My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Detox


__ADS_3

Ruang Kerja Dewananda Hadiyanto


Dewa langsung duduk di kursi kebesarannya sambil memencet tombol di layar ponselnya untuk menelpon sepupunya.


"Assalamualaikum..." sapa Pramudya.


"Wa'alaikum salam Pram. Lu masih di kota Pahala?" tanya Dewa asal.


"Kota Pahlawan, cumiii ! Kenapa?! Nitip rujak cingur atau lontong balap?" kekeh Pramudya.


"Kagak enak choy, bosok nanti..." gelak Dewa. "Eh Pram, si nenek Kunti bikin ulah ! Gila tuh biatch, main masuk ke kantor gue terus mau nunggu di dalam ruangan gue ! Kan wedhus !"


"Tamara? Ngapain ke kantor lu, Wa?" tanya Pramudya bingung.


"Meneketehe Bambaaaanngggg ! Elu janjiin apa sih sama cewek bahlul itu ?"


"Kagak bilang apa-apa. Dia kan memang sejak kenalan waktu acara ulang tahun Bank kita tahun lalu, auto ngejar gue !" balas Pramudya.


"Wah elu mah pakai pelet bikin nenek kunti ngejar elu" kekeh Dewa.


"Kagak kampret !" balas Pramudya kesal.


"Pram, lu kudu hati - hati. Cewek macam begitu modusnya banyak. Segala cara dihalalkan jadi elu kudu aware. Bilang sama Genta buat ngawasin elu soalnya kadang elu suka lengah..." nasihat Dewa.


"Oke Wa. Thanks udah warning gue."


***


Namun warning Dewa pun kejadian. Dua Minggu usai Dewa menelpon Pramudya untuk memintanya berhati-hati, sepupunya itu pun terkena jebakan Tamara Hamid. Dewa yang sedang bervideo call bersama dengan para sepupunya generasi ke enam, merasa bingung karena bel rumah nya berbunyi.


Buru-buru pria itu turun ke lantai satu dari kamarnya yang di lantai dua. Dewa membuka pintu rumah dan tampak Pramudya dalam keadaan sakau dipapah Genta.


"Apa yang terjadi?" tanya Dewa.


"Dia kena obat perang*sang, Wa" ucap Genta.


"Panas... Panas ..." keluh Pramudya.


Dewa membantu Genta memapah Pramudya.


"Bawa ke kamar mandi tamu, Wa!" perintah Safira yang keluar dari kamar bersama Bagas setelah mendengar suara gaduh.


"Siram air dingin Wa. Buka bajunya, tinggal boxer terus kamu masukkan ke bathub lalu mandikan air dingin !" ucap Bagas.

__ADS_1


Dewa dan Genta membawa Pramudya masuk ke dalam kamar mandi di kamar tamu dan bergegas melepaskan semua baju Pramudya meninggalkan boxer Calvin Klein. Lalu keduanya meletakkan Pramudya dalam bathub dan Dewa mulai mengguyur dengan air dingin.


"Pram ! Pram ! Ayo sadar bro !" panggil Dewa sedangkan Pramudya tetap meracau tidak jelas.


"Kasih ini Wa..." Safira datang sambil membawakan segelas air putih dan obat sakit kepala. Di belakangnya Bagas membawa botol air putih ukuran 1,5 liter. "Minumkan !"


Dewa memberikan obat sakit kepala itu ke Pramudya dan meminumkan dengan air putih.


"Kasih minum air putih yang banyak !" Bagas menyerahkan botol air mineral itu dan Dewa meletakkan botol itu ke mulut Pramudya.


"Minum Pram ... Ini buat detox elu..." ucap Dewa membuat Pramudya melirik ke arah sepupunya.


"Wa..." panggil Pramudya.


"Kenapa ?" tanya Dewa.


"Elu kok ganteng..."


Dewa melongo. "Lu masih lurus kan Pram? Gile aja lu ngajak gue belok ! Sorry chuy ! Gue udah punya bidadari ! Masa terong sama terong ? Harusnya terong sama apem Bambaaaanngggg!" omel Dewa sambil memberikan minum ke Pramudya hingga pria itu sedikit tersedak.


"Damn it... Aku ingin muntah ... " gumam Pramudya.


"Di kloset ! Di kloset ! Jangan di lantai !" seru Genta yang bersama Dewa membantu membawa tubuh Pramudya menuju kloset dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Berikan minum terus Wa. Kalau dia bisa muntah, itu bagus. Mempercepat proses keluar semua obat di dalam sistem tubuhnya" ucap Bagas.


"Kamu pernah ya sayang?" selidik Safira.


"Duluuuuu jaman masih kriminil, Safira sayang..." senyum Bagas.


"Seriously ! Kalian berdua itu apa tidak bisa tidak uwu sedikit ? Beneran deh, ini tuh di kamar mandi !" omel Dewa sambil memencet tombol flush toilet untuk menghilangkan muntahan Pramudya.


"Minum air putih lagi Pram" perintah Safira.


"Nanti aku ... kembung... " gumam Pramudya lemah dan bersandar di bathub.


"Nggak papa kembung, yang penting semua racun keluar. Masih terasa panas nggak badanmu?" tanya Safira. "Kalau masih terasa panas, kamu berendam lagi di dalam bathub ..."


"Masih... panas ..." Mata Pramudya menatap sayu ke semua orang.


"Masukkan lagi ke dalam bathub, Wa , Genta. Detox sampai benar-benar hilang efeknya..." perintah Safira.


Hampir semalaman Dewa dan Genta berjibaku mendetox tubuh Pramudya untuk terbebas dari efek obat yang diberikan kepadanya.

__ADS_1


***


Dewa masih tidur karena dirinya merasa lelah semalaman merawat Pramudya, begitu juga dengan Pramudya dan Genta yang tidur di kamar tamu.


Safira dan Bagas, malah tertidur di sofa besar di ruang tengah sambil berpelukan. Semua orang merasa lelah akibat kejadian semalam. Para pelayan yang menyiapkan sarapan, tampak bingung karena semua penghuni rumah, belum ada yang bangun satu orang pun.


***


Menjelang jam sepuluh pagi, akhirnya Safira dan Bagas terbangun yang kemudian disusul oleh Dewa. Muka - muka bantal terlihat jelas di wajah keluarga Hadiyanto itu.


Mereka bertiga pun duduk di kursi makan dengan wajah termenung sembari memegang mug berisikan kopi hitam tanpa gula.


"Siapa kira-kira pelakunya ya?" tanya Safira.


"Aku rasa si nenek lampir" gumam Dewa sembari menyesap kopinya.


"Siapa nenek lampir?" Safira menatap Dewa dengan perasaan bingung.


"Putrinya Pak Hamid, pengusaha kopi dan pemilik beberapa restauran kekinian. Dia mengejar Pramudya sejak pertama kali bertemu acara ulang tahun kantor kita awal tahun ini." jawab Dewa.


"Astaghfirullah... Kalau memang dia pelakunya... Kurang ajar betul !" sungut Safira gemas. Ketiganya menoleh saat


"Selamat pagi" sapa Pramudya dan Genta yang sudah rapi menuju ruang makan.


"Pagi menjelang siang. Ayo kita semua sarapan dan kamu Pramudya, kamu hutang penjelasan pada Tante ... Apa yang terjadi!" Safira menatap tajam ke arah keponakannya dari pihak suaminya.


Pramudya hanya menatap Safira dengan perasaan takut.



Visualnya Pramudya Hadiyanto


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Sorry Kurang Panjang


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2