My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Epsiode 51: Lingkaran Waktu


__ADS_3

Selesai Presentasi, Ayu dan timnya berjalan menuju ruangan mereka untuk memperbaiki Desain sesuai dengan koreksi yang di berikan Rey.


"Bu Ayu sehat?" tanya salah satu anggota magang sembari memberikan Ayu air putih.


Ayu terheran "Sehat.. Saya sehat kok, kenapa?"


"Saya pikir Ibu sedang sakit, sebab saat presentasi tadi Ibu tampak gugup dan Saya melihat tangan Ibu bergetar."


Ayu menunduk, ia mengepalkan tangannya di atas meja sambil membayangkan wajah Rey yang seperti sengaja meledeknya. "hisss! dasar orang tua itu!" geramnya berusaha mengontrol nafas.


Saat timnya sedang merombak Desain, Ayu pergi ke rooftop untuk menghirup udara segar. Ia menyandarkan tangannya di pagar pembatas sembari memandangi ponselnya.


"Kok nggak ada kabar sih?" risau nya memikirkan Bagas.


"Hai..." sapa Rey bersuara berat membuat Ayu terkejut.


"khm.. hai.." balas Ayu melarikan pandangannya. Ia bahkan bergeser dua langkah agar tak terlalu dekat dekat Rey. Mencium aroma farfu mnya saja sudah membuat seluruh tubuh Ayu gugup merinding.


"Saya ingin memperjelas hubungan kita." papar Rey secara gamblang. Hampir saja Ayu memukul dirinya sendiri untuk menyadarkan bahwa ini hanyalah mimpi.


"Hubungan Kita..?" sejak kapan lelaki luar biasa itu berubah? kenapa sudah sejauh ini?


Rey menggerakkan tangannya membenahi rambut Ayu. "hmm.."


Ayu menunduk mundur menjauhkan kepalanya, ternyata berharap cinta nya terbalas tak semudah yang di bayangkan. Dulu ia selalu mengira bahwa jika pun Rey menerimanya tidak akan canggung seperti ini. Namun ternyata Ayu melupakan satu hal bahwa Rey adalah Pria dewasa yang juga mempunyai hasrat.


"Jangan berpikir Saya akan memberikan pilihan. Kamu tidak berhak menolak karena Kamu lah yang memulai ini semua. Tinggalkan semua hal yang menyangkut Pria lain dan fokuslah hanya kepada Saya."


Lagi-lagi Ayu di buat tercekik oleh ludahnya sendiri. Pria di hadapannya itu benar-benar telah berubah 100 persen. "b..beri Saya waktu Pak.."


"Sudah berapa kali Saya bilang jangan menyebut dirimu begitu."


"Maaf.." Ayu memejamkan matanya saking tak kuat menatap raut wajah Rey yang begitu memabukkan pikirannya.


"Baiklah.. Saya akan memberimu waktu. Tapi ingat, Saya menunggu bukan untuk penolakan." ia melebarkan senyum lalu mengusap puncak kepala Ayu yang hanya tertunduk.


...~...

__ADS_1


Gelap menyapa, Tari membereskan kamarnya dengan pikiran kalut. Sejenak ia menatap koran yang waktu itu di temukan Bagas di dalam lemari Ibunya.


Teringat pula olehnya masa kecil Bagas yang tak pernah sekalipun bersikap ramah kepada Sang Ayah. Seolah ia tau kalau Ayahnya bukan hanya miliknya.


"Bagas....!" Ayu berseru dari depan pagar, di lihatnya lampu ruangan lantai dua yang masih menyala. Itu berarti Bagas sedang di rumah.


Tari yang mendengar panggilan itu pun segera turun dan membukakan pintu untuk Ayu.


"Bude, Bagas di rumah?" tanya Ayu.


"Ada, tapi dia nggak mau keluar kamar dari tadi pagi." raut wajah Tari tampak sedih. ia pun mengantar Ayu ke kamarnya Bagas.


Ayu membuka saja pintu kamar itu dan di lihatnya Bagas tengah meringkuk di balik selimut.


"Bagas..? Kamu sakit?"


Mendengar suara yang tak asing itu, Bagas lantas membuka selimutnya dan melihat ke arah Ayu.


Ayu duduk di tepi ranjang Bagas sembari memberikan catatan pelajaran tadi siang. "Kamu kenapa..?" bisik Ayu, ia mengusap lembut kepala Bagas.


"Kamu merindukan Ibumu?" bisik Ayu lagi, ia mengamati tatapan kosong di wajah Bagas.


"Bisakah Kamu melupakan ku?" akhirnya Bagas membuka suara.


Ayu di buat bingung, kenapa semua orang yang ia temui hari ini terasa membingungkan. "Kenapa? Apa Aku berbuat salah? Keluargaku menganggumu? atau Kamu sudah menemukan gadis lain..."


Ocehan Ayu terhenti saat Bagas bangkit dan memeluk tubuhnya sambil menangis sesenggukan. Di rebahkan wajahnya ke bahu Ayu sembari menumpahkan kepedihan yang tak masuk akal ini.


"Kenapa harus Kamu Ayu..." tangisnya semakin terdengar hebat.


"Kenapa sih? memangnya Aku kenapa?"


Bagas mengangkat kepalanya dari bahu Ayu, di tatapnya mata gadis itu dengan pandangan yang amat dalam.


"Maaf, Aku nggak tau semua nya akan begini. Aku tau yang ku lakukan selama ini salah, tapi mau bagaimana? Aku terlanjur mencintai mu."


Ayu bertambah bingung saat itu, ia berpikir perubahan sikap Bagas mungkin saja ulah keluarganya yang tak menyukai kedekatan mereka.

__ADS_1


"Tenanglah.. tenangkan diri mu. Kalau Kamu belum bisa cerita tidak apa-apa." Ayu memberikan rangkulan hangat agar Bagas bisa lebih tenang.


...~...


Di taman belakang rumah, Fani dan Dika tengah duduk berdua menikmati angin malam. Bukan tanpa alasan Fani duduk di sana, Dika lah yang meminta waktunya sejenak untuk menanyakan hal menyangkut Bagas.


"Kak..." panggil Dika ragu-ragu.


"hmm?" Fani menoleh dengan tatapan lembut.


"Pernahkah Kakak berpikir Ayah mempunyai istri selain Evi?"


Fani tersentak, angin apa yang membuat adik laki-lakinya itu tiba-tiba membicarakan sang Ayah.


"Kenapa? Kok tiba-tiba bertanya begitu?"


Dika mengecapkan bibirnya, haruskah ia menceritakan fakta bahwa mereka mempunyai saudara lain. Seandainya Bagas dan Ayu tidak berhubungan dekat, maka hal ini bisa saja di anggap masa bodoh oleh Dika.


"Seandainya, ada seseorang yang muncul dan mengaku anak dari Ayah kita. Apa yang akan Kakak lakukan?"


"Tergantung.. Jika dia berniat jahat atau ingin menjadi benalu maka Kakak akan mempertanyakan kejelasannya. Namun jika dia tak berniat menganggu, misal dia hanya ingin mengatakan kalau Kita saudaranya ya Kakak biarkan saja. Siapa juga yang mau perduli dia saudara Kita atau bukan." jawaban itu mengalir begitu saja dari mulut Fani. Seolah memang wajar jika yang di ucapkan Dika terjadi karena memang seperti itulah Ayahnya yang selalu berpindah.


"Kenapa? apa belakangan ini ada yang mengaku sebagai saudara Kita?" tanya Fani lagi. Melihat kerisauan adiknya Fani bisa menebak pastilah ada yang tidak beres.


"Bagaskara.... Kakak tau kan siapa dia?"


"Tau, teman dekat Ayu kan?" sahut Fani tak menaruh kekhawatiran.


"Siapa yang menyangka, ternyata dia anak dari istri Ayah yang lain."


"Apa?" bulu kuduk Fani langsung merinding seketika. Bagaimana mungkin mereka lagi-lagi terlibat dengan masa lalu Sang Ayah.


Tak hanya Fani, Ayu yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka pun sama terkejutnya hingga ia menjatuhkan tasnya ke tanah.


"Nggak mungkin..." lirihnya terdengar oleh Dika dan Fani yang langsung menoleh.


...***********...

__ADS_1


__ADS_2