
Di dalam kamarnya, Ayu menangis sekuat-kuatnya. di balik selimut tebal ia membenamkan kepalanya untuk menumpahkan segala kesedihan. kejadian yang menimpa dua orang terdekatnya itu cukup membuat dirinya sangat terpukul.
Walau Ayu berusaha meredam suaranya di balik selimut, tetap saja samar-samar terdengar tangisnya dari luar kamar karena terlalu keras ia meraung-raung.
Dika yang baru saja pulang kerja penasaran apa lagi yang membuat sang adik bungsunya menangis begitu hebat.
"Dek? kamu kenapa?" panggil nya dari luar kamar.
Karena telinga Ayu tertutup selimut, ia jadi tak bisa mendengar panggilan Dika. hal itupun membuat Dika langsung masuk ke dalam kamar untuk memastikan keadaan adiknya.
Ia menarik selimut yang membungkus kepala Ayu secara brutal. "Kenapa kamu hah?" ia tampak panik saat melihat mata Ayu hampir tak bisa di buka karena bengkak dan sembab.
"Ayu harus gimana kak biar dada Ayu nggak sesak?" suaranya terdengar gemetar dan terpotong-potong karena terisak.
"Kenapa? ada apa hm..?"
Ayu menceritakan semua kemalangan yang ia lihat hari ini. bagaimana Bagas di tinggal pergi oleh Ibunya, serta Rey yang harus menerima keadaan pahit karena Papa nya sendiri memperlakukan Mamanya seperti sampah.
"Ayu sedih karena Bagas pasti nggak punya siapa-siapa lagi Kak, sama seperti kita dulu. terus Ayu juga sedih karena Papa nya Pak Rey nggak punya perasaan. kalaupun dia nggak cinta istrinya, ataupun kalau dia sangat membencinya setidaknya punya hati lah...😭 walaupun mendiang Mamanya udah tinggal tulang sekalipun bukankah seenggaknya dia harus bersikap seperti manusia!"
Dika mengatupkan bibirnya dengan raut wajah sedih pula. bagaimana pun mereka juga pernah merasakan kehilangan dulunya.
"Kamu berteman dekat dengan berand.. ee maksut Kakak Bagus itu kan?"
"Bagas.." potong Ayu sambil menyeka ingusnya.
"Iya itu.. maka sudah seharusnya kamu dan teman-temanmu yang lain menghiburnya. tapi kalau dia butuh waktu sendiri nggak apa-apa, kita semua butuh waktu untuk menerima keadaan kan?"
Ayu mengangguk mendengar penuturan Kakak laki-laki nya itu.
"Dan untuk Pak Rey, dari pada menangis di sini dan terus merasa bersalah karena nggak ada saat dia susah, mendingan sekarang kamu temui dia, ucapkan belasungkawa mu. siapa tau kamu orang yang ia tunggu untuk memulihkan semua beban di jiwanya. biar bagaimanapun kalian juga cukup dekat bukan?"
"Benar..." kenapa tak terpikirkan oleh Ayu sedari tadi. entah nantinya dia di usir atau di marahi oleh Rey yang penting di coba dulu kan untuk memberinya semangat.
...-...
...-...
Sementara itu Bagas meringkuk di atas kasur mendiang Ibunya, di sebelahnya tampak Bu Tari membawakannya semangkuk sup hangat untuk Bagas.
"Bagas.. Ayo makan dulu nak." bujuk Tari perlahan.
__ADS_1
"Bude selama ini taukan kalau Ibu sakit?" ia mendekap erat kertas dari rumah sakit yang ia temukan di laci meja rias.
"Bude juga nggak tau nak, setiap hari Ibu kamu selalu tersenyum ceria. siapa yang mengira dia mengidap penyakit yang begitu parah."
"Bodoh banget sih Aku. kenapa Aku nggak tau apa-apa tentang Ibu." rutuknya kesal. tangis dan sesal mengaduk perasaannya menjadi semakin berantakan.
"Kamu jangan menyalahkan dirimu. ini semua sudah ketentuan yang di atas. sabar, ikhlas, Ibumu pasti bangga jika melihatmu jadi anak yang kuat." Tari mengusap kepala Bagas, walaupun mereka tidak terlalu dekat, tapi hubungan dirinya dan mendiang Ibunya Bagas cukup erat.
Tari dan Ibunya Bagas berteman sejak mereka masih tinggal di kampung. pertemuan pertama mereka saat ia dan Ibunya Bagas duduk di bangku SMP. setelah itu keduanya sama-sama bekerja di salon, lalu saat Tari menikah ia keluar dari pekerjaannya dan Ibunya Bagas melanjutkan bisnis dengan membuka salon kecil-kecilan.
Kemudian keadaan berubah saat suami Tari meninggal, ia dan anak nya pindah ke pinggiran kota itu lalu bertemu lagi dengan Ibunya Bagas. sejak saat itulah mereka bersama.
Ibunya Bagas sempat berpesan, Tari boleh menceritakan apapun tentang dirinya kelak agar Bagas selalu mengenangnya, kecuali satu hal. satu kebenaran yang tak boleh di ungkapkan sampai kapanpun agar Bagas bisa tetap bahagia menjalani kehidupannya.
...~~~~...
Di depan pintu kantor, Ayu tampak ragu untuk menemui Rey. Dimas bilang ia sedang tak ingin di ganggu, itu sebabnya ia bahkan tak keluar saat jam makan siang tiba.
Karena itu pula Ayu membawakan sekotak nasi goreng yang ia buat sendiri. Ayu menggerakkan tangannya ke arah gagang pintu, namun ia ragu lagi.
Tanpa di duga dari dalam Rey yang membuka pintu itu lebih dulu. mata bengkak mereka saling beradu hening sesaat.
"Kamu? ada apa?" tanya Rey.
Rey menutup kembali pintu dan menyusul Ayu. "Kamu tau kan Saya nggak suka nasi goreng?"
"Tau.." Ayu menganggukkan kepalanya tanpa rasa penasaran.
"Terus kenapa malah bawain Saya nasi goreng?"
"Cuma ini yang bisa Ayu buat heheh.."
"Kan bisa beli yang lain."
"Mau? Bapak pengen apa biar Ayu belikan?"
"Nggak jadi, kelamaan nanti." tukas Rey, ia mengambil kotak nasi itu lalu menyantapnya dengan lahap. di saat suasana hati dan pikirannya sedang kacau, perhatian kecil Ayu yang seperti itu bisa membuatnya merasa masih layak hidup di dunia ini.
Di banding keluarganya sendiri, justru keluarga Ayu lebih menaruh simpati kepadanya. jika bukan karena Sang kakak dan Ayu, mungkin ia tak tau lagi harus bagaimana melanjutkan kehidupannya yang amat suram itu.
"Katanya nggak suka.." ledek Ayu, seketika kecepatan Rey menyuap langsung terhenti.
__ADS_1
"Terpaksa, Saya nggak sarapan tadi pagi."
"Enak?" tanya Ayu lagi sambil mengangkat alisnya.
"Kebanyakan micin." sahut Rey namun tetap mengunyah nasi goreng itu dengan lahap.
Ayu tersenyum kecil melihat raut wajah Rey, dia tau betul Rey tak menyukai nasi goreng. namun jika ia membawakan menu kesukaan Rey apakah mereka akan punya topik pembicaraan seperti ini?
"Bagaimana keadaan temanmu? apa dia baik-baik saja?"
"Sepertinya dia butuh waktu untuk menerima keadaan pahit nya. bagaimana dengan Bapak? apa Bapak baik-baik saja?"
"Maaf karena nggak ada di saat tersulit, Ayu dengar dari Mas Dimas Bapak menabrak Pak Ben."
"Saya bahkan sempat di penjara karena itu." ucap Rey santai, ia tak masalah di penjara atau di hukum mati sekalipun asal bisa memberi pelajaran atas apa yang telah di lakukan Papanya.
"Pasti sulit melewati itu.."
"hmm.." Rey mengangguk pelan, ia merasa malu karena keadaan keluarga nya.
"Cerita aja ke Ayu kalau bapak butuh teman curhat, Ayu siap kok dengerin."
"Masih perduli kamu sama Saya? kirain sudah nggak." gerutu Rey mengingat kejadian di makam kemarin.
"Masih dong, memangnya kapan Ayu pernah nggak perduli."
"Kemarin, Kamu bahkan nggak memberikan Saya semangat sama sekali seperti biasanya."
"mmmm... Ayu tau, Bapak cemburu ya?" ia menuding Rey sambil tersenyum meledek.
"Saya cuma iri, kamu lebih simpati sama dia daripada Saya orang yang sudah lama kamu kenal. ini semua salah mu, Kamu terlalu perhatian setiap Saya ada masalah."
"Oh.. jadi bisa di bilang Bapak ketergantungan gitu sama Saya?"
Rey mengangguk sambil membuang pandangannya seolah ia sangat kesal saat itu. padahal ia sendiri tidak tau persis perasaannya. kesal, marah dan gelisah menjadi satu membuat detak jantungnya berdetak sangat cepat.
"Oke, baiklah.. jadi ini salah Ayu. Sekarang apa yang Bapak butuhkan agar Bapak nggak merasa iri, dan agar Ayu nggak merasa bersalah." ia akan bersedia jika Rey menyuruhnya membelikan kopi kesukaannya atau camilan yang bisa mengembalikan mood.
Rey mengangkat pandangannya perlahan "Pelukanmu..."
"hah?"
__ADS_1
😳
...**********...