
Ayu menyibakkan rambut basahnya ke samping sembari menepuk-nepuk pelan menggunakan handuk. tampak lah olehnya Rey yang tengah berbaring di kursi santai yang ada di balkon, namun ia tak mengetahui kalau Rey melirik tipis kearahnya.
"waahh.. lelaki tampan memang selalu menyegarkan hehehe..." lirihnya cengengesan.
"Rasanya beban di kepala ku langsung hilang." ia menghirup udara dalam-dalam sambil memicingkan mata kearah Rey.
Psikolog di hadapan Rey menjentikkan jari ke hadapan wajahnya "ada apa? Anda seperti tidak fokus hari ini."
Lirikan Rey sontak berubah ke arah sang Psikolog, mata legamnya kali ini terlihat sangat berbinar.
"Bukankah udara hari ini terasa lebih segar?"
"hmm.. begitu kah? apa karena itu jantung anda seperti sedang menabuh drum?" Pria tua berkacamata itu mengangkat sebelah alisnya.
Rey meraba dada sebelah kirinya "entahlah." lirihnya tersenyum tipis.
...~...
"Bagas... bangun nak." panggil Ibunya Bagas dari luar kamar.
Bagas menggeliat, ia berusaha membuka matanya yang masih saling merekat.
"hmm.. Aku libur hari ini Bu." sahut Bagas sambil menguap lebar.
"Iya Ibu tau, Ibu bangunin kamu karena banyak pelanggan. Bude tari nggak masuk hari ini."
Bagas beranjak dari kasurnya, ia membuka pintu dengan langkah gontai karena nyawanya belum kumpul.
"hehe.. bantu Ibu ya, kamu nggak ada janji kan?" sang Ibu tersenyum pada putra semata wayangnya itu.
"Iya iya Aku mandi dulu ya." kepala Bagas mengangguk sambil senyum terpaksa.
Jujur saja, sebenarnya ia paling malas jika di suruh membantu Ibunya bekerja. bukan karena ia ingin santai saat hari libur, ataupun karena ia seorang anak yang tak berbakti. melainkan karena pekerjaan itu di sebuah salon.
Bukan ia tak bersyukur, ia hanya malu jika bertemu dengan ibu-ibu pelanggan yang selalu menjodohkan dirinya dengan putri mereka. walaupun ia hanya membantu memotong rambut, ia merasa pekerjaan itu kurang cocok dengan penampilan macho nya.
...~~~~...
Di hari libur yang membosankan, Ayu tengah melamun di kamarnya sambil membayangkan hendak melakukan apa hari ini.
"Haruskah aku ke kantor? sepertinya begitu hihihihi...." ia langsung bangkit dan mencari flashdisk yang akan di jadikan alasan untuk menemui Rey.
Namun sesaat kemudian mood nya berubah kala teringat akan janji yang ia buat untuk tidak menembus dinding yang ia dirikan sendiri.
__ADS_1
"Sadar Yu. ingatlah janji mu, katanya mau jual mahal sampai Pak Rey yang klepek-klepek duluan!" ucapnya menegur diri sendiri.
Namun dalam sedetik pikirannya sudah berubah lagi.
"eh tapi Aku kan cuma mau nganter flashdisk ini, nggak melanggar janji dong ya heheh" ia menyeringai seolah sedang berbuat curang dengan pikirannya sendiri.
Belum siap Ayu bersolek di depan cermin, Bagas sudah lebih dulu tiba di depan pagar rumahnya. tidak seperti sebelumnya, para petugas langsung mempersilahkan Bagas masuk karena sudah mencaritahu latar belakang Bagas.
"Cari siapa ya?" tanya Fani yang tengah bermain dengan anak kembarnya.
"Ayu..." jawabnya ragu, ia melipat alisnya karena merasa pernah melihat Fani sebelumnya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Bagas tanpa segan seperti teman sebaya.
"Dimana?" Fani malah bertanya balik.
Bagas memutar bola matanya, ia masih mengingat jelas wajah Fani yang tengah menangis sesenggukan waktu itu. tapi entah dimana dan kapan Bagas tidak mengingatnya.
"Entah lah, mungkin hanya perasaanku saja." ucapnya sembari mengangkat bahu.
Lalu Nurul pun muncul dari belakang dan bertanya "ada apa kak?"
"hei.. Aku juga pernah melihatmu!" celetuk Bagas saat melihat wajah Nurul yang juga familiar di ingatannya.
"Aku ingat betul kalian berdua menangis waktu. itu. sshh... tapi kapan ya." ia menggaruk kepalanya seolah berusaha mengingat momen samar-samar itu.
"Kak.. ini teman Ayu kan? apa dia nggak waras?" bisik Nurul pada Fani.
"Entah dek, sepertinya dia kurang." sahut Fani juga berbisik sambil memiringkan jari telunjuk di depan dahi.
"Bagas? kamu di sini?" suara Ayu memecah kebingungan mereka bertiga.
Mata Bagas langsung berbinar saat melihat Ayu sudah dandan cantik, ia bahkan mengira mereka telah menjalin kontak batin karena Ayu sudah bersiap. padahal kan Bagas belum memberitahu ia akan datang.
"Aku mau jemput kamu." sahut Bagas tersenyum lebar tak memperhatikan kedua kakak Ayu yang menatap aneh kearahnya.
"Jemput?" bingung dong Ayu, tadinya mau ke kantor untuk menemui pujaan hati eh malah di datangi Bagas.
Mau nolak nggak enak, tapi kalau di iya kan nggak jadi nebus rindu sama Rey.
"ee.. anu Bagas, Aku mau..."
"Mau kemana? Aku antar yuk.." potong Bagas, ia melangkah lebih dekat lagi kearah Ayu.
__ADS_1
Ayu gugup dan bingung, bagaimana caranya menolak ajakan Bagas tanpa membuatnya tersinggung.
"e.. Aku mau ini..ke tempat Gym, sendiri aja bisa kok heheh."
"Nge-gym? sama dong, aku juga niatnya mau ngajak kamu olahraga bareng." sahut Bagas melempar tatapan genit. ia tau itu hanya alasan Ayu saja, jadi ia mengarang cerita sekena nya.
Lagian ilmu Ayu tak cukup tinggi untuk mengelabui seorang pemain kelas atas seperti Bagas.
"halah.. ngarang Kamu ih. mending Kamu pulang aja. nggak usah maksa cuma gara-gara Aku nge-gym kamu mau ikutan juga. lagian kita di kampus kan udah sering ketemu..."
"Iya emang Aku ngarang. tau kenapa Aku ngarang? agar Aku bisa menghabiskan waktu denganmu." tegasnya menundukkan wajah sejajar dengan Ayu.
Fani dan Nurul yang sedari tadi mendengar mereka langsung terkejut. menyadari ada kedua kakaknya tak jauh dari mereka, Ayu langsung menggeret tangan Bagas pergi dari sana.
"Mereka pacaran?" tanya Nurul membulatkan matanya.
"Entahlah.. bukannya Ayu suka sama Pak Rey?" sahut Fani tak kalah tercengang.
Sambil berlari mengikuti langkah Ayu, Bagas terus tersenyum tak henti-henti. ia memandangi genggaman tangan Ayu di lengannya sembari membayangkan taburan kelopak bunga menghujani mereka.
"Kamu juga kangen sama Aku Yu? cepet banget larinya, nggak sabar ya mau naik motorku?" ujar Bagas percaya diri.
Setelah keluar dari pagar, baru Ayu menghentikan langkahnya.
"Lain kali kalau ngomong lihat situasi dulu Bagas..! telinga keluarga ku itu sensitif. nanti kamu bakal di obok-obok mau?!" Ayu sangat geregetan karena mulut Bagas seperti tak ada filternya.
"Di obo1k? apanya?"
"Semua nya.. jadi mulai sekarang jangan sering dateng kerumah paham? kalau mau ketemu telpon aja, nanti kita ketemuan"
"Aku nggak keberatan sih.. mau di obok-obok, di suwir-suwir atau di cincang juga pasrah asal bisa ketemu sama Kamu." ia mencela perkataan Ayu sambil mengedipkan sebelah mata.
"hhhuuuhhhhh.....!" Ayu berjongkok, ia mengacak-acak rambutnya karena kelakuan Bagas.
Lalu terpikir olehnya, belum genap tiga bulan Bagas menempel dan merayu nya tapi ia sudah merasa risih. risih karena takut tak bisa membalas dan membedakan perasaan Bagas tulus atau tidak.
Bagaimana dengan Rey yang bertahun-tahun ia kejar, ia rayu bahkan lebih dari seribu kali ia menyatakan cinta. bertahun-tahun ia menempel pada Rey walaupun terus di tolak mentah-mentah. jika Bagas yang baru sebentar saja sudah membuat risih, lalu bagaimana dirinya di mata Rey? sudah pasti lebih risih dan bahkan mungkin menjijikan.
"Apa aku benar-benar mundur saja?" pikirnya sembari membenamkan wajah di kedua lututnya.
Ia mendongak ke arah Bagas lalu bertanya
"jika ada seseorang yang mengejarmu, tapi kamu nggak ada rasa sama dia. gimana tanggapan kamu?"
__ADS_1
"Pertanyaan ini tentang Aku?" Bagas menunjuk dirinya sendiri, wajah ceria nya berubah menjadi murung seketika. apakah selama ini Ayu merasa terganggu oleh sikapnya?
...********...