
Pukul 02:00 malam..
Tiba-tiba Ayu terbangun dari tidurnya dengan bercucuran keringat. Ia bermimpi bunga anggrek kesayangannya yang ada di balkon kamar berubah menjadi tanaman berduri yang menyeramkan.
Di dalam mimpinya tanaman itu melilit kuat tubuh Ayu bersamaan dengan semua duri yang merobek permukaan kulitnya.
"Mengapa mimpi itu terasa sangat nyata?" lirih Ayu ketakutan sembari meraba tangannya.
Ia segera mengambil ponselnya dan membuka internet. [Apa arti mimpi terlilit tanaman hingga hampir mati?] ketiknya di kolom pencarian.
Namun saat penelusurannya hampir terbuka, tiba-tiba Rey menelepon. "Astaga..! orang tua ini benar-benar nggak tau waktu." tukas Ayu kesal. Namun ia tetap mengangkat panggilannya.
[Kamu baik-baik saja?"] tanya Rey begitu telepon tersambung.
"Bapak ngigau?" tanya Ayu bingung.
[Itu yang mau Saya tanyakan. Kamu ngigau? Jaman sudah canggih begini dan Kamu masih percaya takhayul.]
Ayu berpikir keras, ia bahkan mengira kalau Rey sedang mabuk. Beberapa detik kemudian barulah ia sadar ponselnya masih berada dalam penyadapan Rey.
"Bapak menelpon cuma mau tanya kenapa Saya buka internet? Lagian apa urusannya, mau Saya percaya takhayul atau tuyul sekalipun nggak ada urusannya ya sama Bapak." suasana hati Ayu sedang tidak bagus karena mimpi buruk itu. ia pun langsung memutuskan sambungan telepon mereka dengan wajah geram.
...~...
Siang ini sinar matahari tampak sangat menyengat. Debu yang beterbangan di luar ruangan menambah kesan gersang yang membuat semua siswa tak sabar ingin keluar untuk beristirahat. Ac yang menghembuskan udara sejuk malah berbenturan dengan cuaca hingga membuat kulit,bibir dan tenggorokan mereka terasa kering kerontang.
Lain dengan Ayu yang terkulai lemas sambil menulis catatan dari Dosen. Bagas malah sibuk mengoleskan pelembab ke bibir dan telapak tangannya.
"Kamu nggak nulis?" tanya Ayu menoleh ke belakang tempat Bagas duduk.
"Males.. kan ada kamu hehehe.." sahutnya mengulum senyum tipis.
"Sini tangan mu.." Bagas meraih telapak tangan Ayu dan memberikan Gel pelembab.
Namun belum sempat Bagas mengoleskan itu, Ayu sudah lebih dulu menarik tangannya. "Aku barusan pakai tadi, nggak bagus kalau kebanyakan."
"Benarkah? bukannya semakin banyak semakin bagus?"
Ayu menyipitkan matanya "sss.. modus.." desisnya tertawa kecil.
__ADS_1
Bagas pula tertawa, suasana seperti ini yang ia inginkan dari kemarin. Tertawa dan bercengkrama seperti biasanya.
"hahaha.. modus ku gampang sekali di tebak ya.. Kalau begitu akan ku katakan langsung. Bolehkah Aku memegang tanganmu?"
"Kamu cukup susah di tebak.." ucap Ayu dengan tatapan dalam. Ada banyak makna tersirat lewat tatapan itu yang membuat suasana mereka tiba-tiba menjadi hening.
"Whoa... Aku suka tatapan itu." Bagas mengusap pucuk kepala Ayu sambil tersenyum manis.
"Saat jam pulang nanti bisakah Kamu ikut denganku ke atap?"
"Untuk apa?" Ayu mengernyitkan dahinya.
"Karena besok ulang tahun mu, Aku menyiapkan hadiah lebih awal. Hadiah yang sangat spesial."
"Baiklah.." sahut Ayu mengangguk dan tersenyum.
...-...
...-...
Tak terasa, jam pelajaran pun telah usai. Para siswa dan siswi sebagian besar sudah meninggalkan Kampus itu. Hanya mahasiswa tertentu yang masih melanjutkan kegiatannya hingga membuat seluruh gedung Kampus tampak kosong.
Sesuai permintaan Bagas, Ayu pun ikut ke atap gedung. Ia berjalan mengikuti arahan Bagas sementara kedua matanya di tutup menggunakan sapu tangan.
"Kenapa dua? biasanya sampai tiga?" seloroh Ayu penasaran.
"Kelamaan hahahaha... Oke siap, Satu.. dua..!" Bagas melepaskan tangannya dari mata Ayu.
Ayu mengerjapkan kelopak matanya, samar-samar ia melihat susunan bunga mawar merah pekat berbentuk hati tepat di hadapannya.
"wahh....! Cantik banget.. dari mana Kamu mendapatkan ini?" kagum Ayu mengelilingi kelopak bunga yang tersusun di lantai itu.
Bagas hanya tersenyum memperhatikan Ayu, wajah berbinar gadis itu benar-benar membuat hatinya merasa senang.
"Untuk apa ini semua? hadiah atau pernyataan cinta?" tanya Ayu meledek, sungguh ini kali pertama ia mendapatkan kejutan sederhana namun sangat berkesan.
"Perpisahan... ini sebagai hadiah perpisahan kita." lirih Bagas menatap sayu, senyum yang merekah pun perlahan tergantikan oleh kebimbangan.
Mendengar itu Ayu tertawa geli, ia merasa akting Bagas buruk sekali. Mana ada orang menghadiahi perpisahan dengan kelopak mawar.
__ADS_1
"Apa..? hahahahaha.. Bagas, udah nggak jaman ngeprank orang dengan cara seperti itu."
"Aku serius, besok surat pindah ku akan di tanda tangani. Maka itu Aku tidak bisa memberimu hadiah tepat di hari ulang tahunmu. Aku rasa tidak masalahkan memberikan hadiah sehari sebelumnya."
Ayu termenung di posisi nya, ia memandang wajah Bagas yang tengah melangkah maju ke arahnya. Selangkah demi selangkah di ambil Bagas hingga mengikis jarak di antara mereka. Kini mereka saling berhadapan membuat kedua mata mereka saling melempar tanda tanya yang begitu jelas.
"Kamu mau melarikan diri?" tukas Ayu mengepalkan tangannya.
"Aku tau Kamu juga mencintaiku, tapi sekali lagi maaf telah membuat keputusan ini."
Ayu melirik tajam ke arah tangan Bagas yang menyentuh bahu nya. "Kamu benar-benar akan berbohong sampai akhir?"
"Aku mencintaimu sejak awal, apa karena Aku mengatakan akan pergi makanya Kamu menganggap ku berbohong?"
Ayu benar-benar tak tahan lagi dengan sikap Bagas. ia menepis kuat lengan Pria itu dengan tatapan jengah.
"Badar Andeswara..!!" Ayu menekan suaranya, tatapannya menghunus tajam hingga membuat ekpresi manis Bagas langsung berubah.
"Aku tau semuanya Bagas.. Semuanya..!" suara Ayu terdengar gemetar, marah dan sedih membuat dadanya seperti di tikam.
"Setelah membuatku seperti orang bodoh Kau mau melarikan diri sekarang?!" pekik Ayu meluapkan amarahnya.
"Ternyata Kau memang pintar..." ucap Bagas membuang muka. Ia bahkan terkekeh dengan wajah iblis yang selama ini di sembunyikan di balik wajah manisnya.
"Haruskah Aku membungkam mu? mm...Ku rasa tidak perlu. Aku yakin Kau tidak akan bisa membeberkan ini karena menyangkut masalalu keluarga mu hahahahahaha....."
Ayu melangkah maju, ia mendekati Pria itu tanpa rasa takut.
"Aku tidak masalah, lagi pula keluarga ku orang baik-baik. Maka jika itu tersebar luas pasti orang akan menaruh simpati."
"Simpati?" Bagas tertawa sinis.
"Seorang konglomerat mengadopsi adik-adik menantunya. Memang benar orang akan menaruh simpati pada kalian. Tapi tidak dengan Kakak pertamamu.! Seorang gadis muda menjual diri kepada Pria kaya demi kehidupan mewah. Bagaimana mana menurutmu?"
PLAKK..!!!!
Ayu menampar Bagas sekuat tenaga. "Jaga ucapan mu! Apa Kau begitu bangga setelah mengetahui Ayahmu seorang Mafia narkoba?"
Bagas meringis perih, ia mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan Ayu. Ia membiarkan Ayu melangkah menuju pintu keluar sambil mengurung tawa di ujung bibirnya.
__ADS_1
Ayu menarik tuas pintu, namun pintu itu tak mau terbuka. Tak mau berpikiran negatif, Ayu terus menarik tuas itu berkali-kali namun tetap saja usahanya sia-sia.
...************...