
Walau mulutnya mengatakan mereka tidak ada hubungan. mata Rey seolah menyuruh Bagas untuk tidak mengusik mereka saat mengatakan Ayu menyukainya.
Sebagai playboy nomor satu dari jaman majapahit Bagas bisa mendeteksi adanya kemunafikan dari wajah Rey. ia menaikkan alisnya dan bertanya dengan tatapan julid.
"Lalu kenapa Anda tidak menyukainya?"
"Karena...." saat baru membuka mulut, mereka dicela oleh Dika yang hendak memberikan sesuatu pada Ayu.
"Dimana Ayu?" tanya Dika.
"Di toilet.." sahut Rey singkat.
"siapa lagi pria ini? apa dia juga orang yang mendekati Ayu?" batin Bagas memandangi ketampanan Dika yang tampak bersinar dengan jas putihnya.
"Aku titip ini ini ya.." Dika menyerahkan paper bag berisi pakaian kotor untuk di bawa pulang oleh Ayu. karena tadi malam ada tugas darurat dan langsung nyambung ke sift pagi membuatnya tidak sempat pulang. jadi dia memakai baju milik rekannya yang tinggal di asrama rumah sakit.
Setelah menyerahkan paper bag kepada Rey, Dika langsung beranjak bahkan tanpa menyapa. tentu saja itu membuat Bagas berpikir pasti dia adalah orang yang memiliki hubungan spesial dengan Ayu.
"Apa dia juga dekat dengan Ayu?" tanya Bagas, makin bertambah lah saingannya kalau begini ceritanya.
"hmm.. lebih dekat dari yang kau bayangkan." ujar Rey sambil menaikkan alisnya.
"Dia orang nya? yang membuat Anda tak membalas perasaan Ayu?"
"Kenapa Kau sangat ingin tau?" Rey bertanya balik karena kesal. menurutnya Bagas terlalu banyak bicara.
"ch.. tentu saja karena menyukainya, memangnya apalagi?"
"hhh.. lebih baik Kau hati-hati karena Ayu tidak suka lelaki dengan penampilan seperti ini." wajah Rey tampak sangat meremehkan penampilan Bagas, ia tak berniat melakukan itu dan bahkan tak pernah menganggap rendah seseorang. namun entah kenapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Bagas tersenyum smirk sambil memicingkan matanya "dia menyukai rasa es krim favoritku, bagiku itu sudah cukup."
Rey tak menyangka, remaja tengil berpenampilan absurd itu memiliki nyali yang cukup besar. baru pertama kali ia menjumpai seorang pria seperti Bagas. beberapa anak remaja sebelumnya yang mendekati Ayu akan langsung mundur teratur bila di intimidasi Rey dengan satu atau dua kata. namun Bagas tak gentar bahkan saat penampilannya di sebut tak masuk dalam kriteria Ayu.
Tinggi badan mereka yang hampir setara membuat pandangannya beradu lurus saling melempar tatapan tajam. saking hening nya suasana sampai terdengar suara angin yang menyibakkan pelan tirai kaca di seluruh lorong.
Saat Ayu keluar dari toilet, matanya hampir melompat keluar melihat Rey dan Bagas sedang saling bertatapan. ia pun segera berlari membubarkan mereka.
__ADS_1
"Kalian sedang apa hah?!" pekiknya sambil memisahkan mereka jauh-jauh.
"Menatap. Saya suka mata nya.. cantik sekali." sahut Rey menekan kalimatnya membuat Ayu semakin yakin kalau Rey sudah mulai ada perasaan nyeleweng pada Bagas.
...~~~~...
Di sebuah gedung mewah bernuansa putih, dekorasi bunga tulip menghiasi setiap lorong seolah menyambut seorang mempelai pria yang tengah berbahagia.
Sepatu mengkilap membuat kaki nya semakin terlihat sexy, setelah berwarna gold memancarkan wajah sang mempelai pria yang tak lain adalah Rey.
"Siapkah kau menjadi istriku?" tanya Rey kepada calon mempelainya. namun yang membuat pernikahan ini sangat beda ialah Bagas yang menjadi mempelai wanitanya.
"Siap sayangku..." sahut Bagas tersenyum anggun.
"TUNGGU...!" teriak Ayu saat terjatuh dari kasurnya.
"aawhh... cuma mimpi? syukurlah..." ucap Ayu masih dengan separuh nyawa.
"ck.. mimpi apa itu? bisa-bisa nya mereka eh? apa jangan-jangan mereka beneran jodoh?!" nyawa Ayu langsung kumpul saat merasakan mimpi itu begitu terasa nyata.
"Nggak!Tuhan menciptakan manusia itu berpasang-pasangan agar bisa berkembang biak. jadi nggak mungkin mereka jodoh!"
...~~~~...
Setelah hampir satu bulan diliburkan, akhirnya kelas Ayu kembali aktif. namun beberapa murid yang mengalami cedera parah masih di berikan waktu cuti lebih lama di banding mereka yang hanya mengalami luka ringan.
Ayu menghirup dalam-dalam udara kampus yang sangat ia rindukan itu sambil memejamkan mata di tengah lapangan.
"widih.. akhirnya Ikon kampus kita masuk lagi, sepi tau Yu tanpa embel-embel nama kamu di kampus ini hahah.." seorang gadis bernama Laura itu menepuk pundak Ayu, ia memang akrab dengan Ayu walaupun mereka beda jurusan.
"Merendah deh kamu.. padahal kamu juga aset penting di kampus kita." sahut Ayu tertawa kecil pada gadis berpenampilan tomboi itu.
"Oh iya.. nanti pas istirahat gabung ke kantin ya, Aku dapat voucher lagi hehe."
"Lagi? wahh kamu ini bener bener pemenang jackpot!" Ayu sampai tercengang karena ini kali kelima Laura mendapat jackpot di kantin.
Bukan hal yang mudah bagi para siswa agar mendapatkan jackpot tersebut, mereka harus memenangkan kompetisi tata boga baru bisa mendapatkan jackpot itu. dan gadis bernama Rania Laura itu salah satu orang yang paling sering mendapatkannya karena ia menjadi juara satu di kompetisi kemarin.
__ADS_1
Setelah mengobrol dengan Laura, Ayu masuk ke kelasnya. tampak beberapa siswa sudah duduk di meja masing-masing sambil saling berbisik. salah satu gadis yang sedang berbisik menunjuk ke arah papan tulis hingga membuat Ayu ikut menengok ke arah sana.
Untuk (A)
Menyenangkan hidup sebagai tuan putri di kastil mewah mu? ingat, kau tidak pantas di sana jadi bersikaplah sepantasnya...
dari penggemarmu (A)
Tangan Ayu seketika bergetar saat membaca tulisan yang amat besar itu, walaupun belum tau darimana dan untuk siapa tulisan itu, ia langsung memutuskan menghapus tulisan tersebut dengan cepat.
"Kenapa di hapus? kita belum tau itu untuk siapa.." tanya salah satu siswi yang penasaran.
"Kalian mau Pak Erwin melihat ini?" ucap Ayu lalu duduk di kursinya dengan tubuh panas dingin.
"Kamu sakit?" tanya Bagas yang baru saja tiba di kelas.
"Nggak." ketus Ayu sambil berusaha mengatur nafas.
Kejadian ini sudah kedua kalinya terjadi, yang pertama saat Ayu masih semester 1. kata-kata yang sama, dengan inisial penulis yang sama. tadinya Ayu menganggap hal tersebut hanya iseng saja, namun kali ini ia benar-benar menganggap serius tulisan itu.
Sementara itu di tempat lain, seorang gadis berambut ikal tengah tersenyum tipis sembari memutar spidol di atas meja. ia menggoyangkan kakinya seakan menikmati permainan yang ia buat barusan.
...~~~~...
Setibanya di rumah, untuk melepaskan ketegangan otaknya Ayu berenang mengelilingi kolam sudah sebanyak tujuh kali.
"Tugas numpuk! dasar Dosen botak! cuma gara-gara nilai ku nol waktu itu dia ngasih tugas segunung kelud. padahal kan nilai ku bisa aja bagus kalau dia nggak ngeluarin Aku waktu itu!" rutuknya tak henti-henti, kepala nya bahkan masih terasa panas saat ia sudah lebih dari dua jam berenang.
"Kenapa lagi kaki cebol ini? baru sebentar doang udah keram." ia terpaksa naik dari dasar kolam menghentikan semedinya, padahal masih belum puas di rasa. tapi apa mau di kata, kakinya sudah tak sanggup lagi mendayung.
Kemeja tipis berwarna putih yang basah kuyup itu membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. wajah manis yang tampak segar dengan alis berantakan membingkai menambah kemolekan nya semakin memancar.
Di balkon sisi utara rumah yang berhadapan langsung dengan kolam renang, Rey tengah menjalani terapi pribadinya bersama seorang Psikolog kenalan Adit. sang Psikolog terkejut kala mendapati detak jantung Rey meningkat drastis.
"Apa anda baik-baik saja? tolong fokus." ucap Psikolog berkacamata itu, ia jadi gagal menghipnotis karena detak jantung Rey tiba-tiba kacau.
"Ya..? baik, Saya baik." sahut Rey gugup, namun lirikannya tak terlepas dari pinggiran kolam renang.
__ADS_1
...*********...