
Kedua pasang mata itu beradu sejenak, kemudian Ayu mengalihkan pandangannya ke arah lain sementara Rey tetap kukuh menatap wajah gadis itu.
"Benarkah sudah tidak ada apa-apa lagi di hatimu?" tanya Rey tiba-tiba. sungguh ia merasa sudah di jerat oleh cinta gadis itu, kemudian ia di tinggalkan begitu saja setelah terjerat bak pemburu yang menelantarkan incarannya.
"Masih..." sahut Ayu dengan tatapan lurus, ia tak menyadari mulutnya mengucapkan kata itu.
"Benarkah?" goda Rey kemudian.
"hah..?" seketika Ayu sadar, iya menatap canggung wajah Rey yang tersenyum kecil.
"Berapa banyak?" tanya Rey lagi, ia mengulum senyum sengaja menggoda Ayu yang tengah gugup.
"Apa... yang Bapak bicarakan?" tukasnya berpura-pura sibuk mencari sesuatu di Laptop.
Rey pun tertawa kecil melihat itu, batinnya mengatakan pasti lah masih ada sisa rasa di hati Ayu. Namun ia tak tau hal apa yang membuat Ayu begitu cepat mengaku bahwa perasaannya telah pudar.
"Tugas mu, Saya perhatikan Kamu sedari tadi menatap layar itu. Apa tugas mu masih banyak?" sahut Rey mengelak, sudah cukup puas ia membuat Ayu salah tingkah dan gugup.
"Ayu mencari sesuatu..." sahutnya sembari mengamati nama-nama daerah yang terdaftar dalam Lembaga sosial itu.
"Itu Lembaga yang bergerak menyokong pendidikan anak Yatim-piatu kan? Kamu mendaftar sebagai salah satu organisasinya?" Rey mengintip ke arah Laptop sambil mencuri kesempatan yaitu sedikit lebih dekat dengan Ayu.
"Bapak juga tau Lembaga ini?"
"Tentu saja, teman satu angkatan ku di Kampus Menjabat sebagai Direktur di sana."
Ayu sungguh terkejut mendengarnya, jika begitu mungkin Ayu bisa menelusuri siapa saja penerima tunjangan yang terkait dengan kasus teror papan tulis.
"Bisakah Bapak meminta daftar nama penerima bantuannya?"
__ADS_1
Walaupun masih canggung, Ayu berusaha menepisnya. Bagaimana pun juga mereka akan selalu bertemu baik di rumah maupun kantor. Jadi Ayu berusaha bersikap biasa agar rasa canggung tak terlalu menonjol.
"Entahlah... Saya tidak yakin, soalnya itu data pribadi perusahaan dan pastinya Privasi bagi para penerima bantuan."
Jawaban Rey membuat harapan Ayu menipis. Bagaimanapun juga ia harus menemukan pelaku yang membuat hidupnya tak tenang. Jika hanya dirinya yang harus menanggung ulah teror itu maka Ayu sangat siap. Namun jika ternyata nama keluarganya jadi tercoreng akibat masalalu tentu ia tak bisa diam saja.
"Kamu mencari orang yang meneror mu?" tanya Rey tak tahan lagi. Sudah lama ia mengetahui hal itu, ia menunggu Ayu jujur dan sangat berharap di libatkan dalam masalah itu. Namun ternyata Ayu memilih diam dan mengatasinya bersama Bagas.
"hah? Bapak tau dari mana?"
Ayu tak pernah menceritakan hal itu dengan orang di rumah. Yang tau masalah itu selain Bagas hanyalah Lita sahabatnya, itu pun ia bercerita melalui pesan karena mereka jarang bisa bertemu.
"Kalau Saya jujur, apakah Kamu bisa jujur juga?"
"Nggak usah muter-muter deh Pak. Ngaku aja Bapak tau ini semua dari mana?" tanya Ayu berbisik, ia tak mau keluarganya mendengar.
Rey menghela nafas perlahan, setelah sekian lama ia diam. Hari ini ia akan mengakui sesuatu. "Sebenarnya sudah lama sekali..." ia berhenti sejenak membuat Ayu tambah penasaran.
"Sudah dari lama Saya menyadap Ponsel mu.."
"APA..!" Ayu menutup Laptopnya amat kuat hingga mengeluarkan bunyi menggema.
"Sejak kapan Bapak melakukan itu? Dan apa alasannya? Itu pelanggaran Privasi Bapak tau itu kan?" meletup-letup amarah Ayu saat itu, namun ia berusaha menahannya agar tak memancing perhatian keluarganya.
"Tau.. Saya tau itu, tapi mau bagaimana? Semenjak kejadian Kamu dengan Glen si bocah tengik itu Saya jadi selalu khawatir. Maka itu Saya selalu memantau Ponsel mu untuk berjaga-jaga jika ada yang mengirimkan hal-hal aneh seperti dulu."
"Yakin cuma memantau?" tanya Ayu mengepalkan kedua tangannya bersiap hendak membuat tubuh Rey babak belur.
Rey mengarahkan pandangannya ke atas menghindari tatapan sinis Ayu.
__ADS_1
"mm.. kadang Saya..."
Ayu memukul Rey menggunakan bantalan sofa bertubi-tubi. Sudah tak tahan lagi ia melihat raut wajah Rey yang seperti meledeknya.
"ihh..! Pergi sana! Dasar tukang intip Privasi orang! Bapak pantas di dakwa atas pencabulan Prvasi..! Pergi sana..!"
Teringat semua olehnya obrolan pesan dengan Lita, ada banyak cuarahan hati untuk Rey yang ia bicarakan di sana. Membayangkan Rey membaca itu semua membuat Ayu ingin segera menghilang dari muka bumi sekarang juga.
Rey hanya pasrah menerima pukulan itu empuk itu. Bukannya membela diri Rey malah menikmati amukan Ayu yang di rasa menyenangkan baginya.
Ia melihat arlojinya yang menunjukkan sudah pukul Sembilan malam. "Baiklah.. Saya pergi, sampai ketemu besok." ucapnya bangkit dan meninggalkan Ayu di sofa.
"Hentikan penyadapannya!" teriak Ayu namun Rey tak menggubris. Ia tetap melangkah menuju pintu depan.
"Pak Yoseph..! Pak! WOY...!" pekiknya melengking. Namun Rey tidak juga berbalik, ia malah melambaikan tangan ke arah Ayu tanpa menoleh sedikitpun.
Ayu langsung memeriksa Ponselnya. Benar saja, masih tersimpan rapi obrolan pesan dirinya dengan Lita sejak beberapa tahun silam. Curhatan dari mulai kata puitis hingga kata-kata gamblang, semuanya tentang Rey.
"aisshh...! Mampus Aku.. Alay banget Kamu Ayu! Alay..!" rutuknya membenamkan wajah di bantalan sofa.
...~...
Lapas Nusa Kumparan....
Tari membawa Bagas ke tempat dimana Ayahnya di hukum. Tempat mengerikan di sebuah pulau terpencil itu menampung penjahat kelas kakap seperti *******, Gembong narkoba dan Pelaku kejahatan berat lainnya.
Bagas tampak merinding saat menginjakkan kakinya di sana, ia melihat sekeliling untuk berwaspada kalau-kalau ada penjahat yang lepas dan menyerang mereka.
Sementara Bagas sibuk dengan pikiran konyolnya. Tari malah santai melangkahkan kakinya menuju ruang keamanan. Sesekali ia memang berkunjung kesana menemui Ayahnya Bagas yakni Demian. Atas permintaannya pula lah Tari selalu membawakan kabar pertumbuhan Bagas.
__ADS_1
...***********...