
Pak Tio (Psikolog yang menangani Rey) tampak lega karena perubahan Rey terhadap perasaan lawan jenis ada peningkatan.
"Apa akhir-akhir ini dada Anda berdebar saat melihat wanita?"
Rey memikirkan apa iya deg-degan nya akhir-akhir ini pertanda ada perubahan? karena ragu dan malu, Rey pun berbohong kepada Pak Tio.
"Tidak.."
"Kalau memimpikan wanita?" Pak Tio mengangkat alisnya karena tau kalau Rey sedang berbohong.
"Mimpi yang saaangat emosional..." imbuh Pak Tio lagi sambil memperagakan gerakan memeluk seseorang.
"Tidak ada! sudah 90 menit kan? Saya permisi dulu ya, ada kerjaan." Rey langsung kabur dari ruangan itu dengan langkah terburu-buru.
"hahahah... baguslah, akhirnya dia merasakan hal seperti itu." gumam Pak Tio. ia sangat maklum kenapa Rey tak mau mengakuinya. karena Rey saat ini sedang di fase 'peningkatan' jadi wajar jika sikapnya malu-malu seperti anak remaja yang baru pubertas.
Rey duduk di sebuah bangku sambil mendekap tas nya erat-erat. tak jauh dari sana ada Rianti dan cucu cucu nya yang tengah bermain.
Melihat wajah bingung Rey, Rianti pun menghampirinya. siapa tau ada kegusaran yang bisa di bantu, pikir Rianti.
"Rey, kenapa melamun?" tanya Rianti, ia duduk di sebelah Rey sambil tersenyum.
"Ibu, maaf ya Saya numpang duduk sebentar."
"Santai aja dong, anggap aja rumah sendiri. mungkin di kantor hubungan kita sebatas rekan, tapi kalau di rumah ini, siapapun itu pasti Saya anggap saudara."
Rey bertambah sungkan mendengar itu, kenapa orang asing malah terasa seperti keluarga? sedangkan keluarga sendiri melebihi orang asing.
Ia menatap Dimas di kejauhan yang tengah asik bermain dengan kedua anaknya. tawa riang mereka membuat Rey penasaran seperti apa rasanya memiliki keluarga harmonis.
"Saya iri sama Pak Dimas.." ucapnya membuat Rianti tertegun.
"Karena jabatannya?" sahut Rianti.
Rey menggeleng pelan "Karena dia memiliki orang tua yang perduli, dia punya keluarga yang hangat serta karena dia 'normal' "
"Kamu juga punya.." Rianti menepuk dadanya, selama ini ia benar-benar telah menganggap Rey sebagai keluarga.
"Benar.." senyum Rey merekah saat membayangkan betapa perduli keluarga Rianti padanya.
"Jadi selama ini kamu tidak menganggap Saya?"
"Lebih dari itu, Saya sangat berterimakasih atas semua kebaikan Anda. tapi tetap saja, terkadang Saya merasa kenapa orang lain? kenapa bukan keluarga Saya yang bersikap begini?"
Rianti mengelus pelan pundak Rey, melihat kemalangan anak-anak seperti Rey mengingatkan Rianti pada anak-anaknya dahulu.
"Semua orang punya kelemahan dan titik paling rendah di hidup mereka. Orang di luar sana melihat Dimas pasti sangat iri dan kagum. lahir dari keluarga berada, serta pewaris tunggal orang tuanya. pendidikan, kasih sayang, perhatian semua kami berikan untuknya. tapi siapa yang menyangka? justru dia mendapatkan luka dari orang lain, dia dikhianati dalam dua pernikahan sebelumnya. siapa yang bisa membayangkan rasa sakitnya? terlebih berita itu menyebar ke seluruh media hingga membuatnya mengurung diri selama dua tahun dari seluruh aktivitasnya."
__ADS_1
"Maka dari itu, bersyukurlah kalau Kamu merasakan pahit di awal karena sudah pasti kebahagiaan akan menunggumu kemudian hari. justru khawatir lah kalau bahagia mu datang terlalu cepat." sambung nya lagi menyemangati Rey.
"Tapi Saya sudah 28 tahun hidup, apakah bahagia Saya tak terlalu lambat?"
Rianti menyipitkan matanya, susah memang kalau menyemangati anak 'tua' yang tengah putus asa.
"mmm.. mungkin bahagia itu sudah ada di sekitarmu, hanya saja Kamu yang belum bisa mengenalinya."
"Ma.. minjem kamera Mama dong." potong Ayu menyela obrolan mereka. ia duduk di kursi depan Rianti sambil mengatur nafas karena berlari dari kamarnya saat Bagas mengatakan dapat petunjuk penting.
Sementara Rey yang masih terngiang oleh nasehat Rianti seketika langsung ingat mimpi nya tadi.
"apa maksut mimpi konyol tadi? masa iya...hiiihh..."
Rey menggoyangkan bahunya sambil menatap Ayu dengan amat risih.
"Mama cek dulu ya, soalnya kemarin kebanting. nggak tau deh masih bisa atau nggak."
"Biasa aja dong lihatnya.. naksir tau rasa!" ucap Ayu berbisik saat Rianti beranjak dari sana.
"Kalau Saya naksir kenapa? masalah?" sahut Rey pasang wajah songong lalu pergi dari juga dari sana.
Ayu sampai menepuk telinganya dua kali. "salah denger nggak sih?" gumamnya tercengang dengan pipi merah merona.
...*******...
Dari dalam mobil, Ayu dan Bagas tampak diam-diam mengikuti kemana Laura pulang.
"Aku melihat hal yang mencurigakan darinya." sahut Bagas yakin.
"Kapan? apa Kamu yakin nggak salah lihat?"
"Yakin." Pandangan Bagas tak teralihkan sedikitpun dari Bus yang di tumpangi Laura agar mereka tak kehilangan jejak. ia bahkan menghafal plat Bus tersebut karena banyak kendaraan serupa yang berlalu lalang.
Ayu pun menghentikan mobilnya saat melihat Laura turun di halte. "Kalau ternyata dugaan Kita salah gimana?"
"Ya cari tersangka lain heheh.." Bagas terkekeh, satu-satunya bukti kuat siapa pelakunya hanyalah jika mereka menemukan siapa pemilik spidol mini itu sebenarnya.
Mobil mewah berwarna merah, siapapun yang mengenal Ayu pastilah tanda kalau mobil itu milik Ayu. begitu juga dengan Laura, ia diam-diam melirik ke arah mobil merah yang parkir tak jauh dari sana.
Tak penasaran, Laura hanya tersenyum tipis di ujung bibirnya lalu segera menyebrangi jalan. "Ternyata orang pintar tak selalu pintar." gumamnya sembari melepaskan earphone di telinga.
"Sekarang apa? Kamu mau kita masuk ke Kos-annya?" tanya Ayu.
"Kita ketahuan." ucap Bagas.
"Hah?"
__ADS_1
Melihat senyum tipis Laura tadi Bagas tau bahwa Laura menyadari keberadaan mereka.
"Lain kali pakai mobil yang belum pernah di bawa ke kampus saja." ujar Bagas. walaupun mereka ketahuan tapi Bagas masih tetap tenang.
Namun lain dengan Ayu yang panik, bagaimana kalau Laura menanyakan itu besok?
"Gimana dong? Aku harus bilang apa kalau besok Laura bertanya?"
"Kalau dia bertanya, jawab saja cuma kebetulan dan berpura-pura lah tidak tau apa maksudnya. tapi kalau dia tidak bertanya, 85 persen dia pelakunya."
"Apa kamu nggak ingat? mungkin dia teman masa kecil mu?" imbuh Bagas lagi, mereka benar-benar buntu sekarang karena tak bisa menemukan petunjuk apapun.
"Apa mungkin...."
"Apa?" tanya Bagas sangat penasaran, sampai ia tak sadar tengah menatap wajah Ayu dari jarak dekat.
Ayu mengalihkan pandangannya, dengan perasaan gugup ia meraba layar kontrol di depan untuk membuka kaca mobilnya.
"Pengap ya.." ucapnya terbata.
"Omaigosh! Kamu gugup?" Bagas malah tambah menggodanya.
"Gugup kenapa? nggak kok biasa aja."
tuk..tuk..
Tiba-tiba Polisi datang mengetuk kaca mobil Ayu. "Selamat siang, Maaf Anda kami tilang karena parkir di bahu jalan." terang Pak polisi sambil menunjuk plang bertuliskan di larang parkir.
"Tapi Pak..."
"Ada SIM nya?"
"Ada Pak!" sahut Ayu semangat, ia merogoh dompetnya namun sial nya ia lupa kalau surat-surat penting ia pindahkan ke dompet yang baru, dan ia lupa membawanya.
"Di rumah...." Ayu memasang tampang melas.
"STNK?"
"heheh.." Ayu menyeringai, bisa-bisanya ia melupakan SIM dan STNK padahal biasanya barang tersebut tak pernah keluar dari tasnya.
Tak bisa berkutik lagi, ia pun merelakan mobilnya di bawa ke kantor polisi. di pinggir jalan raya yang ramai itu mereka saling menatap kosong.
ffftt...
Tiba-tiba saja mereka merasa geli dengan kejadian hari ini.
"Mau es krim? Aku yang traktir."
__ADS_1
"Gass.." sahut Ayu berjalan mendahului Bagas sambil mengayunkan tasnya.
...********...