sendiri di koridor lift tadi! bahkan Pak Rey sendiri yang mengatakan kalau mereka memang pacaran." jawab si pembawa berita gosip itu
"Benarkah? adik Pak Dimas? siapa?"
"Menurut kalian siapa? sudah pasti si bungsu lah. masa iya Bu Nurul, di geprek Pak Vino ntar. apalagi Mas Dika, nggak mungkin kan?! memangnya Pak Rey penyuka batang batangan?"
"Ayu?" batin Dimas penasaran, jika mereka mengatakan itu gosip panas berarti Ayu ada di gedung itu kan?
Dimas segera mencari Rey guna memastikan apakah benar berita itu? jika benar berarti mereka sekeluarga besar harus potong tumpeng karena Rey sudah pulih dari kekacauan nya.
Dalam perjalanan kembali ke ruangannya, Dimas malah lebih dulu bertemu dengan Ayu serta Bagas yang tak henti-hentinya mengambil gambar dengan kamera depan.
"Ayu? berteman dengan makhluk jenis apalagi dia?" gumamnya menatap risih Bagas yang tampak narsis.
"khm!" suara dalam Dimas menggema di lorong yang sepi itu.
__ADS_1
"Pak Dimas! Presdir Bramis property! perkenalkan Pak Saya Bagas teman kuliah Ayu." ia menundukkan kepala amat antusias, wajahnya pun berbinar terang melihat sosok pria konglomerat idolanya itu.
"BRAM'S bukan bramis!" sewot Dimas tak terima nama perusahaannya di pelesetkan.
Dimas mengayunkan jemarinya kearah Ayu.
"ikut Saya bentar.."
"Iya.." sahut Ayu tanpa tau pertanyaan apa yang akan di lontarkan sang kakak ipar untuknya.
Namun dengan lantangnya Bagas mencela mereka.
"Bentar bentar! maaf Pak Adi..mas, boleh Saya minta foto hehe.."
"Ee..." belum sempat menjawab, kamera Bagas sudah berbunyi duluan. mana bibir Dimas mangap tidak simetris pula.
"sss.. anak ini! " rutuk Dimas menahan emosi. ia sampai bingung dari rawa-rawa mana Ayu mendapatkan teman model Bagas ini.
...-...
...-...
Sementara Dimas dan Ayu tengah berbicara empat mata, Bagas hanya melihat mereka dari luar ruangan sambil menempelkan wajahnya ke dinding kaca.
"Apa yang mereka bicarakan ya? kelihatannya serius sekali. apa Pak Dimas memarahi Ayu karena membawa ku ke sini?" lirih nya merasa bersalah. ya wajar saja Bagas berpikiran begitu karena siapa sih yang membiarkan orang sembarangan memasuki gedung perkantoran seperti ini.
Sikap narsis, norak, udik, serta heboh nya Bagas seketika menciut kala melihat foto keluarga besar Dimas yang terpampang jelas di belakang kursi kerja nya.
"tcih! bulan dan matahari yang tak pernah di takdirkan bersama pun punya waktu untuk bertemu. lalu sangat besar kan kemungkinan kami yang sesama manusia ini bisa bersama hahahah.. semangat!" ia benar-benar sangat gigih dengan cabang yang satu ini. kalaupun yang ini tidak berhasil, masih banyak kan cabang yang lain😎
"Kamu pacaran dengan dia?" tanya Dimas menunjuk kursi kerja Rey dengan tatapannya. kepala Ayu pun menoleh mengikuti bola mata kakak iparnya itu.
"Nggak kok.."
Dimas melipat alisnya "Yakin? cerita aja nggak apa-apa, walaupun Saya kurang setuju setidaknya rasa was-was Saya bisa hilang kalau dia normal."
"Ya.. tunggu! dari mana Mas dapat pikiran seperti itu?"
"Itu tidak penting, satu hal yang membuat Saya penasaran, kalian sedang tidak merahasiakan apapun kan?"
Ayu menggoyangkan telapak kakinya, ia menunduk dan mencoba jujur pada Dimas. "umm... sebenarnya.."
...~~~~...
Setelah puas mengelilingi gedung impiannya, Bagas kembali kerumahnya sambil jingkrak-jingkrak ala anak metal. gantungan kunci berbentuk tiga kepala beruang di tas nya sampai terombang-ambing saling bertabrakan.
yyuhhuuuu...!
"Bu.. Ibu...!" suara mendayu Bagas membuat wanita paruh baya yang tengah menata peralatan salon tersenyum kecil.
"hhhh.. cerita apalagi yang di bawa anak bujangku sekarang?" lirihnya geleng kepala. akhir-akhir ini Bagas selalu ceria saat pulang sekolah, terutama saat menceritakan gadis idaman hatinya walaupun nama dan identitas masih di samarkan.
__ADS_1
"Bu. lihat, aku tadi jalan-jalan ke gedung perusahaan paling meeeegahhh!" ia membanggakan gedung Adimas seolah itu keberuntungan terbesar untuknya.
Sembari mengelap kursi salon, Ibunya Bagas tersenyum kecut.
"Sudah berapakali ibu bilang, jaga jarak dengan orang yang jauh di atas kita nak. kamu nggak kapok emang nya di kucilkan seperti dulu?"
"Tapi Bu.. orang-orang di kampus ku yang baru tidak mempermasalahkan itu, apalagi para gadisnya. mereka hanya memandang wajah tampan putra mu ini hahahhaah...."
"Ya..ya.. terserah kamu, asal jangan sampai kamu berkelahi cuma gara-gara hal sepele seperti dulu." timpal Ibunya mengingatkan.
"Oh kalau soal itu Aku nggak bisa janji Bu, siapapun orang nya yang menghina Ibu akan ku hajar tanpa ampun!" Bagas mengepalkan tangannya di hadapan wajah sang Ibu. ia bisa terima kalau fisik atau kemampuannya di rendahkan orang lain, tapi tidak jika itu menyangkut nama Ibu nya.
Setelah melepaskan kemeja nya, Bagas berbaring di atas kasur sambil melihat satu persatu hasil fotonya tadi. ia memilih salah satu foto bersama Ayu saat di basemen kantor lalu mengunggahnya di akun pribadi, tak lupa ia menandai akun Ayu.
Tampak ia memperbesar wajah Ayu di ponselnya sembari menarik senyum tipis.
"Tapi yang satu ini bahkan tidak memandang ketampanan ku."
...~...
Di saat yang bersamaan, Rey yang juga tengah melihat-lihat akun medsos nya tiba-tiba melihat unggahan Bagas yang menandai Ayu, tentu saja foto itu tampil di beranda Ayu.
Seketika Rey merasa suasana kamar sedikit pengap dan gerah. ia mengusap kasar ujung hidungnya dengan ibu jari sambil melihat ratusan komentar yang bertengger di sana.
[mereka sangat serasi]
[semoga beneran jadian heheh..]
[siapa itu? pacarmu?] tulis seseorang dengan like paling banyak di kolom komentar seolah semua orang penasaran dengan hubungan mereka.
Rey mendesis jengkel melihat semua komentar itu, ia berharap ada satu orang saja yang menuliskan bahwa mereka tidak cocok, seperti pendapat pribadi nya. masa iya harus pakai akun palsu?
"Memang nya cuma kamu yang bisa hah?!!"
Seolah tak mau kalah, Rey membuka galeri di ponselnya lalu mencari foto dirinya dan Ayu yang paling keren, paling fashionable, paling kece badai pokoknya. tak lupa ia juga menandai akun Ayu sebanyak-banyak.
"Mari kita lihat siapa yang paling kuat di sini!" tap.. ia berhasil mengunggah foto tersebut, kemudian menunggu beberapa saat.
Belum sampai tiga puluh menit, ponsel Rey sudah terus berbunyi karena kebanjiran notifikasi. ia pun tersenyum sumringah sambil cepat-cepat membuka unggahannya tadi.
[wahh.. yang ini juga tak kalah tampan, apakah dia single?]
Komentar pertama cukup membuat Rey membusungkan dadanya.
[dia saudara mu? apa dia single? kakak tertuaku kebetulan mencari calon pendamping]
Senyum mengembang Rey jadi sedikit kempes membaca komentar tersebut. kemudian dengan cepat senyumnya berubah menjadi erangan saat membaca salah satu komentar paling menonjol.
[Kau sedang kumpul keluarga Yu? tadi pacarmu sekarang paman mu. aku membayangkan betapa indah nya kehidupanmu.]
"PAMAN katanya?!!" ucap Rey geram.
__ADS_1
...**********...