My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 41 : Belum yakin


__ADS_3

Bagas menuntun Ayu ke gedung olahraga, para siswa sedang belajar di kelasnya masing-masing. jadi hanya ada mereka berdua di sana.


Tentu saja mereka terhitung bolos lagi hari ini, Ayu pun tak memperdulikan itu. kalau mengikuti pelajaran pun belum tentu otaknya akan nyambung.


"Apa yang membuat gadis cantikku menangis seperti ini hmm?" Bagas mengusap air mata yang membasahi pipi Ayu.


"Bisakah Aku menyandar di pundak mu? sebentar saja.." pinta Ayu, air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi wajahnya.


Bagas menepuk bahunya mempersilahkan Ayu bersandar.


"Dengan senang hati...."


Setelah membiarkan Ayu menangis sejenak, Bagas bertanya lagi.


"Sekarang bisa ceritakan apa yang membuatmu menangis?"


Ayu merasa bingung, Pria yang di sukai nya ternyata hanya memperalat dirinya untuk mendekati Kakak lelakinya. bagaimana dia akan menceritakan itu?


Terlebih ini mengenai perasaan Bagas, apakah dia akan baik-baik saja kalau menceritakan tentang Rey?


"Aku merindukan Ibuku...." akhirnya hanya kata itu yang mampu di ucapkan Ayu.


Pandangan Bagas langsung berpindah ke langit-langit gedung itu. "Terkadang Aku juga menangis saat merindukan Ibu."


"Maaf ya..." ucap Ayu tiba-tiba membuat Bagas menatapnya heran.


"Untuk apa?"


"Bisa nggak Aku minta waktunya di undur lagi?" pinta Ayu sembari meremas ujung jarinya.


"Kenapa? Kamu akan menolak ku? jika iya katakan saja sekarang, Aku tak akan..."


"Aku masih belum bisa memastikan perasaan nyamanku padamu, entah itu Cinta atau hanya sekedar nyaman karena Kamu selalu bersikap baik padaku. suasana hati ku sedang berantakan saat ini. jika Aku menerimamu sekarang, maka itu hanya sekedar pilihan karena Aku terdesak oleh waktu. tapi bukan berarti Aku menolak mu, karena mendengarmu mau membuka hati untuk gadis lain membuatku jadi gelisah... ah, entahlah. semoga Kamu mengerti apa yang ku bicarakan." ujarnya sembari tersengguk. ia tak yakin Bagas bisa mendengar jelas suaranya.


"Jadi Kamu meminta waktu nya di perpanjang, Tapi kamu tak berniat menolak ku karena tak terima kalau Aku membuka hati untuk wanita lain?" tanya Bagas memperjelas.


Ayu mengangguk, ia sangat bersyukur Bagas paham perkataannya barusan. walau raut wajah Bagas tampak masih bingung dengan maknanya.


"Bukankah itu sudah jelas Kamu akan menerimaku? lalu kenapa minta waktunya di perpanjang?"


"Tapi Aku nggak mau menerimamu saat Aku sendiri belum yakin." ucap Ayu mulai bersitegang.

__ADS_1


"Tapi Kamu sudah yakin tidak akan menolak ku?"


"Aku cuma takut menyesal menolak mu, maka nya Aku butuh waktu."


Masih bingung juga Bagas mendengar penjelasan itu. "baiklah.. Aku akan menunggumu. tapi jangan kelamaan, nanti ada yang mau masuk ke hati ku jadi nggak bisa karena terhalang olehmu hahahahahah..."


Yang penting 80 persen kemungkinan dia di terima, walaupun 20 persennya masih membingungkan.


...~...


Jam tugas Dika telah selesai, ia terburu-buru menuju basemen untuk menjemput seseorang. namun hal yang mengerikan tiba-tiba muncul di balik mobilnya.


Ya, hal mengerikan itu adalah Rey dengan tatapan tajamnya. "Bisa bicara sebentar?"


"Maaf, Saya buru-buru." tukas Dika, ia masih ingat dengan kelakukan menggelikan Rey semalam.


"Kamu harus meluruskan kesalahpahaman ini.." ujar Rey mendesak Dika.


"Kesalahpahaman yang mana?" tanya Dika lagi, ia bahkan tak berani bertatapan dengan Rey demi kesejahteraan masa depannya.


"Kalau kamu nggak masuk keruangan Pak Adit kemarin, pasti Ayu tidak akan salah paham! Saya baru menyatakan perasaan kemarin dan karena Kamu dia jadi salah paham. dia mengira Saya hanya main-main agar bisa mendekati mu.. aaarrrggg!!" Rey merasa jengkel karena bingung menyusun kata-kata agar Dika mengerti.


"Bukannya kemarin Anda mau berbuat asusila ke Saya? itu kan tujuan Anda mendekati Ayu? karena Anda ada rasa untuk Saya!" Dika menudingkan stetoskopnya ke arah Rey.


Wajah Rey yang sudah kusut malah bertambah ruwet saat mendengar celotehan Dika.


Dengan penuh harapan, Rey menceritakan sejelas-jelas nya kepada Dika. ia bahkan meminta bantuan Dika untuk berbicara pada Ayu agar mau menemuinya dan meluruskan kesalahpahaman ini.


"Saya benar-benar minta tolong kepadamu.." ucap Rey memelas.


Dika yang tadinya tak percaya pun jadi sedikit yakin. raut wajah Rey yang amat bimbang dan gelisah itu menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin Ayu tak salah paham lagi padanya.


"Baiklah, tapi Saya nggak janji. Anda tau sendiri kan bagaimana sifat nya?"


...~...


Karena ini hari kematian Sang Ayah, Bagas berniat datang untuk memberikan bunga mawar putih seperti yang di katakan mendiang Ibunya.


Selama ini Bagas tak pernah mendatangi makam Ayahnya karena masalalu yang tak bisa ia terima. namun karena Ibunya berpesan untuk sering mengunjungi, Bagas pun jadi sering datang walaupun sekedar memberikan bunga.


"Apa kabar?" tanya Bagas kepada batu nisan yang tampak usang itu.

__ADS_1


"Bersyukurlah Ayah, karena berkat Ibu Aku jadi sering datang ke sini. kalau bukan karena Ibu, Aku malas mendatangi..."


BRAKKK!!!


Tiba-tiba dari belakang seseorang memukul tengkuk Bagas menggunakan tas.


Bagas pun meringis kesakitan, ia menoleh dan berteriak kepada orang yang memukulnya.


"aiiss!! SIALAN! APA..." seketika rasa jengkel terganti oleh rasa terkejut saat melihat Laura lah yang memukulnya.


Laura pun terkejut melihat Bagas, ia sampai menjatuhkan tas nya ke tanah.


"Kamu?" ucap mereka bersamaan sambil saling menunjuk.


"Kamu ngapain di sini Lau?" tanya Bagas sambil mengelus-elus tengkuknya yang masih terasa sakit.


"Kamu sendiri ngapain? Kamu yang sering kasih...."


"Aku mengunjungi makam Ayahku." potong Bagas membuat Laura seketika bingung.


"Ayahmu? nggak salah?"


"Enggak lah, anak macam apa yang salah mengunjungi makam Ayahnya."


"Kamu sendiri? mengunjungi siapa di sini? Apa Kamu tinggal di sekitar sini?" Bagas menatap curiga ke arah Laura karena gelagatnya yang tampak aneh.


"Aku.. mengunjungi Kakakku." sahut Laura sembari berjalan ke arah makam Kakaknya.


Bagas menyipitkan matanya "Lalu kenapa tiba-tiba memukulku?"


"Maaf.. Aku pikir Kamu orang lain tadi.." Laura segera membalikkan badannya membelakangi Bagas.


Memangnya kalau orang lain kenapa? kok Laura langsung memukulnya? apakah orang lain yang di maksut Laura ada hubungannya dengan Ayu?


"Kalau sampai terbukti Kamu pelakunya, Aku tidak akan tinggal diam!" rutuk Bagas lalu beranjak dari sana.


Saat hendak pergi, Bagas merasa ada yang aneh dengan batu nisan Kakaknya Laura dan Ayahnya. bentuknya tampak sangat persis hanya saja milik Kakaknya Laura masih tampak baru. mungkin baru sekitar satu tahun.


Namun Bagas menepis itu dari pikirannya "mungkin hanya kebetulan." gumamnya.


...************...

__ADS_1


__ADS_2