
Kamar Presidential Suite Ajeng
"Apa maksudnya dengan tembak-menembak?" tanya Alina ke semua wanita disana. Ratih dan Elane juga tampak bingung karena semua wanita Keluarga Pratomo tampak santai saja.
"Main tembak-tembakan..." jawab Apsarini Neville.
"Pakai pistol? Beneran?" tanya Ratih yang bingung karena Radyta tidak pernah cerita kalau mereka bisa menembak.
"Ya iyalah pistol beneran. Masa pistol air ?" gelak Sakura. "Itu mah Aizen, Vicenzo, Avaro dan Hyde yang main..."
Ratih tampak pusing tapi langsung ditepuk punggungnya oleh Elane. "Sabar, aku dulu juga begitu kok" senyum wanita berdarah Melayu Korea itu lembut.
"Astaghfirullah... Mas Radyta tidak pernah cerita !" gerutu Ratih manyun.
"Mungkin Radyta tidak mau kamu kepikiran Tih" senyum Zinnia.
Semua sepupu Radyta tertawa melihat wajah Ratih yang cemberut.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa bersama Radyta?" tanya Blaze.
"Awalnya nggak sengaja sih ketemu di rumah sakit. Waktu itu mas Radyta membawa sopirnya yang kena serangan jantung dan saat dibawa ke IGD, kebetulan semua dokter sibuk akibat kecelakaan di area tol. Nah, mas Radyta panik langsung main seret aku yang baru datang ke rumah sakit, terus aku disuruh periksa..." cerita Ratih.
"Padahal kamu?" tanya Blaze lagi.
"Dokter Anak. Aku datang memang pas jam aku praktek tapi langsung ditarik mas Radyta. Ya sudah, aku melakukan tindakan darurat dan berhasil membuat jantung sopirnya Mas Radyta berdetak lagi... Lalu dokter jantung datang dan sopir mas Radyta dimasukkan ke ICU..."
"Sopirnya Radyta namanya siapa Ara?" tanya Nadira McCloud.
"Pak Samiun. Memang sudah waktunya pensiun tapi pak Miun kan masih mau kerja sama mas Radyta jadi tetap dipakai..." jawab Arabella.
"Setelah itu kan Pak Miun langsung pensiun" sambung Juliet. "Jadi gara-gara pak Miun kena serangan jantung, kamu ketemu sama mas Radyta?"
"Iya. Habis itu baru Mas Radyta tahu aku dokter anak... Langsung tepok jidat dan kami berkenalan dengan benar. Nggak lama kami berkencan dan akhirnya pacaran deh..." senyum Ratih.
"Oom Aji dan Tante Falisha gimana?" tanya Leia.
"Alhamdulillah, Oom Aji dan Tante Falisha menerima aku dengan baik. Apalagi aku juga baru tahu kalau papaku langganan bengkel FH Custom..." gelak Ratih. "Jadi yaaa nyambung deh ..."
"Papamu kerja dimana?" tanya Alina.
"Papaku kerja di Exxon Jakarta."
"Perusahaan minyak" senyum Kalila Al Jordan.
"Tapi beda dengan keluarga Dubai yaaa" kekeh Ratih membuat Kalila, Garvita dan Raine tertawa.
__ADS_1
"Tahu ajah !" gelak Raine.
Introducing Ratih Yung ( nantinya )
***
Alina dan Ratih pun kembali ke kamar mereka dengan perasaan campur aduk.
"Al, apa kamu lihat tidak. Mereka itu cewek-cewek tanpa takut ya. Maksud aku, ngomong soal tembak-menembak itu kok ya santuy banget" ucap Ratih usai berada di kamar hotel mereka.
"Aku juga nggak tahu Tih. Aku tuh sama dengan kamu, tidak pernah diceritakan soal ini sama mas Dewa" jawab Alina.
Ratih membuka hijabnya dan memperlihatkan rambut hitamnya yang tebal. "Alhamdulilah aku satu kamar sama kamu. Soalnya aku bingung nggak tahu sama siapa nanti... Secara kan aku belum hapal dan kenal semua meskipun sudah berusaha mengingat nama-nama sepupunya mas Radyta."
"Rambut kamu bagus. Duh kalau mas Radyta insyaallah menikah sama kamu, bakalan nggak ngijinin potong rambut deh" ucap Alina yang mengagumi rambut Ratih.
"Bisa jadi..." senyum Ratih. "Yuk kita bersih-bersih dulu, terus ibadah isya. Baru kita istirahat... Besok acara penting soalnya."
***
Acara Ijab qobul Bayu dan Ajeng
Dewa tersenyum saat melihat Alina sudah menunggu depan ballroom tempat acara akan dilaksanakan. Gadis itu mengenakan gaun bewarna peach dan tampak chic dengan sepatu ala balet. Sederhana tapi membuat Dewa langsung termehek-mehek karena di matanya, Alina tampak cantik sekali.
"Sorry Jeng, aku lama. Gara-gara Si Wira ketiduran di kamar mandi ! Jadi telat deh ! Dasar vampir ... Bisa-bisanya molor di WC !" omel Dewa membuat Alina cekikikan.
"Yang penting mas Dewa tidak terlambat saja" senyum Alina yang langsung menghampiri Dewa dan merangkul lengannya mesra.
"Betul... Itu yang penting. So, bagaimana bertemu dengan para cewek-cewek Pratomo?" goda Dewa.
"Ya Allah mas... Aku dan Ratih pas masuk langsung pusing dengan rusuhnya mereka semua dengan berbicara berbagai bahasa yang aku sendiri merasa bingung mereka ngomong apa..." cerita Alina.
Dewa hanya tertawa kecil mendengar cerita heboh Alina. "Tapi senang kan?"
"Alhamdulillah semua baik-baik dan ramah-ramah" senyum Alina sembari duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Nanti akan aku kenalkan ke semua keluarga aku yang lain. Don't worry, mereka nggak pada gigit ! Yang gigit cuma piranha nya si Yakuza !" cengir Dewa.
Tiba-tiba Alina mencubit tangan Dewa yang terkejut dengan sikap tunangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Dewa bingung.
__ADS_1
"Mas, itu Radhi Blair kan? Pembalap F1 itu? Oh my God ! Radhi itu saudaranya mas Dewa? Astaghfirullah ... Rasanya aku mau pingsan..." seru Alina tertahan membuat Dewa manyun.
"Jeng Alina, aku juga terkenal lho..." protes Dewa.
"Hanya di dunia bisnis dan perbankan tapi Radhi Blair, terkenal di seluruh dunia. Beda mas !" eyel Alina seolah tidak tahu kalau Dewa cemburu karena kalah pamor dengan pembalap Ferrari itu.
"Jeng Alina ... "
Alina yang masih melihat Radhi, mendongakkan wajahnya. "Apa mas?"
"Kamu njelehi !" jawab Dewa sambil cemberut.
"Iiiissshhh... Eh udah mau dimulai acaranya" senyum Alina ke arah Dewa yang menatap sebal ke tunangannya.
Semua orang pun langsung diam saat imam mesjid memulai acaranya.
"Semua sudah siap?" tanya imam mesjid yang menatap Bayu geli.
"Siap Sir." Bayu tetap menoleh ke arah Ajeng.
"Mr O'Grady? Senior ? Junior? Semi Junior?" goda Imam mesjid.
"Ready." Rasanya Rhett ingin melempar sepatunya ke kepala Bayu yang seperti lupa dirinya dimana. "Bayuuu..."
"Yes, Opa. Ready..." Bayu menatap imam Mesjid yang mengulurkan tangannya dan dijabat oleh putra Abiyasa.
"Mr. Bayu Aarav Giandra Blair O'Grady son of Abiyasa Giandra Blair O'Grady I representative marry off the daughter Ajeng Pratiwi to you with the mahr agreed upon..." ucap Imam mesjid itu.
"I Ac... " Bayu terhenti sejenak membuat semua orang terkejut. Tiba - tiba... "Haaa... HAAATSSSYYIIINNGGGG!"
Dewa dan Alina melongo saat mendengar Bayu bersin dengan keras pada saat ucapan ijab qobul.
"Mas? Serius itu mas Bayu bersin? Batal nggak?" bisik Alina yang melihat sekelilingnya tampak tertawa geli.
"Paling ditunda tahun depan nikahnya" jawab Dewa asal.
Alina langsung mengeplak bahu Dewa.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️