My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 45 : Bandara


__ADS_3

Di ruang kerja Adit...


Ayu mencoba mengingat kembali kejadian 6 tahun silam. apa yang ia lewatkan? apakah keluarganya benar-benar menyimpan rahasia yang mungkin berkaitan dengan pemakaman yang ia datangi kemarin.


"ahhh! benar, 6 tahun yang lalu. waktu Ayahnya Kak Fani meninggal kan?" gumam nya sambil mengetukkan jemari di atas meja.


"Ayah Fani bukannya Ayahmu juga?" celetuk Rey sembari duduk di depan meja Ayu.


"Mana hasil desain anak-anak? Pak Dimas bilang jadwalnya maju 2 hari."


"Sebentar, Saya sedang menambahkan lighting di bagian.."


"Saya?" tanya Rey sedikit jengkel, entah berapakali dia mengingatkan Ayu untuk tidak menyebut dirinya seperti itu.


Ayu tertegun, namun ia tak berani menatap wajah Rey secara langsung. sejak konsultasi kemarin, mereka jadi canggung setiap kali bertemu.


"Iya Saya. kan Bapak yang nyuruh Saya.."


"Ayu. Saya lebih suka mendengar itu, sudah Saya bilang kan? jangan menyebut dirimu dengan 'Saya'." tegas Rey dengan tatapan dalam.


Ayu tak menjawab, ia juga tak melirik sedikit pun ke arah Rey. memang nya apa yang salah dengan 'Saya'.


Bukannya melanjutkan pembahasan, Rey malah terus menatap Ayu hingga hanya suara jarum Jam yang terdengar di ruangan itu.


Hingga sampai Dika datang keruangan Papanya itu memecah keheningan.


"Dek, katanya mau ikut?" raut wajahnya seketika berubah, ia tak tau kalau ada Rey di sana.

__ADS_1


"Hei..! Kamu belum menceritakan apapun padanya?" tanya Rey sedikit murka, bisa-bisa nya Dika melupakan amanat penting darinya.


"Oh iya..!" ucap Dika menepuk jidatnya, beberapa hari terakhir ini ia memang sangat sibuk karena jadwal operasi yang sangat padat.


...~~~~...


Setelah menyelesaikan penyuntingan Desain interior, Ayu ikut dengan Dika ke Bandara. sebenarnya ia malas ikut kesana, selain lelah ia juga sedang tidak mood. namun karena Dika janji akan menceritakan apa yang di maksut Rey tadi, ia pun terpaksa ikut.


"Sebenarnya ada apa sih Kak?" tanya Ayu penasaran.


"Jadi gini dek..." Dika menceritakan awal mula kesalahpahaman Ayu timbul. tadinya ia juga tak percaya dengan Rey, namun melihat dari ekspresinya yang sangat frustasi saat memohon kepadanya ia pun sedikit yakin kalau Rey benar-benar sudah berubah.


Ayu tercengang mendengar cerita Dika, satu kali pun kelopak matanya tidak bergeming saat menyimak apa yang di ucapkan Dika.


"Jadi.. Pak Rey.."


"Tapi, memangnya Kamu masih mau sama dia? Kakak kira hati mu udah berpaling ke si Preman." Preman adalah panggilan khusus yang di buat Dika. sebab penampilan Bagas yang memang seperti preman di matanya.


"Menurut Kakak, lebih baik Ayu menjalin hubungan dengan orang yang baru Ayu temui tapi langsung menyukai, atau orang yang sudah lama Ayu suka tapi baru sekarang dia menyadari." tatapan Ayu tampak berlari jauh mengejar satu kepastian di antara dua pilihan.


"Jujur ya, dari pada Pak Rey. Kakak lebih suka sama si preman. ya walaupun dia amburadul."


Ayu menepuk lengan Dika karena tak terima. "iss Kak! dia luar nya doang amburadul, hatinya tu lembut banget. baik, perhatian. inget! jangan menilai orang dari luarnya."


Dika hanya tersenyum menanggapi adik bungsunya itu. "nah itu dia maksut Kakak, kenapa Kakak lebih suka si Preman di banding Pak Rey. setiap menceritakan tentang Pak Rey, Kamu selalu menggerutu tentang dia yang nggak peka sama Kamu, dia yang selalu buat Kamu memendam rasa, dia yang buat Kamu menangis karena penolakannya. dan Kamu tetap mencintainya, ya Kakak hargai sih perasaan Kamu. Kakak kagum malah sama pendirian mu."


"Tapi Kalau menceritakan tentang si Preman, Kamu selalu tertawa, hal yang nggak Kakak duga sebelumnya bakal terjadi di Kamu, dia malah membawa mu ke dalam hal-hal seperti itu. Kamu kehujanan sampai demam, Kamu di keluarin dari kelas, Kamu kena tilang, sampai kena kobokan beras. sumpah Kakak geli sih dengarnya, tapi melihat Kamu selalu tertawa dan menganggap itu hal baru yang menyenangkan Kakak jadi tenang, karena ada Lelaki yang bisa membuat Kamu tertawa walaupun dengan caranya yang sederhana."

__ADS_1


Membayangkannya saja Ayu tersenyum kecil, betapa banyak warna yang ia lewati bersama Bagas. namun tetap saja, posisi Rey tak tergeser sedikitpun dari pikirannya. dan Bagas, bukannya menyingkirkan Rey, ia malah seperti berdiri tenang setelah menguasai setengah pikiran Ayu.


"Rumit banget sih..! lagian Pak Rey ngajak pacaran nya telat." gerutu Ayu pelan.


"Hai Baby...!" teriak seorang wanita yang tak lain adalah Gaby. ia melambaikan tangan dari kejauhan dengan koper di sisi kanan dan kirinya.


"Hai...." sambut Dika, ia merentangkan tangan dan berlari kecil ke arah Gaby.


Pasangan kekasih yang LDR-an selama tiga tahun itu langsung saling berpelukan mesra tanpa menghiraukan Ayu yang berdiri kaku di tengah-tengah kerumunan orang.


Ayu yang melihat itu hanya bisa memandang dengan tatapan jengah. "dihh! ini nih.. males banget jadi obat nyamuk!" rutuk nya kesal.


Tujuan Dika mengajak Ayu karena ia hendak mengantar Gaby pulang ke rumahnya. karena jarak nya cukup jauh, Dika tak mau sendirian dalam perjalanan pulang ke rumah nantinya.


Setelah beberapa menit berpelukan, Gaby menghampiri Ayu sambil tersenyum gemas.


"Ya ampun Ayu..! makin badas aja Kamu, gimana? sudah punya pacar belum? uuuhhh gemesss..." ia mencubit kecil pipi Ayu sambil memejamkan mata.


"heheheh..." Ayu menyeringai sambil berusaha melepaskan tangan Gaby dari pipinya.


Setelah bercengkrama sejenak, mereka pun membawa koper-koper dan tas Gaby ke arah luar bandara.


Gabriella Arandita. kini ia kembali setelah merampungkan pendidikan nya di Turki. selama tiga tahun jauh dari sang kekasih, ia tak pernah sekalipun melupakan Dika.


Sesampainya di parkiran, mereka langsung memasukkan semua koper Gaby ke dalam bagasi. namun tiba-tiba Dika mendapat telepon dari Bian.


Gaby melirik ke arah teleponnya "Pasti suruh balik ke rumah sakit." ucapnya murung.

__ADS_1


...*********...


__ADS_2