
"wiiihhhh.. Hebat banget kamu.." Ayu mengacungkan kedua ibu jarinya sesaat setelah turun dari motor.
"Kamu nggak pusing? menggigil? atau apa gitu? badan mu basah kuyup." Bagas menatap wajah Ayu dengan penuh kekhawatiran. ia melepaskan almamaternya lalu memakaikan itu ke tubuh Ayu.
"Tenang aja, Aku biasa kok main hujan. jadi jangan khawatir hhacchhimm!" ingusnya sampai keluar berbarengan dengan suara bersin.
"hihh..." Bagas menyeringai jijik.
"tuh, nggak apa-apa gimana? coba tadi kamu naik taksi. pasti aman sampai rumah."
Ayu hanya tertawa, ia menyeka ingusnya memakai lengan jas almamater milik Bagas.
"hei.. itu punya Ku."
"hah? iya..? kirain punya Ku hehe.."
...-...
...-...
Pagi berlalu, matahari kian naik menandakan siang akan segera tiba. hujan mengguyur basah seluruh kota yang tak kunjung reda membuat para pekerja di kantor Dimas menguap terus menerus. termasuk juga Rey yang tak berhenti mangap dengan wajah super glowing nya.
Namun notifikasi berita di layar ponselnya langsung membuat mata Rey terbelalak selebar-lebarnya.
"Dua Bus studi tour mengalami kecelakaan beruntun di tikungan tajam, di duga salah satu kendaraan tergelincir dan menyebabkan seluruh penumpang nya mengalami luka-luka. beruntung tidak ada korban jiwa walau sebagian murid mengalami luka parah...."
Rey langsung beranjak dari kursinya saat melihat Bus di dalam berita itu dari kampus Ayu. apalagi Ayu sempat bilang kemarin kalau ia berangkat studi tour pagi ini.
"Tidak..tidak tidak! dia baik-baik saja Rey, tenanglah."
Rey berlari secepatnya menuju lobi, ia menekan pedal gas dalam-dalam menuju lokasi kejadian.
...-...
...-...
Masih di waktu yang sama, Bagas berlari ke pinggir jalan saat melihat ada taksi yang melintas.
"Taksi...!" teriaknya tak perduli hujan di sertai kilatan petir menyambar. namun taksi tersebut melambaikan tangannya karena sudah memuat penumpang.
"Bagas! udah sini aja.. kita tunggu hujannya reda." panggil Ayu dari halte, ia tak tega melihat Bagas yang sudah berdiri kehujanan di sana lebih dari setengah jam.
Bagas tak menggubris, yang ada di pikirannya adalah bagaimana agar Ayu bisa cepat pulang. ia melihat ada satu taksi lagi yang menuju kearahnya, segara ia melambai siapa tau taksi itu kosong. namun sial sekali lagi menimpa Bagas, taksi yang di tunggu malah melaju kencang hingga membuat genangan air kotor di depannya terciprat keseluruh celana.
"WOY!! dasar brengs*k!!" umpatnya sengaja tanpa suara agar Ayu tak mendengar ucapan kotor itu.
...-...
...-...
__ADS_1
Sembari melaju di jalanan membelah hujan, Rey sibuk menelpon nomor Ayu namun tak ada balasan. ia juga berusaha menelpon orang di rumah Ayu, namun tak ada jawaban.
"Ya tuhan.. lindungilah dia." lirih Rey dengan tangan gemetar.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya Rey sampai di TKP. puluhan mahasiswa berseragam almamater bergelimpangan penuh luka. ada yang hanya lecet sampai pingsan di tempat karena mengalami pendarahan hebat. para petugas kesehatan yang membantu pun kewalahan menangani mereka karena kendaraan yang datang tak cukup banyak dengan jumlah korbannya.
Rey mengatur nafasnya perlahan, pandanganya mengedar keseluruh arah membayangkan apa yang terjadi pada Ayu saat itu.
"Pak.. Ayu? Ayu baik-baik saja?" suaranya sampai hampir hilang saat menghadang salah satu Pimpinan kelas.
"Ayu? Ayu yang mana?"
"Ayundia Dinata.." sahut Rey cepat mengharapkan jawaban terbaik.
"Bukannya dia tidak ikut?"
"Apa??"
Seluruh kekhawatiran yang mengguncang pikirannya seketika seperti melayang tercabut dari seluruh tubuhnya. tubuhnya seperti benar-benar kosong saat itu karena memikirkan Ayu.
...-...
...-...
Tiga jam setelah terjebak di halte pinggir jalan, akhirnya Ayu sampai di depan rumahnya bersama Bagas yang basah kuyup dan kotor seperti tikus kecebur di got.
"Masuklah.. cepat mandi dan ganti pakaianmu." ucap Bagas sambil membantu Ayu melepaskan helm.
"Terimakasih apanya? kamu kehujanan gara-gara Aku."
"Terimakasih karena hari ini seru." pipi Ayu bersemu merah diiringi senyum manis khasnya yang membuat jiwa buaya Bagas semakin meronta.
"Baiklah... Aku terima ucapan terimakasih mu, dan terima juga maaf ku."
"Oke impas." Ayu berbalik badan hendak memasuki rumah.
Bagas baru teringat kalau almamaternya masih menempel di bahu Ayu "hei kembalikan..."
"AYU!" teriak Rey saat baru turun dari mobil. ia berlari kearah Ayu dengan raut wajah gembira bercampur khawatir.
Kedua tangan Rey langsung meraih tubuh Ayu kedalam pelukannya.
"Kamu tidak apa-apa? kenapa tidak bilang kalau tidak ikut hah? Kamu tau Saya seperti orang gila dari tadi hah?" Rey memarahi Ayu dengan suara keras, sekeras lengannya yang tengah mendekap Ayu.
Ayu mematung sejenak mengatur ritme detak jantungnya yang berantakan.
"ee.. Bapak kenapa?" tanya Ayu tak mengerti.
Seketika Rey tersadar dan langsung melepas pelukannya.
__ADS_1
"Saya?" ia tampak membuang muka sambil menggaruk ujung telinganya.
Begitupun dengan Ayu yang tanpa sadar membuang muka ke arah Bagas.
deg...
Jantungnya seperti di ketuk suatu benda besar saat melihat raut wajah Bagas yang menatap dalam kearahnya.
...~...
Malam harinya suhu tubuh Ayu bertambah panas karena kehujanan tadi siang. ia menggigil sambil membuka kulkas hendak meminum air dingin.
Drap!
Tiba-tiba tangan Dika menutup kembali pintu kulkasnya. "demam kok minum es!"
"Haus kak.. panas rasanya tenggorokan Ayu." rengek Ayu bak anak kecil.
"Kamu kan baru minum obat. kok mau minum es, percuma dong. nggak mau sembuh emangnya?"
"hiiss.." dengus Ayu kesal. ia berjalan menunduk dengan selimut melilit tubuhnya. lalu matanya tertuju pada sesosok laki-laki di ruang kerja Papanya.
"Pak Rey? ngapain?" tanya Ayu penasaran.
Rey menoleh pelan, kacamata bening yang ia kenakan seolah menambah ketampanan nya yang terbuang sia-sia.
"Saya lembur."
"Lembur kok di sini? nggak di kantor?"
"Bisa di bilang ini hukuman karena Saya meninggalkan pekerjaan penting tadi pagi gara-gara Kamu."
"Loh kok Ayu? makanya lain kali jangan asal cabut aja. konfirmasi dulu harusnya." oceh Ayu menghempaskan diri di sebelah Rey. lumayan bisa dapat penambah stamina.
"Saya khawatir Kamu kenapa-kenapa.." sahut Rey menatap sendu wajah Ayu.
"Apa itu? tatapannya.. " membuat jantung Ayu hampir melompat keluar.
"Apa Bapak sangat khawatir tadi?"
"hmm.. Saya hampir gila membayangkan kondisimu."
Demam tak lagi di rasa karena seolah berganti menjadi taburan bunga yang memenuhi hati Ayu. akan tetapi Ayu berusaha menahan ekspresinya agar batas yang ia bangun tidak roboh begitu saja.
"Terimakasih karena mengkhawatirkan Ayu.." ujarnya lalu beranjak meninggalkan Rey.
Kelopak mata Rey berkedip dua kali saat di beri senyuman hangat oleh Ayu.
"Cuma begitu?" gumam Rey merasa janggal dengan respon dingin Ayu. seharusnya Ayu bersikap antusias karena sudah membuat Rey khawatir setengah mati tadi.
__ADS_1
...**********...