
Riuh suasana kampus seketika hening. hanya suara angin saja yang terdengar saat itu.
Suara Bagas yang menggelegar langsung membuat semua orang manatap ke arah nya. ada yang terkejut sambil menutup mulutnya, ada yang hampir terpeleset karena menghentikan larinya, ada pula yang menumpahkan gelas jus karena syok.
Sedangkan Ayu, bola matanya hampir melompat keluar di sertai denyut jantung yang bergetar tak beraturan. tangannya bahkan masih di angkat ke atas seperti masih memegang dahi Bagas tadi.
"Bagas...!" bisik nya bingung, ia pikir Bagas sedang melantur hingga bertingkah ngawur.
"Kamu pasti bingung, Aku ngerti kok."
"Apa yang..."
Lagi-lagi Bagas memotong perkataan Ayu.
"Satu minggu, Aku kasih kamu kesempatan satu minggu untuk memikirkannya. kalau lewat dari satu minggu Kamu nggak menjawab berarti Aku harus membuka hatiku untuk gadis lain."
"Satu minggu?" tanya Ayu terbata, kaki nya gemetaran tak kuasa lagi rasanya berdiri lebih lama.
"hmm.. kelamaan ya?" ia akan sangat bersedia jika harus mempercepat tempo nya. ternyata hanya membutuhkan waktu tiga bulan bagi seorang buaya untuk tunduk kepada mangsanya.
"Ingat.. satu minggu." bisik nya sambil menjentikkan jari di depan wajah Ayu. kemudian ia beranjak menuju ke arah UKS.
fffuuuhhhh....
Ayu melepaskan nafas yang sedari tadi ia tahan karena mendapat pernyataan cinta darurat. satu minggu? bukankah itu terlalu cepat.
"ciiiee....." ejek Laura dari belakang sembari menyenggol pundak Ayu.
"Bentar lagi kita di traktir nih, pajak jadian hahahhaha..." timpal Amanda tertawa cekikikan.
Bukannya salah tingkah atau pun malu-malu, pandangan Ayu malah tertegun pada jaket hitam yang di kenakan Amanda. namun Amanda memakai jaket itu di balik, walau begitu Ayu masih bisa mengenali jaket tersebut lewat garis-garis putih di bagian lengannya.
Amanda merupakan salah satu siswi paling beruntung yang bisa masuk ke Universitas lewat jalur beasiswa. orang tuanya membuka restaurant kecil-kecilan yang menyediakan berbagai jenis olahan ayam.
Jangankan untuk membayar uang kuliah, menggaji satu karyawan saja mereka masih kewalahan. itu sebabnya Amanda selalu membantu Ayahnya mengantar pesanan jika ada waktu luang.
Ia selalu mengantar pesanan menggunakan jaket hitam yang mana di bagian belakangnya tertulis nama dan alamat restaurant mereka guna menarik pelanggan. itu sebabnya Amanda selalu menyembunyikan jaket itu saat hendak memasukkannya ke dalam loker, ia takut teman-teman nya mengetahui tulisan di jaket itu dan mungkin saja mereka akan mengucilkan Amanda karena hanya anak pemilik restaurant ayam.
Dan baru kali ini Amanda memakai jaket itu di depan Ayu, tak salah jika Ayu langsung curiga karena memang jaket itu sama persis seperti yang di gunakan pelaku yang selalu meneror Ayu.
...-...
...-...
Jam makan siang pun tiba, dengan niat hati mendiskusikan jaket hitam tadi Ayu datang ke UKS dengan sepiring nasi yang ia bawa dari kantin.
"Wah.. sepertinya lebih cepat dari perkiraan ku." ucap Bagas sambil menatap Ayu yang tertunduk malu.
"Aku ke sini bukan untuk menjawab itu!" rutuk Ayu kesal, wajahnya bersemu walau alisnya mengkerut.
"Lalu?"
"Aku melihat Amanda memakai jaket itu.." Ayu menyuapkan sesendok nasi untuk Bagas tanpa bertanya dia mau makan atau tidak.
__ADS_1
Dan Bagas pun menyantap suapan itu tanpa penolakan "mm.. Aku tau itu, memang dia pemilik jaket itu." sahutnya sambil mengunyah.
"Kamu tau? terus kenapa diam saja? sejak kapan Kamu tau?"
"Tapi bukan dia pelakunya, pelaku yang asli sengaja memakai jaket itu tanpa sepengetahuan pemilik untuk membingungkan kita."
"Terus siapa dong pelaku aslinya?" lanjut Ayu sembari memasukkan suapan ke dua ke mulut Bagas.
"Aku mencurigai satu orang, tapi buktinya belum cukup kuat."
"Sejauh apa kamu menyelediki ini? kenapa Aku malah tidak tau apa-apa." Ayu merasa dirinya malah lalai dalam kejadian ini.
"Lebih baik kamu tidak tau apa-apa untuk saat ini, kalau sudah pasti orang yang ku curigai pelakunya. Aku akan segera memberitahumu. btw, kamu menyuapiku sebagai tanda..."
"NGGAK! nggak ada tanda apa-apa, lagian kan belum satu minggu. Aku masih punya waktu 7 hari dari sekarang kan?"
Senang mendengar kata-kata itu, makna nya Ayu akan mempertimbangkan pernyataan Bagas tadi.
"Kalau orang lain lihat Kamu menyuapiku, mereka akan berpikir kita sudah jadian." bisik Bagas tersenyum kecil.
"Jadian apaan... perawat rumah sakit jiwa tiap hari menyuapi pasiennya nggak ada tuh yang mengira mereka pacaran."
"Rumah sakit jiwa? Kamu menganggap ku gila?"
"Aku yang gila.." tukas Ayu menghela nafas.
Sampai sejauh mana kewarasannya akan bertahan karena terhimpit situasi di antara Pria yang mengungkapkan cinta secara blak-blakan dan Pria yang selalu membuat detak jantungnya kelabakan.
...~...
Hari ini Ayu lebih terlihat seperti tersangka dari sebuah kasus kriminal karena terus melarikan diri dari Bagas. ia bahkan meminta izin saat jam pelajaran ke dua hendak di mulai dengan alasan kepala nya pusing dan tak sanggup mengikuti sesi pelajaran.
[Kamu melarikan diri?]
Bagas mengirimkan pesan di sertai beberapa emoji tersenyum gemas.
Ayu tak membalas, ia hanya membuka pesan itu kemudian menutup ponselnya.
"bagaimana ini?" lirihnya bingung.
[Waktu mu tinggal 6 hari...] tulis Bagas lagi sambil tertawa kecil.
Lucu rasanya melihat Ayu tiba-tiba kelimpungan karena di tembak secara tiba-tiba.
Sementara Ayu sendiri masih di selimuti rasa bimbang. ia tak tau pasti apakah perasaannya kepada Bagas selama ini hanya sebatas teman, atau lebih?
"ihhhh.. gimana caranya bisa tau Aku cinta atau nggak sama dia!" rutuk Ayu menggaruk kepalanya.
Karena bolos pelajaran, Ayu memilih untuk ke kantor saja sekalian melihat para anggota magang yang akan ia bimbing nantinya.
...~~~~...
Dimas meluncurkan puluhan Karyawan senior untuk mendampingi para pekerja magang yang baru bergabung.
__ADS_1
Mereka semua berkumpul di salah satu ruangan untuk di kenalkan pada mentor masing-masing.
Dimas selaku pimpinan perusahaan duduk di atas panggung di dampingi Riko sebagai Direktur nya. tak lupa para petinggi juga mendampingi Dimas untuk memberikan pendapat dan masukan khusus.
"Setiap ada perekrutan baru Aku selalu teringat istri ku." gumam Dimas senyum senyum sendiri.
Riko yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepala.
"Dasar bucin kadaluarsa!" rutuknya memicingkan mata.
"Baiklah, kita mulai pembagian kelompok nya. perhatikan nama Divisi masing-masing, Saya akan sebutkan nama mentor kalian."
Pembagian kelompok tersebut pun tak lepas dari riuhnya suasana, ada yang merasa kecewa karena masuk ke Divisi yang tak sesuai. ada pula yang kegirangan karena mendapatkan posisi yang di inginkan.
2 jam berlalu....
Ayu kini sudah berdiri di ruang Desain interior bersama para karyawan magang.
"Perkenalkan ini Ayu, yang akan menjadi mentor kalian selama dua bulan ke depan." ucap Rey dengan gagahnya hingga membuat mata wanita terpana ke arahnya.
Salah satu karyawan senior membagikan selembar kertas kepada masing-masing orang.
"Jika ada sesuatu yang belum di pahami, kalian bisa diskusikan langsung dengan Ayu." imbuh Rey.
"Dan jika salah satu kalian ada yang rapuh, Ayu siap memberikan sandaran." celetuk karyawan senior itu terkekeh.
fffttttt... Rey berusaha keras menahan tawanya. ia tak menyangka masih ada yang ingat dengan perkataan itu.
"Awas kalian..!" rutuk Ayu menatap tajam karyawan berkaca mata dan Rey yang menahan tawa.
"Ini, pakai selama Kamu berada di lingkungan kantor agar mereka mudah mengenali mu." Rey memberikan kartu tanda pengenal bertuliskan MENTOR dan nama Ayu di bagian bawah kartu.
...-...
...-...
Di saat semua urusan sudah beres, Ayu naik ke lantai paling atas untuk menikmati pemandangan.
Matahari yang hampir turun menyentuh ufuk barat memberikan kesan sejuk dan hangat. Ayu menyeruput kopinya perlahan sembari memejamkan mata.
"Jangan kebanyakan minum kopi, nggak baik untuk lambung." Rey mengambil cup kopi milik Ayu dan menggantikannya dengan susu caramel.
"Ngantuk..." sahut Ayu tanpa melihat ke arah Rey. mata nya memang tampak sayu dan lelah.
Rey menyandarkan punggungnya di pagar rooftoop sembari menatap Ayu. "ada masalah?"
Ayu mengangguk, helaian rambut menempel di pipinya karena tersapu angin.
Tiba-tiba Jantung Rey berdegup kencang saat memperhatikan wajah gadis manis yang selalu mengatakan cinta itu.
Tangannya bergerak membenahi helaian rambut yang menganggu wajah Ayu.
"ini pasti mimpi..." batinnya.
__ADS_1
Mimpi yang terus terulang, mimpi indah yang membangkitkan detak jantung nya. Rey memegang tengkuk Ayu perlahan dan mendekatkan wajahnya.
...************...