
Kediaman Eyang Daud di Grogol Petamburan Jakarta
"Alhamdulillah diterima tuh Wa. Jangan bikin perkara!" ucap Bagas ke putranya yang tampak sumringah.
"Kagak lah! Perjuangan ini dapat Jeng Alina..." jawab Dewa judes.
"Dah Wa, sekarang pasang cincin ke Alina. Eh apa harusnya Tante Safira ya?" Arkananta menoleh ke Safira.
"Lha dulu kamu lamar Arabella yang pasang cincin siapa?" balas Safira.
"Ya aku sih..." cengir Arkananta.
"Naaahhhh !" Safira bersedekap menatap judes ke Arkananta yang langsung memasang senyum manis.
Dewa pun berdiri menghampiri Alina yang digandeng Katya ke hadapan pria ganteng itu.
"Jeng Alina, with this ring..."
"Jangan sampai gelinding, Wa."
Dewa menoleh dan baru menyadari kalau Keluarga sirkusnya menyaksikan via live streaming. "Seriously? Elu ngapain mas Lisus !"
"Lho aku cuma memperingatkan..." cengir Bayu. "Jangan macam bokap gue."
Sontak generasi keempat, kelima dan keenam terbahak mengingat kasus Abiyasa O'Grady
"Ampun deh ! Itu sudah lama kok masih diingat-ingat sih!" sungut Abiyasa kesal.
"Cincinnya gelinding?" bisik Eyang Daud ke Valentino.
"Gelinding Eyang, pas lamaran..." balas Valentino sambil nyengir.
"Astaghfirullah..." kekeh Eyang Daud.
"Insyaallah nggak. Dah gue mau konsentrasi. Ssshhh semuanya." Dewa pun berdehem lalu on bended knee. "Jeng Alina Ratnadewi, with this ring... Will you marry me?"
"I will marry you mas Dewananda Hadiyanto..." balas Alina dengan senyum manisnya.
Dewa pun memasangkan cincin yang sudah digenggamnya sejak berjalan ke Alina. Cincin cantik itu pun melingkar dengan pasnya di jari manis Alina dan Bima mengenali desainnya.
__ADS_1
"Wah, kamu benar-benar pintar cari cincinnya, Wa" puji Bima.
"Pintar kan aku dan langsung pas lho .." cengir Dewa yang berdiri kemudian menoleh ke arah layar televisi. "Alhamdulillah aman sentosa tanpa drama gelinding."
"Alhamdulillah..." ucap semua keluarganya.
"Elu kagak cium Alina ?" tanya Luke Bianchi.
"Nope. Aku kan anak baik dan tidak sombong" jawab Dewa sambil mencium jari manis Alina yang terdapat cincin tunangan dengan harga aduhai.
"Dasar !"
Setelahnya Dewa dan Alina mencium punggung tangan Eyang Daud, Bagas dan Safira sebagai permintaan restu agar mereka tetap akur hingga menikah nanti.
"Kira-kira kapan kalian akan menikah?" tanya Eyang Daud.
"Tunggu antrian Eyang. Keluarga saya yang ngebet kawin udah banyak..." jawab Dewa cuek.
"DEWAAAAA !"
***
Arum dan Bara langsung senang dengan gadis manis itu begitu juga dengan Levi dan Yanti, apalagi Alina sopan kepada para tetua mengingatkan mereka pada Ajeng Pratiwi, kekasih Bayu. Hanya bedanya, Alina tidak sereceh Ajeng.
***
"Elu itu mau diam-diam saja, kagak bakalan bisa Cumiii !" omel Radyta ke Dewa. Mereka semua sedang berada di teras rumah eyang Daud.
"Soalnya bakalan begini nih... Kekacauan yang sangat haqiqi dan membuat sirkus dadakan" balas Dewa judes.
"Sekali-kali berbeda lah Wa... Lihat, pada senang kan tetangganya Eyang Daud makan gratis" kekeh Arkananta.
"Kalian itu dapat ide dari mana sih bikin acara pesta rakyat dadakan begini?" tanya Dewa.
"Kan kita Napak tilas Wa, lamaran macam apa yang belom pernah dilakukan di keluarga kita. Karena aku merasa asa acara macam begini belum pernah, jadi kita adakan lah !" jawab Valentino.
"Wis...Wis ... Wis..." gumam Dewa sambil menggelengkan kepalanya. "Ngomong ngomong, kalian tahu alamat Eyang Daud dari siapa?"
"Ragil lah!" jawab Arkananta dan Valentino bersamaan.
__ADS_1
Dewa menatap judes ke asistennya yang sedang mengobrol dengan Parjo. "Ragiiiillll !!!" panggil pria itu dengan wajah marah.
"Duh! Gaswat ! Nona Alina... Tolongin saya !" teriak Ragil ke Alina yang sedang mencari Dewa.
"Ada apa pak Ragil?" tanya Alina bingung.
"Saya mau digantung pak Dewa di Monas..." adu Ragil sambil menunjuk ke arah Dewa yang berjalan penuh emosi ke dirinya.
Alina pun berdiri di hadapan Dewa. "Mas mau ngapain?"
"Mau gantung si Orgil di Monas !" jawab Dewa.
"Mbok ya sudah ! Bukan salah pak Ragil..." bela Alina membuat Ragil mendongakkan wajahnya penuh kemenangan.
Ada pawangnya, setidaknya aku aman dari kerekan gantung di Monas. - batin Ragil.
"Kok kamu malah belain Ragil sih!" sungut Dewa kesal.
"Bukan belain tapi lebih menghindari huru hara ... Mas Dewa apa nggak lihat, semuanya nunggu Gegeran lho..." senyum Alina membuat Dewa menatap sekelilingnya yang sudah tertawa melihat sikapnya yang lupa ada dimana.
"Lha... Aku jadi tontonan gratis nih?"
Alina mengangguk. "Baru sadar mas?"
"Aseeemmm !" umpat Dewa.
"Wis mas, jangan emosi ya..." Alina mencium pipi Dewa membuat semua sepupunya berteriak heboh.
"Duh bidadari aku... Selalu tahu cara membuat aku nggak emosi..." rayu Dewa membuat Alina tersipu - sipu.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1