
Dika meraba ponsel di saku belakangnya. "Kami sama-sama Of hari ini." sahutnya menenangkan Gaby.
Dulu sewaktu masih LDR, jika ada telepon dari rekan kerja Dika pasti langsung menutup pembicaraan. maka itu Gaby agak murung tadi. ia pikir kali ini akan di tinggal lagi.
"Hallo Pak? ada apa?" tanya Dika. tumben hari Of begini menelepon, apalagi melihat jam sudah hampir lewat tengah malam.
[Kamu masih di Bandara kan? di sebelah mana Kamu?] tanya Bian terdengar panik.
"Saya.. di parkiran Pak, Kenapa Ya?"
[Syukurlah..] sahut Bian.
...-...
...-...
Sepuluh menit kemudian, Bian dan Mama nya datang dengan dua koper besar.
Mamanya Bian baru saja pulang dari luar Negeri, ia di sana menjemput sama seperti Dika. namun apes nya kunci mobilnya hilang entah kemana.
Sudah hampir satu jam mereka berkeliling menyusuri area yang di lewati Bian, ia juga melapor ke petugas keamanan namun hasilnya nihil.
Untung Bian ingat kalau Dika malam ini sedang ada di Bandara, jadi bisa lah nebeng toh jalur rumah mereka searah.
Melihat dua koper besar serta dua orang yang akan menumpang, Dika telihat keberatan. jadi nggak leluasa dong ia melepas rindu dengan Gaby karena ada seniornya.
"eeee... Mau Saya pesankan taksi Pak?" tawar Dika, selain lebih leluasa, lebih nyaman juga kan untuk mereka?
"Tidak usah, ngirit..ngirit!" bisik Bian sambil menata kopernya di dalam bagasi Dika.
"Tapi Kami mau mengantar Gaby ke rumahnya, ntar kelamaan loh. kasihan Tante nya.."
"Nggak apa apa kan Ma?" tanya Bian kepada mamanya.
"Iya.. nggak apa-apa kok, santai aja. Tante suka malah kalau rame-rame. jadi nggak bosan hehehe.." sahut Mamanya Bian terkekeh lembut.
Gaby dan Ayu saling bertatapan, mereka sepertinya sama-sama keberatan dengan keadaan ini.
"Ya ampun Pak, pesan taksi aja deh." gerutu Dika sekali lagi sambil berbisik.
"Aduh.. Kamu bayangin dong, Saya nanti butuh biaya untuk duplikat kunci mobil, belum lagi kalau naik taksi sambil bawa koper begitu. pasti mahal.." bisik Bian memelas.
__ADS_1
Dika pun hanya bisa pasrah, memang sudah begitu tabiat Bian dari jaman purbakala. padahal duitnya melimpah, tapi selalu saja pelit. prinsip nya selagi ada yang gratis, kenapa harus bayar.
Alhasil selama perjalanan Gaby, Dika dan Ayu hanya diam saja. padahal di otak mereka sudah tersusun tadi candaan untuk melepas rindu, namun gagal total gara-gara ada orang tua. nggak enak dong kalau sampai Mamanya Bian mendengar candaan absurd mereka.
"Kakak mu sehat?" tanya Bian tiba-tiba memecah suasana hening.
"Sehat Bang.." sahut Ayu terkejut, kok tiba-tiba? jangan-jangan ada udang di balik tepung saj1ku nih! pikir Ayu.
"Ngapain tiba-tiba nanyain kabar Kak Nurul?" Ayu bertanya balik, kan banyak topik yang bisa di bahas. kenapa harus Nurul?
"Ya kalau nanyain Kamu kan nggak logis, masa orang nya di depan mata masih di tanyain yakan? hahahahahahah." sahut Bian tertawa ngakak membuat Mamanya yang sedang tidur nyenyak terganggu.
Mereka pun terpaksa ikut tertawa garing demi menghargai candaan Bian yang tak lucu itu. hanya Bian yang tertawa terkekeh-kekeh sepanjang perjalanan dengan lawakan garing nya yang tak masuk akal di otak mereka.
...~...
Pagi harinya.....
Sambil melihat Tim lain bertanding, Ayu dan Bagas duduk bersebelahan sembari mengobrol ringan.
Tiba-tiba saja Ayu teringat kejadian sekitar 6 tahun lalu. ia pikir ia sama sekali tak ingat ada apa hari itu, ternyata keluarganya lah yang sengaja menutupi kejadian itu dari Ayu.
"Kenapa..?" tanya Bagas sambil mengusap lembut rambut Ayu.
"hm? nggak apa-apa.." Ayu berusaha merubah raut wajah bimbang nya. namun tetap saja Bagas bisa melihat itu.
"Ceritakan saja," bujuk Bagas memberi senyuman yang membuat batin Ayu terasa sejuk.
Hanya satu kalimat yang ingin Ayu ucapkan, Aku menyukaimu...
Namun saat ia sudah mengetahui kemana ia akan melabuhkan hatinya. Segudang keraguan dan rasa takut muncul di kepalanya saat ia teringat momen 6 tahun silam.
"Ada apa? matamu terlihat sangat indah hari ini? seolah mengatakan Aku cinta Kamu Bagas.." bisik Bagas mencoba menghibur Ayu.
Dan benar saja, wajah murung Ayu langsung berseri dengan senyum tipis. "Haruskah kita Pacaran sekarang?"
Bagas menggeleng cepat "sesuai janji saja, Kita dapatkan pelakunya. lalu Kita bicarakan lagi hubungan Kita."
Entahlah.. semakin kuat Rey mencoba membuktikan bahwa ia benar-benar tulus, Ayu malah semakin mundur perlahan. ia merasa segala yang akan di lalui bersama Rey hanya akan menjadi masa percobaan.
Perasaan Rey akan lawan jenis memang sudah berubah. namun apa jadinya jika ternyata Ayu hanya memiliki tempat sebagai bahan pancingan. selama ini hanya ada satu wanita di dekat Rey yaitu Ayu. lalu bagaimana kedepannya? Rey yang masih dalam masa perkembangan pasti akan lebih banyak tergoda oleh hal-hal baru yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu sudah nggak sabar jadi Pacar orang paling tampan dan populer sejagat Kampus?" bisik Bagas pasang wajah tengil.
"hahahahahah... Seperti apa jadinya ya? Perempuan paling cantik dan Lelaki paling tampan ini jika bersama." tambahnya lagi masih dengan senyum lebar dan wajah percaya diri.
"idihhh.. berlebihan deh Kamu!" ucap Ayu menepuk lengan Bagas.
"hahahahahahha......"
Tiba-tiba dering Ponsel Ayu memutus suasana hangat mereka. Ayu segera mengangkat telepon tersebut yang tak lain adalah Dimas.
"Mama masuk rumah sakit.." ucap Dimas sesaat teleponnya tersambung, kemudian ia langsung menutup teleponnya.
...~~...
Di Rumah Sakit....
Rianti pingsan saat hendak pergi ke Galery Nurul akibat tekanan darahnya terlalu rendah. walaupun ia sudah siuman, ia tetap harus menginap satu malam di sana sampai kondisinya benar-benar stabil.
"Ma.. gimana?masih terasa pusing nggak?" tanya Dika, ia sampai melempar jadwal operasi ke rekannya karena takut sesuatu terjadi kepada Mamanya.
Rianti tersenyum lembut, wajahnya yang pucat sekalipun tak bisa menyembunyikannya aura yang amat bersahaja.
"Udah mendingan Nak.. Kamu nggak tugas?"
"Tunggu yang lain datang baru Dika bisa ninggalin Mama." walaupun ada pengawal di depan kamar rawat itu, Dika tak bisa tenang meninggalkan Mama nya. minimal satu orang saja harus ada di sana.
"Mama nggak apa-apa Nak, Bentar lagi juga pasti Papa datang." ujar Rianti merasa terharu akan perhatian putra nya itu.
Kemudian ponsel Dika berdering karena mendapat panggilan dari Professor yang akan memimpin operasi.
"Dokter Dika? Kami butuh bantuan anda segera di ruang operasi!" titah Sang Profesor terdengar kelimpungan.
Dika tak menjawab, ia menatap wajah Rianti seolah tak tega meninggalkannya sendirian.
Rianti yang merasakan kekhawatiran Putranya itu pun mengangguk seolah memberi izin "Profesional Nak..." bisik nya.
Dengan terpaksa Dika pun meninggalkan Rianti dan segera menuju ke ruang operasi.
Begitu Dika keluar dari ruang rawat, seorang Lelaki yang sedari tadi mengintai mengeluarkan belati dari saku Jasnya. ia berjalan perlahan ke arah ruang VVIP tersebut sambil memeriksa sekeliling.
...**********...
__ADS_1