
Sembari menunggu pesanan eskrim mereka datang, Bagas dan Ayu duduk di kursi yang berada tepat di sebelah kaca. pantulan cahaya matahari yang lumayan panas itu membuat tengkuk Bagas terasa terbakar.
Namun ia tetap tersenyum seolah tak terjadi apa-apa agar Ayu bisa duduk dengan nyaman. karena cafe itu sedang ramai, jadi mereka tak bisa pindah tempat.
"Bagus ya Cafe nya, nuansa nya adem banget. kapan-kapan harus ke sini sama Lita nih." ucap Ayu terkagum sembari mengambil foto untuk di kirimkan kepada Lita.
"hehe.. iya adem banget." Bagas hanya menyeringai dengan senyum kecut.
"Btw, kamu serius nggak kenal sama Lita? dia anak yang punya toko kue di gang dekat pasar antik itu."
"Nggak, kalian sejak kapan kenal?"
"Sejak SMA, sayang nya kami beda kampus jadi jarang banget ketemu. kalau dia nganggur pasti Aku nya yang sibuk, atau sebaliknya."
"Oh.." Bagas mengangguk pelan, tengkuk nya sepertinya sudah hampir matang. mau ngajak cabut nggak enak, karena dia tadi yang menawarkan beli eskrim di sini.
"Atas nama Bagas.." seru si pelayan Cafe dengan dua cup eskrim di tangannya.
"Saya.." sahut Bagas, ia pun berdiri.
"Ayo." ajaknya pada Ayu, ia berdiri duluan sedangkan Ayu masih menata tasnya.
Saat Bagas beranjak, sinar tajam matahari itu langsung menembakkan sensasi panas ke wajah Ayu. ia sampai tak bisa membuka mata karena sangat silau.
"Kenapa dia tidak bilang.." gumam Ayu sembari memperhatikan tengkuk Bagas yang kemerahan. bibirnya tertutup rapat menahan senyum. siapa wanita yang tak meleleh jika mendapat perlakuan seperti itu.
Setelah mendapatkan eskrim nya, mereka keluar dari Cafe. tapi Bagas malah di buat heran oleh Ayu yang memesan satu cup es batu.
"Kamu mau makan eskrim pakai es batu?" Bagas mengerutkan alisnya.
"Nggak.."
"Terus itu untuk apa? mana mahal lagi 1 cup doang 10...." rutukan Bagas terhenti saat Ayu menempelkan cup berisi es itu ke tengkuknya.
"Enak kan?" senyum manis Ayu tampak berbinar membuat Bagas tak bisa berkedip menatapnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bagas menyoroti wajah Ayu yang mendongak sambil tersenyum.
"Lehermu jadi merah karena menghalangi matahari untukku, terimakasih untuk itu."
__ADS_1
"Lalu?" tanya Bagas lagi, detak jantungnya benar-benar berantakan saat itu. ia bahkan tak bisa memalingkan tatapannya dari wajah Ayu barang sedetik saja.
"Lalu ini ucapan terimakasih ku, seharusnya kamu jangan melakukan itu tadi. gimana kalau lehermu jadi alergi? bahkan wajahku langsung panas saat kamu berdiri tadi."
Bagas mengangkat lengannya lalu menarik tangan Ayu untuk berhenti menempelkan cup itu. "Jangan mengucapkan terimakasih dengan cara seperti ini."
"Kenapa?" seketika wajah Ayu tampak lesu karena berpikir Bagas tak menyukai balasan atas perhatiannya tadi.
"Karena Aku akan semakin menyukaimu."
Ayu langsung memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Bagas. kata-kata itu sudah sering ia dengar dari Bagas. namun entah kenapa kali ini detak jantungnya ikut berantakan seperti lembaran kertas yang terbang tertiup angin.
...********...
Faro datang ke Perusahaan untuk menemui Rey. kali ini ia tak datang dengan alasan rindu, tapi karena ia akan membagikan undangan untuk keluarga besar Dimas.
"Berikan ini kepada keluarga Pak Dimas. dan Kau, menginap lah di rumah kakek setidaknya saat hari pernikahan ku." ucap Faro seraya memberikan tiga buah undangan yakni untuk Dimas, Vino dan Adit.
"Untukku tidak ada?" tangan Rey membolak-balikkan undangan tersebut.
"Wahh... Kau membutuhkan undangan untuk ke pernikahan Kakak mu? ck.. benar-benar Adik yang payah."
"Oh iya.. Bagaimana kabar gadis itu? kalian masih pacaran?" Faro berharap hubungan mereka masih berjalan lancar.
Rey tertegun mendengar pertanyaan itu. ia sadar status hubungannya masih belum di luruskan setelah semua pertikaian dengan Papanya. lalu haruskah dia mengungkapkan bahwa sebenarnya ia hanya berpura-pura pacaran? atau haruskah ia jujur bahwa selama ini dia tidak pernah menyukai perempuan.
"Sebenarnya Aku...." ragu karena belum siap menahan malu. kalau tidak sekarang sampai kapan?
"Kenapa? kalian sudah putus?"
Keberanian Rey untuk jujur ternyata tinggal secuil. ia belum sanggup mengatakan itu sekarang. apalagi Kakaknya akan mengadakan pernikahan, ia tak mau merusak suasana bahagia yang tengah di rasakan Kakaknya itu.
"Belum. itu sebenarnya, Aku ingin mengajaknya saat pernikahanmu nanti." mulut Rey berkata begitu saja, kemudian batinnya merutuk karena sudah bicara sembarangan.
"wahh.. bagus itu, Kakek juga belakangan ini membicarakan mu dengan gadis itu. katanya dia tidak sabar ingin melihatmu memperkenalkannya secara kekeluargaan."
"ahahaha... benarkah? Aku juga tidak sabar membawa dia menemui Kakek." sungguh batin Rey menggerutu! kenapa ia harus mengatakan omong kosong itu?
Kenapa mulutnya harus mengatakan hal itu untuk menutupi rasa gugup? kenapa ia malah menggali lubang kuburannya sendiri? tadinya ia hendak jujur dan mengakhiri sandiwara itu, tapi kenapa ia malah membuat situasi semakin rumit?
__ADS_1
"Ah! menemui Kakek apanya? sialan!" umpatnya menggerutuki diri sendiri.
...*******...
"Sharla... Ayo pergi ke makam." panggil seorang wanita paruh baya dengan dua ikat bunga.
"Iya Bu." sahutnya sambil merapikan rambut ikalnya. ia sudah tampak siap dengan dress hitam untuk memperingati hari kematian dua orang keluarganya.
...-...
...-...
Setelah sampai di pemakaman, mereka terkejut saat melihat ada bunga segar di atas makam. di lihat dari kelopaknya, di perkirakan bunga itu di letakkan sekitar dua hari yang lalu.
"Ibu ke sini tanpa Aku?"
"Nggak..." sahut si Ibu juga terheran.
"Mungkin anak-anak nya." imbuh si Ibu yang tak lain adalah Evi. ya, dia adalah istri kedua dari mendiang Ayah kandungnya Ayu.
Sharla langsung marah mendengar itu, ia membuang bunga yang ada di atas makam sang Ayah lalu menggantinya dengan bunga yang ia bawa.
"Berani sekali mereka datang ke sini!" ia sungguh merasa jengah karena selama bertahun-tahun makam itu tak pernah ada yang menyambangi selain ia dan Ibunya.
"Kenapa? kamu nggak boleh begitu, biar bagaimana mereka juga anak kandung Bapak mu."
"Kenapa Ibu seperti memihak mereka? bukankah Ibu sangat membenci mereka karena Ayah meninggal akibat ulah mereka!"
Evi terdiam mendengar cecaran dari putri bungsunya itu. Perlakuannya di masalalu, ia pikir hukuman akan berhenti saat Tuhan mengambil nyawa suaminya. ternyata sampai saat ini ia merasakan kekosongan yang tiada ujungnya.
...*******...
Di kamarnya, Bagas tampak kebingungan saat teringat dimana ia pernah melihat Fani dan Nurul. tak hanya itu, ia kemudian ingat bahwa kala itu mereka berdiri di area pemakaman di hari dan waktu yang sama saat Ayahnya di makamkan.
Dalam ingatan Bagas. Fani, Nurul dan juga Dimas berdiri lumayan jauh dari kerumunan orang yang datang di pemakaman itu.
"Apa kebetulan kerabat Ayu di makam kan di sana juga?" gumamnya sembari menggigit kuku ibu jari.
...**********...
__ADS_1