
Bank Arta Jaya Kebon Jeruk Jakarta
Ragil melongo saat pulang dari makan siang, sudah ada tiga paper bag diatas mejanya. Pria itu lalu memeriksa isi kotak-kotak itu dan hatinya merasa terharu dengan oleh-oleh dari Dewa yang tidak main-main harganya.
Segera Ragil mengetuk pintu ruang kerja Dewa dan masuk ke dalamnya. Tampak Dewa sedang sibuk memeriksa pekerjaan Ragil dan semua manajer selama dia tinggal ke New York.
"Pak Dewa kapan datang?" tanya Ragil dengan nada senang yang tidak bisa ditutupinya. Jujur, Ragil sebal dengan Bossnya tapi lebih senang jika Bossnya ada di tempat.
"Tadi jam sebelasan tapi kamu tidak ada di meja mu. Memang kamu kemana Gil?" tanya Dewa tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas dan layar iMacnya.
"Saya tadi ada pertemuan dengan Bu Berlian, kepala sekolah TK Bintang. Beliau hendak mengajukan proposal di tahun ajaran baru ini, akan ada study tour ke bank kita pak, seperti waktu Nona Alina dulu kemari" jawab Ragil.
Dewa mengangkat wajahnya. "Kamu ke TK Bintang?"
"Sekalian makan siang Pak. Kan sup buntut disana enak..." jawab Ragil apa adanya.
"Oh... Itu oleh-oleh buat kamu" ucap Dewa sambil menatap asistennya.
"Terimakasih pak Dewa..."
"Tidak gratis, Gil" seringai Dewa membuat Ragil melongo.
"Apa?"
"Potong gaji kamu bulan depan."
"Astaghfirullah pak Dewa ! Tega benar..." keluh Ragil yang merasa lemas dan kesal menjadi satu. Sebenarnya niat kagak sih nih boss kasih oleh-oleh? Pakai acara potong gaji pulak !
Dewa mengambil ponselnya dan mulai memainkan sebuah lagu. "Bercandya... Candya... Bercandya..." wajah Dewa tampak usil, senang melihat raut pucat Ragil yang tidak menyangka oleh-olehnya harus bayar tapi kemudian kena prank.
"Pak Dewa..." ucap Ragil kesal dan sebal pada Bossnya.
"Apa Gil ?" cengir Dewa.
__ADS_1
"Bapak bercandanya tidak lucu ! Terima kasih atas oleh-olehnya sekali lagi." Ragil mengangguk dan berjalan keluar ruangan Dewa.
"Gil !" panggil Dewa.
"Apa pak?" tanya Ragik sambii menggenggam gagang pintu.
"Kamu kangen aku kan? Bilang saja, seminggu aku tinggal ke New York, kamu kelimpungan kan?"
Ragil membalikkan badannya. "Saya malah bersyukur Alhamdulillah, karena tingkat stress saya berkurang drastis, tensi saya normal, denyut jantung juga. Bottom line, seminggu ini saya bahagia pak..."
"I Miss you too Ragil" senyum Dewa.
Ragil melongo. "Pak Dewa nggak belok kan?" tanya Ragil pelan-pelan. "Bagaimana dengan nona Alina?"
Dewa berdiri dan mengambil bantal sofa lalu melemparkannya ke Ragil.
***
"Ya ampun, aku biasanya melihat uang dollar seratus itu kalau di film-film action" ucap Yani sambil melihat-lihat uang baru di tangannya.
"Mas Dewa sih memang sengaja memberikan uang sebesar itu ke kalian satu satu sebagai celengan kalian. In case kalian butuh uang, bisa ditukarkan ke money changer. Jangan khawatir, uangnya asli kok. Nggak mungkin lah orang bank main-main dengan keaslian uang" senyum Alina.
"Memang paling besar nominalnya $100 ya? Ada yang lebih nggak?" tanya salah satu rekan gurunya sambil menyimpan uang dollar itu ke dalam dompetnya.
"Ada. $10,000 tapi itu adanya di museum dan aku sudah melihatnya kemarin pas jalan-jalan dengan mas Dewa. Itu cuma ada di tahun 1928 saat resesi dan inflasi. Kebayang bawa selembar uang itu di dalam dompet terus kita tukarkan... Bawa koper deh !" kekeh Alina.
"Terus kita ditangkap dirjen pajak dan KPK" gelak Yani. "Dicurigai membuat Upal !"
Semua orang tertawa di dalam ruang guru. Alina memang belum masuk kerja tapi tadi Dewa menawarkan untuk pulang atau ke sekolah, gadis itu memilih ke tempat kerja nya untuk membagi oleh-oleh. Mumpung ada mobil karena Alina besok pagi pergi bersama Yani untuk berangkat kerja.
"Maaf mengganggu ibu-ibu" potong pak Ahmad, satpam sekolah.
"Ada apa, pak?" tanya Yani.
__ADS_1
"Miss Alina, dipanggil Bu Berlian di kantornya."
"Oh baik. Aku hadap Bu Berlian dulu sambil kasih oleh-oleh sekalian" senyum Alina sambil membawa paper bag khusus Bossnya.
"Sekali lagi makasih lho bestie !" seru rekan-rekannya.
Alina tersenyum lalu berjalan menuju ruangan Bu Berlian.
"Miss Alina, apa uang yang dikasih ke saya itu asli?" tanya pak Ahmad.
"Asli pak. Kenapa?" tanya Alina.
"Kalau saya tukar kemana? Soalnya saya butuh buat biaya pendaftaran sekolah anak saya..."
Alina tersenyum. "Bapak ke bank Arta Jaya saja. Bilang mau tukar dollar gitu."
"Bisa ya Miss ?" Wajah pak Ahmad tampak senang. "Memang dapatnya berapa Miss kira-kira?"
"Hampir dua juta."
Wajah pak Ahmad tampak senang. "Alhamdulillah, ada tambahan dana."
Alina tersenyum. Mas, kamu memang orang baik. Aku tidak salah memilih kamu menjadi calon imam ku.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1