My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 27 : Masa lalu


__ADS_3

Saat hendak bersiap memasuki kelas selanjutnya, Ayu pergi ke toilet lebih dulu sementara yang lain sudah berkumpul menuju kelas.


Beberapa siswa yang baru bergabung dengan kelas itu pun tengah bersiap di depan loker. salah satunya Amanda, ia tampak tengah mengambil buku di dalam lokernya. namun karena tak hati-hati ia menjatuhkan jaket hitam yang ia simpan di bagian paling belakang.


Seketika hajat yang hendak di lepaskan Ayu menghilang karena melihat jaket itu. jaket hitam berbahan parasut dengan tiga garis putih di lengannya.


"Apa dia?" batin Ayu sembari mengintip dari kejauhan. kalau memang dia pelakunya, apa motifnya? Ayu juga tak pernah menceritakan tentang keluarganya kepada siapapun.


Akhirnya Ayu maju untuk sekedar menyelidiki lebih dalam lagi. "Hai Man.."


"Hai.." balas Amanda sambil merapikan susunan lokernya.


"Kamu belum masuk kelas?"


"Belum, Kamu sendiri?" Amanda tampak sangat waspada hingga menyembunyikan isi lokernya.


Sebelum Amanda menutup pintu lokernya, Ayu sempat melihat nama lengkap Amanda di sebuah kartu ujian yang ia tempelkan dibalik pintu loker.


...-...


...-...


Saat jam istirahat tiba. tanpa memberitahu Ayu, Bagas ke kelas Laura untuk memastikan sesuatu. Dengan santainya ia duduk di atas meja Laura, mata Laura yang sedang asik membaca buku seketika membelalak.


"Ngapain sih?Aku nggak punya Voucher makan!" Ketus Laura sembari mendorong tubuh Bagas agar menyingkir dari hadapannya.


Bagas tersenyum kecil "Kau termasuk orang yang membuatku penasaran, kebanyakan gadis di kampus kita selalu senang dekat denganku. kenapa Kau tidak? Apa Aku bukan tipe mu?"


"Tipe ku? jauh dari semua yang ada padamu. di banding Lelaki yang suka tebar pesona Aku lebih suka Lelaki yang cool." sahut Laura dengan gerakan bibir sinis.


"Benarkah? bukankah ketampanan nomor satu? coba Kau lihat baik-baik wajahku." ia mendekatkan wajahnya membuat Laura bertambah jengah.


"Menjauh Lah sebelum buku ini mendarat di kepalamu!"

__ADS_1


Bukannya menjauh Bagas malah semakin mendekat, ia mengarahkan wajahnya ke dekat telinga Laura lalu berbisik "Kau kan yang melakukan itu pada Ayu?"


Raut wajah Laura yang tadinya kesal langsung berubah menjadi datar.


"Apa maksud mu?" sahut Laura juga berbisik sembari menaikkan kacamatanya.


Bagas berdiri tegak dengan wajah datar dan tatapan tajam "Benar Kau yang melakukannya bukan?"


"Apa yang Kau bicarakan? Kau mau Aku mengakui Apa hah?" Laura membalas pandangan legam Bagas.


"Jika bukan Kau yang melakukannya seharusnya Kau mengatakan dengan lantang seperti Kau mengusirku tadi." Bagas tersenyum sinis lalu beranjak dari sana.


Laura mengembuskan nafasnya, ia melepas kacamatanya lalu mengelap embun bening yang mengalirinya dahi dan pelipisnya.


"ch.. Apa-apaan dia!" rutuk nya tampak kesal.


...*******...


Tepat di hari ke tujuh setelah kepergian Sang Ibu, kini Bagas sudah bisa lebih menerima keadaan walaupun terkadang berharap ini semua hanyalah mimpi.


"Kenapa nggak ngajak Aku?" bisik Ayu yang baru saja tiba, ia membawakan sekeranjang bunga untuk di taburkan ke makam Ibunya Bagas juga untuk makam Mama nya Rey.


Bagas melihat ke arah Ayu yang ada di sebelahnya, ia masih merebahkan pipinya di lutut sembari melihat Ayu menaburkan bunga untuk pusara Ibunya.


"Aku pernah bilang soal kehilangan Ibu kan? dia meninggal waktu Aku berumur 12 tahun." tutur Ayu dengan mata berkaca-kaca.


"Ibu mu?" Bagas masih mengingatnya, ia juga penasaran tentang itu.


"Keluarga ku yang sekarang, mereka hanyalah mertua kakak pertamaku. dulu kehidupan kami sangat menyedihkan, Ibu yang sakit-sakitan harus tetap berjualan untuk biaya hidup kami berempat. hingga suatu hari terjadi kecelakaan kecil antara Mas Dimas dan Kak Fani, kejadiannya sekitar 18 tahun yang lalu. waktu itu Aku masih bayi dan Kak Fani baru berumur 10 tahun."


"Dia menikahi kakakmu di umur sepuluh tahun?" tanya Bagas memotong cerita. ia memang akan langsung bertanya jika merasa penasaran dengan suatu hal.


"Nggak lah.. Semenjak kejadian itu Mas Dimas sering datang untuk mengontrol keadaan Kak Fani hingga kami semua menjadi akrab. dia yang anak tunggal merasa senang dengan keluarga kami yang ramai dan menyedihkan itu." tatapan Ayu berbinar dengan senyum hangat kala ia mengingat masa lalu yang terasa indah itu.

__ADS_1


"Mas Dimas sering membantu Ibu, dia memang orang yang sangat baik. dia bahkan menganggap kami semua sebagai keluarga. Dua tahun kami selalu bersama, hingga pada suatu saat Mas Dimas berpamitan hendak keluar Negeri untuk menikah dan berbisnis di sana. namun sayang selama 10 tahun ia di luar Negeri ia gagal dua kali dalam pernikahannya dan kembali ke sini dengan keadaan yang sudah sangat berbeda. Dia duda dan Kak Fani sudah tumbuh menjadi Gadis dewasa. Setelah 10 tahun tak berkabar, Mas Dimas ternyata tak lupa dengan kami. ia menemui kami kembali dan mulai jatuh cinta dengan Kak Fani. dulu Kak Fani bilang tak begitu yakin dengan cinta, namun Ibu menyuruh dia menerima Mas Dimas karena Mas Dimas sangat tulus. Ibu seolah menitipkan kami semua kepada Mas Dimas. dan kemudian Ibu pergi saat Mas Dimas hendak melamar Kakak."


"Apa sampai sekarang Kakak mu masih belum yakin dengan cinta suaminya?" tanya Bagas lagi.


Ayu menggeleng sambil tersenyum "Mereka saling mencintai pada akhirnya, dan mereka mempunyai Anak kembar yang amat menggemaskan."


"Lalu? Apa Pak Dimas memaksa orang tuanya untuk menerima kalian? yang Aku lihat di TV mertua kaya tidak akan mau menerima keluarga menantunya apabila dari kalangan bawah."


"Justru Mama yang memeluk kami saat Ibu tiada, Papa juga langsung mengurus semua dokumen agar ia menjadi orang tua asuh kami. mereka memang manusia berhati malaikat. semua fasilitas mewah yang ku nikmati saat ini mereka memberikannya dengan amat tulus. Mama bahkan tidak tidur semalaman saat Aku sakit. dia benar-benar menggantikan Ibu kami, tangannya selalu terbuka untuk memeluk kami seperti Ibu kami dulu."


"Teror yang di buat di kampus itu berdasarkan kisah masa lalu mu?"


Ayu mengangguk. "Dia ingin mengungkapkan jati diriku, itu sebabnya dia selalu mengatakan Aku harus mengingat asal usul ku."


"Orang yang kita curigai, Apakah ada salah satu dari mereka yang mengenalmu di masa lalu?"


"Entahlah.. Aku rasa mereka salah satu dari dendam masa lalu yang belum sempat terselesaikan. maka dari itu Aku mencari dengan serius siapa pelakunya."


"Dari semua ceritamu, Aku tidak mendengar tentang Ayah kandung mu? Apa dia sudah meninggal juga?"


"Dia meninggalkan Ibuku demi wanita lain saat Aku masih di dalam kandungan. Aku bahkan tidak mengenalinya hahaha.."


"Aku juga tidak terlalu kenal dengan Ayah ku." ujar Bagas sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Ayu.


"Dia masih hidup?" tanya Ayu, tanpa sadar ia membelai dahi Bagas dengan jemarinya.


"Sudah meninggal juga.."


Di atas rerumputan hijau, mereka bertukar cerita di sebelah makam Ibunya Bagas. Dress hitam dan Kemeja hitam Bagas seolah menyatu seperti mereka tengah mengadakan kencan romantis. sepanjang mereka bercerita Ayu kian tenggelam dengan kenyamanan mereka.


"Apa Ibumu tidak marah jika melihatmu begini?" ucap Ayu hendak menyingkirkan kepala Bagas dari pangkuannya.


Namun Bagas menolak "Ibu ku akan senang karena Kau menepati janjiku untuk memamerkan mu padanya." lirihnya dengan mata terpejam seolah tengah merasakan kehangatan dari Ibunda sekaligus gadis yang ia sukai.

__ADS_1


...******...


__ADS_2