My Impossible CRUSH

My Impossible CRUSH
Episode 11 : Kebakaran


__ADS_3

Karena penasaran dengan suara yang ia dengar, Ayu memutuskan untuk mengirim pesan kepada Bagas. kalau lagi nggak pakai handuk mungkin Ayu sudah ngibrit lari memeriksa apakah itu Bagas atau bukan.


[kamu di mana?]


Tanya Ayu tanpa basa-basi. laki-laki kok sering ke salon? kerja atau ngapain? bayang bayang lelaki tidak normal terus menghantui Ayu. ya kali di rumah ia bergaul dengan lelaki nyerong, di kampus juga temenan sama orang nyerong.


[Aku di rumah, kenapa?] balas Bagas sambil menaiki anak tangga kayu menuju kamarnya.


"hhhuuff... aku salah dengar berarti." batin Ayu bernafas lega.


[Nggak apa-apa..] balasan pesan Ayu membuat Bagas mengernyitkan dahi.


"Apa dia merindukanku?" ujar Bagas sambil tersenyum salah tingkah.


...-...


...-...


Sementara itu di rumah, Rey tengah membuka belanjaan yang ia beli secara Online. isinya serangkaian produk skincare merk ternama. biasanya ia tidak perduli dengan perawatan wajah. paling mentok cuci muka sama pelembab bibir doang, tapi kali ini tampaknya ia ingin membuktikan bahwa dirinya masih fresh, bukan kumel seperti Om Om.


"Membantu menyamarkan kerutan dan menghambat penuaan dini." ia membaca pelan keunggulan produk bersampul hijau itu.


"Sepertinya Aku harus banyak memakai yang ini." ia mengoleskan serum ke wajahnya dengan amat brutal seperti hendak mengikis kulitnya agar beregenerasi menjadi lebih muda.


...-...


...-...


Dua jam setelah Bagas menunggu Ibunya, Bagas memutuskan untuk memangkas rambutnya sendiri. ia berencana nongkrong dengan anak geng motornya sore nanti.


Karena salah tak memperhatikan, Bagas tak tau kalau cok alat pemotong rambut itu basah. ia memasukkan colokannya dan...


zz**rrrttttt!!!! bbuuushhh....


Asap mengepul sesaat setelah percikan api muncul dari steker listrik. beruntung mereka memakai meteran listrik anti konslet, jadi kebakaran pun dapat di hindarkan karena listrik langsung padam.


hhss..hhhh...


"Bau apa ini?" ucap Lita menarik dalam nafasnya.


"k.. kok bau hangus ya.." sahut Ayu yang tengah terpejam manja merasakan rileks pijatan Spa nya.


"Listriknya mati?" tanya salah satu karyawan membuat Ibu nya Bagas menjadi panik.


Nama nya juga ibu ibu, pasti gampang panik. "jangan jangan.. kebakaran!"


Ayu dan Lita spontan membuka penutup mata mereka.


"Kebakaran?!!" mata mereka beradu sejenak kemudian mereka serempak berteriak.


"AAAAAK!! kebakaran! lari lari.. kabur cepet!"


Tentu saja Ibunya Bagas dan karyawannya ikut berlari terbirit-birit. Ayu dan Lita bahkan tak perduli hanya memakai handuk, yang penting nyawa selamat.


Mendengar suara panik dari dalam kamar spa, Bagas pun berdiri hendak mengecek keadaan. namun baru hendak beranjak ia bertabrakan dengan Ayu yang hanya memakai handuk sebatas ketiak.


"HAAAH!!" teriak Bagas terkejut, namun ia malah membuka lebar matanya.


"HAH?! bukannya kamu di rumah?" tanya Ayu seolah lupa dengan kepanikannya.


"Ini rumah ku.. kamu bukannya dengan teman mu?" Bagas balik bertanya pula.


"ini temanku.."

__ADS_1


"Kebakaran Bagas!!" teriak Ibunya mengambil se-ember air.


"Oh iya! kebarakaran ayo keluar!!" Ayu kembali berteriak panik seolah menyambung kericuhan yang tadi sempat terjeda. sementara Lita di depan ruko sudah teriak teriak minta tolong.


Bagas meraih lengan Ayu yang hendak keluar, ia mengambil selembar handuk di atas meja lalu melemparkan itu ke bahu Ayu.


"Bukan kebakaran, masuk dan pakai baju mu." ia meninggalkan Ayu dan menyusul Ibunya kedepan.


Ayu merasa lega, ia menghela nafas sembari menggenggam handuk pemberian Bagas. "syukurlah."


"Hentikan Bu, hentikan. maaf semua nya, ini kecerobohan ku, bukan kebakaran maaf." ucap Bagas sembari menunduk kepada semua orang yang telah berkumpul.


...~~~~...


Pagi ini Rey bangun dengan semangat penuh, ia memasuki kantor dengan langkah percaya diri. tak di pedulikannya orang-orang yang menatap aneh sambil saling berbisik.


"Hei?!" Adimas terperangah melihat wajah Rey.


"Apa? Aku belum terlambat bukan?" sahutnya sambil menarik kursi kerja kesayangannya.


"Kau tidak berkaca sebelum kemari hah? aku seperti bisa memeras minyak dari wajah mu!" gerutu Dimas memasang wajah geli, entah berapa botol serum yang di tuangkan Rey di wajahnya hingga membuat itu tampak seperti kubangan minyak.


Kedua bahu Rey di angkat seolah malas merespon gerutu Dimas yang tidak jelas.


"tcih! memangnya dia tidak tau tren? glowing seperti oppa-oppa kan sedang di gandrungi para remaja sekarang."


...-...


...-...


Pagi ini Ayu tampak terburu-buru menata kosmetik serta beberapa baju ke dalam tas. kelasnya akan mengadakan studi tour ke daerah pegunungan di salah satu desa yang berjarak sekitar lima jam dari kota.


Namun tiba-tiba ia malah teringat kejadian di salon kemarin saat Bagas melemparkan handuk untuknya.


Sebenarnya ia agak tak enak badan hari ini, namun jalan-jalan bersama teman sekelas adalah hal yang paling ia sukai. jadi ia menepis rasa panas dingin yang menjalari kepalanya saat itu.


Setelah selesai berkemas, Ayu segera turun membawa tas jinjing dan juga ransel di punggungnya. namun ia malah lupa membawa ponselnya yang tergeletak di atas kasur.


...-...


...-...


Sementara itu di parkiran kampus, Bagas sudah ready dengan barang bawaannya, ia duduk di atas motor sembari menunggu para murid yang belum datang termasuk Ayu.


"Itu dia!" ia langsung berdiri dari motornya saat melihat Ayu turun dari mobil.


ffffiuuuu....


Bagas bersiul sambil mengedipkan sebelah matanya.


Entah kenapa Ayu merasa malu, ia pun berpura-pura tak mendengar siulan Bagas.


"Ya ampun! ada ulat bulu di kepala mu!"


Sontak Ayu berbalik badan dan menggeliat ketakutan.


"Serius? besar? tolong singkirkan CEPAT!!"


Bagas berusha tersenyum lembut namun tetap terlihat seperti pria nakal.


"Tidak ada hahah.."


"shh!!" geram Ayu melayangkan tangannya hendak menepuk Bagas. namun Bagas berhasil menangkap pergelangan tangan Ayu dengan apik.

__ADS_1


"Kamu dengar aku tadi kan? kenapa nggak merespon?"


"Emang kamu manggil?" tukas Ayu berusaha menyembunyikan rasa canggung nya.


Bagas tak menjawab, ia melihat kearah pergelangan tangan Ayu yang di rasa dingin dan berkeringat.


"Kamu sakit?"


"Sedikit demam. tapi nggak.." Ayu terdiam seketika saat Bagas menempelkan telapak tangan di dahinya.


"Nggak apa-apa gimana? panas gini. udara di desa pasti dingin sekali, dan kamu tetap mau pergi?"


"Tapi satu kelas pergi semua, masa cuma Aku yang nggak. Aku juga pengen ikut.."


"Kalau nanti demamnya tambah tinggi pas disana gimana?" Bagas memaksa Ayu agar tak mengikuti studi tour itu, lagipula hanya satu hari. jadi tidak masalah jika tak ikut sekali saja kan?


"Aku mau ikut. nanti satu kelas pada bahas tour nya, cuma Aku yang bengong."


"Kalau Aku nggak pergi Kamu mau tetap di sini? biar Kita sama-sama bengong kalau mereka bercerita nanti."


Ayu terpaku sejenak, kenapa Bagas memilih untuk tinggal demi dirinya? apa ini cuma modus agar Bagas bisa mendekati Ayu lebih dalam.


"Oke.. Aku nggak pergi." sahut Ayu lemas karena nggak bisa ikut, pun sedang tak enak badan.


Bagas mengusap-usap bahu Ayu sambil tersenyum.


"Gitu dong.. sekarang telpon supir mu, pulang dan istirahatlah."


"hmm.." sahut Ayu sembari meraba saku celana nya.


"Ya ampun! Aku lupa. handphone ku ketinggalan di kasur."


"Kok bisa? kamu hapal nomor supir atau orang rumah?"


Ayu menggeleng sambil tersenyum lebar.


"ck. ya udah Ayo ku temani nunggu taksi di halte." Bagas menenteng ransel Ayu, namun Ayu menghentikannya.


"Gimana kalau naik motor? anggap aja kita lagi touring hahah.."


"Nggak nggak! kamu lagi demam!" sahut Bagas menolak mentah-mentah ajakan Ayu.


"ihhh.... nggak apa apa loh, kan pelan pelan naik motornya. yaaa plissss! kalau kamu nggak mau Aku berangkat tour aja deh." jurus mengancam ala anak paling bontot di luncurkan Ayu.


"hhhfff.. ya sudah ayo naik." akhirnya Bagas mengiyakan permintaan Ayu.


Mereka pun melenggang dari kampus dengan motor Bagas. masih dengan almamater kampus yang melekat di badan membuat mereka seperti mahasiswa yang sedang bolos.


Namun baru tiga puluh menit di jalan, hujan deras mengguyur mereka tanpa aba-aba. karena mereka berada di jalan raya satu arah membuat Bagas kesulitan mencari tempat berteduh.


"wwwuhuuu.... seruuu!" sorak Ayu merentangkan tangan di tengah derasnya hujan.


"Kamu nggak apa-apa? dingin nggak? Aku akan cari tempat teduh terdekat." sorak Bagas pula agar suaranya terdengar oleh Ayu.


"Dingin.. tapi seru hahahah.." tak hanya merentangkan tangan, Ayu bahkan membuka mulutnya agar bisa meminum air hujan yang langsung turung dari langit. dulu sewaktu kecil ia sering melakukan itu bersama kakak kakaknya.


Dari kejauhan Bagas melihat ada halte, namun letaknya di arah yang berlawanan. mau tak mau Bagas mengangkat stang motornya untuk melewati pembatas trotoar.


"Pegangan!"


Nggenggg.... pembatas jalan setinggi 40 centi itu di langkahi Bagas dengan amat lihai.


...~~...

__ADS_1


__ADS_2