My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Upik Abu?


__ADS_3

Kantor Cabang Bank Arta Jaya Kebon Jeruk Jakarta


Ragil datang ke kantor barunya sendirian mengendarai motor Honda CBR nya. Jika hari Senin, Ragil lebih suka memakai motornya daripada mobil Expander miliknya.


Pria itu melihat mobil Mazda CX-9 milik Dewa sudah terparkir rapi di parkiran khusus kepala cabang. Sudah menjadi perjanjian, jika Senin dirinya memang tidak barengan dengan Dewa. Baru Selasa hingga Jumat, Ragil ke rumah keluarga Hadiyanto dan berangkat ke kantor bersama.


Tumben si boss pagi-pagi sudah nongol macam jelangkung... Apa semalam habis ngepet ? Ragil pun masuk dan menyapa semua orang dari office boy, satpam hingga manager. Ajaran Dewa dan Bagas adalah harus humble dengan semua pegawai meskipun terkadang kamu tidak hapal namanya karena banyaknya orang, tapi menyapa mereka setiap pagi, akan membuatmu hapal wajah yang nantinya akan mengingat nama mereka.


Ragil melihat Dewa asyik mengobrol dengan para teller dan customer service sebelum briefing pagi. Ragil melirik jam tangan Omega nya yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi dan jam buka bank adalah jam delapan pagi.


Si boss berangkat jam berapa dari rumah? Mengingat rumah keluarga Hadiyanto ke kebon Jeruk lumayan memutar jalannya. Namun pertanyaan Ragil belum terjawab, tiba-tiba Dewa menoleh.


"Ah pagi Ragil. Yuk kita berdoa pagi dulu sebelum memulai kegiatan agar hari ini semua lancar, nasabah banyak dan puas, serta para pegawai tidak melakukan kesalahan" ajak Dewa.


Dan pagi itu seperti rutinitas di kantor pusat, Dewa memimpin doa bersama di hari pertama dirinya bekerja di kantor cabang.


***



Ragil Wibisono


"Pak..." panggil Ragil menjelang jam makan siang. Pria itu sudah melepaskan jas nya dan meninggalkan kemeja putih yang digulung ke siku, tampak bersandar di pintu kerja Dewa.


"Ya?" jawab Dewa sambil tetap menatap layar monitornya memeriksa para debitur dan kreditur di kantor cabangnya.


"Bapak mau makan siang apa?" tawar Ragil.


Dewa tersentak. "Lho sudah mau masuk jam makan siang tho?"


Ragil hanya menggelengkan kepalanya. "Pak, ini sudah jam setengah dua belas ..."


"Kenapa lu kagak bilang Gil !"


"Lha ini saya bilang pak..."


"Lu naik apa kesini Gil?"


"CBR saya pak. Kenapa?" tiba-tiba perasaan Ragil tidak enak.


"Pinjam kunci motor lu. Helm?" Dewa pun berdiri melepaskan jas nya dan menggulung lengan kemejanya.

__ADS_1


"Helm ada di bawah meja saya pak... Pak, bapak mau kemana?" tanya Ragil sambil mengikuti Bossnya yang keluar dari ruang kerjanya.


"Makan siang lah !" jawab Dewa cuek sambil menengadahkan tangan meminta kunci motor Ragil yang diambilnya dari saku celananya.


"Pak Dewa... Yakin makan siang?" Ragil menatap tajam ke Bossnya.


"Makanlah Bambaaaanngggg... Lapar tahu ! Helm?"


Ragil pun memberikan helmnya.


"Kamu makan siang apa Gil?" tanya Dewa.


"Pesan ojol saja pak."


Dewa mengangguk. "Oke aku pinjam dulu. Bye Gil." Pria itu pun berjalan menuju lift dan menuju lantai satu lalu ke parkiran.


***


TK Bintang


Alina tersenyum saat para muridnya sudah dijemput oleh para orang tua masing-masing. Begitu juga dengan rekan Alina yang juga mengantarkan para anak-anak kepada orang tua mereka.


"Al, mau makan siang nggak? Kita mau ke warung Bu Mirah di depan" ajak Yani ke rekannya itu.


"Ya sudah, cepat selesai terus kita makan ya" ucap Clara.


"Oke." Alina pun menuju ruang janitor untuk mengambil ember dan pel. Meskipun mereka memiliki tukang bersih-bersih, tapi soal kelas usai acara belajar mengajar, adalah tugas para guru yang bertugas.


Alina masih proses mengepel saat mendengar suara motor besar masuk ke dalam halaman sekolah itu. Gadis itu melihat dari jendela ruang kelasnya dan tampak bingung melihat seorang pria dengan setelan kerja datang ke sekolahnya.


Mata coklat Alina terbelalak saat tahu siapa yang naik motor itu ketika membuka helm full face nya.


"Pak Dewa? Ngapain kemari?" gumam Alina yang keluar dari ruang kelasnya.


Dewa tersenyum saat melihat Alina menatap nya bingung tapi setelahnya terkejut melihat gadis itu memegang gagang pel.


"Siang Miss Alina" sapa Dewa yang memanggil Alina dengan panggilan di sekolah karena menghormati posisi gadis itu.


"Siang pak Dewa. Ada apa bapak kemari? Apa mau melihat - lihat sekolah ini untuk Aizen?" senyum Alina.


"Jangan bilang kamu sudah jatuh cinta sama Aizen?" Dewa memicingkan matanya.

__ADS_1


"Aizen menggemaskan dan bau bayinya itu lho..." kekeh Alina membuat Dewa manyun.


"Bau bayi Gedhe itu jauh lebih menggoda Jeng" bisik Dewa di sisi telinga Alina dengan nada seduktif membuat pipi gadis itu merah padam.


"Pak Dewa !" hardik Alina sebal. Lupa kalau pria di hadapannya ini tukang modus yang haqiqi.


"Kamu ngapain Miss Alina? Macam Upik Abu?" goda Dewa melihat ruang kelas Alina yang berantakan.


"Ada salah satu muridku menumpahkan susu coklatnya. Jadi ya aku yang membereskan... Sayang disini bukan Jepang yang semua muridnya diajarkan tanggung jawab membersihkan kelasnya dari kecil..." jawab Alina sambil masuk ke dalam ruang kelas dan melanjutkan acara mengepelnya.


"Sebenarnya ajaran seperti bagus lho. Keponakan aku yang tinggal di Jepang, usia tiga tahun sudah belajar belanja sendirian ke mini market" ucap Dewa. "Well, terlepas Jepang atau Tokyo tempat Hyde tinggal itu termasuk negara dan kota teraman di dunia."


Dewa tanpa canggung membantu Alina menata kembali meja dan kursi di ruang kelas itu. Alina menatap respek ke pria yang merupakan salah satu CEO Bank Arta Jaya, mau membantu dirinya di ruang kelas TK yang bukan apa-apanya.


Terlepas Dewa raja modus, tapi Alina bisa melihat bagaimana para cewek-cewek itu mau saja menyerah kan diri ke Dewa karena pria itu sangat humble dan menyenangkan. Tak heran jika Dewa menjadi playboy duren tiga.


"Pak Dewa kemari dalam rangka apa?" tanya Alina setelah semuanya beres dan peralatan bersih-bersih nya sudah dimasukkan ke dalam gudang janitor.


"Ajak kamu makan siang lah. Yang enak dimana?" tanya Dewa sambil melihat sekelilingnya. TK Bintang terletak di tempat yang strategis dekat dengan warung makan berbagai macam menu masakan.


"Pak Dewa mau makan siang macam apa?" Alina balas bertanya.


"Sop buntut dan iga bakar disana enak nggak?" Dewa menunjuk ke arah warung yang menjual khusus iga dan daging sapi.


"Enak pak Dewa."


"Yuk makan disana. Jalan kaki saja tidak apa-apa kan?" Dewa menoleh ke arah Alina.


"Tidak apa-apa. Biar motornya pak Dewa parkir disini saja. Ada pak Ahmad dan pak Danang, satpam disini."


Dewa dan Alina pun berjalan menuju warung itu setelah sebelumnya meminta pada kedua satpam menitip kan motor milik Ragil.


Mereka pun masuk ke dalam warung itu tanpa mengetahui ada seseorang yang menatap mereka tajam.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2