
Bank Arta Jaya Kebon Jeruk Keesokan Harinya
Pak Ahmad pagi ini mendatangi Bank Arta Jaya dengan pakaian sipil bukan seragam satpam karena dirinya hendak langsung ke sekolah putranya untuk melunasi uang pendaftaran hari ini. Pria itu dengan sabar menunggu antrian dan pada saat gilirannya, Pak Ahmad mengeluarkan uang $100 dari dalam amplop yang disimpan rapih dalam lipatan buku dari tasnya.
Pak Ahmad benar-benar mengikuti instruksi Alina agar uang itu jangan sampai terlipat atau kusut karena akan mempengaruhi nilainya. Seorang teller yang melayani, tampak bingung menatap pak Ahmad yang bisa mengeluarkan uang sebesar itu dalam kondisi bagus.
"Bapak mau menukarkan uang dollar ini?" tanya teller bernama Chika itu.
"Iya mbak. Saya kemarin diberi oleh Miss Alina dan katanya bisa ditukarkan dengan rupiah. Saya butuh untuk biaya sekolah anak saya, mbak" jawab pak Ahmad.
Chika menilai penampilan pak Ahmad yang memang tampak rapih tapi diragukan bahwa dua bisa mendapatkan uang yang tidak semua orang punya. Apalagi dengan penampilan sederhana macam pria di hadapannya.
"Bapak bilang dapat dari siapa tadi?" tanya Chika.
"Dari Miss Alina. Tunangannya pak Dewa Hadiyanto" jawab Pak Ahmad.
Chika mengernyitkan dahinya. Semua orang di bank Arta Jaya tahu Dewa sudah bertunangan dengan gadis bernama Alina tapi apakah orang ini tidak sedang melakukan scam? Apalagi di jaman sekarang, banyak yang ngadi-ngadi. "Tunggu sebentar ya pak, kami periksa dulu uangnya" senyum Chika manis.
"Baik mbak."
Chika menghampiri manajernya yang kemudian menghubungi Ragil karena sudah membawa-bawa nama Dewa dan Alina. Bukan apa-apa, mereka harus menjaga nama bank yang sempat mengalami nama jelek akibat ulah seorang oknum. Saat ini mereka dalam fase mengembalikan nama baik bank Arta Jaya agar publik memberikan kepercayaan lagi untuk menyimpan uang mereka dalam bentuk apapun disini.
***
"Ragil Wibisono" sapa Ragil saat menerima telepon dari manajer teller.
"Pak Ragil, ini ada laporan dari Teller Chika kalau ada seseorang hendak menukar uang senilai $100 dan mengatakan dari Nona Alina tunangan pak Dewa. Bagaimana ini pak?"
"Dia bilang dari Nona Alina?" balas Ragil. "Siapa pak?"
"Tunggu sebentar, Chika sedang bertanya ... Namanya Pak Ahmad, satpam TK Bintang."
Ragil terdiam. "Bilang tunggu sebentar. Saya akan turun."
"Baik pak Ragil."
Ragil menutup teleponnya dan mengetuk ruang kerja Dewa. Pria tampan itu membuka pintu dan tampak Dewa sedang memeriksa grafik saham bank mereka.
"Pak Dewa... "
"Apa Gil ?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Apakah bapak memberikan uang $100 ke Nona Alina untuk dibagikan kepada semua orang di TK Bintang?" tanya Ragil.
Dewa menoleh. "Iya. Kenapa? Ada yang menukar disini?"
"Iya pak. Namanya pak Ahmad tapi Chika belum memproses karena pak Ahmad bilang dari bapak dan nona Alina. Chika takut ada pencatutan nama bapak dan nona Alina."
"Dimana orangnya?" tanya Dewa.
"Masih di depan pos Chika."
Dewa pun membuka CCTV lantai satu dari iMac nya dan melihat wajah pak Ahmad disana tampak cemas.
"Proses saja Gil. Nanti kalau sudah selesai, suruh dia naik dan bertemu denganku" perintah Dewa.
"Baik pak Dewa." Ragil pun keluar dari ruang kerja Dewa lalu menghubungi manajer teller.
***
"Ini pak Ahmad. Totalnya 1,9 juta karena dollar sedang naik hari ini" senyum Chika sambil menyerahkan uang itu dalam amplop ke pak Ahmad usai tanda tangan semua berkas setiap melakukan money changer.
"Terima kasih mbak... Chika" jawab Pak Ahmad melihat id card Chika di baju seragam nya. "Alhamdulillah bisa buat pelunasan uang pendaftaran sekolah."
"Alhamdulillah pak. Rejekinya bapak" balas Chika manis.
"Pak Thoriq ? Ada apa pak?" tanya Chika ke Satpam bank.
"Maaf pak Ahmad. Bapak saya antar menemui pak Dewa. Mari..." Thoriq mempersilahkan pak Ahmad berjalan menuju lift untuk diantar ke lantai tempat Dewa bekerja.
Chika menatap bingung lalu menoleh ke rekan-rekan kerjanya. "Kok dibawa ke ruangannya pak Dewa?" tanya gadis mungil itu.
"Mana kita tahu Cha. Mungkin ditanyain sama pak Dewa" jawab rekannya.
Chika masih menatap kepergian Pak Ahmad ke lift. Duh, apa aku salah ya tadi lapor ke pak manajer terus pak Ragil bilang sama pak Dewa. Jangan-jangan malah ditangkap lagi.
Introducing Chika Felisha
***
Pak Ahmad tampak terbengong-bengong melihat ruang kerja Dewa yang mewah tapi lebih ke art Deco temanya. Nuansa maskulin sangat kental dengan warna-warna yang berani, membuat semakin tampak 'laki' suasananya.
__ADS_1
"Pagi pak Ahmad..." sapa Dewa sambil tersenyum dan mempersilahkan satpam itu untuk duduk di sofa.
"Ya Allah pak Dewa, ngimpi apa saya semalam bisa masuk ke dalam ruangan semewah ini..." gumam Pak Ahmad sambil melihat sekelilingnya termasuk foto besar dimana Dewa bersama dengan para sepupunya generasi keenam.
"Ngimpi kejar kambing, mungkin" jawab Dewa asal. "Mau minum apa pak?" tawar pria ganteng itu.
"Eh nggak usah pak... " tolak pak Ahmad sopan.
"Air mahal saja ya pak?" kekeh Dewa sambil mengambil dua botol Equil dan dua gelas dari mini barnya.
"Duh pak, saya jadi tidak enak malah dilayani boss bank ..." ucap Pak Ahmad sambil menerima botol air mineral bewarna hijau itu dan gelasnya.
"Boss bank ini juga masih doyan sop buntut depan sekolah bapak lho" gelak Dewa. "Ayo pak, minum."
Pak Ahmad membuka botol air itu dan menuangkan ke gelas lalu menyesapnya. "Beda sama air lainnya... Rasanya mahal ..." senyum kikuk pak Ahmad. "Saya cuma bisa lihat di tv-tv para pejabat pada minum ini. Sekarang sudah tahu rasanya ..."
Dewa tersenyum. "So Pak Ahmad, tadi mudah kan menukar uangnya?"
"Alhamdulillah pak Dewa meskipun mbak Chika harus berhati hati tapi saya maklum pak. Hari gini kan semua harus waspada. Apalagi saya bawa uang yang tidak mungkin saya miliki..." jawab Pak Ahmad.
"Sebenarnya mau dipakai apa pak? Kok langsung ditukarkan?" tanya Dewa.
"Buat tambahan uang pendaftaran sekolah anak saya yang paling kecil pak. Anak saya banyak, ada tiga, yang paling besar masuk SMA, kedua kelas tujuh dan yang bungsu masuk SD. Uang tabungan kami sudah dipakai buat yang sulung dan yang bungsu masih kurang. Kemarin Miss Alina memberikan saya uang itu dan saya seperti mendapatkan rejeki yang tidak terkira karena bisa menutupi kekurangan uang si bungsu" jelas Pak Ahmad.
"Anak pak Ahmad yang sulung laki atau perempuan?" tanya Dewa.
"Laki pak. Masuk SMK tapi kalau sore sampai jam delapan, membantu tetangga saya di bengkel motor. Dia sudah bekerja dari SMP karena memang suka mekanik jadi masuk SMK mesin. Alhamdulillah, anak saya itu nggak suka main karena tahu bapaknya hanya satpam dan ibunya jualan lotek, gado-gado depan rumah. Jadi dia bantu sambil nabung buat masuk SMK dan kemarin saya terbantukan dananya dari si sulung."
Dewa mengangguk dan dalam hati dia sangat respek dengan keluarga sederhana tapi bukan tipe menyerah. Bagi Dewa, keluarga pak Ahmad layak dia berikan kesempatan bea siswa dari yayasan Hadiyanto namun tetap harus melalui proses survei dan screening.
"Saya senang bisa membantu pak Ahmad."
"Iya pak. Alhamdulillah Miss Alina yang memang orang baik, dapat pak Dewa yang sama baiknya. Saya ikut senang melihat kalian berdua, pak..." senyum Pak Ahmad membuat Dewa merasa tiba-tiba rindu dengan tunangannya.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️