
Dua hari sebelumnya...
Sesuai rencana yang sudah ia susun, hari ini Ayu hendak mendatangi satu persatu sekolah yang terkait dengan nama-nama penerima bantuan.
Rey sudah mengetahui rencana itu, karena itulah ia berdiri di depan rumah Ayu untuk mengantarkannya.
"Nyari Papa?" tanya Ayu heran, kenapa Rey tidak langsung masuk saja seperti biasanya.
Rey berbalik ke arah sumber suara. "Saya nunggu Kamu, jadi kan rencana yang kemarin?"
"Jangan bilang Bapak mau ngantar? Nggak perlu Pak, beneran deh..!" lagi pula Ayu berpikir memangnya Rey tidak bekerja? apalagi awal pekan begini biasanya kantor akan banyak sekali jadwal meeting.
"Saya tidak sibuk. Jadi biarkan Saya mengantarmu." Rey kemudian membukakan pintu dan mempersilahkan Ayu masuk.
Mendengar ucapan Rey membuat Ayu tersentak kaget dalam hati, bagaimana bisa Rey seperti menyahuti perkataannya.
"Lagi pula membiarkan mu menyelidiki ini sendiri membuat Saya sedikit.."
"Ayu berniat mengajak Bagas sih, jadi nggak sendiri. hehehe.." kekeh Ayu hendak menolak. Ia memang sudah berniat menyelidiki ini dengan Bagas karena selama ini Bagas lah yang membantunya menemukan petunjuk.
Rey mendekat, sebenarnya sudah dari lama ia ingin mengatakan itu. Dan sejak kemarin kekhawatirannya semakin bertambah.
"Untuk saat ini jangan percaya dengan siapapun yang di kampus." bisik Rey.
"Termasuk Bagas?" tanya Ayu, kemungkinan seperti apa yang membuat Rey berpikiran begitu?
Rey hanya menaikkan alisnya, entah dia akan di anggap hanya modus ataupun cemburu ia tak perduli. Yang pasti selama ia bisa, Ayu akan selalu ada dalam pengawasannya.
Mereka pun mulai menyelidiki, dari jam 9 pagi hingga jam 12 siang mereka sudah mendatangi 15 sekolah. Namun tak ada satu pun yang berkaitan dengan Ayu baik itu latar belakang ataupun status keluarga.
Hingga akhirnya mereka tiba di salah satu SMA Negeri di kawasan menengah. Mereka bertanya kepada kepala sekolah tentang tiga daftar nama yang dulunya pernah sekolah di sana.
__ADS_1
"Badar Andeswara, Kalau tidak salah ini murid pindahan. Dia di keluarkan karena berkelahi hingga menyebabkan salah satu temannya terluka parah. Bahkan saat di sini pun dia hampir di keluarkan, untung saja Kami berhasil membujuknya untuk bersikap lebih tenang." terang Sang kepala sekolah.
"Diantara orang yang kami cari, dia termasuk yang informasinya di rahasiakan oleh Lembaga ini Pak. Maka itu kedatangan Kami kemari untuk meminta data mereka jika Bapak berkenan." ucap Rey meyakinkan Kepala sekolah. Sementara Ayu hanya diam saja, perasaan nya mengatakan pasti akan ada sesuatu tak terduga di balik ini semua.
"Sebentar ya.. Saya cari kan dulu." Pak kepala sekolah berdiri menuju rak di belakang mereka. Rak yang di penuhi tumpukan Map data diri para alumnus yang pernah menempuh pendidikan di sana.
"Mungkin akan sedikit lama, karena Saya juga tidak ingat tahun berapa ia lulus." ucap Pak kepala sekolah sembari mencari data yang di minta.
"Oh iya.. Dari yang saya dengar, dia mendapatkan beasiswa sebagai Atlet sekarang."
Ayu dan Rey saling pandang mendengar itu, alis mereka sama-sama ditekuk seperti memikirkan hal yang serupa.
"Apa Bapak tau di mana Universitas nya?" tanya Rey lagi.
"NIC.. kalau tidak salah di sana. Bukankah keponakan Anda juga kuliah di sana?" sahut Pak Kepala sekolah.
Rey malah bingung, keponakan yang mana? apa Pak kepala sekolah mengenal keluarganya?
"Dia, bukankah tadi Anda bilang keponakan Anda berkuliah di sana?" tunjuk nya kepada Ayu yang tengah bimbang memilih ekpresi, haruskah ia terkekeh karena Rey di anggap pamannya. Atau haruskah ia syok karena pelaku ternyata benar-benar ada di sekitarnya.
...-...
...-...
Di dalam mobil, Ayu sibuk dengan pikirannya sendiri mengenai nama itu. Ternyata Laura tidak berbohong, ia benar-benar bukan pelakunya.
"Menurut Bapak siapa orang nya?"
Rey yang sedari tadi juga sibuk dengan pikirannya sendiri pun buka suara. "Apakah Saya terlihat sangat tua? Umur kita hanya beda 10 tahun. Bukankah pantas jika Saya di sebut sebagai Kakak laki-laki mu? Kenapa dia malah mengira Saya paman mu?"
Ayu mengecap kuat lidahnya, di saat kepalanya terbelit oleh kecurigaan bisa-bisanya Rey malah memikirkan itu.
__ADS_1
"Hanya 10 tahun Bapak bilang? 10 tahun itu bukan waktu yang sebentar Pak. Sewaktu Bapak sudah bisa pencak silat, naik motor dan jumpalitan dari pohon ke pohon Saya baru lahir Pak. Bapak udah segede kingkong sedangkan Saya baru bisa nangis ooee..oee..." ceriwis Ayu sembari menirukan tangisan bayi baru lahir.
"Sembarangan Kamu, memang nya Saya monyet merayap dari pohon ke pohon." sahut Rey tak terima.
"Tapi tetap saja..."
"Apa..?" potong Ayu kesal.
"Saya kurang ikhlas..." gumam Rey menghindari tatapan membius Ayu.
Ayu menyibakkan rambutnya, kepala nya terasa sangat berat saat itu. "sss.. udah lah, mau paman kek, mau kakek, mau buyut nggak penting. Sekarang yang penting itu mencari tau siapa sebenarnya Badar Andeswara. Ayu bahkan sama sekali nggak kenal sama nama itu."
"Atlet yang mendapatkan beasiswa di Kampus mu, bukan kah Bagas?" ujar Rey termenung. Jika memang benar maka firasat tak enak yang ia rasakan selama ini benar adanya.
"Benar.. tapi nggak mungkin dia kan?" Membayangkannya saja sangat tidak mungkin. Justru Bagas lah yang selama ini membantunya menemukan pelaku teror itu. Selain itu dia mendapat teror itu jauh sebelum Bagas pindah ke Kampus nya.
"Siapa nama Ibunya Bagas?" tanya Rey kemudian.
Ayu memejamkan matanya sejenak, di ingat-ingat selama mereka berteman Ayu sama sekali tidak mengetahui nama Ibunya Bagas.
...-...
...-...
Mereka pun pergi ke pemakaman. Ya, makam yang sama dimana Mama Rey beristirahat dengan tenang.
Rey dan Ayu mencocokkan nama Ibunya Bagas dan Ibu nya Badar. Dan ternyata nama mereka sama persis yakni Sarah Pratiwi. Maka kemungkinan besar Bagas adalah Badar.
Ayu terduduk lemas di sana, apa mungkin selama ini Bagas menipu nya? Lalu apa yang membuat dia melakukan semua ini? Dan cinta... apakah semua itu hanya sandiwara yang di buat Bagas agar ia jatuh ke dalam perangkapnya?
...***********...
__ADS_1