My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 8: Pacaran?


__ADS_3

Setelah mengantarkan Ayu pulang, Rey membaringkan tubuhnya di atas ranjang. masih juga terasa kesal pikirannya saat Ayu mempertanyakan soal tingkat kebaperan nya yang amat tinggi.


"Dasar bocil LABIL! bisa-bisa nya dia berlagak sok cuek denganku tapi malah senang di pegang pegang laki-laki Fakbuy seperti itu! di PHP-in lagi tau rasa! awas aja kalau ngadu ke aku sambil pasang tampang menyedihkan. ku lipat wajah mini mu itu ke dalam dompet!" gigi Rey sampau hampir terkikis karena saling beradu sambil menggerutu.


Tak cukup sampai di situ saja, rutukan demi rutukan terus muncrat dari bibir Rey.


"Mereka berdua sama saja! sama-sama tengil! yang satu gampang baper yang satu sok ganteng! tapi memang lumayan sih ARGH! sedang apa aku ini? ssss.. kepala ku sakit." ia membenamkan kepala nya di bawah tumpukan bantal.


dddrrtt..drrtt...drrtt...


Ponsel di sakunya bergetar, ia meraba dan memperhatikan ponsel itu sejenak. ingin rasanya ia mengabaikan panggilan itu sekali saja agar hidupnya damai.


"hm.. ada apa Pa?" tanya Rey malas.


"Papa sudah atur beberapa kencan buta untukmu Minggu depan. Papa mau kamu pilih salah satu dan segera bawa dia kehadapan kakek mu sebagai tunangan mu!" perintah Ben dengan nada ketus.


"Pa?! Aku sudah punya..."


"Yang kemarin? anak kecil itu? kapan kau akan memperkenalkan dia sebagai calon istrimu? apa kau bisa melakukan itu minggu depan? tidak kan?!" potong Ben menaikkan suaranya, jika tidak bisa mendahului kakaknya untuk menikah. setidaknya Rey harus bisa menunjukkan kepada kakeknya kalau dia juga hendak memulai hubungan serius. dengan begitu setidaknya Rey mendapatkan saham yang sama dengan Faro. itulah yang membuat Ben bersikeras memaksa Rey untuk memilih calon istri.


"ingat Rey! satu-satu nya warisan yang kita punya hanyalah sebidang tanah, itu pun ada kuburan Mama mu di sana. kau tidak mau kan Papa membongkar kuburan wanita itu agar Papa bisa melanjutkan impian Papa?" Ben berbisik dengan suara licik agar Rey menuruti perkataannya.


Dada Rey terasa sesak saat itu, tangannya menggenggam kuat ponsel yang tengah ia tempelkan di telinganya "wanita itu..? serendah apa Papa memandang wanita yang telah melahirkan anakmu ini hah!"


"Kau tau sendiri serendah apa dia, jangan tanyakan padaku dan lakukan saja apa yang aku suruh kalau kau tidak mau wanita itu terusik dari tidur panjangnya!"


Rey memutus sambungan teleponnya, wajahnya merah padam menggambarkan betapa ganas api amarah yang ia coba tahan sedari tadi.


Yang paling menyebalkan yaitu Rey sendiri tak bisa mengabaikan Papanya walaupun sifatnya lebih menjijikan dari kotoran hewan. bagaimana pun juga orang yang membesarkan dan berjuang setelah Mamanya tiada adalah Ben. namun di sisi lain secara tidak langsung Ben lah penyebab rasa sakit yang di derita Mama nya.


...~~~~...


Di hari berikutnya saat Rey tengah bekerja, Faro mendatangi Rey dan mengajaknya berbicara empat mata.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Faro sembari menyeruput kopi nya.


"Baik." sahut Rey menundukkan pandangannya.


Melihat wajah adiknya yang tampak murung, Faro bisa langsung menebak pasti itu ulah Papanya. "apa lagi yang Papa lakukan padamu?"


"Jangan menyebutnya Papa, dia tak pantas menjadi Papa mu."


"hahahaha... bagaimana pun juga dia Papa dari adik kesayanganku ini." Faro mencubit kecil lengan berotot Rey yang dulu hanya sebesar gagang sapu ia rasa.

__ADS_1


Adik tetaplah adik, sekeras kerasnya Rey terhadap dunia luar ia akan tetap menjadi si bungsu di hadapan Faro. Rey memajukan bibir bawahnya sambil menatap melas wajah sang kakak.


"Tidak bisakah Kakak langsung membagi sahamnya setengah untukku? aku muak dengan tingkah laku Pria serakah itu."


"Kalau bisa 100 persen pun tidak masalah Rey, masalahnya Kakek yang akan tetap memegang kendali walaupun Aku sudah menjadi pimpinan nantinya."


"Memang nya apa yang dia minta? uang? haruskah kita patungan agar hasratnya terpenuhi hahahha..." lanjut Faro lagi berusaha mencairkan suasana agar Rey tersenyum.


Kelopak mata Rey bahkan tak bergeming mendengar candaan kakaknya itu, bagaimana bisa ia mengatakan bahwa yang di minta Ben adalah uang untuk membangun bisnis property. dan jika Rey tidak segera mewujudkannya maka tanah warisan tempat Mamanya beristirahat akan di ratakan.


"Haruskah aku melanjutkan sekolah Pilot ku? rasanya damai hidup jauh dari dia." keluh Rey menyandarkan kepala ke bahu lebar Faro.


"Memangnya kau tidak ingat waktu dia melarang mu pergi ke asrama? dia bahkan tampak frustasi karena jauh dari putra kesayangannya hahahahha.."


"Kesayangan apanya, Aku di manfaatkan olehnya iya!" ketus Rey tak terima.


...~~~~...


Sementara itu di kampus, Bagas dengan nafas terengah-engah berjalan kearah Ayu yang membawakan botol air mineral untuknya.


eitss... tak hanya Ayu, puluhan gadis korban bualan Bagas juga ada di sana membawakan jajanan dan juga minuman untuk Bagas. seperti biasa, Bagas membuka lebar lebar tangannya guna menerima pemberian mereka, lumayan barang gratis.


"Thanks guys... muuahhh" ia menerbangkan ciuman melalui jari untuk mereka semua.


"hai..." sapa Bagas saat tiba di hadapan Ayu. belum pun Ayu memberikan minuman itu padanya, ia langsung menengguk habis air mineral itu sampai bersih.


"Minuman dari orang cantik memang beda.." puji Bagas sambil mengelap keringat di pelipisnya.


"Kamu cukup gesit, bisa-bisa kamu jadi kaptennya nanti." balas Ayu memuji skill tingkat dewa Bagas.


"Aku memang cukup andal mengendalikan sesuatu, contoh nya pandangan mu. sampai hitungan kelima kau akan tetap menatapku satu,dua,tiga,empat,lima fffuuuhh benarkan?" ia berbicara cepat lalu menjentikkan jarinya di depan wajah Ayu.


Ayu tersenyum lebar sambil melipat dahinya "dih! suaramu cepet banget, aku jadi nggak sempat pindah pandangan."


em hmm..Bagas menggeleng kemudian dengan percaya diri berkata "itulah skill ku."


Bagas duduk tepat di sebelah Ayu, namun matanya terperangkap di pergelangan tangan Ayu yang mengenakan jam tangan seharga uang SPP bulanan siswa di sana.


"wahh.. jam tangan itu sangat mahal kan? aku jadi penasaran sekaya apa dirimu."


"Apaansih ah.. orang cuma jam tangan jadul." bantah Ayu merendah.


"ahh benar, ku dengar orang tua mu pemilik BRAM'S property benarkan? sewaktu kecil aku pernah mengkhayal kerja di salah satu gedung milik mu itu."

__ADS_1


"ha..ha.. itu milik orang tuaku, bukan aku." Ayu tertawa canggung karena malu, tidak biasanya orang seantusias itu dengan latar belakang nya. mungkin karena Bagas berbeda dari anak-anak lainnya.


"Bisakah kau mengajakku melihat-lihat di dalam gedung megah itu? aku ingin berfoto dan menunjukkan ke Ibu ku kalau aku punya teman yang sangat kaya." tanpa malu Bagas bahkan menaikkan siku nya berlagak seperti juru kamera.


Walau sikap nya sering norak dan receh, ketampanan wajah yang di miliki Bagas seolah menutup semua kekurangan nya hingga para gadis malah semakin terkagum-kagum oleh kharisma nya yang amat langka itu.


"Foto? bukannya aku tidak mau, aku malu karena itu seperti aku sangat pamer." Ayu berusaha menolak halus permintaan Bagas.


"Ayo lah.. tidak ada salahnya kau pamer kekayaanmu karena kau memang kaya hahahah"


"heheh, nggak deh ya 😬" tolak Ayu lagi, ia berdiri hendak kembali ke kelas.


Namun Bagas malah menggenggam pergelangan kaki Ayu sambil memasang tampang melas.


"Yu, Pliss... Ibu ku pasti senang melihat pergaulanku di sini sangat bagus."


hhhhhhhhuuufftt


"iya..iya.. pulang kuliah nanti kita mampir." akhirnya Ayu pasrah, apalagi jika membawa-bawa nama ibu. langsung luluh hati Ayu yang selembut jelly itu.


...~~~~...


Pukul 13:30


Jam kuliah dan jam istirahat kantor telah berakhir, Ayu sengaja memilih jam masuk kantor agar Bagas bisa lebih leluasa melihat-lihat tanpa terganggu oleh para karyawan yang berseliweran.


Mereka tengah menunggu pintu lift terbuka, Ayu tengah sibuk merapikan baju nya agar terlihat pantas. sedangkan Bagas sudah asik ber-selfie dengan latar sekeliling ruangan.


Tinggg......


Pintu lift terbuka, langsung wajah Rey dan Faro yang terpampang bertatapan dengan wajah Ayu.


Bagas juga buru-buru bersiap menaiki lift, namun ia malah tercengang saat menatap wajah Rey.


"wah, lihat pacar mu datang Rey." ucap Faro tampak senang karena akan ada yang menyemangati adiknya.


Wajah Ayu yang tadinya tenang seketika berubah ramah karena teringat skenario Rey tempo hari.


"hallo kak." sapa nya menundukkan kepala.


"Kalian pacaran?" tanya Bagas memecah suasana.


...***********...

__ADS_1


__ADS_2