My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Bertemu Dengan Pakdhenya Aizen


__ADS_3

Restauran Cepat Saji Hoka-hoka Bento


Dewa bercerita tentang Safira yang sudah siap menghajar Gatot jika dirinya atau Bagas tidak bisa menghandle.


"Pak Dewa, Tante Safira katanya clumsy tapi kemarin kok nggak ya?" komentar Alina.


"Soalnya Jeng, nyokap itu kalau sudah emosi, jadi waras, hilang clumsy nya. Coba kalau model santai, Wis kembali ke habitat para kaum clumsy..." jawab Dewa dengan wajah lempeng membuat Alina tertawa.


"Pak Dewa jahat ih bilang Tante Safira seperti itu ! Kualat lho nanti..."


"Kayaknya aku udah kualat bolak balik ... Masih bagus telinga aku masih bertengger di tempatnya setelah lebih dari seperempat abad kena jewer melulu..." jawab Dewa mendrama.


"Kan waktu bayi nggak mungkin Tante Safira menjewer pak Dewa."


"Ya nggak sih cuma kata nyokap, mau aku dalam perut ataupun sudah brojol di dunia dan sudah bisa nonton Netflix karena di dalam perut gelap, tetap saja nyusahin ! Lha namanya anak kalau nggak nyusahin bukan anak namanya?" Dewa mengerlingkan mata nya dengan jenaka ke Alina yang membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak.


"Konsep nya nggak begitu pak... Yang namanya anak itu nyusahin atau nggak, itu tergantung... " kekeh Alina.


"Tapi kalau aku tidak brojol, nyokap juga bakalan sepi... Asahan pisaunya jadi tak guna kan?"


Alina cekikikan. "Pak Dewa senang banget sih bikin Tante Safira emosi?"


"Lho salah satu konsep anak nyusahin itu ya yang begini, Jeng..."


Alina tertawa geli dan tidak menduga bahwa salah satu pewaris Bank besar di Indonesia bisa random begini.


"Wah playboy duren tiga... Cewek baru lagi Wa?"


Dewa dan Alina mendongakkan wajahnya melihat sepasang suami istri dengan ras berbeda. Yang pria tampak Asianya sedangkan pihak wanita bule dengan mata biru yang indah.


"Lha Valet parkir? Katya? Ngapain?" tanya Dewa bingung melihat sepupunya berada di restauran yang sama.


"Kay ingin HokBen jadi tadi kami kesini lah. Kan dekat dengan apartemen kami" jawab Valentino. "Halo, aku Valentino Reeves, sepupunya Dewa dan ini istriku Katya." Pria tampan itu mengulurkan tangannya ke Alina dan terkejut saat melihat pergelangan gadis itu mengenakan plester gips. "Ini kenapa tangannya? Dewa yang bikin ulah?"


Dewa pun melengos. "Kenapa sih selalu gue yang dituduh ? Kagak bonyok ( bokap nyokap ), sekarang elu juga Valet parkir !" gerutu pria ganteng itu.


"Lha elu yang sama ma dia. Eh namamu siapa?" tanya Valentino.


"Alina. Alina Ratnadewi..." senyum Alina. "Ini bukan gara-gara pak Dewa, pak Valentino."


"Oh... Kalau memang si playboy satu ini berani nyakitin kamu, hajar saja!" ucap Valentino sambil nyengir.

__ADS_1


"Sudah diperiksa tangannya?" tanya Katya concern.


"Sudah Bu..."


Katya terbahak. "Duh, jangan panggil Bu dong... Aku baru mau jadi calon ibu nih..."


Dewa melongo. "Akhirnya isi juga?"


"Belum... Doanya saja soalnya aku dan Vale lagi program hamil. Kan Arabella sudah hamil, jadi aku juga ingin segera hamil" jawab Katya.


"Arabella sepupu kami Jeng" ucap Dewa menjelaskan ke Alina.


"Jeng?" seru Valentino dan Katya bersamaan. "Apa hal kamu panggil Alina dengan panggilan Jeng?"


"Hei, Alina itu namanya Jawa banget. Jadi aku manggil dengan panggilan khas Jawa lah... Oh jeng Alina, Valentino ini pakdhenya Aizen" cengir Dewa.


"Enak saja pakdhe !" pendelik Valentino. "Yuk Kay, kita beli makanan dulu baru ngehajar playboy sok insyaf itu !"


Katya cekikikan melihat keributan yang sudah sering dia lihat di keluarga suaminya. Gadis berdarah Spanyol itu pun berjalan mengikuti Valentino menuju counter makanan.


"Pantas Aizen cakep... Wong keluarganya juga keren-keren..." puji Alina.


"Tunggu pak Dewa.. Kalau pak Valentino pakdhenya Aizen ... Berarti bapak juga pakdhenya Aizen dong..." gumam Alina membuat Dewa melongo.


"Jeng Alina..."


"Ya pak Dewa?" Mata hitam Alina menatap Dewa dengan tatapan usil.


"Kamu jahat ! Membuat diriku terdengar tua !" protes Dewa sambil manyun.


"Lha kan pak Dewa duluan yang bilang begitu ke pak Valentino... Kalau dibalas kok manyun. Harusnya konsekuen dong" gelak Alina.


"Benar tuh !" timpal Valentino yang datang membawa nampan dan duduk di sebelah Dewa.


"Aku duduk sini ya Al. Oh panggil saja aku Katya jangan pakai Bu, budhe, Tante, mbak atau Kak. Kita tampaknya sebaya deh ..." senyum Katya yang duduk di sebelah Alina.


"Katya sayang, Alina itu dua tahun dibawah kita" senyum Dewa.


"Jangan panggil bini gue pakai sayang, Wa !" hardik Valentino judes.


"Duh Gusti... Kagak maksud apa-apa, Valet parkir ... Hati gue sudah tertambat dengan Jeng Alina" jawab Dewa dengan pedenya membuat Alina melongo.

__ADS_1


"Wa, elu nembak Alina kok kagak romantis banget sih?" gerutu Valentino.


"V, kapan sih kita pernah romantis nembak pasangan? Elu sama Katya di telepon. Arkananta dan Arabella pakai acara gelut, Shinchan dan Kedasih pakai acara mengumpulkan pahala ... Kagak ada yang beres chuy !" jawab Dewa. "Yang penting adalah keseriusan hati dan rasa cinta yang selalu terpupuk. By the way, aku sudah taubat kok V. Jadi satu-satunya di hati aku ya cuma jeng Alina. Macam bokap ke nyokap..."


Alina menatap Dewa dengan tatapan tidak percaya. "Pak Dewa... Tapi kita baru beberapa kali bertemu... belum ada sebulan..."


"Terus? Masalah?" sahut Dewa cuek. "Nggak usah pusing. Biar soal kepusingan itu urusannya Ragil. Apa gunanya Ragil hidup di dunia ini kalau tidak menjadi sasaran kepusingan aku?"


Valentino dan Katya menatap tidak percaya mendengar ucapan Dewa.


"Kamu itu kenapa sih Durjana sama Ragil? Salah dia apa?" ucap Valentino.


"Salahnya menjadi asistennya aku. Itu kan musibah..." jawab Dewa sambil menyesap ochanya.


"Alamat si Ragil bakalan bersin-bersin deh !" gumam Valentino.


Katya menoleh ke arah Alina. "Kalau kamu belum yakin sama Dewa, jangan dijawab sekarang. Mantapkan hatimu dulu karena tidak mudah untuk masuk ke keluarga Dewa dan Valentino."


"Apakah karena status sosial?" tanya Alina yang takut mereka menolaknya.


"Bukan Al..." tawa Katya. "Karena keluarga kami bobrok slengean nya. Harus tabah jika dinistakan, jangan kaget jika melihat mereka berkelahi tidak jelas..."


Alina hanya ber 'oh' ria. Pantas pak Dewa kalau ngomong seenaknya... Lha wong keluarganya juga kacau rusuhnya.


***


Sementara itu di rumah mungil Ragil...


"Haaattssyyiiinnnggg !!!" Ragil bersin dengan keras dan dirinya tahu bahwa ini tanda-tanda penggibahan secara terstruktur tentang dia.


"Brengseeekkk pak Dewa ! Dasar boss minus akhlak !" teriak Ragil yang masih asyik main game di iMac nya. "Awas besok di kantor, pak !"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2