
Pagi ini, lagi dan lagi Ayu di kejutkan oleh tulisan di papan tulis.
Kau menyadari posisimu sekarang?
Kata-kata itu memang tak panjang, namun Ayu semakin penasaran siapa orang di baliknya. semakin Ayu mencari tahu si pelaku malah seperti meledek, seolah-olah menantang Ayu untuk segera menemukannya.
"Apapun alasan mu melakukan ini, Aku tidak akan membiarkanmu menerima hukuman yang ringan!" Ayu mengepalkan tangannya karena geram. bau tinta yang sama, inisial yang sama serta kata-kata yang selalu mengungkit masa lalu nya. itu semua cukup membuat dada Ayu sesak saat membayangkan ada hubungan apa dia dan si pelaku.
"Rileks... jangan terbawa emosi, kita cari pelan-pelan ya." bisik Bagas sambil merangkul bahu Ayu.
"Apa yang dia inginkan?" tukas Ayu, ia tak sadar suaranya membuat orang-orang di sekitar menatap ke arahnya.
"Benar, Aku juga heran dengan pelakunya. kenapa dia terus mencoret-coret papan tulis kita? jika Aku menemukannya maka akan ku buat wajahnya penuh dengan coretan seperti ini!" rutuk Bagas mengalihkan beberapa orang yang menatap ke arah mereka.
...-...
...-...
Kali ini, Bagas dan Ayu sengaja mengajak Laura dan Amanda makan siang bersama. mereka berempat mengobrol seperti biasa, hanya saja raut wajah Ayu tak bisa bohong kalau dia tengah penasaran dengan kedua temannya itu.
"Siapa di antara kalian?" batinnya sembari memutar-mutar spidol di bawah meja.
"Pesan lah, Aku yang traktir." Bagas memberikan buku menu kepada Laura dan Amanda.
"Kau punya uang?" tanya Amanda, terdengar meremehkan memang. namun Amanda bertanya karena takut Bagas tak bisa membayar.
"Kenapa? apa Aku kelihatan sangat miskin?" wajah arogan Bagas muncul bersamaan dengan senyum smirk nya. tentu saja itu membuat Amanda dan Laura tertawa kecil.
"Kalau Kau punya banyak uang kenapa selalu merebut kupon makan ku?" Laura memicingkan matanya pada Bagas.
Saat mereka tengah asik berbincang, tiba-tiba spidol mini di tangan Ayu terjatuh ke lantai. Amanda yang duduk persis di depan Ayu langsung melihat ke bawah.
"Kamu koleksi spidol itu juga?" Amanda tampak kaget karena tak menyangka Ayu juga mempunyai spidol seperti itu.
"Juga? memangnya siapa yang mengoleksi ini?" tanya Ayu sembari menunduk mengambil spidol tersebut.
"Laura, selera kalian ternyata sama-sama aneh hahahahha..."
"Benarkah?" tanya Ayu menatap dalam wajah Laura, satu titik terang sepertinya mulai terlihat.
Bagas memegang lengan Ayu seolah memberikan isyarat untuk tidak gegabah. sebab bukan hanya spidol itu bukti kuatnya, mereka juga harus menyelidiki kenapa jaket hitam yang di kenakan pelaku ada pada Amanda, sedangkan spidol itu milik Laura.
"Ini punya mu, Kamu nggak meminta ini kembali? atau untukku saja?" ucap Ayu seolah tak terjadi apa-apa.
"Ternyata ada sama kamu, Aku nyari ini kemana-mana tau." sahut Laura mengambil spidol tersebut, wajahnya pun tak menunjukkan ekpresi yang mencurigakan. ia tertawa dengan wajah riangnya seperti biasa.
...----------------...
Saat Bel pulang berbunyi, Bagas menghampiri meja Ayu dengan setangkai mawar yang ia curi dari meja Dosen.
"Apa ini?" tanya Ayu tersipu.
"Bunga, Aku mencuri dari sana hahahha.." tunjuk nya ke arah meja Dosen.
__ADS_1
"chh.. setidaknya kasih Aku bunga dari hasil keringat mu sendiri, bukan hasil curian seperti ini." ia menerima bunga tersebut dengan senyum kecut.
"Kalau perasaanmu sudah jelas, jangankan hasil keringat. darah daging pun pasti ku kasih."
Wajah Ayu langsung panik saat menyadari candaan Bagas barusan mengandung unsur 21+ "waahh.. otak mu terlalu ambisius."
"Lah? kenapa? otakmu yang terlalu jauh, perkataan ku akan bermakna positif kalau kamu menangkap artinya secara positif."
"Dimana letak positifnya? tunjukkan padaku!" tukas Ayu melebarkan matanya.
Bagas memamerkan wajahnya sambil mendongakkan dagu "di sini.. Kamu lihat ada garis dua kan? nah itu artinya positif."
"hiss!" rutuk Ayu kesal, suasana hatinya sedang tak nyaman karena teror itu muncul lagi. maka dari itu Bagas berusaha menghiburnya.
Tiba-tiba Bagas teringat akan kejadian masa lalu yang belakangan ini muncul di kepalanya, yakni ia melihat Fani dan Nurul menangis bersama di pemakaman.
"Apa kamu punya kerabat yang di makamkan di daerah Kerubung jati?"
"Kerubung jati? dimana itu?" baru kali ini Ayu mendengar mama daerah itu.
"Begini.. sekitar 6 tahun yang lalu Aku menghadiri pemakaman Ayahku, tapi Aku nggak yakin sih. mungkin saja Aku salah lihat waktu itu, tapi ingatan itu terus berputar di kepalaku akhir-akhir ini."
"Apa? bicara yang jelas.." Ayu memotong ocehan Bagas yang tengah melaju seperti kereta api.
"Aku melihat Kedua kakakmu dan juga suaminya ada di sana. dalam ingatanku mereka menangis dan..."
"Dan?" Ayu menaikkan sebelah alisnya, apa yang sebenarnya hendak di ceritakan Bagas.
"Dan mereka terus menatap ke arah kami." Bagas ingat jarak mereka cukup jauh waktu itu, namun pandangan mata mereka terutama Fani yang tengah menangis tak sedetik pun lepas dari mereka (yang tengah melayat)
...----------------...
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Ayu tak bisa lepas dari perkataan Bagas soal kejadian 6 tahun silam. begitu sampai di depan pintu rumahnya Ayu langsung berlari hendak menanyakan hal tersebut kepada Mama nya.
Namun yang ia temui di ruang tengah adalah Dimas yang sedang duduk menonton TV.
"Mas, Mama kemana?" tanya Ayu sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Semua wanita di rumah ini sedang berbelanja." sahut Dimas tampak tak bersemangat.
"Kenapa? jangan bilang Kamu dapet masalah lagi di kampus." tambahnya terlihat penasaran saat melihat raut wajah Ayu yang tampak tak tenang.
Bertanya pada Dimas langsung juga bisa bukan? apalagi kata Bagas Dimas juga ada di sana waktu itu.
Ayu memilin tali ranselnya lalu duduk di dekat Dimas "Mas pernah ke daerah Kerubung jati?"
Deg... tangan Dimas yang semula memainkan remote TV langsung terhenti. kenapa Ayu menanyakan tempat itu secara tiba-tiba?
"Kenapa?" Dimas malah bertanya balik alih-alih memberikan jawaban.
"Apa sekitar 6 tahun yang lalu keluarga kita ada yang meninggal?"
Dimas bingung harus menjawab apa, karena jika salah bicara bisa jadi ini membuka kembali luka lama yang sudah di pendam rapat-rapat oleh mereka sendiri.
__ADS_1
"Teman Ayu si Bagas, dia bilang kalau tidak salah pernah melihat kalian di tempat pemakaman daerah Kerubung jati. maka itu Ayu mau memastikan, soalnya seingat Ayu..."
"Dia pasti keliru, Saya juga baru dengar tempat itu." potong Dimas.
"Nah kan.. dasar Anak itu! buat otakku semakin ngebul aja." rutuk Ayu lalu bangkit dari sofa. namun baru beberapa langkah ia membalikkan wajahnya.
"Btw, mereka semua belanja untuk apa? ada acara?" Ayu merasa iri karena tak di ajak berbelanja.
"Baju, untuk ke pesta Kakaknya Rey nanti malam." sahut Dimas kembali merebahkan diri di sofa sambil melipat ujung kakinya.
"oh iya! nanti malam kan..." Ayu segera berlari ke kamarnya untuk melihat apakah ada baju yang bisa di pakai untuk nanti malam.
...----------------...
Pukul 18:00
Rey sudah tiba di rumah Kakeknya bersama Ayu, ia sengaja membawa Ayu sedikit lebih cepat karena permintaan sang Kakek. karena jika para tamu datang nanti pasti mereka tak punya waktu untuk saling menyapa lebih dekat.
Setelan jas berwarna Pastel dan Dress yang di kenakan Ayu tampak serasi, mereka sengaja pula memakai warna senada agar kesan sebagai sepasang kekasih semakin menonjol.
"Kayaknya dress-nya kepanjangan deh Pak, pantes nggak sih? Ayu agak nggak nyaman gitu.." keluhnya sambil menjinjing ujung dress yang sebatas betis itu.
"Pantes kok, Cantik..." puji Rey sambil tersenyum, ia memandang mata Ayu dengan teduhnya.
"Itu Kakek, Ayo kita ke sana." ajak Rey sembari menggandeng tangan Ayu hingga membuat pikiran Ayu jadi buyar.
Mereka menghampiri Sang Kakek yang tengah duduk menunggu kedatangan mereka.
"Malam Kek," sapa Rey dengan wajah berbinar.
"Akhirnya Kamu datang juga, Kakek sudah menunggu satu jam tau." sambut si Kakek memeluk erat pundak Rey.
"Hallo Kek.." sapa Ayu pula sambil menundukkan kepalanya.
"Hallo cantik, senang bisa bertemu lagi denganmu. Kakek masih tidak percaya akhirnya Rey mempunyai kekasih yang amat cantik sepertimu."
"Hahahaha.. Kakek bisa aja, siapa sih yang nggak bakal jatuh hati kalau lihat parasnya Pak Rey."
"Pak?" senyum Kakek langsung pudar mendengar panggilan itu. baru kali ini ia mendengar seorang wanita memanggil kekasihnya dengan sebutan Bapak.
"Dia sedang mempersiapkan panggilan sederhana untuk anak kami nanti Kek." celetuk Rey asal mangap. Ayu hanya bisa menyeringai kecil mendengar itu.
"Ohh hahahahahha.. iya iya, Kakek suka itu. sederhana yang penting langgeng dan bahagia." Kakek melanjutkan tawa girangnya.
Ayu dan Rey juga ikut tertawa walau terdengar garing. tak tau saja mereka jantung Ayu hampir meletup mendengar omong kosong Rey barusan.
"Hahahha.... jadi mau pakai Adat apa?" tanya Kakek.
"HAH??"
😳
Tawa palsu Ayu dan Rey langsung berubah panik. panik yang sesungguhnya, bukan seperti tawa palsu mereka barusan.
__ADS_1
...****************...