
Apa ini di sebut sebuah karma? Perasaan yang dulu selalu di abaikan kini membuat hatinya remuk hanya dengan satu pernyataan.
Ia mengira segalanya akan mudah. Saling mencintai dan menghabiskan waktu bersama, namun ternyata tidak mudah untuk berlayar di satu kapal dengan nahkoda yang tidak ahli membaca arah mata angin.
Jika ingin segera sampai, berlayar lah sesuai kemampuan. Namun jika Kau memaksakan, maka bersiaplah. Mungkin saja Kau akan terombang-ambing selamanya di tengah luasnya samudra.
Ayu meremas kuat lututnya, tangannya bahkan mulai dingin mendengar perkataan Rey yang amat sangat kecewa dengan sikapnya.
"Maaf, Saya tidak bermaksut menyakiti.."
"Jika ternyata dia bukan saudaramu, apa yang akan terjadi dengan kita?" tekan Rey memperjelas.
"Saya menyukai dia..." lirih Ayu, sebuah ucapan yang memantik kecemburuan di benak Rey.
"Lalu Saya? Bukankah sampai kemarin Kamu masih punya perasaan untuk Saya? dan setelah Saya berubah kenapa Kamu juga berubah?"
"Saya juga nggak tau Pak..! Perasaan ini tumbuh begitu saja, sama seperti perasaan Saya kepada Bapak sebelumnya.."
"Sebelumnya..?" Rey mencebik heran, seperti inikah pedihnya tak di anggap oleh seseorang yang sangat kita kagumi?
"aaahh.. Apa sekarang sudah berbeda? Kenapa Kamu diam saja waktu itu? Kamu berusaha mencari kebenaran tentang perasaan mu? atau Kamu hanya menikmatinya waktu itu?" kesabaran Rey benar-benar terkikis habis sekarang. Ia benar-benar merasa di campakkan sekarang.
"Saya hanya gugup waktu itu, karena itu pertama kalinya..."
"Baiklah.. Saya mengerti, anggap saja ini balasan atas sikap acuh Saya selama ini padamu." kekecewaan benar-benar tampak menutupi wajah Rey hingga menghilang seri indahnya.
Namun tak pernah terpikirkan oleh Ayu bahwa ia akan membuat Rey merasakan kepedihan ini.
"t..tapi Saya nggak berniat.."
"Anggap saja.. Anggap saja begitu!"
...~~...
__ADS_1
Perasaan Ayu kepada Rey tampaknya benar-benar telah berkurang. Dia yang memiliki segalanya membuat Ayu memberikan kasih sayang kepada Bagas yang tak lagi memiliki siapa-siapa.
Tadinya Ayu berpikir. Dengan segala kelebihannya, Rey akan dengan mudah mendapatkan siapapun. Wajahnya yang tampan serta karir gemilang, wanita mana yang akan menolak jika lelaki seperti itu menunjuk mereka untuk menjadi kekasihnya?
Rasanya pun percuma jika dia menunggu balasan perasaan yang tak pasti. Dulu berharap keajaiban untuk Rey adalah harapannya yang paling besar. Namun apa yang akan ia dapatkan jika Rey berubah? sudah jelas-jelas Rey mengatakan dirinya tak akan masuk dalam kriteria.
Berbagai alasan itulah yang membuat Ayu tanpa sadar mundur perlahan. Ia mendapatkan Bagas yang tak memiliki apa-apa selain Ibunya, namun ternyata hal satu-satunya yang dimiliki Bagas pun pergi begitu cepat.
"Aku akan selalu ada untukmu.." Kata-kata itu benar-benar membuat perasaan Ayu terikat pada Pria sederhana itu.
Namun saat ia mulai memperjelas perasaannya, hal tak di duga malah terkuak membuatnya terlempar amat jauh. Rey tiba-tiba menyatakan cinta dan kemudian fakta bahwa Bagas merupakan saudaranya.
Tak bisa di elakkan lagi, Ayu akan membuat salah satu dari mereka sakit hati. dan benar saja, sekarang ia telah menyakiti perasaan Rey.
...~...
Akhirnya Ayu memaksakan dirinya ke kampus setelah beberapa hari absen. Hanya karena satu fakta mengejutkan, suasana Kampus jadi terasa sangat berbeda bagi Ayu.
Saat memasuki kelas, ia mendapati Bagas yang tengah termenung sambil menggesekkan kakinya ke lantai.
"hmm.." sahut Bagas tersenyum kecut. ia berusaha menutupi kesedihannya seolah tak terjadi apa-apa.
Tak seperti biasanya, tatapan berbinar serta kehangatan yang antusias menghilang dari diri Bagas.
"Besok akan keluar hasilnya.." ujar Ayu datar.
Perkataan itu pun membuat Bagas berpikir heran "Hasil apa?" ia mengangkat sebelah alisnya.
Helaan nafas berat di lepaskan Ayu, haruskah mereka mengakhiri tunas yang mulai tumbuh itu?
"DNA.. Ku harap hasilnya sesuai keinginan kita." bisik nya sembari meletakkan tas di samping kursi.
"Hah..!" Bagas langsung terlonjak menegakkan kepalanya.
__ADS_1
"a..apa maksudmu?" Masih saja ia berpura-pura tak mengerti.
Ayu memajukan badannya agar tak ada yang mendengar percakapan mereka.
"Berhentilah berpura-pura Bagas.. Kamu sudah tau kan? Jika hasilnya ternyata kita bersaudara, Ku harap Kamu bisa melupakan apa yang terjadi di antara Kita."
Bagas melempar tatapan sayu, ia melipat kedua tangan di atas dada lalu tersenyum kecut. "Kamu sudah tau ternyata..."
"hmm.. tak masuk akal sekali kan?"
Walau sudah jelas bukti yang ia lihat bahwa Ayah mereka sama, namun Bagas terlihat senang dengan perilaku Ayu yang seperti berharap mereka tidak ada ikatan darah.
"ck.. sayang sekali, padahal Aku sudah mendapatkan siapa pelakunya." ucap Bagas memicingkan mata.
"Serius? siapa?" Ayu sudah tak sabar mengetahui orang yang selama ini mengganggunya.
"Apa Kita mengenal orangnya?" imbuhnya kemudian.
"Tunggu, tidak ada gunanya juga Aku memberitahumu karena kita tak bisa berpacaran kan?"
"Hasil tes DNA belum keluar.. jangan mengambil asumsi sebelum bukti itu ada. Bisa saja Kamu bukan anak kandungnya kan?" seloroh Ayu membuat perasaan Bagas sedikit tersentil.
"Wahh.. Aku suka Kamu begitu mengharapkan kita tidak sedarah. Tapi apa maksudnya Aku bukan anak kandung? Kenapa kemungkinan itu cuma ada padaku? bukankah bisa saja Kau yang bukan anak kandung nya?"
"Aku sudah jelas anak Kandung! Ibu dan Ayah menikah secara resmi. Bagaimana denganmu? apa status pernikahan Ayah dan Ibumu tercatat sah di Negara? Jika di lihat dari usia Kakak-kakak ku usia pernikahan Ayah dan Ibuku lebih tua di banding dengan Ibu mu." entah hal apa yang membuat Ayu begitu bangga dengan pernikahan Ayah dan Ibunya. Padahal sebelumnya ia sungguh tak ingin tau, bahkan ia berharap takkan pernah mendengar hal-hal yang menyangkut Pria tak tau diri bergelar Ayah itu.
"Kamu mau bilang Ibuku penghancur rumah tangga orang tua mu? Pernikahan Ayah dan Ibu ku juga sah!" bantah Bagas tak terima, mereka malah membuat seisi kelas terperangah dengan sikap aneh mereka. Biasanya saling menempel bak lem kini malah adu mulut seperti sedang menjalani persidangan.
"Aku nggak bilang begitu! Aku cuma bilang Ayah dan Ibuku menikah lebih dulu dibanding orang tua mu!" tekan Ayu menahan amarah.
"Wahh.. Kau benar-benar..!" rutuk Bagas geram, ingin sekali ia memasukkan kepala Ayu ke dalam tasnya agar berhenti bicara omong kosong.
"Bukankah Kamu bilang jangan berasumsi sampai tesnya keluar?" timpalnya berdiri sambil mengepalkan tangan di meja Ayu.
__ADS_1
"Tes apa?" tanya salah satu teman sekelas yang penasaran dengan kegaduhan mereka.
...**********...