My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 56: Pucat Pasih


__ADS_3

Alisha Rania Laura. Bagas memberitahu pula mama lengkap Laura yang memiliki kesamaan dengan nama saudari Ayu yang lain.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Ayu mengerti bahwa dia adik kandung Meilina yang dahulu sempat menganggu Nurul. Apakah ini semua? kenapa semua seperti terulang kembali? bukankah hanya orang-orang yang bersalah yang akan di hukum? lalu kesalahan apa yang membuat mereka pantas menerima ini semua?


Ayu membawa Laura ke atap gedung kampus untuk menanyakan apa alasannya melakukan teror tak masuk akal itu.


"Kenapa Yu?" tanya Laura tanpa raut wajah bersalah, ia meraba pergelangan tangannya yang sedikit pegal karena genggaman tangan Ayu terlalu kuat.


"Aku tau semua nya!" ucap Ayu jengkel, ia menatap tajam wajah saudara tirinya itu.


"Apa..?" Laura tampak ragu, ia tak mengerti apa yang di katakan Ayu.


"AKU TAU SEMUANYA!" teriak Ayu tak tahan lagi. ia menghembuskan nafas sejenak untuk mengatur rasa marah yang membuncah.


"Aku tau Kamu saudara tiri ku, dan Kamu kan yang selama ini meneror ku? Kamu kan yang mengatakan akan mengungkap asal-usul ku di papan tulis? Selama ini Kamu tau semua nya! tapi Kamu sengaja membuat permainan bodoh ini kan?!" tukas Ayu menuding wajah Laura, ia sangat ingin menghancurkan wajah gadis itu rasanya.


Laura berdecih, ia bahkan menahan genangan air mata hingga kedua matanya memerah. "Kamu salah Ayu.. kenapa Kamu bilang tau semuanya? Kamu.. tidak tau apa-apa!" ia tertawa sinis, tatapannya yang legam membuat wajah Ayu menimbulkan ribuan pertanyaan.


"Jika memiliki saudara beda Ibu dengan Ayah yang sama, itu bukan saudara tiri nama nya." ujarnya pelan seolah sengaja menyayat perasaan Ayu.


"Apa maksudmu?" dengus Ayu tak mengerti.


"ch.. Saudara tiri? Tidakkah Kamu penasaran kenapa nama depan kita sama?" ucap Laura mengulum senyum tipis, ia memandangi wajah polos Ayu yang selama ini tak tau apa-apa.

__ADS_1


"Aku juga anak kandung Ayah.. itu sebabnya dia memberiku nama yang sama dengan saudariku yang lain hahahahahaha..."


"Jangan bicara omong kosong! Ayahku meninggalkan Kami dan menikahi Ibumu yang seorang janda anak tiga! Kami semua tau itu." tegas Ayu amat yakin.


Laura terkekeh pelan, senyum bengisnya bahkan makin melebar mendengar perkataan Ayu barusan.


"Kamu salah besar Ayu. Menurutmu kenapa Ayahmu memilih Ibuku? Selain mereka saling mencintai, mereka juga memiliki Aku. Itu sebabnya mereka menikah dan meninggalkan kalian. Pasti Ayah sangat muak dengan kalian, makanya dia memilih kami hahahaha..."


"ch..! Begitu bangga Kamu terlahir sebagai anak di luar nikah? Yakin sekali kamu bilang kalau Ayah lebih memilih kalian? Tidakkah kalian tau Ayah mempunyai istri lain?" bisik Ayu menekan kalimatnya. Apa yang bisa di banggakan dari seorang anak yang lahir di luar nikah? begitu gamblang Laura menjunjung perbuatan kelam Ibu dan Ayahnya.


"Tentu saja Aku tau, Aku tidak sebodoh dirimu Ayu. Bagas kan? saudara kita. hahahahahahah.... bagaimana hubungan kalian? terjebak cinta dengan saudara sendiri. Memalukan."


Ayu tak berkutik mendapat cacian itu, karena sudah terbukti Bagas bukan saudara kandungnya. Jadi ia tak begitu tersinggung, hanya saja ia terkejut darimana Laura tau kalau Bagas ada hubungannya dengan Ayah mereka?


"Ohh.. itu sebabnya Kamu meneror ku dengan ancaman akan mengungkap asal-usul ku? tau apa yang membuat kita berbeda? Aku terlahir karena cinta, sedangkan Kamu terlahir di atas tangis Kami semua!" Ayu tak perduli lagi kata-kata nya membuat perasaan Laura terluka, yang jelas ia sangat menyayangkan tindakan Laura.


Raut wajah sinis Laura berubah datar, ia bingung dengan tuduhan Ayu barusan.


"ahh.. Aku hampir lupa, kenapa Kamu menuduhku atas teror papan tulis itu?"


"Karena Kamu iri denganku. Kamu yang mengetahui asal-usul ku! Kamu merasa tidak adil dengan nasib kita yang jauh berbeda. itu sebabnya Kamu melakukan itu kan!" tuding Ayu lagi.


"Hei, dengar.. Aku memang iri padamu, Kamu kaya, pintar dan sangat populer. Aku benar-benar iri atas itu semua. Aku bahkan berharap Kamu merasakan hidupku yang sampai saat ini susah! Tapi apa untungnya Aku mengungkap itu semua? Aku memang membencimu! Tapi membongkar masalalu mu sama saja dengan menggali kuburan ku sendiri kan?" Ia tak mau kejadian yang menimpa mendiang Kakaknya terulang lagi. Cukuplah ia menyimpan rasa benci itu untuk Ayu.

__ADS_1


Jika semua orang mengetahui masalalu Ayu, maka orang-orang akan tau kalau Ibunya lah penghancur keluarga Ayu yang dulu. Lalu apa? sudah pasti ia akan mendapatkan perundungan dari orang-orang sama seperti mendiang Kakaknya dulu.


Ayu terheran, ia tak menyangka Laura masih mengelak juga. "Spidol itu milikmu kan? Kamu memakai itu untuk menuliskan teror padaku. Jangan mengelak lagi Laura!"


"ch.. semua anak Yatim-piatu di kota ini memiliki spidol itu. Sebuah lembaga pendidikan khusus memberikan itu pada Kami sebagai bentuk dukungan mereka. Kamu tidak punya? oh iya lupa, maksudku hanya anak Yatim-piatu miskin yang memiliki itu. Sayang sekali kan? padahal Kamu juga berhak mendapatkan spidol itu." Laura mengulum senyum tipis kemudian meninggalkan Ayu yang masih tak percaya dengan ucapannya.


"Bukan dia?" lirih Ayu setengah curiga. Entah itu hanya siasati Laura, atau Laura benar-benar jujur. Ayu sungguh tak bisa membedakannya saat ini.


Ayu termanggu menatap langit seolah menyerah, namun dalam hatinya masih berharap ada jawaban atas ini semua.


...~~~~...


Rey mengambil cuti selama dua hari untuk menemani kakeknya di rumah. Sebenarnya ia tak mau melakukan itu, namun ia terpaksa dan melakukan itu sebagai permintaan maaf karena telah membohongi sang Kakek.


"Kek.. minum dulu ya obat nya." ujar Rey membawakan segelas air putih.


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Ayu?" tanya Kakek membuat Rey hampir tersedak ludahnya sendiri.


"Kami.. hubungan Kami sebatas kenal, Kakek tau kan Aku dekat dengan keluarganya sebagai sekertaris Pak Dimas."


"Apa jaman sekarang Wanita duduk di pangkuan Pria itu bisa di katakan 'hanya sebatas kenal?"


"h..hah?" Rey membelalakkan matanya, wajahnya pun tampak pucat pasih seketika.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2