
Wajah Rey mendadak bingung lagi, kiasan wanita susah untuk di tebak ternyata benar-benar di alaminya.
"Kamu marah bukan karena Saya abaikan tadi?"
"Masih banyak wanita yang lebih baik dari dia. Kakek belum tau saja, Cucu mu ini sangat berkharisma. jangankan wanita biasa, bidadari pun bisa Ku taklukan dengan satu kali kedipan mata." cerocos Ayu sambil membelokkan bibirnya, tak lupa ia menekan setiap kalimat sambil membulatkan matanya.
"Pertama Bapak bilang masih banyak wanita lebih baik daripada Saya! Ke-dua secara nggak langsung Bapak ngatain Saya WANITA BIASA. chh! berkharisma apanya!" sungut Ayu membuang muka.
ffffttt.... Hampir saja Rey menyemburkan air liur keramatnya.
Hahahhaha.. hahahahahahha......🤣🤣
Rey sampai membungkuk karena perutnya terasa geli.
"Kamu marah gara-gara itu?"
Rey melanjutkan tawa nya "Ayu.. Ayu.. Kamu tau kan? semua yang kita lakukan di sana tadi cuma pura-pura, begitu juga dengan kata-kata itu. kenapa Kamu tersinggung?"
Benar juga, semua nya hanyalah pura-pura. kali ini Ayu kembali tertampar oleh fakta.
"Tapi sakitnya beneran Pak." ia menepuk dada hingga suaranya terdengar parau.
"Hahahhaha.. Oke Oke, Saya minta maaf karena mengatakan itu. sangat tak tahu diri ya kan?"
Kemudian Rey menyandarkan tubuhnya di depan mobil sembari menyilangkan kaki "Sebenarnya Saya bingung harus bicara apa tadi, Kamu dengar sendiri kan Kakek menyuruh Saya untuk cepat menikah."
"Kalau begitu nikah lah. cari perempuan yang sepantaran dan sepantasnya."
"Seandainya semudah itu..." ucapnya tertunduk lemas.
Ayu ikutan menghela nafas saat melihat wajah bingung Rey.
"Saya cuma bisa berharap yang terbaik untuk Bapak. oh iya satu lagi, cukup sampai di sini kita membohongi Kakek."
"Kalau dia bertanya?"
"Bilang saja sudah bubar."
Rey masih bisa merasakan aura kejengkelan saat mendengar nada bicara Ayu yang datar dan baku. ia berdiri dan memegang lengan Ayu dari belakang.
"Kamu belum maafin Saya?"
"Sudah." sahut Ayu ketus sambil melirik tajam ke arah tangan Rey yang menggenggam lengannya.
Rey pun langsung melepaskan genggamannya "selamat malam.." lirihnya terbata, ia pun segera masuk ke dalam mobil dan melenggang dari hadapan Ayu.
"hiss!! orang tua itu nggak punya perasaan atau apa sih?" rutuknya kesal. hal yang paling sulit adalah menahan diri saat berada di dekat orang yang di cintai. dan belakangan ini mereka malah terus terlibat dalam situasi yang tak menguntungkan untuk Ayu.
Tanpa di sadari, sekitar 50 meter dari posisi Ayu Bagas tengah duduk di atas motornya sambil memperhatikan mereka sedari tadi.
Saat makan siang di kantin, Ayu mengatakan ingin memakan eskrim yang mereka beli di cafe waktu itu. ya saat mereka kena tilang gara-gara membuntuti Laura.
__ADS_1
Ayu tak bercerita kalau malam ini ia ada acara di luar, itu sebabnya Bagas datang membawakan eskrim yang ia inginkan. namun saat tiba di rumah Ayu, petugas keamanan mengatakan bahwa Ayu sedang pergi ke suatu acara bersama keluarganya.
Karena tak ingin menyianyiakan uang yang sudah ia pakai untuk membeli eskrim, ia pun menunggu dan tak terasa sudah dua jam ia di sana.
Eskrim yang ia bawa sudah mencair kehilangan bentuk indahnya. seperti suasana hati Bagas saat ini.
"Apa sekarang orang itu menjadi keluarga Ayu?" gumamnya sembari memutar-mutar cup Eskrim lumer itu.
"Uangku..." rengek nya memandangi Eskrim yang semakin mencair. tak tega rasanya kalau harus membuang eskrim itu, ia pun lantas menyeruput eskrim tersebut bak meminum jus.
HASS!
"Kenapa orang tua itu memegang nya!"
...~~~~...
Di rumah nya Dimas dan Fani sedang menyantap sarapan. tiba-tiba Dimas teringat pertanyaan Ayu kemarin soal daerah kerubung jati.
"Sayang, kemarin Ayu bertanya soal kejadian 6 tahun yang lalu."
Fani langsung meletakkan sendok nya kembali "tentang apa?"
"Tentang daerah Kerubung jati, temannya bilang pernah melihat kita di sana."
"Tidak mungkin tentang itu kan?"
"Entah lah, Mas juga penasaran kenapa tiba-tiba dia menanyakan itu."
"Jika kejadian itu di bahas lagi....." Fani tertunduk sambil memutar garpu di atas piringnya.
...-...
...-...
Di dalam kamarnya Ayu memikirkan perkataan Bagas. apa iya mereka dulu pernah bertemu? jika Bagas mengatakan ia melihat seluruh keluarganya di pemakaman itu berarti ada Ayu juga kan di sana?
"Apa kami juga saling bertemu, tapi tidak saling mengingat karena waktu itu kami masih kecil. atau Bagas tak mengenaliku karena dulu Aku kumel?" gumamnya sembari memicingkan mata ke arah bingkai foto di sudut kiri meja rias. ia memang tampak agak hitam dan kumel di foto itu.
...~~~~...
Evi yang tengah mengelap meja dapur dengan suasana tenang tiba-tiba di kejutkan oleh suara Sharla.
"Ibu merahasiakan sesuatu dari ku?" Sharla menenteng seikat bunga yang sudah layu.
Evi menoleh ke arah putri bungsunya itu dengan tatapan heran "rahasia?" kedua alis yang bertemu membuat ujung dahinya tampak berkerut.
"Bunga ini terus ada di makam Bapak, Ibu pasti tau kan siapa yang sering datang ke makam Bapak?"
Evi menghela nafas berat perlahan.
"La.. bisa nggak sehari aja kamu nggak usah membahas tentang makam. memang nya kenapa kalau ternyata mereka yang datang? ingat La, yang ada di makam itu bukan cuma Bapak kamu."
__ADS_1
Sharla menahan buliran bening yang hendak menetes, bibirnya bergetar menahan amarah atas sikap Ibunya tersebut.
"Ibu lupa? semenjak mereka hadir di kehidupan kita, hidup kita hancur Bu. kita harus menahan malu karena orang-orang memandang hina kehidupan kita. Ibu bahkan nggak berani ke pasar karena gunjingan orang-orang.dan Kak Cindy yang terpaksa berhenti sekolah dan mengasingkan dirinya di luar kota." tangisnya mengucur deras, nafas nya pun terhenti sejenak, ia seperti tak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Kak Mei bahkan di bully teman-teman Kampusnya sampai dia memilih bunuh diri! dan Ibu tau apa yang paling menyiksaku sekarang? Aku bahkan harus hidup sebagai orang lain agar Aku bisa menjalani kehidupan selayaknya mahasiswa."
Evi pun tanpa sadar menitikkan air matanya, isak tangis sang putri membuat dadanya terasa berat.
"Lalu..? Kamu mau menyalahkan Ibu lagi?"
Sharla tak menjawab, ia meninggalkan tatapan jengah sebelum melangkah menuju ke kamar. sambil menangis tersedu-sedu ia menjatuhkan dirinya di atas kasur yang tak seberapa luas itu.
"Kenapa kehidupannya sangat baik, sedangkan Aku harus hidup dengan menerima hukuman Ibu di masa lalu." lirihnya sesenggukan di balik selimut.
...~~~~...
Pagi hari berikutnya, setelah libur akhir pekan kini mereka kembali ke kampus seperti biasa. Ayu memainkan ponselnya sambil berjalan menuju kelas tanpa melihat Bagas yang tengah mengikuti di sebelahnya.
"Lagi balas chat siapa?"
"ASTAGA! sejak kapan kamu di sini?"
"Aku di sini sejak 3 bulan yang lalu, masa lupa?" sahut Bagas pasang wajah pura-pura cuek. padahal dalam hatinya bergejolak karena rindu dua hari tak bertemu.
"Maksudku sejak kapan Kamu di sebelahku."
"Sejak kamu senyum-senyum sendiri ke layar gepeng itu."
"Tadaaa.. Aku di pilih untuk jadi pembimbing anak magang di perusahaan." Ayu memamerkan layar ponselnya yang tertulis susunan nama pendaftar.
Pembimbing magang? di kantor? makin sering ketemu Pak tua dong?
Otak Bagas langsung ngebul seketika, kenapa alam seolah berpihak kepada Rey ketimbang dirinya.
"Ohh.. jadi itu alasan kamu senyum senyum dari tadi, makin sering dong ketemu sama idaman hati mu."
"ch! katanya mau di blacklist.." imbuhnya lagi dengan suara pelan.
"Muka kamu kok pucet?Kamu sakit?" Ayu malah salah fokus pada wajah Bagas yang seperti sedang tak enak badan.
"Masuk angin, kemarin minum es dua cup sambil...." Bagas langsung terdiam saat Ayu meletakkan punggung tangan di dahinya.
"Agak panas, Kamu nggak istirahat aja? mau Aku antar pulang?" kalau sedang perhatian tatapan lembut Ayu memang tiada tandingannya. rasa jual mahal yang tadi di bandrol oleh Bagas seketika jadi jual murah bahkan diskon 10 ribu dapat lima.
Namun di balik rasa senang itu Bagas merasa sedikit kecewa, karena tatapan Ayu sangat berbeda ketika bersama Rey kemarin.
"I Love You..." bisik Bagas beriringan dengan deru nafasnya.
"h..hah??" sayangnya Ayu tak mendengar jelas karena riuhnya suara siswa yang melewati lorong itu.
Bagas mundur beberapa langkah, ia menarik nafas dalam-dalam lalu berteriak sekuat tenaga.
__ADS_1
" I... LOVE YOU!!"
...********...