
Masih Acara Ijab Qobul Dewa dan Alina
Dewa tersenyum lebar usai menyanyikan lagu lungiting Asmoro milik almarhum Didi Kempot dan turun dari panggung lalu menghampiri istrinya.
"Piye ( gimana )? Surprise deal kan?" cengir Dewa membuat Alina tertawa geli.
"Mas Dewa tuh, penuh surprise. Tapi aku juga punya..." Alina mengedipkan sebelah matanya.
"Jeng Alina, Ojo aneh-aneh ( jangan aneh-aneh )" ucap Dewa cemas melihat istrinya berjalan meninggalkan suaminya.
Alina melangkah ke panggung dan membuat para iparnya heboh. Para generasi keempat dan kelima yang melihat acara pernikahan ini sangatlah rusuh, hanya bisa mengelus dada dan memegang pelipis masing-masing.
Karepmu lah, sing penting happy ( terserahlah, yang penting bahagia ). Begitu kira-kira pemikiran para tetua.
"Mas Dewa..." panggil Alina usai memberikan petunjuk ke band yang menghibur.
"Yes Diajeng Alina... " balas Dewa yang hari itu memakai jas koleksi khusus dari butik Morr.
"Wuuuiiiihhhh Diajeng !" seru para sepupunya yang paham bahasa Jawa.
"Assalamualaikum semua Eyang, para Opa, Oma, papa, mama, Oom, Tante, Mas, Mbak, Abang, Adik... Sebelumnya Alina tidak mengira bahwa acara pernikahan Alina akan seperti ini Rusuhnya..."
"No rusuh no life, Alina !" teriak Radeva. Hari ini semua orang datang ke pesta pernikahan Dewa dan Alina hanya demi kepo ke mantan playboy insyaf itu akhirnya takluk dengan seorang guru TK.
Sontak semua generasi keenam terbahak mendengar ucapan salah satu bocil kematian di mata Bayu O'Grady.
Alina tertawa. "Anda benar... Sebelumnya Alina mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar mas Dewa baik dari Pratomo dan Hadiyanto yang sudah menerima Alina sebagai bagian keluarga kalian... Sejujurnya saat Alina mulai berpacaran dengan mas Dewa, ada rasa cemas bagaimana jika kalian semua tidak bisa menerima Alina..."
"Nggak mungkin lah ! Dewa jadi benar kan selain di taubat juga karena kamu Al " celetuk Luke Bianchi.
"Domo Arigato bang Luke... " senyum Alina.
"Jeng Alina, Ojo senyum - senyum ngunu ( jangan senyum-senyum begitu )... Mengko Ono sing ngesir ( nanti ada yang naksir )..." protes Dewa membuat dirinya kena keplak para sepupunya yang pria.
Alina cekikikan melihat suaminya mendapatkan keplakan pria-pria paripurna yang lupa mereka itu siapa.
"Mas Dewa, Alina ada pengakuan... "
Dewa yang sedang dikeplak sepupunya langsung siaga satu. "Diajeng Alina, Ojo nggawe aku jantungan ( jangan buat aku jantungan )..."
"Waktu Alina awal-awal sama mas Dewa, Alina dengerin lagu ini karena pas banget sama perasaan Alina..."
"Lagu apa itu?"
"Maafkan jika suara Alina jelek..." Alina menoleh ke arah band nya dan mulai menyanyikan lagu Aku Sing Duwe Ati.
"njero atine manungso kuwi bedo bedo ( dalam hatinya manusia itu beda-beda )
ora iso mbok antem podo koyo seng mbok karepno ( tidak bisa disamakan seperti yang kamu mau )
kowe ra nglakoni, ra usah mutusi ( kamu tidak menjalani, gak usah ikut campur )
aku seng nduwe ati, koe rasah ngrusohi ( aku yang punya hati, kamu nggak usah rusuhi )
aku seng nduwe rasa, koe rasah suloyo ( aku yang punya rasa, kamu nggak usah emosi )
aku seh tetep tresno, senajan dunyo ra trimo ( aku tetap cinta, meskipun dunia tidak terima )
__ADS_1
urusono uripmu, timbang suwe suwe lambemu tak tuku ( urusi saja hidupmu, daripada lama-lama aku beli mulutmu )."
Dewa melongo mendengar suara Alina dengan cegkok dangdut yang enak didengar, menbuat dirinya tidak menyangka kalau istrinya suaranya bagus.
"Jangan - jangan habis ini lagunya Cikini ke Gondangdia..." celetuk Remy.
***
Bagas dan Safira menatap bagaimana Alina tampak luwes menyanyikan lagu dangdut yang liriknya sangat menggemaskan dengan perasaan terkejut.
"Alina bisa nyanyi dangdut?" bisik Bagas ke istrinya. "Kejutan apa lagi yang dia punya, Sayang?"
"Aku juga sama terkejutnya dengan mu mas..." kekeh Safira yang melihat bagaimana keponakannya malah asyik ngibing. "Yuk mas, ngibing ..."
Akhirnya Alina ditanggap nyanyi dua lagu dangdut lainnya dan salah satunya berduet dengan Dewa, membuat ramai di lantai ballroom karena semua orang malah menari bersama.
"Ini mah saingan sama kawinannya Gemintang dan Raj. Bedanya pas Raj lagu India, disini dangdut..." gelak Michel de Luca yang sangat menikmati acara nikah yang super ramai.
"Seru kan?" senyum Gemini.
"Kacau deh !"
***
Usai acara ngibing dadakan yang membuat mood para anggota keluarga, akhirnya semua orang menikmati acara makan siang sebelum acara resepsi malam nanti.
"Apa ada acara penggagalan unboxing?" tanya Valentino sambil makan satu meja dengan istrinya, Katya, Bayu dan istrinya Ajeng, Dewa dan Alina serta Leia dan Dante Mancini.
"Adain aja. Lagian aku gak bisa belah duren" jawab Dewa sambil manyun yang langsung membuat meja itu heboh.
"Oh pantas kamu tadi teriak itu gara-gara Alina nggak bisa dipakai ?" celetuk Dante keras membuat generasi keenam yang kaum pria, kompak berteriak. "Kasihaaaaannnn..."
"Mantan Playboy kalah sama hukum alam !" gelak Shinichi durjana membuat semua orang terbahak. Jangan ditanya wajah merah Alina saat mendengar kerusuhan sepupu suaminya. Meskipun sudah menyiapkan mental, tetap saja apa yang diucapkan sering diluar konteks tanpa berfikri...eh berfikir.
"Wis kalian mau culik aku kemana..." ucap Dewa pasrah.
"Bandung atuh euy !" seru Arkananta dan Valentino.
"Bandung deui?" pendelik Dewa.
***
Nathan, Bara, Iwan dan Levi hanya menggelengkan kepalanya melihat kekacauan cucu - cucu mereka.
"Beneran deh, ini acara pernikahan paling kacau yang pernah kita adakan. Pantas Dewa dan Alina minta untuk acara ijab hanya keluarga saja dan sahabat dekat. Tidak mau ada orang di luar circle, jebule karena ini tho?" kekeh Bara yang merasa hari ini sangat bahagia melihat kedekatan generasi keenam.
"Aku kira acaranya Abiyasa, Arkananta dan Bayu udah kacau, jebule ada yang lebih kacau.. " kekeh Levi.
"Setidaknya kita ayem kalau dipanggil pulang karena kita berhasil mendidik anak dan cucu kita menjadi keluarga yang saling sayang dan care satu sama lain ... Macam kita dididik dulu..." sahut Nathan.
"Tapi Dewa itu mirip sama Tante Savitri ya recehnya..." kekeh Iwan.
"Aku rasa Eommaku datang ke Dewa jadi ngunu lah..." gerutu Nathan membuat sepupunya terbahak.
"Maksud mu, kerasukan?" tanya Levi.
"Nggak seekstrim itu sih .." cengir Nathan.
__ADS_1
***
Ketika mereka sedang makan, Devan menuju panggung dan mengambil gitar akustik.
"Devan ngapain tuh ..?" tanya Radeva ke Antonio Bianchi, suami Savrinadeya, kakak Devan.
"Mana aku tahu..." jawab Antonio.
Devan menyetel gitar itu dan tak lama dia menyanyikan lagu dari The William Brothers.
I'm gonna live my life
Like everyday's the last
Without a simple goodbye
It all goes by so fast
And now that you're gone
I can't cry hard enough
No, I can't cry hard enough
For you to hear me now
Gonna open my eyes
And see for the first time
I've let go of you like
A child letting go of his kite
There it goes, up in the sky
There it goes, beyond the clouds
For no reason why
I can't cry hard enough
No, I can't cry hard enough
For you to hear me now..
"Van ? Elu patah hati?" tanya Bayu.
Devan mengangguk. "Barusan dapat kabar. Laura kalah dengan kankernya..." Pria itu mengusap air matanya.
"Laura ?"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️