My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 28: Makam


__ADS_3

Saat Ayu dan Bagas saling bertukar cerita, tiba-tiba Rey yang juga mengenakan setelan hitam datang hendak menyambangi pusara Mama nya.


Semilir angin haru di hatinya seketika berubah jadi kesal saat melihat Bagas sedang merebahkan kepalanya di pangkuan Ayu.


"Apa yang kalian lakukan hah?!" tukas Rey sambil menepuk kepala Ayu dengan seikat bunga tulip kuning hingga beberapa kelopaknya berjatuhan.


Ayu mendongak kaget "Pak Rey!"


"Setelah di Toilet sekarang kalian bermesraan di pemakaman?" gerutu Rey dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa? Anda iri?" Bagas tersenyum kecil seolah memamerkan kedekatan mereka.


"Iri? sss!! bocah-bocah ini memang tak tau tempat!" gumam Rey menggerutuk.


"Pergilah ke tempat kencan jika kalian ingin bermesraan!"


"Mau ke rumah ku?" ajak Bagas sambil memainkan mata sengaja agar Rey semakin panas.


"Sebentar, Aku mau kasih bunga ini." Ayu menunjukkan sisa bunga yang memang hendak ia berikan ke makam Mama nya Rey.


"Oke.. Aku tunggu di luar ya." Bagas pun beranjak duluan dari sana.


Ayu menghampiri Rey yang hendak mencabuti rerumputan liar di atas makam dengan ekpresi kusutnya.


"Pak.. ini Ayu bawain bunga." Ayu menyerahkan keranjang yang ia bawa, namun Rey tak menerimanya.


"Taburkan!" ketus Rey.


"Hah?"


"Kamu menaburkan bunga kepada Ibunya kan? taburkan juga untuk Mama Saya."


Tanpa bertanya lagi Ayu langsung menaburkan bunga bunga itu di atas makam. ia memperhatikan wajah Rey yang tampak pucat seperti sedang kelelahan.


Beberapa detik mereka saling bungkam, kemudian Ayu berpamitan setelah ia selesai menaburkan bunganya.


"Pak.." belum selesai ia bicara, Rey memotongnya lebih dulu.


"Kamu masih belum mau memeluk Saya?"


DOOENNGGG!!!! 😳💢💢


Telinga Ayu langsung berdengung seperti suara gong yang memecah telinga Ayu saat ia mendengar kalimat itu lagi. ia langsung menyilangkan kedua tangannya di dada dengan wajah panik.


"Bapak kira Ayu perempuan apaan?"

__ADS_1


"Kenapa? barusan Kau memangku nya kan? memangnya perempuan macam apa yang memangku kepala Pria di dekat makam?"


"Bapak suka sama Ayu?"


"Nggak.." sahut Rey menggeleng.


"Cemburu?"


"NGGAK!" Rey menekan kalimatnya.


"Kalau gitu nggak usah bertingkah sok kesal kalau Ayu dekat sama dia." Ayu menjulurkan lidah lalu berbalik badan meninggalkan Rey begitu saja.


"Bukan Aku sok kesal, Aku benar-benar kesal sekarang." rutuk nya meremas seikat bunga tulip yang kelopaknya sudah berkurang itu. ia hanya memandangi punggung Ayu yang perlahan menjauh, selembar kelopak bunga masih tersangkut di ujung rambut Ayu. membayangkan siapa yang akan menyingkirkan kelopak itu saja sudah membuat kepala Rey panas karena kesal.


"Ketergantungan... Aku pasti ketergantungan dengannya. menyebalkan!" rutuknya sembari berjongkok lagi di dekat pusara.


...*******...


Setelah mengiringi Ayu sampai ke rumah, Bagas tiba-tiba teringat dengan surat yang di tulis Ibunya. sudah hampir tiga tahun memang ia tak mendatangi makam Sang Ayah karena sesuatu yang belum bisa ia terima.


Sesampainya di pemakaman Bagas terlihat sedikit bingung dimana letak makam Ayah nya itu. "Dimana ya? Aku lupa lagi.." gumamnya menggaruk kepala.


Setelah beberapa kali berkeliling mencari, akhirnya ia menemukan nama Sang Ayah di atas nisan yang sudah usang. kondisi makam itu benar-benar tak terurus. tanah nya yang hampir rata, nisan yang mulai pudar serta rumput ilalang yang tumbuh subur di atasnya.


"ffuuhh.. masa harus bersihkan ini sih? males banget." rutuknya dengan raut wajah kesal.


"Saya Bagas, Ibu siapa?" tanya Bagas mendongak ke arah si wanita.


"Bagas?" wanita itu melipat dahinya, perasaan anggota keluarganya tidak ada yang bernama Bagas.


"Kamu ngapain di makam suami Saya? memangnya Kamu kenal dengan suami Saya?" wanita berambut pirang itu baru saja pulang dari luar negeri setelah 5 tahun lama nya. itu sebabnya makam suaminya tampak tak di urus.


"Suami Ibu? Lah? ini bukan makam Bapak Saya?"


"Emang nya kamu anak Saya?" tanya wanita itu.


"Bukan."


"Ya berarti Bukan. coba cari lagi, kamu salah alamat kali." wanita itu segera mengeluarkan sarung tangan karet karena ia hendak membersihkan makam suaminya.


Bagas pun berdiri sambil menenteng bunga mawar putih nya. ia mencari lagi di mana letak makam si Ayah yang ternyata sedari tadi sudah ia lewati berkali-kali.


"Ahh! akhirnya jumpa. susah banget sih nyari nya, ngumpet nya jauh banget." ucap Bagas sedikit lega. batu batu nisan dengan ukiran khas itu langsung bisa di yakini kalau itu benar-benar makam Ayah nya.


"Tapi kok makam nya bersih? kata Ibu nggak pernah di kunjungi." batinnya saat melihat tanah yang bersih dengan sebotol air di dekat nisannya.tanpa banyak bicara Bagas meletakkan bunga bawaannya lalu segera pergi dari sana.

__ADS_1


...********...


Seorang gadis berambut lurus dengan banyak luka di tangannya menangis tersedu-sedu. ia berjalan tertatih menuju balkon rumah sakit, sejenak ia menoleh kebelakang seolah hendak mengucapkan selamat tinggal. Pandangannya tampak menyedihkan seolah tak sanggup lagi menampung luka.


"BERHENTI!" teriak seseorang menggema amat keras. ia kemudian terbangun dari mimpi buruknya, mimpi yang sangat menakutkan.


Dia tak lain adalah orang yang menganggu Ayu melalui teror papan tulis. ya, dia adalah gadis dengan rambut ikal yang sedang di cari oleh Ayu.


Ia bangun dan menata kasurnya, jemari yang tampak ulet itu cukup piawai menata kasur dengan amat rapi dalam sekejap.


Kemudian ia mengambil salah satu bingkai foto di atas meja lalu mengelapnya menggunakan telapak tangan.


"Apa kabar hari ini?" lirihnya tersenyum kecil.


...********...


Di bawah langit senja yang cerah, Rey dan Ayu tengah menikmati sejuknya angin pantai yang menghembuskan nuansa romantis. mereka berjalan tertunduk sambil mencuri pandangan sesekali.


"Pulang yuk.." ajak Ayu sambil membenahi juntaian rambut di pipinya.


Rey tersenyum kecil, entah apa yang membuat tangannya bergerak ke wajah Ayu dan dengan lembut membantu Ayu membersihkan wajahnya dari helaian rambut.


Hal di luar nalar ini tentu membuat Ayu bingung, matanya melebar saat memastikan apakah orang yang ada di depannya itu benar-benar Rey?


"Saya....." bibir Rey terasa kaku saat itu. ingin sekali ia menyatakan apa yang ada di hatinya saat itu.


Wajah penasaran Ayu menunggu perkataan Rey yang tertatih. pandangan mereka bertaut dalam jarak yang cukup dekat. tanpa sadar Ibu jari Rey tengah mengusap lembut bibir Ayu.


Rey menggerakkan wajahnya lebih dekat lagi, tangannya melingkar memeluk pinggang Ayu.....


GUBRAK!!


Rey terjatuh dari sofa sambil memeluk erat bantal di dadanya. buyarlah mimpi indah yang membuat sekujur tubuhnya merasa merinding itu.


"Ah! bangs*t! pinggang ku.." rintih nya masih dengan separuh nyawa.


Vino yang sedari tadi memperhatikan Rey menjadi jijik saat melihat ekpresi tidur Rey barusan.


"Bangun lah! Psikolog mu sudah datang." ucapnya sambil menendang kaki Rey.


Nyawa Rey langsung kembali penuh karena tendangan Vino.


"hah? Apa? kenapa Aku di rumah Pak Adit? bukannya Aku di pantai tadi?"


"Pantai apa nya?" Vino makin yakin pasti Rey bermimpi aneh aneh tadi, ia bahkan berdoa semoga yang di mimpikan Rey bukan dirinya.

__ADS_1


"rrrrhhh... jangan sampai dia menjadikan ku bahan percobaan di dalam mimpi." gumam Vino bergidik merinding.


...********...


__ADS_2