
tok..tok..
"Non.. Ada tamu di bawah." panggil Bibi ART dari luar kamar.
"Iya bik.." sahut Ayu kemudian menutup laptopnya.
Ayu memutar arlojinya yang menunjukkan pukul 21:00 "Tamu jam segini?"
Ayu menuruni anak tangga dengan piyamanya, ia sudah memikirkan kalau ternyata Rey yang datang. ia akan langsung mengusirnya tanpa basa-basi.
"Ma.. katanya ada tamu Ayu?" ia menanyai Mamanya yang tengah menata bunga hias di dapur.
"Di sini..." seru Bagas dari ruang tengah sambil melambaikan tangan.
"Tu, tamu kamu. katanya sih ada penting makanya Mama biarin masuk." Rianti tampak kurang suka melihat gelagat Bagas yang seperti anak pergaulan bebas.
"Bagas? ngapain Kamu malam-malam kesini?" Ayu tampak panik, bagaimana kalau Papanya melihat dia di sana. apalagi kasus di toilet kampus itu belum terlupakan oleh sang Papa.
"Aku mau menyampaikan sesuatu tentang Kerubung Jati." ujar Bagas tampak antusias.
Rianti yang asik mengelap vas bunga langsung menghentikan aktivitasnya saat mendengar nama daerah itu.
Ayu yang tak mau masalah ini terdengar oleh keluarganya pun langsung membawa Bagas keluar dari sana.
"Jangan sampai keluargaku tau soal ini." bisik Ayu sambil menyembunyikan Bagas di balik pilar besar.
"Orang tua mu nggak tau? Kenapa?"
"Aku rasa pelakunya hanya iseng dan merasa tersaingi. Aku nggak mau aja keluargaku mengurus hal sepele seperti ini."
"Sepele katamu? bagaimana kalau pelaku bertindak jauh?"
"Nggak.. percaya lah, dia tak akan berani bertindak sejauh itu."
"Oh iya, ada apa dengan Kerubung Jati?" sambung Ayu masih penasaran.
"Tadi Aku mendatangi makam Ayahku, dan tebak siapa yang Aku temui di sana?"
"Siapa?" Ayu mengangkat alisnya penasaran.
"Laura.." bisik Bagas dengan suara beratnya.
"Laura? apa hubungannya?" Ayu tak yakin kalau Laura pelakunya. apa motifnya melakukan itu?
__ADS_1
"Pikirkan baik-baik, Aku pernah melihat keluargamu di sana. dan Laura bilang Kakaknya di makam kan di sana. pelaku mengetahui semua nama saudara mu yang bahkan tidak pernah di publik, apakah tidak mungkin Laura mengenal keluarga mu?"
Ayu menggaruk keningnya karena merasa teori Bagas tidak masuk akal.
"i..iya sih, tapi kenapa Laura melakukan itu? Aku bahkan nggak kenal sama dia sebelumnya, dan keluarga ku bilang mereka nggak pernah mendengar mama daerah Kerubung Jati itu."
"Dan satu lagi, Aku pernah melihatnya mengenakan kalung berinisial A."
"hah? serius Kamu?" tanya Ayu ragu-ragu.
"Menurutmu apa arti inisial itu baginya? bukankah ini berkaitan dengan pelaku yang selalu meneror mu?"
Ayu masih belum percaya kalau Laura benar-benar pelakunya. selain mereka belum punya bukti yang kuat, selama ini juga ia tak pernah melihat gelagat mencurigakan dari Laura.
"Mungkin itu inisial Pacarnya.."
Bagas menghembuskan nafasnya perlahan. perasaannya kuat mengatakan Laura benar pelakunya. namun bukti dan alasannya Bagas belum tau pasti. ia pun bingung bagaimana membuat Ayu percaya.
"Begini saja, Kalau Aku bisa membuktikan dia pelakunya, bisakah Kamu memutuskan hubungan kita selanjutnya?" Bagas menggoda Ayu dengan tatapan indahnya.
"k..kenapa Kamu yakin sekali?"
"Karena Aku yakin dia pelakunya, dan Aku ingin membuktikan padamu kalau Aku bisa di andalkan."
hhmm!!
Dika yang sedari tadi menguping mengambil tindakan sebelum keduanya semakin hanyut. "Kalian ngapain?" ketusnya sambil bersedekap di dada.
"Wah? Kamu kan Dokter yang waktu itu..."
"Saya Kakak nya." potong Dika dengan wajah garang. ia tak terima kalau sampai adik bungsunya itu jatuh ke tangan pria hidung belang lagi.
"Ohh.. Pantas saja wajahmu terlihat familiar di foto itu." ujar Bagas mengatakan tentang foto keluarga yang di pajang di kantor Adimas.
"Kak, Kami sedang mendiskusikan.."
Belum selesai Ayu berbicara, Dika sudah memotong lagi.
"Apa hubungan kalian? kenapa Kamu selalu menempel pada adikku?"
Bagas menaikkan alisnya, bola mata yang tampak sendu itu memutar ke atas. "Hubungan? Aku mengutarakan perasaanku padanya tapi dia belum menerima ataupun menolak ku. hubungan apa yang pantas untuk situasi itu?"
"Apa?" Dika sangat terkejut mendengar itu. jadi sekarang Ayu sedang di apit oleh dua lelaki nggak beres ini? batin Dika.
__ADS_1
Sementara Ayu tak kalah terkejutnya mendengar jawaban Bagas yang terlalu terus terang. memang sih Bagas menyukai hal yang berbau tantangan, tapi nggak terlalu frontal juga dong.
...~...
Setelah pulang dari Kampus, Ayu langsung menuju ke kantor untuk mendampingi para anggota magang yang akan presentasi.
Ia sengaja langsung pergi ke ruang meeting agar tak bertemu dengan Rey yang sekarang sedang sibuk mendapatkan tanda tangan dari para investor.
Ayu celingukan melihat ruang meeting yang masih sepi, padahal presentasi akan di mulai 30 menit lagi.
"Kok belum pada ngumpul? apa Aku salah jadwal?" gumamnya sembari mengecek kembali jadwal di layar ponselnya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, namun bukannya para anggota magang melainkan Rey yang datang dengan setumpuk Map hitam di tangannya.
Langsung membumbung lah emosi Ayu saat itu, namun ia menahannya karena ini sedang di kantor.
"Kamu ngapain Yu?" tanya Rey menatap Ayu penuh harap. ia pikir Ayu datang karena sudah mendengar penjelasandari Dika.
"Kok malah ketemu sih..!" rutuk Ayu sambil menggaruk pelipisnya.
"Bapak nggak baca jadwal? Saya ada presentasi dengan tim Dua di sini." tukas Ayu sambil mengetukkan bolpoin ke atas meja.ia bahkan menyilangkan kakinya agar terlihat lebih percaya diri.
"Kamu nggak baca Chat Saya? ruangan Presentasi pindah ke lantai Empat." sahut Rey menahan tatapannya, ia ingin sekali menatap wajah Ayu namun ia merasa malu.
"hah? Kok di pindah? kenapa nggak ada yang ngabarin Saya sih!" Ayu segera mengemas laptop dan berkas nya kemudian berdiri.
"Makanya lain kali Baca dulu.."
"Nomor Bapak Saya blokir!" ketus Ayu lalu membuang muka dan beranjak dari sana.
Rey mengedipkan kelopak matanya berulang, baru kali ini ia merasakan hawa mengerikan dari wajah Ayu.
"Saya sungguh menyukaimu.." bisik nya sambil memandangi punggung Ayu yang perlahan menjauh.
...~~~~...
Di dalam kamarnya, Sharla tengah termenung sambil memutar-mutar ponselnya.
"Ternyata bukan dia yang selalu memberi bunga di makam Bapak?" ujarnya sembari melirik foto Dika yang ia tempelkan di sebuah buku.
"Kalau begitu, Kami bersaudara dengan dia juga..?"
...************...
__ADS_1