
Ember berisi air pel yang di tabrak Laura memercikkan sedikit air ke kaki orang yang tengah menata loker itu.
"Ya ampun! maaf, maaf, Aku nggak sengaja." ucap Laura tergesa-gesa.
"Santai aja kali.." sahut si penata loker yang tak lain adalah Amanda. ia menepuk bahu Laura dan tersenyum.
"Kamu ternyata. kirain siapa tadi, sorry banget ya Man.." pinta Laura sekali lagi lalu segera berlari memasuki toilet.
Amanda mengusap tengkuknya sambil menghembuskan nafas panjang. "hampir saja ketahuan.." gumamnya tampak lega.
...-...
...-...
Tak pernah mendapat nilai bagus saat di kelas, bukan berarti tak punya keunggulan di bidang lain. Bagas yang didapuk menjadi pemain utama tim basket mampu meraih juara satu di pertandingan pertamanya.
"Aku menang..." ucapnya berlari ke arah Ayu dengan piala di tangannya. senyum lebar serta mata berbinar ia suguhkan pada pendukung utama nya itu.
Kaki dan pandangannya memang ke arah Ayu, namun tangannya menyambut hangat tangan para gadis yang bersorak menyemangatinya.
"ck.. dasar anak itu." gumam Ayu tertawa kecil.
"Aku menang, jangan lupa tepati janjimu." ucap Bagas menagih janji Ayu kemarin.
"Baiklah... selamat atas kemenangan pertamamu."
"mm.." Bagas menggelengkan kepalanya "ini bukan yang pertama, Aku sudah sering menang sebelumnya." wajahnya tampak menyombong saat itu.
"Tapi di sini pertama kan?" pungkas Ayu.
"Jika Kau mengatakan begitu.. akan Ku terima hahahha.."
Beberapa hari sebelum pertandingan, Bagas meminta Ayu membuat janji kalau dirinya menang akan membawa Ayu menemui Ibunya.
Sang ibu lah yang menantang Bagas untuk mempertemukannya dengan gadis yang selalu jadi topik pembahasan mereka di rumah. dan Ayu menyetujui itu agar Bagas bersemangat dalam pertandingannya.
...-...
...-...
Di sisi lain, Rey terbangun dengan mata berkaca-kaca. tak biasanya ia tertidur saat jam kerja, kondisi itu membuat Dimas tak tega membangunkannya mengingat dia habis di hukum bersama Ayu tadi malam. padahal jelas ia tak terlibat dengan kasus Ayu di kampus.
"Berapa lama Saya tertidur Pak?" tanya Rey gelagapan.
"Sekitar 40 menit, kenapa?mau kubawa kan kasur? tampaknya meja itu kurang nyaman." Dimas tersenyum manis dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Saya izin sebentar Pak." ia beranjak dari kursinya bahkan sebelum Dimas memberikan Izin.
"wah..! minta di potong gajinya dia!" rutuk Dimas kesal.
Rey mengendarai mobilnya menuju ke makam Mamanya, ia memimpikan sang Mama yang menangis tersedu-sedu meminta pertolongan. entah kenapa mimpi itu terasa nyata sekali hingga dada Rey masih terasa sesak sampai saat ini.
...-...
...-...
Sesampainya di tempat peristirahatan sang Mama, Rey memberhentikan mobilnya di kejauhan. tiba-tiba ia merasa berada di tempat asing saat melihat hamparan rumput hijau yang biasa ia lihat kini berubah jadi hamparan gurun tandus yang tampak kacau.
Bahkan ia tak dapat melihat kokohnya pohon bunga Flamboyan sejauh mata memandang. perasaannya mulai gusar, tangannya pun gemetar mengeluarkan keringat dingin.
"Nggak.. mungkin Aku salah tempat, ya.. pasti Aku salah tempat."
Ia menggerakkan mobilnya maju beberapa meter untuk memastikan bahwa ini bukan lokasi indah yang biasa ia datangi.
Masih juga belum yakin, ia maju lagi beberapa puluh meter hingga ia menemukan pohon flamboyan berwarna merah itu terhampar layu di arah barat. akarnya menjuntai di selimuti tanah dan rerumputan tempatnya selama ini berdiri tenang.
"Apa ini? dimana Aku? kenapa Aku tidak bisa menemukanmu Ma.." butiran bening mengalir di pipinya, hatinya sudah yakin bahwa ia di tempat yang benar. namun melihat kekacauan tempat itu pikirannya keras meyakinkan bahwa itu bukan tempat yang ia kenal.
"Ma.." panggilnya sembari melajukan mobilnya lagi.
Hamparan rumput indah yang musnah, bunga Flamboyan berguguran, serta ada Ben di sana. bukankah sudah cukup jelas bagi Rey untuk mengerti bahwa dia tidak salah tempat? cukup jelas bagi Rey kemana hilangnya tempat peristirahatan sang Ibunda.
Kesedihan yang menggerogoti membuat Rey di kuasai oleh amarah. hanya ada satu cara agar iblis itu berhenti mengusik kehidupannya.
"Aku sudah bersumpah kan? mengirim mu ke tempat yang sama jika kau mengusik Mama!" ia menginjak pedal gasnya sekuat tenaga dan membiarkan mobil itu melaju lurus ke arah Papa nya.
BRRRAAKKK........💢
Hanya dalam hitungan detik, mobil Rey menabrak Papanya hingga terhempas beberapa meter.
...~~~~...
Setelah jam pelajaran mereka selesai, Bagas langsung menggandeng lengan Ayu untuk membawanya menemui sang Ibu.
"Sekarang? Aku belum ganti baju loh, mendingan Kamu antar Aku pulang dulu." badannya bau asam karena cuaca terik hari ini. malu dong mau menemui orang tua dengan penampilan seperti itu.
"Nggak perlu, Aku sudah nggak sabar memamerkan mu dan piala ini pada Ibuku." sahut Bagas mengangkat lengan Ayu dan piala secara bersamaan.
"Ingat satu hal, Aku tak pernah menganggap kita punya hubungan. jadi jangan mengatakan pada ibumu tentang itu."
Batas harus berdiri kokoh agar Bagas tak salah paham nantinya. ia takut Bagas akan mengatakan yang tidak-tidak di depan Ibunya nanti.
__ADS_1
"Tenang saja.. Aku hanya mengatakan pada Ibuku kalau Kamu itu spesial, jadi Ibuku pasti tak akan salah paham."
"Oke.. good." sahut Ayu tersenyum, ia mengatakan itu bukan karena tak mau memberikan peluang untuk Bagas. hanya saja ia takut Bagas kecewa jika nantinya ia tak bisa menerima perasaan itu sampai akhir.
Di atas motor, mereka berbincang dengan suara kuat karena angin cukup kencang saat itu.
"Apa yang kamu pikirkan saat naik motor bersamaku?" tanya Bagas.
"Seru.. Aku merasa sangat senang dan mungkin akan membeli motor sendiri nanti hahahha..." sahut Ayu sambil melambaikan tangannya menikmati hembusan angin kencang yang melaju melawan arah.
Bagas memandang wajah bahagia Ayu dari kaca spion. "mau tau nggak apa yang ku pikirkan saat naik motor dengan mu?"
"Apa??"
"Aku memikirkan lebih aman duduk di mana anak kita nanti. di depan menikmati angin, atau di tengah menikmati hangatnya dekapanmu hahahahah...."
Gombalan buaya memang beda, kalau pria biasa hanya akan membahas perasaan. eh si buaya malah menjabarkan masa depan dengan pe-de nya.
"Ya ampun pikiranmu Bagas..!" Ayu memukul helm Bagas sambil menertawakan khayalan suram itu.
"Sepertinya di depan saja deh, soalnya dia pasti mirip denganmu. suka kena angin hahahahah.."
"hahahahah.... Tega banget kamu anak kecil di biarin kena angin, masuk angin dong nanti dia. mendingan di tengah." sahut Ayu tak henti-hentinya tertawa.
"Berarti kamu setuju? baiklah.. besok pegang anak kita dengan hati-hati ya."
"Aku nggak bilang setuju ya! Aku cuma kasih saran aja."
"Ku anggap separuh setuju.."
"ihhh.." sungut Ayu tertawa geli.
Mereka sama-sama terbahak-bahak di atas motor itu, bahkan suara mobil yang lewat masih kala keras suaranya dengan suara tawa mereka.
Rasa bahagia seperti ini baru pertama kali di rasakan Bagas sebagai penjinak wanita. rasa bahagia yang menyatu dengan keasikan, tawa riang, serta perasaan berbunga yang tak kalah indah dari taman bunga edelweis di puncak gunung. baru kali ini ia merasa sebahagia itu hingga seluruh lelah dan bebannya menghilang begitu saja.
Pepatah orang jaman dahulu mengatakan, apabila kau tertawa bahagia sampai hampir kehabisan nafas, maka di waktu berikutnya kau akan menangis sampai hampir kehilangan nyawa.
Pepatah itu sepertinya berlaku untuk Bagas saat ini, ia terkejut hampir kehilangan nyawa saat melihat rumahnya ramai oleh orang-orang berbaju hitam dengan tatapan sendu dan sedih.
Bendera kuning bergoyang pelan di sisi pagar melambangkan seseorang baru saja berpulang. rangkaian bunga berjajar di pinggir pintu seolah mengantarkan kebahagiaan ke pemberhentian terakhir.
"Ibu..." lirih Bagas tak berdaya, piala di tangannya jatuh ke tanah membuat butiran debu ikut terbang bersama hentakannya.
...********...
__ADS_1